
Gea pulang lebih awal, ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka jendela kamarnya selebar mungkin dan duduk di depan poster korea yang selalu dipujanya. Ponselnya berbunyi, sebuah nomor baru.
“Aissh, siapa lagi ini? mengganggu saja.” Gea menolak panggilan tersebut dan memulai menyapa oppa-nya.
“Jimin-oppa, bukankah kita hidup hanya sekali. Aku mempercayai itu. Tapi hari ini, seseorang telah hidup untuk kedua kalinya.” Gea memandang lepas kearah kamarnya.
“Kau mungkin tidak mengerti dengan apa yang aku ucapkan. Kau tau, aku juga memiliki masa lalu yang tidak pernah aku ceritakan padamu, semenjak kita menikah pada tahun 2013 dulu.”
“Karena aku terpaut jauh dengan Bang Gio, itu membuatnya kewalahan, antara mengasuhku atau pergi bermain dengan teman-temannya. Di saat itulah, dia menitipkanku pada tetangga sebelah rumah, yaitu Nenek Rosmini. Nenek Rosmini memiliki seorang cucu laki-laki, yang aku sendiri tidak tau nama aslinya. Dia selalu memegang mainan dinosaurus, oleh sebab itu aku memanggilnya Dino. Dia adalah dunia dimana aku banyak mengenal bagaimana kehidupan yang sebenarnya. Tentang bagaimana mengekspresikan isi hati, tanpa harus berpura-pura. Menjadi diri sendiri, itu yang selalu diucapkannya padaku.” Air mata Gea kembali berlinang.
“Kami melakukan semuanya bersama. Walau ia seorang artis terkenal, dia tetap tanpa ragu memegang tangan ini. Dia menyerang anak-anak komplek yang selalu berbuat jahat padaku, dan membuatnya menjadi temanku. Teman yang sesungguhnya, hingga detik ini. Pengaruhnya sangat besar dalam hidup ini. Suatu hari, kami berjanji melihat kembang api bersama, pada sebuah pasar malam. Dengan sangat antusias, aku bersiap dari pagi hari. Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Sebuah ambulan melesat masuk ke dalam komplek, dan mengeluarkan sebuah peti
jenazah. Nenek Rosmini menangis histeris. Beberapa, mobil hitam dengan karangan bunga, mulai bersusun rapi di belakang mobil ambulance. Mama memelukku dan mengatakan: Gea, kamu di rumah saja ya nak. Aku lalu bertanya: kenapa foto Dino di peluk oleh Bang Beni? Mama hanya menjawab dengan linangan air mata. Aku
langsung berlari kearah peti tersebut. Aku melihat wajah Dino yang sudah hancur namun tetap di pakaikan pakaian bagus. Aku langsung berteriak: Dia bukan Dino, dia bukan Dino. Beberapa orang mulai menenangkanku. Hingga pada saat pemakaman, aku masih menangis histeris. Aku memohon untuk di masukkan ke dalam peti Dino untuk dikubur bersama.” Ungkapnya dengan menyeka air matanya yang sudah berlimpah ruah.
“Beberapa bulan aku mengurung diri dengan siksaan dari Gina, aku mulai sadar. Jika Dinoku, memang sudah tiada, dan aku harus bangkit. Aku mulai melakukan kegiatan-kegiatan gila dengan teman-teman komplek. Tapi hari ini, aku menerima sebuah kabar jika Dino masih hidup. Dan, dan kematiannya yang dulu hanya sebuah kesalahpahaman.” Gea terdiam sejenak, berdiri dan mengambil sebuah peti kecil dari dalam lemarinya, dan kembali ke tempat semula.
“Jimin-Oppa, Dengan semua kenyataan yang telah aku terima pada hari ini, apa aku harus bahagia? Tapi aku sangat amat kecewa, dan bagiku tak ada bedanya. Karena tetap, bagiku saat ini, Dino sudah meninggal, dan yang
hidup sekarang adalah Brian. Dino bukan hanya tempatku berteduh, tapi dialah cinta pertamaku, tempat dimana aku merasa nyaman, pangeran dalam impianku, idola dalam hidupku, dan hidupku yang dulu. Dan sekarang, aku akan melupakanmu. Aku harus menyingkirkan semuanya.” Gea menyeka air matanya, membawa peti tersebut
pada toko barang antik yang berada di seberang komplek.
“Kan lumayan dari pada dibuang. Ckckckck.” Gea mengibas-ngibaskan uang tersebut.
