
“Hey, kita belum membaca catatan kecil lainnya.” Teriak Didi dengan kesal.
“Sudah cukup, jika hanya itu, aku juga sudah tau.” Gea memastikan seluruh lembar kertas terbakar.
“Huuft, ternyata dia dipaksa, dengan ancaman nyawa adiknya.” Bimo terlihat prihatin.
“Hmmm.” Angguk Gea.
“Hidupmu penuh dengan drama Gea. Hei kunyuk, Matamu itu!!” Teriak kesal Didi pada Ervan yang menatap jijik padanya.
“Kau jauh lebih pandai berdrama dan sangat baperan.” Jawab dingin Ervan pada Didi.
“ Baper? Apa kau baik-baik saja? Baper kenapa? Karena kisahku?” Tanya Gea pada Didi membuat Didi menatapnya dengan sepenuh hati.
“Yaa, seperti ini. Kau kan seorang wanita, aku ini seorang laki-laki.” Didi tiba-tiba terdiam.
“Lalu jika aku seorang wanita. Hey, apa kau mengakui jenis kelamin ini? Didi, apa kau sedang jatuh cinta padaku?” Tanya Gea dengan mengkerlap-kerlipkan matanya.
“Aaaaah, mulai lagi.” Bimo menggaruk perut buncitnya.
“Mengakui jenis kelaminmu dan jatuh cinta padamu, itu tidak akan pernah terjadi .” Bentak Didi membuat Ervan tersenyum geli.
“Lalu, apa?” Tanya Gea dengan wajah dingin.
“Eeehmm, pengakuan cinta pertamaku di tolaaaak. Huaaaaaa huaaaaa, huaaaaaa.” Tangis Didi seperti anak kecil. Bimo dengan sigap menggambil tisu. Sementara, Ervan hanya menutup wajahnya dengan tangan kirinya karena malu dengan tatapan seluruh tamu restoran.
“Apa kau tidak menggosok gigimu ketika hendak menyatakan cinta?” Tanya Gea dengan wajah prihatin.
“Menggosok gigi, ya pagi hari ketika aku mandi.” Jawab Didi dengan polos.
“Pantas.” Angguk Gea dengan cuek.
“Aku rasa itu bukan karena bau mulutku. Itu karena, dia!!” Tunjuk Didi pada Ervan. Ervan hanya tersenyum sinis.
“Gadis itu yang menolak cintamu, kenapa Ervan yang kau salahkan?” Tanya Gea dengan wajah sedikit heran.
“Karena dia menyukai Ervan!!!” Teriak Didi dengan merengek menjijikkan.
“Apa? Apa gadis itu mengatakan perasaannya padamu?” Tanya Gea melirik Ervan.
“Itu semua bukan salahku.” Jawab Ervan dengan dingin.
“Hanya karena seorang gadis, kalian berdua mengeluarkan hawa dingin, dan tidak saling berbicara” Gea menjadi kesal, karena baru menyadari kejadian hari ini.
“Aku sudah menasehati mereka berdua, tapi tetap saja.” Bimo menunduk sedih.
“Maafkan aku Bimo. Seharusnya, aku yang bertanya padamu. Apa kau baik-baik saja menghadapi dua **** ini?” Tanya Gea dengan wajah prihatin pada Bimo.
“Berat badanku turun 3 kg. Kau tau, mereka bahkan beradu otot di depan umum. Seperti, itu!” Tunjuk Bimo pada Didi dan Ervan yang sudah bergulat, dengan posisi Didi berusaha menahan kaki Ervan yang hendak menginjak wajahnya.
“Hehey, aku tau tempat dimana kalian bisa mengeluarkan seluruh tenaga kalian berdua.” Teriak Gea dengan geram, lalu menarik baju Didi dan Ervan keluar dari restoran, dan membawa mereka masuk ke dalam sebuah lapangan
basket. Sementara Bimo, pergi membayar makanan.
“Okeeh, ini bolanya. Siapa yang paling banyak memasukkan bola ke dalam ring basket selama 25 menit, dialah pemenangnya. Dan yang kalah, harus meminta maaf duluan, lalu mengakui kesalahannya. Sepakaat!!!” Teriak Gea dengan sangat semangat.
“Sepakat!!” Teriak Didi dan Ervan secara serempak dengan tatapan empat mata yang mematikan.
