
Sudah 4 hari sejak kejadian itu. Ketika Gea dan Didi bertemu dengan Ervan, mereka berdua tidak mengacuhkannya, dan bahkan menganggap jika Ervan tidak ada. Mereka berdua juga menghasud Bimo untuk menjauhi Ervan. Bimo yang mudah dihasud mengikuti perkataan Gea dan Didi. Hari ini adalah tanggal 30 desember, besok adalah hari terakhir di tahun 2018. Ervan yang merasa bosan, mulai mendekati Gea dan Didi yang
sedang bermain bola basket di lapangan olahraga komplek.
“Lempar Di” Teriak Gea. Didi melempar bola tersebut dan ditangkap oleh Ervan. Didi dan Gea terdiam, lalu berjalan menepi berlawanan arah dari arah Ervan.
“Hei, Gea, Didi.” Teriak Ervan.
“Aku punya es krim blueberry di rumahku, ayo kita makan er krim dulu. Panaas.” Ajak Gea pada Didi, dengan berjalan tanpa mengacuhkan Ervan.
“Ayooo.” Didi mengikuti Gea.
“Gea, Didi, apa kalian tidak mau lagi berteman denganku?” Sorak Ervan, sementara Gea dan Didi tetap berjalan.
“Gea, Didi, baiklah jika itu yang kalian mau! Aku juga tersiksa, aku juga menangis dengan memohon padanya, dia tetap tidak mau, dan meninggalkanku. Aku sangat terluka, dan aku tidak ingin terluka lagi. Apa aku salah? Ya, aku
salah. Gea, Didi, jangan seperti ini padaku. Apa ada selain kalian yang bisa membuatku bahagia? Aku benar-benar kesepian! Jangan tinggalkan aku, aku butuh kalian!” Teriak Ervan membuat Didi dan Gea berhenti dan menoleh ke belakang.
“Apa kau juga ingin makan es krim blueberry?” Tanya Gea. Ervan melempar bola basket yang ada di tangannya kearah Didi dan tersenyum bahagia. Didi menangkap bola tersebut.
“Ya, aku mau.” Ervan berlari kearah Didi dan Gea lalu memeluk kedua temannya.
“Kau pemuda jahat.” Bisik Gea.
“Maafkan aku, aku memang salah. Tapi, kalian harus membantuku, aku tidak bisa sendiri.”
“Bantuan untuk apa?” Tanya Didi.
“Santi.” Jawab Ervan. Lalu melepas pelukannya.
“Kau sudah membuatnya menangis, apa kau pikir dia masih mau
bersamamu?” Tanya Gea dengan wajah kesal pada Ervan.
“Oleh sebab itu aku butuh bantuanmu.”
“Bukankah dia pecundang, kenapa kau mau dengan pecundang?” Tanya Didi.
“Aku sudah ingin memulainya. Apa aku masih salah?” Tanya Balik Ervan. Didi melirik Gea dan Gea menangkap maksud lirikan Didi.
“Ada sesuatu yang harus kau lakukan.” Gea menarik Ervan ke tempat lingkaran ludahnya dulu. Setelah sampai di sana, Gea dan Didi menunjuk lingkaran tersebut.
“Apa ini? Kenapa kalian menunjuk lingkaran putih ini?” Tanya Ervan.
“Lingkaran ludahmu, sekarang, jilat.” Jawab Gea dengan dingin.
“A-a-apa?” Tanya Ervan tak percaya.
“Jilat!” Bentak Didi.
“I-i-ya.” Ervan jongkok dan menjulurkan lidahnya. Ketika lidah Ervan hampir sampai di aspal, Bimo datang dan menempelkan lolypop di lidah Ervan.
“Hoi Bimo!” Teriak keras Didi dan Gea.
“Plak, plak, plak!” Kevin memukul kepala Gea dan Didi dengan chiki yang ada di tangannya.
“Iblis jahanam. Apa kalian berdua sudah gila?” Bentak Kevin pada Gea dan Didi.
“Keviiin.” Rengek Ervan dengan memeluk Kevin.
“Dia meludahi pecundang, dan menginginkan pecundang, maka terlebih dahulu dia harus menjilat ludahnya, baru dia bisa mendapatkan pecundang.” Jelas Didi.
“Sekarang, teman kalian si pecundang itu, atau Ervan?” Tanya Kevin.
“Kevin, jangan menjelaskan dirimu sendiri, kau pecundang pertama di komplek ini.” Kencam Gea lalu berbalik meninggalkan mereka.
“Gea, es krim tadi, aku mau!” Sorak Ervan.
“Es krim, aku juga mau!” Sorak Bimo berlari mengejar Gea.
**
Ini adalah malam tahun baru, mereka mulai menjalankan rencana. Mereka menjalankan rencana di kolam ikan yang ada di belakang komplek. Seharian, mereka menghias sebuah sudut kolam dan menggantung beberapa lampion.