“Haaaaaah, ya Tuhan bantu aku melewati semua ini. Aku ingin membuka sebuah lembaran baru.” Tiba-tiba, dua preman langsung mengadangnya.
“Ada apa ya Om?”
“Ngak usah sok lupa deh, ayo bayar utangmu sekarang juga!” Teriak preman tersebut membuat Gea geram.
“Utang apa? saya tidak penah punya utang pada siapapun di dunia ini!” Teriak Gea dengan lantang.
“Jangan sok belagu deh! Ini foto kamu kan?” Tanya preman itu sembari menunjukkan sebuah foto. Gadis itu terlihat sangat seksi, namun wajahnya persis wajah Gea.
“Iyaa!!” teriak Gea dengan keras. Kedua preman itu langsung menggotong Gea.
“Woi om, tunggu, saya mau dibawa kemana?” Tanya Gea dengan ekspresi cemas. Gea langsung mengeluarkan jurus sabuk hitamnya. Salah satu preman mengeluarkan sebuah pistol asli. Gea yang langsung takluk, dan spontan mengangkat tanganya.
“Badan hanya segitu, tapi tenaganya lumayan juga.” Lirih salah satu preman dengan kembali menggotong Gea.
“Memangnya utangnya berapa?” Tanya Gea yang takut berurusan lebih panjang. Akhirnya, Gea melunasi utang tersebut. Seseorang telah menggunakan identitasnya untuk meminjam uang pada lentenir dengan beban bunga yang berlipat ganda. Dengan total keseluruhan sebesar 700 juta.
__ADS_1
“Huuuu, huuuu, huuuuuaaaa.” Tangisnya dengan tersedu-sedu duduk di sebuah kafe di komplek sebelah.
“Uang bisnisku selama 3 tahun seketika lenyap tak bersisa. Huuuuaa.” Tangisnya sembari mematahkan kartu debitnya.
“Lihat saja, akan aku temukan penipu ulung tersebut, lalu memenjarakannya. Cukup cari bukti Gea, cukup mencari barang bukti.” Gea mulai berpikiran untuk meretas akun-akun yang berbau plagiat tentang dirinya, baik itu foto atau identitas lainnya.
Gea sampai dirumah dan mulai melancarkan aksinya. Sebuah pesan masuk dalam chat Fbnya. “Haris?” Tanya Gea heran.
“Cieee nomornya yang sibuk.”
“Sibuuk?”
“Cieee, yang telponan sama cowok lain.”
“Telponan?”
“Ciee yang lagi ngelak.”
“Ngelak?” Gea langsung melirik ponselnya. Panggilan tadi siang masih aktif.
“Perasaan tadi aku tolak deh.” Ungkap Gea.
“Woi hallo, penguntit kampret. Siapa ini?” Sorak Gea dengan keras, panggilan tersebut langsung di akhiri oleh nomor mencurigakan tersebut. Panggilan dari Haris mulai muncul.
“Cieee, lagi teleponan yaaa.”
“Terus kalau ngak tau, kok nelponnya lama sekali.”
“Itu, tadi siang dia nelpon, terus rasanya aku udah tolak, mungkin aku salah gesek deh. Maklumlah ponsel baru.”
“Ceilah, baca buku petunjuk gih sana.”
“Ngak pake buku petunjuk juga kali.”
“Hahahaha, oh iya bagaimana keadaanmu? Kau bahkan pulang sebelum melihat aksi panggungku.”
“Sudah mendingan, soal itu maafkan aku.”
“Aaah tidak masalah, aku hanya ingin mengatakan jangan begadang lagi, lekas tidur dan jangan lupa minum vitamin.”
“Iyaaa, makasih yaa.”
“Iyaa, Good night.”
__ADS_1
“Night.”
Gea menutup panggilan. Tiba-tiba Gina dengan emosi masuk ke dalam kamar Gea.
“Mama jangan asal nuduh gitu dong, walau tadi pagi aku minta uang 20 juta sama Papa, bukan berarti aku mencuri perhiasan Mama! Mama dengan lancang mengobrak-abrik kamarku. Ayoo, periksa kamar Gea juga!!” Teriak Gina
dengan keras, membuat kegaduhan di dalam kamar Gea.
“Ada apa ini?” Tanya Gea rancu.
