
Pagi yang cerah, Gea keluar dari rumahnya dengan nyanyian snsd yang berjudul Mr. Mr.“Deo dangdanghage neon Mr. Mr. (naqlbwa) Mr. Mr. (Geurae baro neo neo neo)[Lebih beranilah kau Mr. Mr. (lihat aku) Mr. Mr. (ya! itu adalah kau)]”
“Nal gaseumttwige han Mr. Mr.(choegoui namja) Mr. Mr. (geuge baro neo)[Kau yang membuat hatiku berlari Mr. Mr. (pria hebat) Mr. Mr. (itulah dirimu)]”Gea bernyanyi sambil mengenakan sweater besarnya dengan tujuan menutupi dada besar miliknya tak lupa diiringi tarian pinggul menggoda. Ketika ia ingin melanjutkan lagunya, ia melihat Brian si gigi sudah memperhatikannya dengan sorot mata serius. Gea memberi kode empat mata pada Brian, dan berjalan cepat menuju halte bus.
“Aku tidak ingin pergi ke sekolah bersamanya. Bisa-bisa aku terkena gossip mengerikan.” Gea melangkah dengan seribu langkah menuju gerbang komplek. Sementara itu, Brian masih menunggu Oliv dengan tetap berdiri di depan rumahnya. Didi dan Ervan muncul lalu menyapa.
“Hai bro, lagi nunggu beb Oliv yak.” Goda Didi dengan mata berkedip-kedip.
“Hmmm.” Angguk cuek Brian pada mereka berdua. Rasa kesal pada mereka berdua ingin sekali ia lepaskan.
“Hey kau kenapa? Kau seperti menahan sesuatu. Lepaskan.” Bisik Ervan si pemuda peka yang menyadari jika Brian kesal pada mereka. Seketika Oliv datang dan mendorong Ervan.
“Ervan, kau kenapa sih? Selalu saja menganggu. Jalani saja hidupmu. Jangan urusi hidup orang lain!” Teriak Oliv dengan keras. Melihat reaksi Oliv yang tampak sangat marah, membuat Ervan tersenyum, lalu melirik Didi.
“Ayo Didi, kita bisa terlambat.”Didi berjalan mengikuti Ervan sembari menahan tawa.
“Khikhikhikhik.” Tawa cekikikan Didi.
“Apa kau cemburu?” Tanya Didi pada Ervan.
“Aku? kalau sudah kiamat, mungkin.” Jawab Ervan dengan wajah datar, lalu mulai mengahajar Didi, dengan jurus tenju abal-abal.
“Aduh geli, aduh geli.” Rintih Didi. Bus sudah berhenti di halte, mereka langsung naik.
“Hoi, tumben pagi, biasanya jam segini masih bobok.” Sindir Didi pada Gea.
“Aku tidak ingin pergi bersama dengan si gigi.” Bisik dramatis Gea, dengan wajah ketakutan membayangkan jika ia pergi bersama Brian.
“Fiuu.” Siul Ervan ketika Oliv dan Brian naik ke atas bus, seperti memberikan kode pada Gea dan Didi. Mereka berdua, menoleh kearah Oliv dan Brian yang berdiri berdampingan. Oliv tampak sedang menjelaskan beberapa hal mengenai kebiasaanya.
“Saran mbah Didi sih ya, sebaiknya kamu itu pergi ke sekolahnya jam 6-an gitu, biar ngak bisa bareng. Khakhakhak.” Bisik Didi lalu tertawa terbahak-bahak membayangkan Gea dan Brian yang bergandengan tangan melangkah masuk ke dalam kelas. Gea hanya cuek dan menghadap ke jendela. Sementara Brian masih mencuri-curi pandangan ke arah Gea.
Gea sampai di sekolahnya. Seperti biasa, Didi dan Ervan memberikan perpisahan yang manis dan sekaligus menjijikkan pada Gea. Karena menurut mereka, pagi yang indah akan kurang tanpa cuplikan adegan tersebut.
