Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 6. Si Anak Baru


__ADS_3

Gea melangkah keluar dari kantor guru.


"Azaaaa, aku memang hebat." Gea merapikan poninya pada cermin yang terpampang di depan ruang guru.


"Gea Semenip, cepat cari murid baru itu!" Teriak Buk Ros yang ternyata sudah berada di depan sampingnya.


"I-iya Buk." Gea dengan berjalan cepat.


"Si murid baru ini juga, **** amat sih, masa ngak tau kantor guru, kan di depan ada papan peta sekolah." Umpat Gea.


Gea mulai melangkah menyusuri lorong demi lorong sekolah. Tetap, ia tidak menemukan sosok siswa baru. Ia melihat Kino sedang tergopoh-gopoh membawa seember air.


“Hoy Kino.” Sorak Gea dengan tersenyum. Melihat itu, membuat Kino lebih bergegas membawa ember tersebut. Tentu saja, itu membuat Gea curiga. Gea bergegas mengikuti Kino dari belakang. Kino adalah anggota geng kucir. Geng yang terkenal garang di sekolah. Setiap harinya, pasti ada objek bully mereka. dan yang paling pasti adalah, objek tersebut hanya akan bertahan selama 2 hari.


“Kau, sudah aku panggil malah mangkir!” Teriak Gea sembari menarik kerah belakang Kino.


“Ampun Gea, jangan bunuh aku. Ini suruhan bos.” Bisik Kino dengan wajah memelas. Gea melihat isi ember tersebut ternyata bukan seperti yang ada di pikiran Gea. Ember itu berisi tanah yang sudah menjadi lumpur dengan bauk pesing menyengat.


“Aku tidak berminat mengganggu pekerjaan kalian. Aku cuma mau tanya. Apa kau melihat anak baru?” Tanya gea dengan tersenyum manis.


“A a anu. Ti ti-tidak.” Jawabnya gagap membuat Gea curiga. Gea langsung berpikir jika objek bully mereka kali ini adalah si anak baru. Gea berlari ke belakang sekolah yang merupakan markas mereka. Benar saja, Omar si ketua geng sedang sibuk melucuti pakaian si anak baru.


“Omaaaarr!!!!” Teriak Gea membuat kegaduhan di markas mereka.


“Oh ratuku, kenapa kau datang kesini? Kau bisa menghubungiku, aku akan langsung menghampirimu.” Omar  melangkah kearah Gea dengan wajah sok ganteng. Omar memiliki tingi 160 cm, dengan rambut keriting, dan kulit putih. Wajahnya sangat mengesalkan.


“Lepaskan dia!”


“Apa kau juga ingin terlibat?” Omar berdiri di hadapan Gea dan menatap wajah Gea secara penuh.


“200.000 satu bulan plus transfer flasdisk.”  Gea memberikan penawaran paling dinanti-nanti oleh Omar.


“Lepaskan dia.” Perintah Omar pada teman-temannya.


“Trakk,” Omar melangkah pergi sembari menendang ember yang di bawa oleh Kino. Gea mulai mengemasi pakaian si anak baru.


“Aku tidak akan membalas ini semua. Dasar cewek murahan.” Si anak baru itu menatap  jijik pada Gea. Itu membuat Gea tidak percaya. Amarah Gea mulai muncul.

__ADS_1


“Apa kau sadar dengan ucapanmu ini?” Tanya Gea dengan wajah lebih jijik.


“Aku sadar sesadar-sadarnya.” Jawabnya sembari memakai kaca mata culunya. Di saat itulah Gea menyadari jika si anak baru ini adalah anak tetangga barunya. Seketika amarahnya hilang diterbangkan oleh angin.


“Kau, kangen band anak tetangga baru. Pantas saja mereka membullymu. Khikhik.” Gea tertawa cekikikan, melihat gaya si anak baru. Si anak baru hanya pergi dan tak lupa menyenggol bahu kanan Gea. Gea memiliki sifat yang sangat sulit untuk menyimpan dendam, selalu menerima semua hinaan, membuatnya mudah melupakan hal-hal yang pernah menyakitinya.