“Mama baru menyadari jika perhiasan Mama hilang. Tentu saja, Mama berpikiran buruk pada Gina. Supaya adil, Mama juga akan memeriksa kamarmu.” Mama dengan emosi, juga mengobrak-abrik kamar Gea. Gea hanya terdiam melihat aksi Mamanya. Karena menurutnya, dia tidak pernah berurusan dengan hal tersebut. Mama menemukan 5 kotak perhiasannya di bawah kolong tempat tidur Gea.
“Gea ini apa?” Tanya Mama dengan emosi membuat Gea terkejut.
“Kotak itu, kenapa dia ada di sana?” Tanya Gea balik dengan sedikit cemas.
“Ya karena ada yang menyembunyikannya lah. Ngak mungkin kan bisa terbang ke sana.” Jawab Gina dengan wajah mengesalkan.
“Gea jawab Mama! Apa kau yang sudah mencuri perhiasan Mama?”
“Tidak Ma, aku berani bersumpah. Aku tidak tau menahu dengan perhiasan itu.”
“Halaa, maling mana pernah mau ngaku. Tiap bulan ganti ponsel mulu.” Gina yang memanas-manasi.
“Apa maksudmu?” lirik sinis Gea pada Gina.
“Gea, Mama sudah sangat kesal padamu. Berani-beraninya kau mencuri perhiasan Mama! Sini, ikut Mama!” Teriak Mama sembari menarik kasar tangan Gea.
“Bukan aku Ma, aku berani sumpah. Mama percayalah, bukan aku Ma.”
“Buktinya sudah ada, masih juga ngelak.”Gina kembali berusaha memanas-manasi. Sementara Gea sudah menangis dengan air mata berlimpah ruah.
“Sekarang kau mau mengaku atau tidak!” Teriak Papa yang juga ikut menghakimi.
“Bukan aku Pa.” Gea memohon untuk percaya.
“Plak!” Mama menampar pipi Gea dengan keras.
“Aku telah membesarkan seorang pencuri di dalam rumah ini. Jika kau tidak mau mengaku, sebaiknya kau angkat kaki dari rumah ini.” Hardik Mama dengan kejam, sementara Gina terlihat senyum-senyum geli.
“ Sudah cukup!! Baiklah, jika itu yang kalian mau!!! Aku akan tetap pada pendirianku!! Bukan aku yang mencurinya!! Apa Mama tidak sedikitpun mempunyai hati nurani? Kenapa Papa tidak menyelidikunya dulu, baru memberi tuduhan padaku? Bukankah Papa seorang Jaksa agung. Mama dan Papa, cih, kalian tau, dari aku lahir sampai sekarang ini, aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari kalian berdua! Perhatian kalian, dan seluruh pandangan mata kalian berdua hanya tertuju pada gadis itu!! Bang Gio bertanya apa aku merasa terintimidasi di
rumah ini? dan sekarang aku akan menjawab, Ya, aku sangat merasa terintimidasi, rumah ini hanya seperti tempat persinggahan untukku. Neraka dunia sesungguhnya adalah rumah ini. Dan sekarang aku mengerti, kenapa Bang Gio mengganti kunci kamarku. Tingkah gadis psikopat itu padaku, kalian tidak pernah tau. Dia bahkan melempar pisau dapur ke arahku, dan mengenai tanganku!! Dengan bodohnya aku, untuk mengilangkan bukti, aku menjahit sendiri tanganku yang robek. Dia bahkan, menyiramku dengan air es ketika aku tidur. dan yang lebih parah, dia pernah hampir membunuhku, dengan memasukkan racun tikus dalam makan siangku!! Sekarang, apa yang kalian tau? Apa? menuduhku sebagai pencuri? Ponsel baru? Asal kalian tau, aku tidak pernah mendapatkan uang jajan sepeserpun dari gadis gila itu!! Bang Gio-lah yang memberiku uang, hingga aku mampu bergaya. Bang Gio
__ADS_1
memberikanku tunjangan sebesar 30 juta dalam satu bulan!! Lalu untuk apa aku mencuri perhiasan itu, jika uang itu bahkan lebih untukku. Dan hari ini, karena dirimu Gina aku ditampar dan diusir dari rumah ini. Hahahahaha, aku akan pergi dan tak akan pernah kembali!! Aku akan membalas semuanya, kau bisa menunggunya!!” Teriak Gea lalu melangkah keluar rumahnya. Papa dan Mamanya hanya terdiam mematung mendengar ucapan Gea. Jantung
Papa kumat, Gina segera mencari obat pereda.