__ADS_1
“Daan, mulai!!” Teriak Gea dengan melempar bola. Pertandingan sengit. Aksi dorong mendorong terjadi. Bahkan Didi sempat-sempatnya menggigit tangan Ervan, dan Ervan langsung menggigit balik. Bimo datang dengan membawa ciki-ciki.
“Aku merasakan hawa lapangan basket ini sangat panas, walau angin berhembus kencang.” Bimo membuka cikinya.
“Sejak kapan ini terjadi?”
“Seminggu yang lalu.” Jawab Bimo dengan wajah serius menyaksikan pertandingan Ervan dan Didi.
“ Memangnya siapa gadis itu? Sampai-sampai Didi berubah menjadi begitu buas.”
“Tetangga baru kita, yang kebetulan teman satu sekolah Didi.” Bimo tersenyum geli.
“Tetangga baru kita?” Tanya Gea rancu.
“Yaa, tetangga baru. Ketika kau kabur dari rumah, tetangga baru masuk ke dalam komplek. Dan juga, dia seorang anak pejabat.”
“Lalu, seberapa menariknya dia hingga Didi sampai bertekuk lutut padanya?”
“Biasa saja, tapi menurutku agak sedikit pandai bermain drama.” Ketus Bimo dengan wajah kesal.
“Maksudnya?” Tanya Gea lebih rancu.
“Dia akan mengeluarkan tampang manis pada semua pria. Kau akan melihatnya nanti jika kau betemu dengannya.”
“Apa padamu juga?” Tanya Gea dengan lirikan manja. Bimo hanya mencibir.
“Oh iya, apa kau baik-baik saja? Karena kesal dengan mereka berdua, aku juga menjadi kesal padamu.” Bimo menoleh pada Gea.
“Kau bisa lihatkan, aku baik-baik saja. Kau sudah berusaha membuat mereka akur, tapi tampaknya malah menjadi semakin panas.” Gea tersenyum geli.
“Bukankah kau juga tau, hanya kau yang bisa menangani masalah mereka berdua.” Jawab Bimo dengan merangkul bahu Gea.
“Entahlah, ini sudah 25 menit, Siapa yang kalah?” Tanya Bimo balik.
“Buat si Didi yang kalah.” Jawab Gea dengan dingin.
“Okeeh, pertandingan selesai. Skor akhir adalah Didi sebanyak 50.” Teriak Bimo membuat Didi langsung berlari ke sekeliling lapangan untuk merayakan kemenangannya.
“Dan Ervan sebanyak 56. Ervan menang!!” Teriak Gea dengan girang. Tiba-tiba Didi tumbang dengan menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan nafas. Ervan melangkah kearah Didi. Sementara Gea dan Bimo hanya memperhatikan dari tepi lapangan.
“Aku yang salah, maafkan aku.” Ervan mengulurkan tangannya pada Didi yang masih berguling-guling kesal. Didi terdiam, dan langsung meraih tangan Ervan.
“Tidak, aku yang salah. Aku juga minta maaf.” Didi menarik tangan Ervan lalu memeluknya.
“Bukh!” Didi memukul keras punggung Ervan.
“Sebaiknya aku menarik ucapanku tadi.” Bisik geram Ervan pada Didi.
“Itu yang aku rasakan. Apa kau merasakannya?” Bisik balik Didi pada Ervan.
“Aku tidak menyukainya. Kami hanya berbincang sebentar, lalu pulang.” Ervan melepas pelukan Didi dan berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa kita juga harus ke sana?” Tanya Bimo pada Gea.
“Kenapa kau bertanya seperti itu? Ayo.” Ajak Gea melangkah ke hadapan Didi dan Ervan.
“Aku sudah tau, dan aku tidak ingin mengerti. Karena aku, adalah Didi.” Bentak Didi dengan sombong.
__ADS_1
“Plak!” Gea memukul kepala Didi dengan keras.
“Hey, apa kau sudah gila?” Teriak Didi pada Gea.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa karena seorang gadis kau mau bersikap seperti ini kepada kami?” Tanya Gea dengan wajah kesal.
“Tentu saja tidak.” Teriak Didi dengan keras.
“Lalu kenapa kau membuat kami meminta maaf atas kesalahan dan keegiosan dirimu sendiri?” Tanya Gea lagi dengan memangku kedua tangannya.
“Aku, aku hanya kecewa dengan diriku sendiri.” Jawab Didi dengan suara pelan.
