
Gea dan Brian duduk di meja yang sama. Mereka berdua sibuk menyalin habis tugas yang di pinjamkan oleh Jovi. Tiba-tiba Buk Ros datang memawa seorang murid baru.
“Perhatian, kelas ini kembali kedatangan murid baru. Hey nak, ayo perkenalkan dirimu.” Tegas Buk Ros. Sementara Gea dan Brian tetap sibuk dengan penanya.
“Hai teman-teman perkenalkan nama saya Kevin Lodren. Biasa dipanggil Kevin. Pasti kalian sudah mengenalku sebelumnya, salam kenal.” Sorak Kevin membuat Gea dan Brian mengangkat wajah mereka berdua secara perlahan, dan menatap penuh kearah depan. Tampak Kevin memberikan sorot mata tajam pada Gea dan Brian.
“Aku sudah siap, aku pindah dulu.” Gea berdiri lalu kembali ke tempat duduknya. Sementara Gisel menunduk
malu berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Aku akan duduk di sini.” Kevin duduk di depan Gea.
“Apa tidak ada lagi sekolah selain sekolah ini?” Tanya Gea dengan wajah tidak percaya pada Kevin.
“Bruk.” Dina menendang kursi Gea dari belakang. Gea langsung menoleh.
“Apa kau mengenalnya? Bukankah dia juga seorang artis?” Bisik Dina dengan wajah antusias.
“Dia, pacarku.” Senyum genit Gea, membuat Gisel menatapnya dengan wajah tidak pecaya.
“Haaaah. Benarkah? Hei, kau laku juga rupanya.” Cemooh Lia dengan memukul pelan bahu Gea.
“Hei Gisel, kau kenapa?” Tanya Gea membuat Kevin menoleh ke belakang.
“Kau, bukankah kau pemeran utama pada drama yang membuatku jatuh?”Tanya Kevin dengan wajah sangat kesal.
“Iya, kenapa memangnya? Apa kau tidak suka?”
“Jelas saja, aku tidak suka. Lihat, gaya sokmu itu. Kau harus menguranginya.” Kevin yang tampak sangat kesal kembali menghadap ke depan.
“ Kenapa aku harus mengikuti perkataanmu? Aiish, dia benar-benar menjengkelkan.”Gisel mengehentakkan kakinya, lalu berdiri dan melangkah keluar kelas.
“Kevin, apa hubunganmu dengannya?” Gea mencoleh punggung Kevin. Kevin memutar duduknya dan menoleh pada Gea.
“Kau tau skandal itu, dia juga telibat di dalamnya.” Jawab Kevin dengan kesal.
“Apa skandal pegang pantat itu?” Tanya Gea lagi.
“Tentu saja, skandal apa lagi? Pantat itu miliknya.”Jawab Kevin membuat Gea tercengang.
“Apaa? Seharusnya kau meminta maaf padanya.”Gea mendorong bahu Kevin.
“Kenapa aku harus meminta maaf padanya. Aku tidak menyentuhnya. Itu hanya efek foto. Sudah jelas kan.” Bentak Kevin.
“Oooh, begituuuu.” Cemooh Gea dengan wajah menjengkelkan.
**
Sepulang sekolah, Kevin mengajak Gea untuk sedikit menikmati kota. Mereka berdua asyik berkeliling kota. Semua guyonan di lontarkan oleh Kevin untuk Gea. Jam menunjukkan pukul 6 sore. Mereka langsung bergegas pulang.
“Bukankah hari ini sangat menyenangkan. Lain kali mari pergi bersama-sama dengan yang lain.”Sorak Gea dengan semangat.
“Tidak mau.” Kevin menghentikan langkahnya.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Karena aku ingin, tawamu ini hanya untukku.” Kevin memandang wajah Gea.
“Apa kau tau, curigamu padaku dan pada Brian itu benar. Aku memang berkencan dengan Brian. Brian adalah Dinoku.” Gea menatap balik wajah Kevin.
“Aku tidak peduli.” Jawab Kevin dingin.
“Kevin, aku mohon hentikan semua ini sekarang juga. kau tau kan, jika aku hanya milik Dino. Hidup dan matiku hanya untuk Dino. Dan sekarang,Dino sudah kembali. Apapun yang terjadi, aku akan tetap memilih Dino. Jadi,
maafkan aku Kevin.” Gea menatap Kevin dengan sepenuh hati.
“Gea, aku pasti akan menunggumu. Kapanpun itu.”
“Kevin, jangan menungguku. Ini sudah sangat lama. Kau, masih berpikir seperti dulu. Kau harus sadar, jika kau tidak pernah mencintaiku. Bagimu, untuk memilikiku hanya sebuah pelampiasan obsesimu saja. Kau adalah
temanku. Aku tidak ingin ada rasa sesal diantara kita berdua. Aku tidak ingin, jika nanti namaku tidak lagi kau ucapkan di bibirmu.”
“Gea, tolong beri aku satu kali kesempatan, jika aku ini lebih baik dibandingkan Brian.” Kevin mendekat dengan wajah sangat serius.
“1 tahun yang lalu, kau ingat. Aku sudah berulang kali memberimu kesempatan, dan kaulah yang membuangku. Kau, berulang kali membuat mataku menangis. Jadi untuk saat ini, aku mohon, terimalah kenyataan ini Kevin.
