Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 55. Persiapan Acara Reuni Komplek (2)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Gea masih berdiri di depan pintu rumahnya dan melirik siapa saja yang berhasil di takhlukkan oleh Didi, mengingat respon di grup komplek yang antusias hadir untuk acara ,tapi menolak hadir untuk acara persiapan. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


“Kau dimana? Kami semua sudah di aula, acara akan dimulai.”


“Waah, apa benar semua sudah di aula?” Guman Gea dengan melangkah pelan menuju aula komplek. sesampai disana, Gea tercengang melihat seluruh partisipasi warga komplek.


“Mereka benar-benar hadir. Sihir apa yang merasuki mereka? Padahal semalam sudah berbaku hantam.” Umpat Gea.


“Kenapa kau begitu lama?” Tanya Didi dengan wajah geram.


“Bagaimana bisa kau membawa mereka semua?” Tanya Gea heran melihat semua orang sibuk memasang dekorasi.


“Aku tidak melakukan apapun, semuanya hadir begitu saja.” Jawabnya lalu melangkah mengambil beberapa pita di dalam kardus yang berada di samping Gea.


“Hoi Gea, Gio dan Gina mana? Apa kau tidak memberitahu mereka?” Tanya Dodo dengan nada suara tegas.


“Aaaaa. Apa mereka juga harus ikut?” Tanya Gea berpura-pura linglung. Secara serempak seluruh mata meliriknya dengan wajah geram. Gea mengingat bakuhantam semalam di sebabkan oleh respon Gio yang dingin, lalu menghina, dan menjatuhkan kebersamaan di dalam grup komplek yang sudah sangat antusias dengan acara reuni komplek.


“Aahahaha, baiklah aku akan menjemputnya.” Gea berbalik badang menjemput Gina dan Gio.


“Gina? Aku rasa gadis sombong itu tidak akan datang, mengingat jika dia sama sekali tidak merespon perperangan semalam.” Aulia melirik Dodo.


Gea berlari kencang menuju rumahnya. Ditengah larinya, ia melihat Brian sedang berpelukan dengan Oliv.


“Peluk terooos!” Teriak Gea berusaha menahan nafasnya yang ngos-ngosan. Mendengar itu, Brian langsung melepas pelukan Oliv, lalu menoleh pada Gea. Brian tampak sangat terkejut.  Gea kembali berpikir, jika ia mengamuk, itu akan lebih berbahaya.


“Aaaah, tidak apa-apa. peluk terus-peluk, tak apa. Ahahha, acaranya ada di aula komplek yaa. Di sana, di sana.”Gea menunjuk arah aula komplek. Hawa dingin mulai terasa di sekujur tubuh Brian.


“Gea, sepertinya kau salah paham.” Brian berusaha menjelaskan, tapi Gea sudah berlari masuk ke dalam rumahnya. Brian melirik Oliv dengan lirikan ingin membunuh, lalu melangkah menuju aula komplek.


Sementara itu Gea langsung mendobrak kamar Gio.


“Baaang, banguun!! Ayo ke aula komplek.” Rengek Gea dengan menarik selimut Gio.


“Aaah, kau ini. Apa kau tidak melihat jika aku sibuk.” Gio menarik kembali selimutnya. Menyadari keributan, Gina datang menghampiri.


“Kenapa? Ada apa di aula komplek?” Tanya Gina dengan suara cempreng sembari mengunyah goreng tempe yang ada di tangan kanannya.


“Mereka berdua, pasti tidak akan pergi dengan ajakan biasa. Aku harus membuat mereka emosi.” Bisik Gea dalam hati.


“Mereka membullykuu.”  Gea mulai berakting dengan  menangis tersedu-sedu.


“Apaa? Kenapa mereka membullymu? Aku akan membunuh mereka!” Teriak Gio dengan segera bangun dari tempat tidur, dan melangkah menuju aula komplek.


“Abang, aku ikuut!” Teriak Gina.


“Yes, berhasil. Hehehehe.” Tawa Gea dalam hati. Gio dan Gina berlari tergopoh-gopoh menuju aula komplek.


“Siapa yang berani membully adikku?” Teriak Gio menggema di seluruh aula. Seluruh pasang mata melirik kearahnya.


“Adikmu yang mana?” tanya Gempal yang berpikir jika itu Gina.


“Gea. Apa kau yang menganggunya?” Tanya Gio dengan mata yang sengaja ia besarkan.


“Hey Gea, perasaaan tadi kau memakain celana panjang, kau pulang sembari berganti pakaian? Waah, ternyata bentuk tubuhmu benar-benar seksi, apa kau sedang ingin menarik perhatian timun? Pulang dan gantilah bajumu.” Kencam Didi yang memperhatikan pakaian Gina yang memakai celana pendek.


