Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 14. Bos Besar


__ADS_3

Gea dengan mata yang sangat mengantuk berjalan menuju pintu hendak berangkat ke sekolah.


“Begadang teros!” Teriak Mamanya melihat Gea menguap setiap saat.


“Aku berangkat dulu.”


“Buka matamu, dan minum kopi ini.” Mama memberikan sebotol kopi ke tangan Gea.


“Sepertinya, kau harus mengurangi jadwal terbangmu.”  Suara seorang pria, membuat Gea menoleh.


 “Kapan bos besar ini pulang?” Tanya Gea dalam hati. Dia Gio Semenip, kakak laki-laki Gea. Gio memiliki tinggi 186 cm, memiliki wajah mirip Gea, atau lebih tepatnya versi laki-laki dari Gea. Namun bedanya, Gio memiliki sifat pendiam dan sangat dingin, terutama pada Gina. Gio melangkah ke hadapan Gea.


“Apa kau sudah punya pacar?” Tanya Gio dengan menatap wajah Gea yang terpaku melihatnya. Gea sangat takut, jika Gio tau mengenai dirinya yang selalu keluyuran di malam hari.


“Belum, kenapa abang bertanya seperti itu?” Gea tampak sedikit cemas.


“Kau harus mencari pacar, percuma masa putih abu-abu tidak merasakan cinta.” Jawab Gio dengan tersenyum manis membuat Gea tercengang.


“He? Apa bos besar ini sudah gila? Atau jangan-jangan dia sedang merencanakan sesuatu. Bisa sajakan, senyumannya itu membuatku sangat curiga.” Bisik Gea dalam hati.


“Gio, jangan mulai! Biarkan dia berangkat ke sekolah.” Teriak Mamanya dari dapur.


“Mau aku antar.” Tawaran maut Gio, dengan sorot mata mencurigakan.


“Tidak usah, aku punya pak sopir yang selalu mengantarkanku setiap hari. Aku berangkat dulu.” Jawab Gea sembari membuka pintu rumahnya.


“Gea Semenip.” Gea menoleh.


“Dengar ini baik-baik, aku mengawasimu.”Gio memberikan tatapan empat mata pada Gea.


“Mampuslah aku.” Bisik pelan Gea lalu melangkah keluar rumah.


“Inilah kenapa aku benci jika Bos besar pulang, dia akan membatasiku dalam segala hal, dan itu akan membuatku untuk terus di rumah. Yaa Tuhaan, aku paling tidak suka berada di dalam rumah.” Umpat Gea dalam hati. Gea melihat Brian yang yang sedang memperhatikannya. Brian berdiri di bawah pohon yang berada di depan rumahnya.


“Apa dia sedang menunggu pacarnya?” Gea melangkah dua langkah. Akal liciknya kembali muncul.


“Ahaaa.” Gea membuka dua kancing baju bagian bawah, hingga memperlihatkan perut seksinya, lalu dengan cepat menutupnya kembali dan memasang sweaternya. Gea berjalan cepat, dan ketika berdiri sejajar dengan Brian, ia kembali menepuk dada kirinya dengan pelan memberi kode pada Brian. Tak lupa, kedipan manja dengan bibir yang sedikit dimanyunkan.


“Cih.” Brian berdecih melihat aksi seksi Gea.


“Kau sudah berhasil membalas semua hinaanku. Tapi aku, bisa apa.” Bisik Pelan Brian melihat Gea melangkah menuju halte.


Gea naik bersama Ervan, Didi dan Bimo. Karena bus penuh, mereka mendapat posisi berdiri.


“Kenapa?” Ervan mengetahui kemurungan Gea.


“Bos besar pulang.” Jawabnya dengan wajah menyedihkan.


“Apaa?” Teriak ketiga temannya secara serempak.


“Kapan bos besar pulang? Kenapa kita tidak mengetahuinya? Dan kenapa aku tidak mendengar suara breeeeem breeeeeem dari mobilnya yang mahal itu?” Tanya Didi dengan wajah antusias.


“Mungkin tadi malam.” Jawab Gea sembari menghisap ingusnya.


“Aku rasa dia mengetahui perbuatan kita semalam.” Ervan menatap ke atas, membayangkan kejadian semalam. Dimana mereka kembali menonton film lawas di aula komplek.


“Intinya, beberapa malam ini aktivitas kita hanya sampai jam 10.” Bimo membuka buku hariannya dan mencoret beberapa point.