Apa kau tidak lelah membohongi dirimu sendiri, lalu membuat seolah-olah kau adalah korbannya dan aku adalah pelakunya? Aku sudah lelah.” Bisik Gea dengan wajah penuh amarah.
“Maafkan aku, aku mohon sekali saja.” Kevin menunduk sedih.
“Gea, ada apa ini?” Gea menoleh, dan ternyata itu Brian.
“Apa kau tau sekarang jam berapa?” Tanya Brian dengan wajah emosi.
“Brian.” Jawab Gea dengan sedikit gagap.
“Tunggu, kau tidak berhak untuk menyentuhnya!” Kevin menepis tangan Brian.
“Bukankah ini sudah jelas dimatamu. Kenapa kau masih berusaha meraihnya?” Tanya Brian dengan dingin pada Kevin.
“Karena aku sangat menginginkannya.” Jawab Kevin.
“Kevin!” Kencam Gea dengan suara lebih keras.
“Gea, sekarang kau bisa memilih. Antara temanmu yaitu aku. Atau dia pacarmu!” Teriak Kevin dengan nada emosi. Gea terdiam lama.
“Teman adalah segalanya untukku. Tapi, jika seorang teman sepertimu membuatku jauh dari hatiku, maka aku memilih untuk meninggalkan temanku. Apa kau lupa? Pacarku inilah yang telah membawaku ke hadapanmu dan
menjadikanmu temanku. Jika bukan karena pacarku ini, aku tidak akan mau berteman denganmu.” Gea merangkul tangan Brian. Kevin sedikit tercengang mendengar jawaban Gea.
“Sudah cukup berdramanya Gea, ayo naik keatas mobil.” Brian menarik tangan Gea masuk ke dalam mobil.
“Jangan memaksakan sesuatu yang tidak bisa kau paksakan.” Lirik Brian pada Kevin dan masuk ke dalam mobilnya.
“Brian, aku ingin mengatakan sesuatu.”
“Apa?”
“Sebenarnya dulu, aku pernah berpacaran dengan Kevin.” Gea menunduk seraya mengingat masa-masa menyedihkannya.
“Aku tau.”
__ADS_1
“Haaah, kau tau darimana?”
“Dari Ervan. Ervan menceritakan semuanya padaku.” Brian tersenyum manis.
“Tapi itu tidak lama. Hanya 2 minggu.” Bisik Gea.
“Aku tau.” Senyum Brian dengan melirik Gea.
“Apa kau tidak marah?”
“Untuk saat ini tidak. Sekarang, aku sangat bahagia.” Brian tersenyum geli.
“Kenapa?”
“Karena ucapanmu tadi. Kau lebih memilihku, itu membuatku sangat senang.” Brian menyentuh dadanya. Gea
tertawa melihat aksi lucu Brian yang seperti kasamaran.
“Hentikan senyum-senyummu itu.”
“Kenapa? Yang senyumkan bibirku.”
**
Paginya, Gea berangkat ke sekolah. Gea melirik Brian yang sudah menunggunya tepat di depan rumahnya.
“Kenapa kau menungguku di sini?” Tanya Gea dengan wajah geram.
“Aku takut jika kau berubah pikiran dan membiarkan si brengsek itu menikungku.” Jawab Brian dengan melangkah duluan.
“Apa kau tidak percaya denganku?” Tanya Gea dengan berdiri menatap Brian yang melangkah di depannya. Brian menoleh dengan gaya seksi. Tiba-tiba Kevin muncul dihadapan mereka berdua.
“Apa lagi? Haa?” Tanya Brian dengan nada suara menjengkelkan.
“Aku hanya, aku hanya ingin meminta maaf pada kalian berdua. Terutama kau Gea, maafkan aku. Tapi, aku mohon, supaya kita tetap berteman seperti sebelumnya.” Jawab Kevin dengan menunduk menyesal.
“Aiish, ckckckckck.” Decih kesal Brian yang sepertinya kurang percaya dengan pengakuan Kevin.
“Kau terlalu sering meminta maaf. Kali ini, meminta maaflah kepada tuhan.” Gea melangkah berjalan melewati Kevin.
“Apa itu artinya, kita kembali berteman?” Tanya Kevin dengan wajah riang mengejar Gea. Dengan sigap Brian mendorongnya. Mereka berdua, saling mendorong hingga halte.
“Apa yang sedang kalian berdua lakukan?” Tanya Ervan heran.
“Mereka terlihat memperebutkan Gea.” Bisik Didi dengan wajah mencurigakan.
“Jadi siapa yang kau pilih?” Tanya Bimo dengan menyikut tangan Gea. Gea melirik Kevin dan Brian yang menatapnya dengan sepenuh hati. Gea tersenyum dengan manis.
“Jimin-Oppa.” Bisik Gea dengan nada centil.
“Ahahahaha, aku sudah tau itu, sayangku. Ayo naik, busnya sudah datang.” Didi merangkul bahu Gea naik ke atas bus.
“Jimin-Oppa?” Tanya Kevin menatap Brian dengan rancu.
“Ckckckckck, kau tidak tau siapa dia? Menyedihkan.” Cemooh Brian pada Kevin lalu naik ke atas bus.
__ADS_1