“Hei, sebaiknya kau mengubah gayamu itu.” Sorak Gea.


“Khikhikhikhikhik” Tawanya.


“Aduh perutku, sampai sakit.” Gea memegang perutnya.


“Sebaiknya aku kembali ke kelas.”Ia berjalan dengan santai dan masuk ke dalam kelasnya. Sementara itu, Lia dan Dina sudah menunggu dengan wajah penasaran bercampur prihatin.


“Bagaimana? Apa yang dikatakan Buk Ros perihal bisnis harammu itu?” Tanya Dina dengan wajah penasaran.


“Aku takuut, jangan-jangan kau kena skors lagi.” Lia tampak sangat prihatin.


“Tenang, aku lolos.” Jawab Gea dengan tesenyum manis. “Tapi karenanya, aku mendapat kerugian yang berlipat-lipat.” Gea menggenggam tangannya dengan wajah geram.


“Kerugian yang berlipat-lipat?” Tanya Lia dan Dina serempak. Sementara itu, Pak Jon datang membawa si anak baru masuk ke dalam kelasnya. Perhatian mulai tertuju pada si anak baru.


“Sekolah kita kedatangan murid baru. Ia adalah pindahan dari Kanada. Jadi, berinteraksilah dengan baik.”


“Huuuuuuuuu.”Semua siswa bersorak ketika mendengar kata Kanada. Sementara, Gea hanya memanyunkan bibirnya.


“Sudah-sudah. Nak Brian, silakan perkenalkan dirinya.” Pak Jon mempersilakan dengan ramah.


“Perkenalkan, nama saya Brian El Dino. Saya biasa di panggil Brian.” Gea menatapnya tajam. Angin berhembus pelan melalui jendela yang berada tepat di samping Gea.  Dengan nakalnya, angin tersebut menghembus rambut panjang Gea yang terurai manja di bahunya. Fokus Gea langsung buyar, lalu menutup jendela tersebut dan mulai memperbaiki rambutnya. Sementara Brian melirik Gea, dan memberikan senyum sinis menjijikkan pada Gea. Gea menangkap dengan pasti senyuman itu.


“Senyuman itu, aku rasa, aku pernah melihatnya. Tapi dimana?” Bisiknya dalam hati.


***


Seorang wanita dengan kaca mata hitam mewah turun dari mobilnya. Tak lupa ia membawa sebuah berkas di tangan kanannya dan melangkah cepat masuk ke dalam sebuah studio foto. Studio foto ini adalah sebuah gedung yang memiliki 4 lantai dan berada di pusat keramaian. Dari kejauhan beberapa orang mulai mengawasi langkah anggun wanita itu. Ketika wanita itu mulai mendekati sebuah ruangan, beberapa orang ini langsung menghalanginya.


“Maaf Nyonya, di sini ada pemotretan sebuah produk, acara reunian ada di lantai 2.”

__ADS_1


“Apa aku terlihat seperti ingin pergi reunian?”  Wanita itu membuka kaca matanya.


“Maaf Nyonya, lalu anda mau kemana?”


“Aku adalah ibu El Dino. Aku ingin menjemput anakku. Minggir!” Wanita itu mendorong orang- orang yang menghalanginya.


“Maaf Nyonya, tapi Pak El Dino sedang menjalani pemotretan. Mohon menunggu sebentar.” Wanita itu masuk ke dalam ruangan dan melempar berkas tersebut pada wajah pria tua yang sedang duduk santai di tepi ruangan.


“Apa-apaan ini Nyonya Vera?” Tanya Pria tua itu dengan wajah penuh emosi.


“Pak tua, baca ini secara jelas-jelas. Kau bisa terkena tindak pidana karena telah memperkerjakan anak di bawah umur! Dengan kekuatan berkas ini, seluruh kontrak yang mengikat antara putraku dengan dirimu sudah putus.” Jawab wanita itu dengan tersenyum puas.