__ADS_1


“Apa dia mengatakan sesuatu yang dasyat?” Tanya Didi pada Gea.


“Dengar ini baik-baik, aku mengawasimu.”Gea meniru gaya Gio tadi.


“Mampus.” Sahut Ervan, Didi, dan Bimo secarabersamaan. Bimo turun duluan, seperti biasa, mereka bertiga memberikan lambaian pada Bimo. Bimo tampak terpaku, Gea menoleh pada Didi dan Ervan. Gea melihat


Didi dan Ervan melambai dengan wajah konyol.


“Aku tau bagaimana perasaan Bimo.” Gea menatap sinis pada Ervan dan Didi.


“Ahahahaha.” Didi dan Ervan hanya tertawa. Sementara itu, Brian masih berusaha mencuri-curi pandang pada Gea.


Sesampai di kelas, Gea langsung tepar dengan tertidur dimejanya.


“Kau begadang lagi ya.”  Lirik Lia sembari memakai lip tin pada bibirnya.


“Kebiasaan.” Sahut Dina dengan membuka rol poninya. Gea tidak memperdulikannya dan tetap tidur hingga jam istirahat.


“Huaa, nyenyaknya tidurku.”Gea menguap dengan sangat lebar.


“Hari ini kita akan pulang lebih cepat. Berkemaslah.”  Lia memasukkan beberapa bukunya ke dalam laci.


“Tumben pulang cepat.” Gea meraih cermin di laci mejanya dan  merapikan poninya.


“Plak.” Dina memukul kepala Gea dengan sebuah buku cetak.


“Au, sakit tau.” Teriak Gea dengan wajah kesal.


“Bukankah kemarin kau sudah menyebar rumor bodoh, dan sekarang rumor tersebut menjadi kenyataan. Khakhakhakhak.” Tawa geli Lia sembari menepuk pelan lengan Dina.


“Benarkah?” Sahut Gea dengan tersenyum geli. Kemarin Gea menyandang tasnya mengelilingi seluruh kelas. Ia mengatakan jika hari itu akan cepat pulang karena guru akan rapat. Tapi, ternyata diundur.


“Apa?” Tanya Gea dengan histeris.


“Mmmm, jadi pada akhir semester ini kita akan mengadakan pentas seni. Namun, dengan latihan diluar sekolah. Penentuan kelompok akan dilakukan bulan depan.” Jawab Lia dengan semangat.


“Begitu juga mata pelajaran olahraga, ujian yang dikatakan oleh ibuk kemarin diganti dengan tugas. Dan mata pelajaran tersebut diganti dengan mata pelajaran Fisika.” Sahut Dina dengan lebih histeris.


“Apaa?” Tanya Gea dengan wajah tidak percaya dan kembali tepar dimejanya.


“Tenangkan dirimu, ini bukan cobaan hidup, tapi tantangan hidup.” Lia  menyandang tasnya.


“Tiing toong, tiing tooong.” Bel panjang pun berbunyi. Mereka berpisah di halte. Gea langsung naik Bus menuju rumahnya. Brian bergegas mendahuluinya.


“Mulai lagi.” Bisik pelan Gea dengan wajah kesal. Ponsel Gea berbunyi, sebuah pesan dari Ervan masuk dengan bertubi-tubi. Ervan mengatakan jika mereka akan makan ayam panggang di kafe panggang.


“Wow, pasti ini sangat lezat, ayam panggang dengan keju lengket itu, ah aku lupa nama keju itu.” Gea kembali turun dan menunggu bus yang lain.


“Kemana dia?” Tanya Brian seraya memperhatikan Gea yang kembali turun. Brian sampai di rumahnya. Ia melihat seorang pemuda telah menunggunya. Ia tersenyum manis.


“Bagaimana kau bisa tau jika aku ada di sini?” Tanyanya dengan memukul pundak pemuda itu. Pemuda ini memiliki tinggi 188 cm, dengan kulit putih, wajah tirus, hidung mancung, rambut dan mata yang berawarna coklat asli.


“Bukankah sudah aku katakan, aku akan mencarimu kemanapun kau pergi.” Jawabnya dengan tersenyum manis.


“Taraa, aku juga ada disini.” Sorak seorang gadis cantik sembari memberikan seikat bunga pada Brian.


“Oh my God.” Gadis itu menatap terkejut pada Brian yang amburadul. Gadis itu memiliki tinggi 169 cm, dengan rambut panjang, bibir berisi dan mata sayu namun sangat cantik dan menarik.