“Aku bukan Gea, aku Gina.” Lirik Gina pada Didi dengan wajah mengesalkan. Semua orang berjalan mendekat kearah Gina untuk mendengar lebih jelas. Tiba-tiba Gea datang.


“Naah, aku sudah membawa abang dan kakakku, jadi sekarang kita mulai kembali. Ayoo, ayoo.” Semua mata tertuju pada wajah Gea dan Gina.


“Heeey, ada apa ini? Apa kalian sedang bermain drama?” Tanya Alvan dengan tersenyum manis lalu menunjuk wajah Gea, Gina, dan Gio dengan kemoceng yang ada di tangan kanannya .


“Kau Gina yang mengesalkan itu? apa kau melakukan operasi plastic supaya kau bisa mirip dengan Gea dan Bang Gio? Waah, ini menakjubkan, Apa ini caramu supaya kau diakui?” Tanya Ervin dengan wajah heran.


“Haaah, aku tidak percaya ini. Dia benar-benar melakukannya. Gea, apa kau juga ikut merekomendasikannya?” Deni melirik Gea.

__ADS_1


“Aku, aku.” Gea menjadi gagap dan melirik Gina.


“Jadi, apa ada yang ingin menjelaskan ini semua? Aku benar-benar penasaran.”  Aulia memandang dada seksi


Gina.


“Iya, aku ini Gina, karena sesuatu kesalahan, aku baru muncul pada saat ini. Kenapa? Apa kalian tidak suka? Aku tidak peduli. Kalian penasaran? Kenapa mesti penasaran? Ini bukan urusan kalian, ini adalah urusan keluarga


kami.” Jelas Gina dengan dingin.


“Aku tidak ingin perperangan sesi ke dua terjadi di sini, dan itu terjadi karena kakakku. Jika itu terjadi, sempurnalah abang dan kakakku sebagai pencetus peperangan.” Gea menatap semua mata yang menatap tajam pada Gina,


kecuali Ervan, Didi, dan Bimo yang memanfaatkan kesempatan untuk bermain game.


“Ahahahahaha, ucapanmu yang dingin persis dengan Gio. Jadi Gio, apa ini alasanmu untuk menghindar dari kami?” Tanya Dodo dengan melangkah ke hadapan Gio.


“Menghindar, untuk apa? aku sedikit sibuk dengan pekerjaanku. Jadi, aku tidak ada waktu untuk ini.” Jawab Gio dengan lebih dingin.


“Ahahahaha, kenapa hari ini begitu panas yaa? Aduh, warga komplek sekalian, mari kita perjelas.” Gea mulai menceritakan seluruh kronologi kejadian bagaimana Gina asli bisa kembali pulang ke komplek.


“Apa itu benar?” Tanya Gempal dengan melirik Gio. Gio mengangguk.


“Kenapa kalian begitu heboh, ayo kembali bekerja, pekerjaan kita masih banyak.” Ervan menyenggol Didi dan Bimo untuk menyimpan ponsel mereka lalu mengambil sebuah sapu dari dalam lemari.


“Ahahaha, dia berkata seperti itu karena dia sudah tau. Ayoo, kembali bekerja.” Tawa renyah Didi membuat semua mata sinis tertuju padanya.


“Kenapa? Bukankah sekarang sudah jelas. Gina asli sudah ada di sini. Seksi pula. Aduhaiii.” Kagum Didi dengan memuji Gina.


“Apa kau mau menjadi kakak iparku?” Goda Gea pada Didi. Didi melirik Gea.


“Cih, ya aku mau, tapi itu dalam mimpimu.” Jawab dingin Didi.


“Khikhikhikhik.” Tawa geli Gea, Didi, Ervan, dan Bimo.


“Apa aku boleh ikut memimpikannya?” Tanya Bimo yang ikut-ikutan membuat mereka berempat kembali kerkikik.


“Apa ada yang lucu?” Tanya Ervin, membuat mereka berempat terdiam.


“Oh iya Gina, apa kau mengenal kami semua?” Tanya Dodo pada Gina. Gina menggeleng.


“Kau tidak perlu mengenal mereka, ayo pulang.”  Gio   menarik tangan Gina. Dengan sigap, Dodo menahan tangan Gio.


“Bukankah ini adalah saat yang membahagiakan, anggota asli kita telah kembali. Biarkan dia berbaur dengan teman-temannya.” Bisik kejam Dodo pada Gio. Gio melepaskan tangannya dari tangan Gina, itu membuat Dodo


melepaskan tangannya dari tangan Gio.