Gea tampak tidak setuju dengan rencana yang dicetuskan Ervan dan Didi. Didi dan berperan sebagai penyanyi latar dengan lagu romantis. Bimo berperan sebagai penabur bunga. Kevin berperan sebagai sopir Santi. Sementara Gea, berperan sebagai gadis petasan yang menyalakan petasan dan mendapat posisi di ujung kolam dengan satu lampu lampion sebagai penerang.
“Padahal aku lebih pandai bernyanyi dan menari, malah si Didi yang dipilih. Banyak nyamuk lagi.” Umpat Gea.
“Sudah, kita tinggal menekan pematik dan membakar lidi ini, lalu menghidupkan kembang api ini.” Brian tampak santai dengan game ditangannya.
__ADS_1
“Menurutmu aku ini apa? Seharusnya, kita berdua yang ada di sana.”
“Ini adalah malam Ervan dan Santi malam kita sudah lewat. Lihat di sana, Santi sudah datang.” Tunjuk Brian. Didi mulai memainkan gitarnya dan mulai menyanyi.
“Andmesh-Nyaman.”
Lama sudahku menanti.
Banyak cinta datang dan pergi.
Tapi tak pernah aku senyaman ini.
Mungkin dirimulah cinta sejati
Tak akanku ragu lagi.
Kujaga sampai keujung nadi.
Takkan kusia-siakan lagi.
Buat hidupku menjadi berarti.
Reff.
Cintamu senyaman mentari pagi
Seperti pelangi
Selaluku nanti
Cintamu, tak akan pernah terganti
Selamanya dihati
Aku bahagia milikimu seutuhnya.
Bimo sibuk melemparkan suwiran bunga mawar yang mereka curi di taman ibu Oliv. Ervan menaikkan tangannya keatas langit.
“Apakah itu kode kembang api?” Tanya Brian. Gea menyalakan pematik dan mulai menyalakan kembang api.
“Duarkk, duarkkk.” Letusan kembang api menghiasi langit malam.
“Wah indahnya.” Kagum Gea.
“Jam 10 malam.” Jawab Gea.
“Seharusnya kembang api jam 12 malam, apa kau lupa strateginya?” Tanya Brian.
“Benar, bagaimana ini?” Tanya Gea. Gea ingat jika Didi akan menyanyikan 5 lagu. Lalu, mereka makan malam romantis, dan terakhir kembang api.
“Sesuatu yang tidak ikhlas pasti berakhir seperti ini.” Jawab Brian.
“Aku tidak peduli. Ayo kita ke tempat mereka.” Malam itu, mereka semua menikmati pergantian tahun di tepi kolam. Tangis Santi sudah menjadi tawa bahagia.
**
Libur panjang telah usai.
“Haaa, aku sangat malas untuk berangkat ke sekolah.” Gea berjalan pelan kearah depan komplek.
“Angkat kepalamu Gea.” Ervan mengangkat kepala Gea.
“Jangan ganggu aku.” Kencam Gea.
“Bagaimana bisa dia tidak mengangumu? Sementara ku jauh lebih sering menganggunya.” Sindir Bimo. Oliv datang berjalan cepat mendahului Gea, Bimo, dan Ervan. Oliv memakai jaket hitam dengan penutup kepala.
“Ada apa dengannya? Kenapa dia menutup kepalanya?” Tanya Didi yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Kevin yang keluar dari rumahnya, juga ikut melihat Oliv berjalan cepat kearah depan komplek.
“Mungkin dia sedang mengindar dari para korbannya.” Jawab Gea. Bimo hanya terdiam, dan melangkah mengikuti Oliv. Oliv naik keatas bus, diikuti oleh Bimo, Gea, Ervan, Kevin dan Didi. Setelah naik agak lama, Oliv turun di
halte yang bukan arah sekolahnya.
“Kenapa dia turun di sini?” Tanya Kevin.
“Mencurigakan.” Jawab Gea.
“Kenapa Bimo juga turun?” Tanya Ervan yang sadar jika Bimo mengikuti Oliv.
“Pak, pak. Kami di sini.” Teriak Didi. bus kembali berhenti, Didi, Ervan, Kevin dan Gea mulai mengikuti Bimo yang berbelok ke dalam gang kecil perkampungan kumuh.
__ADS_1
“Kenapa Oliv datang ke perkampungan ini?” Tanya Didi dengan berjalan pelan.
“Dan kenapa Bimo mengikutinya?” Tanya Gea.
“Apa sebenarnya yang sudah mereka rencanakan?” Tanya Ervan.
“Bimo sering membatu Oliv, aku pernah melihatnya. Kali ini, masalah apa lagi?” Tanya Kevin. Oliv menghilang,
namun Bimo masih terlihat berjalan ke sebuah pondok sawah. Di sana, Bimo berdiri mengintip ke dalam pondok. Karena penasaran, Gea, Didi, Kevin, dan Ervan bergegas mendekat. Mata Bimo tampak sangat fokus, sehingga tidak menyadari kehadiran keempat temannya. Dengan cepat, Bimo mendobrak pintu pondok. Tampaklah, Oliv sedang dalam bahaya. Kedua tangannya di pegang oleh 3 orang pemuda yang berseragam sama dengannya. Sementara, salah satu pemuda tampak menamparnya.