__ADS_1


“Hahaha, dia menyamar untuk mendapatkan kehidupan yang tenang. Ide yang menarik.” Pemuda itu  merangkul Brian masuk ke dalam rumahnya.


“Seharusnya kalian tidak usah menemuiku lagi. Aku bukan lagi artis seperti yang dulu.”


“Apa menurutmu kami berteman denganmu karena kau seorang artis terkenal?” Tanya pemuda itu dengan wajah kesal.


“Hahaha, baiklah Dami. Apa rencanamu?” Tanya Brian pada pemuda yang ternyata bernama Dami.


“Gisel merindukanmu.”  Dami menunjuk gadis tersebut, membuat Brian terlihat merasa tidak suka.


“Dengar Brian, masa lalu tetap masa lalu. Percuma juga kau mencari ingatanmu, karena kau sudah divonis oleh dokter untuk tidak akan pernah ingat masa lalumu.”Gisel tampak kembali mengingatkan Brian


“Ehmm.” Kode Dami pada Gisel untuk berhenti mengatakan itu.


“Apa maksud ucapanmu? Aku sudah menemukannya. Jadi kau, tidak perlu mengkhawatirkanku.” Brian menatap tajam pada Gisel.


“Cih, benarkah. Apa sekarang, kau akan memberikan seluruh hidupmu padanya?” Tanya Gisel dengan wajah sangat kesal.


“Ya, aku akan membayar semuanya padanya.” Jawab Brian dengan cuek.


“Kau ini benar-benar. Kita ini sudah bertunangan. Kau ingat itukan. Beraninya kau.” Teriak Gisel sembari berdiri.


“Dari awal, hanya kau yang menginginkan pertunangan itu. dan beruntung sekali, karena kita hanya bertunangan.” Gisel tampak sangat marah.


“Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam.” Gisel yang  emosi lalu melangkah pergi.


“Dia pergi.” Dami melihat langkah kesal Gisel yang meninggalkan mereka.


“Kau seharusnya tidak membawanya kesini.”Brian melangkah menuju kamarnya.


“Aku memang tidak ingin membawanya, tapi dia sudah duduk manis di dalam mobilku. Apalah dayaku.” Dami mengikutinya dari belakang.


“Kamar yang bagus, jadi apa kau benar-benar sudah menemukannya?” Tanya Dami sembari duduk di depan Drum set. Dami melihat stik yang patah. Dami tersenyum dan berpindah tempat.


“Ya, aku menemukannya. Tapi aku rasa, aku telah membuat sebuah kesalahan.” Brian  meraih beberapa bungkus rokok dari bawah tempat tidurnya.


“Ikuti kata hatimu.” Dami smelirik-lirik sekeliling kamar.


“Kau kenapa?” Tanya Brian yang ternyata memperhatikan gerak-geriknya.


“Toilet dimana?” Tanya Dami.


“Disana.” Tunjuk Brian. Dami bergegas melangkah ke sana. Ketika hendak mengenakan celana, resleting celana Dami menyangkut.


“Haa, tolong bantu aku.” Teriaknya dengan berlari kearah Brian. Brian yang prihatin, langsung membantunya. Dengan posisi canggung yang menjijikkan. Tiba-tiba Gea muncul dari jendela kamar.


“Woi!!!” Teriak Gea menggema di sekeliling kamar Brian. Brian dan Dami terkejut melihat Gea yang telah berdiri di jendela kamar Brian.


“Apa yang sedang kau lakukan disana?” Tanya Brian dengan emosi.


“Ah, maaf aku tadi hanya numpang lewat. Aku sungguh minta maaf karena telah menganggu keintiman kalian berdua. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Jawab Gea dengan menudnuk canggung sembari menahan tawa dan melangkah pergi. Dami menangkap maksud perkataan Gea.


“Woi Teman, ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Teriak Dami. Namun, Gea sudah melangkah pergi, dengan segudang imajinasi di kepalanya.


“Kau! Hentikan dia! Dia bisa menyebar gossip yang tidak-tidak nantinya.” Teriak Dami dengan cemas pada Brian.


“Dia tidak akan berani.” Brian kembali menghisap rokoknya.

__ADS_1


“Apa? cih.” Dami terhenyak tak berdaya ketika mendengar pernyataan singkat Brian.


__ADS_2