“Aku benci dengan ekspresi itu.” Guman Gea dengan menelan ludah pahit melihat ekspresi gaya Ervan dan Didi padanya.
“Hoi Branmur.” Sorak Brian menghentikan langkah Gea.
“Branmur?” Tanya Gea rancu, menoleh ke belakang.
“Barang murah.”
“Aku?” Tanya Gea dengan polos menunjuk dirinya sendiri seraya melirik ke belakang, lalu samping kiri dan kanannya.
“ Kau pikir siapa lagi, aku melihat jika kau sangat menyedihkan. Semoga kau bisa hidup dengan baik, murahan.” Brian melangkah mendahului Gea. Gea terdiam lama, lagi air matanya jatuh.
“Ervan, Bimo, Didi kalian dimana?” Gea menekan-nekan jari jempolnya. Ini adalah wujud dari rasa takut dan khawatir dari dirinya.
__ADS_1
“Kenapa akhir-akhir ini rasanya aku terlalu membawa perasaanku?” Tanyanya lagi pada dirinya sembari menghapus air matanya.
“Baiklah, jika menurutnya aku terlihat murahan. Aku akan menjadi murahan di hadapannya. Dan kau Brian, akan masuk dalam perangkapku, lalu merangkak ke hadapanku, lalu sujud di kakiku.” Gea tersenyum licik.
Hari ini pelajaran mengenai tata cara penulisan daftar pustaka. Pada hari ini juga, Gea dan teman-teman kelasnya untuk membuat tugas membuat daftar pustaka pada buku di perpustakaan. Mereka di perintahkan guru untuk menyelesaikannya pada hari ini juga. Gea melangkah menuju perpustakaan. Semenjak ia datang, ia tidak berbicara
pada Dina dan Lia. Ia hanya diam ketika kedua temannya bertanya tentang kencan butanya. Gea duduk di sebuah meja di iringi oleh Lia dan Dina dengan segudang pertanyaan di mulutnya.
“Sudah jelas, jika dia tidak datang.”Sindir pedas Lia membuat Gea melempar mata sinis padanya.
“Apa ini arti dari sebuah pertemanan antar gadis?” Tanya Gea dengan membalik referensi sebuah
buku.
“Apa maksudmu?” Tanya Dina dengan wajah tercengang. Tiba-tiba Kris datang, dan sudah berdiri di belakang Gea. Kris yang sangat menggenaskan dengan tongkat, dan memar pada tubuhnya.
“Kris?” Teriak Lia dan Dina secara bersamaan. Gea melihat Leher dan lengannya juga patah. Mungkin sangat sulit baginya, untuk bisa sampai ke perpustakaan ini.
“Gea, ada yang ingin aku bicarakan.” Memar di bibirnya, tampak membuatnya kesulitan untuk berbicara manis seperti di kafe.
“Apa?” Tanya Gea dengan cuek.
“Bisakah hanya kita berdua.” Jawab Kris dengan wajah mengiba.
“Apa,” Ketika Gea hendak mengancam, Kris langsung menyanggah.
“Tidak, aku dengan niat yang baik. Aku juga sudah mempunyai izin dan ini hanya sekali. Aku sudah tau semuanya, jika kau bisa saja membunuhku dengan tanganmu sendiri. karena kau pemegang sabuk hitam taekwondo.” Bisik Kris dengan tertunduk takut.
“Aku benar-benar minta maaf dengan pesan yang merendahkan dirimu. Dan juga, aku juga meminta maaf telah mengambil fotomu tanpa sepengetahuanmu, lalu mempostingnya di grup nakal milikku.”Kris tertunduk malu dengan berurai air mata.
“Hmmm.” Sahut Gea dengan cuek seraya menghadap kea rah taman di depan perpustakaan. Melihat sikap Gea, Kris kembali memulai pembicaraan juga ikut menatap kearah taman di depan perpustakaan.