“Baiklah, kalau begitu, mari satu persatu melakukan perkenalan.” Dodo memulai  dengan nada tegas.


“Kenapa? Kami semua sudah saling mengenal.” Berontak Didi dengan nada kesal.


“Kau yang pertama!” Tunjuk Dodo pada adiknya, Didi.


“Haai semuanya, aku Didi. Aku pria terganteng di komplek ini.”Didi melambaikan tangannya.


“Aku Ervan, aku suka cewek seksi.” Dengan sigap Didi memukul pelan bahunya dan tertawa geli.


“Sangkin seksinya ya.” Cemooh Gea, membuat tawa mereka menjadi lebih geli.


“Aku Bimo. Aku, aku.” Bimo tampak gugup membuat Ervan mengusap dada Bimo, seraya berusaha menenangkan Bimo, lalu kembali terkikik.


“Aaah, sudah. Aku Gempal, kau bisa bergabung dengan kami.”


“Aku, Oliv.”


“Aku Alvan, apa kau sudah punya pacar?”

__ADS_1


“Aku Kevin, dia lebih gila dari tampangnya.” Potong Kevin dengan menggertak Alvan, abangnya.


“Aku Noval, kau pasti ingat dengan wajah tampan ini.” Gio langsung berdecih geram.


“Aku Erwin, sebelumnya kita pernah bertemu bukan?”  Erwin tersenyum manis.


“Dimana?” Tanya Gio dengan wajah geram.


“Di halte bus, dia pasti berpikir jika aku ini Gea.” Jawab Gina dengan tersenyum malu.


“Tentu, kalian berdua sangat mirip.” Sahut Erwin.


“Lalu siapa yang abang pilih, aku atau kak Gina?” Tanya Gea dengan nada genit.


“Aku Brian, senang berkenalan denganmu.” Potong Brian dengan melirik Gea dengan mata laser pembunuh.


“Apa-apaan dia?” Guman Gea dengan melirik balik Brian dengan mata kesal.


“Oooh, aku kenal, kau kaaaan.”  Gina  mengedipkan mata kirinya pada Brian.


“Aku Beni, abangnya Brian.”


“Aku Ervin, kau pasti kenal aku kannn. Kita dulu sangat dekat.” Ervin merangkul tangan Gina.


“Dulu kau memakai kaca mata. Aku ingat.”


“Aku Deni.”


“Aku Aulia.”


“Aulia si bandit kejam komplek ini.” Sahut Didi membuat semua orang tertawa.


“Aku Tasya, aku warga baru di komplek ini. Salam kenal semuanya.” Tasya menunduk hormat.


“Siapa yang mengajaknya?” Tanya Didi dengan wajah geram pada Gea.


“Tadi aku bertemu dengannya di jalan.” Gea merangkul tangan Tasya.


“Apa kau sudah punya pacar?” Tanya Kevin medekat melihat kemolekan Tasya.


“Menjauh darinya, dia itu virus.” Didi berjalan cepat ke hadapan Gea, lalu menarik tangan Tasya.


“Oke, yang terakhir yaitu aku. Aku Dodo, senang berkenalan denganmu. Selamat datang kembali di komplek ini. Kau akan terbiasa dengan kehebohan komplek ini.” Dodo tersenyum ramah.


“Aku rasa aku juga perlu menyebutkan namaku.” Seseroang  melangkah masuk, semua mata tertuju padanya.


Seorang gadis dengan pakaian dokter melangkah dan menatap Gina.


“Aku Kayla, sudah aku bilangkan jika kau adalah anak dari Om Sem.” Kayla menepuk pelan bahu Gina.


“Kapan kau pulang?” Tanya Gina dengan menepuk balik punggung Kayla.


“Apa kalian saling mengenal?” Ervin menatap curiga.


“Kami kuliah di tempat yang sama.” Kayla merangkul bahu Gina.


“Apa aku terlambat?” Tanya seseorang lagi.


“Tidak, masuklah, acaranya baru akan dimulai.” Jawab Kayla. Semua mata tertuju pada wanita itu.


 “Hay semuanya, lama tidak bertemu.” Wanita itu, membuka kaca mata hitamnya.


“Nuri?” Tanya Noval dengan wajah tidak percaya. Semua orang tercengang, termaksud Gio. Sementara Gea melangkah kearah Gio.


“Aku sudah menduga ini, kiamat sudah dekat.” Bisik Gea pada telinga Gio.

__ADS_1


“Kita lihat saja nanti.” Bisik balik Gio.


__ADS_2