“Hei, kalian siapa? Kenapa kalian bisa sampai ke sini?” Tanyanya. Bimo merampas tas Oliv dan memeriksa isinya. Tas Oliv berisi uang jutaan rupiah.
“Apa kalian sedang berupaya untuk memerasnya?” Tanya Bimo.
“Iya, kami tau jika dia adalah gadis pembuat masalah. Dengan mengancamnya, kami bisa mendapat keuntungan.”
“Buk.” Bimo memukul keras wajah pemuda itu hingga pemuda itu terakapar.
“Ja-jangan Bim.” Teriak Didi dengan menahan Bimo yang terlihat sangat emosi.
“Lepaskan, lepaskan aku. aku akan membunuh mereka semua.” Teriak Bimo.
“Ayo cepat lari, dia petinju kelas berat. Kalian bisa mati nanti.” Teriak Gea. Para pemuda itu saling menatap dan berlari meninggalkan Oliv.
“Apa yang sedang kau lakukan? Aku akan membunuh mereka semua!” Teriak Bimo emosi pada Didi.
“Hei Bimo. Jangan pernah melakukan kekerasan di depan gadis cantik.” Senyum Kevin berusaha menenangkan Bimo.
“ Itulah alasannya, kenapa kami sangat jarang membawamu tawuran. Kau, main bunuh saja. Ayo Di, lepas Bimo dan kita hajar keempat kesatria itu.” Ervan dan Didi berlari kencang dengan tawa buas ingin memburu mangsa.
“Eih ndut. Tak boleh, di sini ada gadis cantik.” Sindir Gea dengan melirik Oliv. Kevin melangkah kearah Oliv dan memberikan tas Oliv yang tadi di lempar Bimo pada Oliv.
“Hentikan semuanya, dan mari hidup dengan damai. Bukankah kau juga punya cinta.” Senyum Kevin pada Oliv.
“Apa maksudmu? Apa kau sedang merendahkanku?” Teriak Oliv.
“Oliv! Sudah Oliv! Hentikan!” Teriak Bimo menggema. Oliv terdiam. Tangannya gemetar, ketika mendengar Bimo berteriak.
“Aku sudah puluhan kali membantumu. Kau dengar baik-baik, jika ini terjadi lagi, aku tidak akan membantumu. Maka dari itu, berhentilah dengan grup dan blog yang mengatasnamakan kebencian!” Teriak Bimo lalu pergi.
“Jadi, Bimo, sosok dewa yang kau tulis di grup itu. Oliv, di sana kau selalu mengatakan jika aku sangat menyayanginya. Tapi sayang, dia tampak sudah sangat kecewa.” Bisik Gea membuat Oliv runtuh dan duduk di lantai tanah pondok.
“Apa kau juga bergabung dengan grup itu?” Tanya Oliv dengan menunduk.
“Ya, aku sebagai penyimak yang baik, dan mata-mata Dewamu itu.” Jawab Gea.
“Maafkan aku.”
“Apa? Aku tidak dengar.” Gea mendekatkan telinganya kearah mulut Oliv.
“Ya, aku salah. Maafkan aku.”
“Hei, sudahlah. Tanpa mengucapkan kata maafpun kami sudah memaafkanmu. Buktinya, teman-teman komplekmu selalu membantumu.” Kevin merunduk dan menyentuh pelan bahu Gea.
“Ayo, bangunlah, sepertinya mereka sudah menyerah.” Ajak Gea dengan mengulurkan tangannya pada Oliv. Ketika mereka melangkah keluar, mereka melihat 4 orang pemuda tadi sudah bersimpuh di depan pintu pondok.
“Maaf Oliv.” Mohon salah satu pemuda.
“Ucapkan secara keras dan serempak!” Teriak Ervan dengan memukul kepala mereka.
“Maafkan kami Oliv.” Sorak mereka.
“Lagi!” Teriak Didi.
“Maafkan kami Oliv.
“Lagi!” Teriak Didi.
“Maafkan kami Oliv. Tolong bantu kami bebas dari kedua pemuda ini.” Mohon salah satu pemuda.
“Wah, dia ingin dibebaskan. Kalau begitu, masuk ke dalam pondok!” Bentak tegas Bimo. Dengan cepat mereka masuk ke dalam pondok. Bimo mengambil sebuah balok kayu dan memasak pintu dari luar.
“Ayo, kita pergi.” Ajak Bimo.
“Tunggu, sekarang jam berapa?” Tanya Didi. Mereka melihat jam sudah pukul 11 pagi.
“Kita pulang jam berapa?” Tanya Ervan.
“Jam 2 siang. Apa ada yang punya rencana?” Tanya Gea. Oliv memakai jaketnya.
__ADS_1
“Beb Oliv, kau harus membuka jaketmu. Tidak adil, jika hanya kau yang menggunakan pelindung satpol pp.” Kencam Didi, membuat Kevin tersenyum.
“Biarkan saja, lagian razia sudah lewat, kita ke kafe biru saja, kan tidak jauh dari sini.” Ajak Ervan. Mereka melangkah meninggalkan pondok sawah.