“ Dulu, almarhum ibuku pernah menceritakan sebuah dongeng padaku. Dongeng, yang selalu ia ceritakan ketika aku ingin tidur. Dekapannya hangat, dan juga nada suaranya seperti lantunan lagu tidur untukku.” Kris terdiam, lalu sedikit menoleh pada Gea.
“Apa kau ingin mendengar ceritanya?” Tanya Kris pada Gea. Gea hanya melirik kesal pada Kris, lalu kembali menatap taman perpustakaan.
“Siang yang cerah, sebuah Kerikil pantai bertemu dengan sebuah Mutiara. Kau tau, Mutiara itu berasal dari dasar lautan. Mereka bertemu di tepi pantai. Mutiara yang biasanya berada di dalam lautan, menjadi lebih bersinar ketika terkena cahaya matahari apalagi ketika ia berada diatas daratan. Dari awal, Si Kerikil tersebut memiliki niatan buruk pada Mutiara, yaitu berusaha mencuri sinar dari Mutiara, sehingga ia tidak lagi direndahkan. Niatan buruknya seketika hilang, ketika melihat sisi baik dari Mutiara tersebut. Niatan buruk berubah menjadi niatan baik, yaitu ingin menjadi teman. Namun sial bagi si Kerikil, 2 Raja Emas sudah mencium niat buruknya. Raja Emas yang sudah bertekad menjaga Mutiara dengan segenap jiwa raganya. Kedua raja emas tersebut memberinya pelajaran pada si kerikil, yaitu tidak hanya dengan fisik, tetapi juga dengan kata-kata yang menohok. Raja emas itu mengatakan, hidup cuma sekali, jika kau ingin merusak cukup rusak hidupmu, dan jangan merusak sesuatu yang tidak mengetahui apa kesalahannya, apalagi itu adalah sesuatu yang sudah aku jaga semenjak aku lahir. Si kerikil mulai
berfikir, pantas Mutiara itu memiliki sinar yang berkilauan, karena ia di jaga penuh oleh dua Raja Emas.” Kris menatap Gea dengan sepenuh hati. Gea hanya terdiam mendengar cerita Kris. Gea tau, Kris sudah sangat merasa bersalah.
“Kau tau, setelah ibuku meninggal, aku selalu merasa jika aku adalah sebuah mutiara seperti dongeng yang diceritakannya. Dengan 2 orang raja emas yaitu kedua kakakku yang menjagaku. Tapi setelah bertemu denganmu, aku sadar jika aku memang ada di dalam dongeng tersebut, namun bukan sebagai mutiara, melainkan sebagai sebuah kerikil. Aku benar-benar menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Kau tau, awalnya aku memang berniat buruk padamu. Tapi, setelah aku bertemu secara langsung denganmu, niatan buruk itu sekejap sirna.” Kris sembari bersandar pada tembok pagar perpustakaan.
“Kejahatan bukan karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan.” Sahut Gea dengan kesal dengan memangku kedua tangannya.
“Hahaha, benar. Melihat kedua raja yang melindungimu, membuatmu lebih terang dari pada matahari. Jika saja aku bisa, aku sudah melaporkan semua ini pada polisi. Tapi tidak, mereka telah membuatku masuk pada pintu kesalahan, dengan menyadarkanku bahwa aku telah membuat kesalahan besar dan begitu dalam padamu.” Gea menatapnya dengan sepenuh hati.
“Apa maksudmu? Jadi kau mengatakan Didi dan Ervan itu adalah dua Raja emas yang melindungiku, kau salah besar.” Kriss mengkerutkan dahinya.
__ADS_1
“Lalu, siapa yang sebenarnya melindungimu? Kau membuatku bingung. Apa kau tidak bisa melihat kaki dan lengan ini sudah patah akibat para raja itu?” Tanya Kriss
“Mmmm, tapi bagiku ada tiga Raja emas yang melindungiku. Yang ketiga adalah Bimo.” Jawab Gea dengan tersenyum manis, membuat Kris terpana.