“Kenapa?” Tanya Ervan dengan mendekat kearah Didi.
“Karena aku, tidak mampu menarik perhatiannya, seperti dirimu!” Teriak Didi pada Ervan, melihat ekspresi konyol Didi yang menahan emosi, membuat Gea dan Bimo tertawa.
“Khakhakhakhakhakhak.”
“Dibandingkan Ervan, kau jauh lebih menarik. Otot ini, dan kulit eksotis ini. Kau tidak berhak untuk kecewa pada dirimu yang indah ini. Cukup kecewa dengan bau nafasmu, itu sudah sangat lebih dari cukup.” Gea menatap Didi dengan wajah prihatin.
“Kau melambungkanku ke atas langit dan menjatuhkanku ke dalam lumpur yang diaduk dengan kotoran kerbau. Sunguh mengagumkan.” Didi langsung menjabat tangan Gea. Gea langung menepisnya.
“Mari berbaikan!” Gea menarik tangan Ervan.
“Kami sudah berbaikan.” Sahut Ervan dengan cuek.
“Apa gadis itu cantik?” Tanya Gea pada Didi dan Ervan.
“Biasa saja.” Jawab Ervan secara langsung.
“Tidak, dia sangat biasa saja.” Didi lebih menjelaskan.
“Lalu bagaimana kau bisa mengenalnya?” Tanya Gea pada Didi.
“Itu ketika aku sedang mencari keberadaan dirimu. Kebetulan, dia baru pindah ke komplek kita. Sebelumnya, aku memang sudah lama meliriknya di sekolah. Karena begitu grogi, aku sampai jatuh ke selokan rumah Bimo. Ketika ia ingin membantu, aku menepis tangannya, dan ia juga ikut terjatuh ke selokan. Tangan ini gemetar untuk membantunya. Ervan datang dengan gaya dinginnya, dan membantu gadis itu. Hingga hubungan mereka menjadi lebih.” Didi melirik Ervan dengan kesal, sementara Gea dan Bimo susah menahan tawa membayangkan kekikukan Didi di hadapan gadis itu.
“Tidak ada yang lebih, kau hanya salah paham.” Potong Ervan dengan nada suara sedikit tinggi.
“Lalu?” Tanya Gea lagi.
“Setelah berkonsultasi dengan dewa Bimo, aku memutuskan untuk meminta maaf atas kejadian hari itu. Dan ketika aku datang untuk meminta maaf, bukan kata maaf yang keluar dari mulut ini, tapi, kalimat apakah kamu mau
menjadi istriku?” Didi menunduk malu. Tawa Gea, Bimo, dan Ervan tak terelakkan.
“Khakhakhakhakahkahkahakahak. Aduh perutku. Khakhakhakhakhakhakhakhak.”
“Didi, mulai hari ini, sebaiknya kita tidak lagi berteman. Kenapa mulut baumu itu begitu ceroboh? Khakhakhakhakhakhak. Kau harus berkenalan dulu, berpacaran dulu, baru menikah. Jika aku ada di posisi gadis itu, aku melemparmu dengan senyum cemooh. Ahahahahaha.” Gea tertawa terbahak-bahak melangkah menepi
ke tepi lapangan.
"Kesimpulan masalh kita adalah, karena kau terkena sindrom cinta pertama, yang membuatmu kecewa dan melampiaskan kekecewaanmu padaki. Didi, pantas saja dia menolakmu, karena kau mengajaknya untuk menikah denganmu. Khikhikhikhik.” Tawa Ervan dengan mengikuti Gea.
“Hoii, lalu aku harus bagaimana?” Tanya Didi yang masih rancu.
“Sepertinya, kau salah menangkap maksud ucapanku. Aaah, mungkin sebaiknya kau pergi bertapa dalam beberapa hari, supaya kau sedikit mendapatkan pencerahan. Kau pasti akan menemukan jawabannya.” Bimo meninggalkan Didi dengan raut wajah kecewa.
“Benar, sebaiknya aku pergi dari komplek untuk beberapa hari, sehingga kalian tau betapa berharganya diri ini. Aiish kesalnya, kenapa aku mengatakan kalimat itu?” Didi menghentakkan kakinya.
__ADS_1
“Hoi Didi, ini semua belum greget. Mau membuat kesalahpahaman lainnya.” Sorak Bimo pada Didi, lalu melangkah menyusul Gea dan Ervan.
“Kerbau setan.” Umpat Didi.