“Tidak, berkas ini tidak memiliki kekuatan hukum. Kau tidak bisa memutuskan kontrak begitu saja. El, tolong jelaskan semuanya pada Ibumu. Aku mohon El.” Rintih pak tua itu memohon pembelaan pada seorang pemuda yang sedang duduk di atas kursi dengan sebuah produk parfum di tangannya. Ia hendak siap-siap dengan pose mautnya menunggu petikan kamera yang sudah berada di hadapannya. Perawakannya yang menawan membuat hampir semua orang yang melihatnya langsung jatuh hati padanya. Hidungnya mancung, lensa asli matanya berwarna abu-abu, kulitnya putih bersih dengan tinggi yang mencapai 193 cm. Tak lupa, tangan dengan otot yang kekar membuatnya tambah berkarisma.Rambutnya yang berwarna hitam, dengan senyum tipis menggambang mulai mengeluarkan suara.


“Ibu, aku sudah nyaman dengan semua ini Bu.” Ia berbicara dengan lembut sembari menyemprotkan parfum tersebut pada lengannya.


“Tidak lagi Brian! Ibu tidak ingin melihatmu tenggelam di dalam kegelapan ini! Ibu akan membawamu kembali ke tempat dimana kau akan mendapatkan secercah cahaya untuk tujuan hidupmu.” Sahut wanita itu dengan air mata yang bercucuran di wajahnya. Pemuda itu langsung terdiam. Pandangannya kosong seperti hendak menangkap sesuatu dari perkataan ibunya. Dan sebuah fakta baru yang kita terima, ternyata pemuda itu adalah Brian. Brian


sendiri sudah menggeluti dunia seni sejak ia berumur 5 tahun. Pada saat ia berumur 10 tahun, ia mengalami kecelakaan dan mengharuskan ingatan masa kecilnya terhapus begitu saja. Dan sejak saat itu, Brian mulai tenggelam dalam kegelapan. Ia mulai mengikuti alur hidup yang semestinya tidak ia ikuti. Ia mulai memperdalam dunia keaktrisan. Hingga sekarang, ia menjadi seorang aktor dan model internasional. Semua orang mengenalnya dengan nama El Dino.


“Apa ibu bisa menjaminnya?” Tanya Brian sembari meletakkan parfum tersebut pada sebuah meja kecil di sampingnya.


“Ya anakku. Ibu menjaminya, kita akan mengulang kembali semuanya di Indonesia.” Jawab Ibunya membuat pak tua itu tertawa licik.


“Hahahaha, Indonesia? Apa kau ingin kembali ke Indonesia seperti kata ibumu ini El? Kanada lebih menyenangkan. Jika kau memang ingin sekolah, kau bisa memilih sekolah ternama di sini.”


“Plak!” Tiba-tiba tamparan keras mendarat di wajah pak tua itu. Tamparan maut Ibu Vera sukses membuat pak tua itu terdiam.


“Selama 7 tahun ini, aku sudah membiarkanmu mengatur dan menghasut anakku. Tapi mulai detik ini, biarkan dia yang mengatur dirinya sendiri. Kau, sudah punah!” Kencam Ibu Vera membuat pak tua itu geram.


“El Dino, sekarang kau pilih aku atau ibumu yang gila ini!” Teriak pak tua itu menggema seisi studio.


“Sudahlah Pak Son. Aku tidak akan berhenti. Aku hanya istirahat untuk beberapa saat. Sepertinya aku juga butuh waktu untuk sendiri. Seperti kata ibuku yang gila ini, Indonesia sepertinya cocok untukku.” Sahut Brian sembari melangkah menuju ibunya dan merangkul santai bahu ibunya.


“Terserahlah, jika memang itu keputusanmu. Aku bisa apa.” Pak tua itu, melangkah meninggalkan studio.


“Tapi Bu,  aku juga ingin kehidupan normal seperti orang-orang diluar sana. Lalu, apa yang harus aku lakukan dengan wajah tampanku ini?” Tanya Brian pada ibunya dengan wajah manja. Sudah rahasia umum jika Brian sangat terkenal di Indonesia.

__ADS_1


“Ibu punya ide.” Jawab Ibunya dengan semangat. Ide tersebut adalah membuat model gaya Brian jauh dari model masa sekarang, yaitu model poni Kangen Band. Dan model ini sukses membuat Brian tidak dikenali.


__ADS_2