“Cantik sekali, namun pertemuan kita yang salah. Tetaplah bersinar wahai Mutiara yang berasal dari dalam lautan. Beberapa orang mungkin menganggapmu murahan, itu semua karena mereka tidak tau, jika kau berada di daratan, sinarmu akan menyilaukan mata mereka. Kau tidak akan pernah bisa aku jangkau. Terima kasih telah mendengarkan dongeng bodohku ini.” Kris melangkah pelan meninggalkan Gea.
“Kris, apa menurutmu aku ini terlihat menyedihkan?” Tanya Gea yang membuat langkah Kris terhenti dan menoleh padanya.
“Hei mulut sampah siapa yang mengatakan dirimu menyedihkah, kau terlihat sangat bahagia. Dan sampai detik ini, aku masih iri padamu.Tapi, tampaknya kau masih belum menemukan tempatmu. Aku yakin, kau akan menemukan tempat yang membuatmu bahagia.” Jawab Kris sembari melambaikan tangannya.
“ Tempat yang membuatku bahagia, mulut sampah.” Guman Gea dengan tersenyum manis, lalu masuk ke dalam perpustakaan. Ketika ia hendak masuk, ia melihat Brian sedang berdiri dibalik pintu.
“Apa yang kau lakukan disana?” Tanya Gea dengan wajah heran. Tanpa mengacuhkan pertanyaan
Gea, Brian berjalan menuju rak buku. Sementara itu, Lia dan Dina datang menghampiri Gea.
“Apa yang terjadi dengan Kris?” Tanya Dina dengan antusias.
“Mulai detik ini, jangan pernah mengirimku untuk sebuah pesan kencan buta.” Jawab Gea dengan dingin melangkah duduk di sebuah kursi, dan mulai mengerjakan tugas bahasa Indonesia.
“Baiklah jika kau tertutup kami juga akan tertutup.” Bisik Lia membuat Gea menoleh dingin padanya. Gea mulai mengeluarkan ponselnya, dan mengirim screenshot pesan Kris pada Dina dan Lia. Lia dan Dina sadar jika sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia mulai membaca pesan tersebut.
“Gea!!” Teriak mereka secara serempak. Gea hanya merespon dengan memanyunkan bibirnya.
“Beraninya kunyuk itu,” Lia berdiri dan hendak mengejar dan menghajar Kris.
“Hentikan, apa kau tidak melihat bagaimana kondisinya sekarang?” Tanya Gea, sementara Dina sudah lebih
dahulu berjalan menuju pintu perpustakaan. Dengan sigap Gea mengejarnya.
“Dina,dia bisa mati jika kau juga menghajarnya.” Teriak Gea menghentikan langkah Dina.
“Seharusnya dari awal kau mengatakan semua ini padaku. Kau, memendamnya sendiri. Hinaan seperti ini.” Teriak Dina dengan air mata di pipinya.
“Kenapa dengan matamu? Apa aku tidak salah lihat? Khikkhikhik.” Tanya Gea dengan tertawa geli sembari menepuk imut lengan Dina.
“Bupbupbup.” Pukul kuat Dina pada punggung Gea.
“Hey, sakit tau.” Teriak Gea menahan pukulan Dina. Dina terlihat menangis dengan tersedu-sedu.
“Maafkan aku, ini semua salahku. Jika saja aku tidak memberimu tantangan.” Lia juga sudah
berlinang air mata.
“Hey, aku baik-baik saja.” Gea menarik kedua tangan temannya dan memeluk mereka berdua.
“Maafkan kami. Kami tidak akan mengulangnya lagi.” Rintih Dina dengan ingus yang berlimpah ruah.
__ADS_1
“Iya iya, hentikan tangisan kalian. Tugas belum selesai, tapi perut ini sudah lapar. Ayo, kita ke kantin.” Ajak Gea sembari merangkul kedua temannya.
“Aku yang traktir.” Sahut Lia sembari menyeka air matanya.