
Siangnya, Gea, Dina, dan Gisel menerima royalti jadian dari Lia.
“Yee, akhirnya teman kita yang preman ini mendapatkan pacar dari golongan yang sama.Wkwkwkwkwk.” Tawa Dina dengan meniru suara bebek.
“Plak.” Gea memukul kepala Dina dengan menu yang berada diatas meja.
“Apa sekarang kau ingin mengutuk mereka berdua?” Tanya Dina dengan tatapan mata licik.
“Untuk apa?” Tanya Gea balik.
“Mari kita pesan yang paling mahal.” Bisik Dina dengan tersenyum licik.
“Biasanya kita makan yang mahal juga kann.” Lirik Lia dengan memesan makanan yang biasa mereka pesan.
Setelah menerima royalti, mereka langsung pergi ke kafe kpop untuk membeli poster korea terbaru. Karena sangat sibuk, Gisel harus pulang duluan.
“Bukankah suamiku ini sangat tampan.” Lia memperlihatkan poster terbaru Kang Daniel member Wanna one pada Gea.
“Heeh, Minhyun lebih tampan.” Timpal Dina dengan memeluk poster tersebut.
“Aiish jihoonku, sedih sekali rasanya. Tapi kita, harus mendukung mereka. Mereka memang harus berakhir sesuai dengan perencanaan awal ketika grup mereka di debutkan.” Gea tersenyum manis melihat poster Jihoon di tangannya.
“Yang pasti dia akan menikah denganku.” Lia mencium poster Kang Daniel.
“Lalu Harismu, apa akan kau berikan padaku?” Tanya Dina dengan wajah datar.
“Ambil saja.” Jawab Lia dengan tersenyum manis.
“Dina, Eunwoo ada di sini.” Teriak Gea pada Dina. Dengan antusias Dina langsung berlari kearah Gea.
Mereka bertiga sangat puas dengan membeli beberapa poster terbaru bias mereka. Gea membeli 1 poster Jimin, Lia membeli 2 poster Kang Daniel, sementara Dina memborong 10 poster antah berantah.
“Aku lewat sini yaa.” Dina masuk ke dalam Mall, karena bus menuju rumahnya ada di belakang Mall.
“Aku penasaran dengan isi kamarnya.” Pikir Lia dengan wajah kagum.
“Apa kau sudah lupa? Tidak jauh beda dengan isi kamarmu.” Bisik Gea sembari berjalan menuju halte.
“Hei Gea, terima kasih yaa.” Lia menyenggol bahu Gea sembari tersenyum manis.
“Untuk apa?” Tanya Gea dengan memeluk gulungan poster Jimin.
“Untuk Haris. Tapi aku, ingin tau bagaimana itu semua bisa terjadi?”
“Aku dan Haris sudah saling mengenal semenjak duduk di bangku SMP. Asal kau tau, dia itu salah anak laki-laki culun di kelasku. Selalu dibully, dan direndahkan oleh anak laki-laki lain. Pada saat itulah, aku datang membantunya, membantunya untuk mengenal dunia yang sebenarnya. Dan sejak saat itu, dia selalu menempel padaku. Dia memaksaku untuk membuat sebuah perjanjian. Jika kami akan selalu bersama kemanapun nantinya kaki ini melangkah. Itulah sebabnya, kami begitu dekat dan itu hanya sebagai teman. Dia selalu menggunakanku untuk menghindar dari para gadis yang tidak ia sukai, dengan menjadikanku pacar-pacarannya. Dan tentang dirimu, dari awal dia sudah mengetahuinya. Tapi dia tetap tidak percaya. Dia tetap mengatakan jika itu aku. Tapi aku langsung membandingkan tulisanmu dengan catatan yang kau kirim padanya. Sejak saat itu, dia mulai memperhatikan dirimu, dan dia jatuh cinta pada dirimu yang sekarang. Menurutnya, kau telah jauh berubah. Dia
__ADS_1
menggunakanku untuk membuatmu cemburu. Lama-lama aku bosan, dia bersikap terlalu manis padaku hanya karena dirimu. Makanya kemarin aku sedikit berkata kasar padamu. Tujuannya, supaya kau lebih sadar. Tapi, aku baru tau jika kecelakaan yang menimpa dirinya, juga disebabkan oleh dirimu. Kenapa bisa? Apa kau juga terlibat tawuran?”
“Hmmm, waktu itu akau dan beberapa teman-temanku sedang duduk di sebuah kafe di pinggir jalan. Kafe yang menampung semua kebiasaanku. Kebiasaan merokok, mabuk, bahkan main kartu. Dan aku tau, Kafe itu bagaikan hidupku. Tapi siang itu, kelompok tawuran datang, mereka bertarung bak kesatria kesiangan. Bahkan, diantara mereka sempat menganiaya warga sekitar, termaksud aku. Tapi, ketika salah satu dari mereka ingin menghantamku dengan sebilah pisau, Haris mendorongku dan pisau itu mengenainya. Sejak saat itu aku sadar, jika hidup hanya sekali. Aku sempat mengantar Haris ke rumah sakit. Dan disana aku melihatmu menangis dengan sangat dalam. Aku juga tau, jika mama Haris menyangka, jika kau adalah gadis yang di tolong oleh Haris. Maafkan aku, aku melimpahkan beban hidupku padamu.” Lia menunduk sedih.
“Yaa memang benar Mama Haris menuduhku, dan sempat berkata kasar padaku, lalu memutuskan hubunganku dengan Haris. Bagiku itu tidak masalah. Sekarang, mulailah hubungan baik dengan mereka. Itu semua sudah masa lalu. Oh iya, apa Haris memperlakukanmu dengan baik?” Tanya Gea dengan tersenyum manis.
“Hmmm. Sangat baik. Terima kasih, Gea Semenipku.” Jawab Lia dengan mengulurkan tangannya. Gea langsung menyambut uluran tangan Lia dengan tersenyum manis.
***
Sementara itu, Dina dengan senyum-senyum manja berjalan dengan memebawa poster para biasnya.
“Tidak punya pacarpun tak masalah, selama kalian masih berada di dalam genggaman ini. Muaach.” Dina mencium gulungan poster tersebut. Langkahnya terhenti di sebuah meja, dan membaca sebuah spanduk.
“Jumpa Fans Dami.” Beberapa ibu-ibu mulai berdiri di dekat meja.
“Jadi jumpa Fansnya hanya sebentar saja. Pantas saja, yang datang juga tidak banyak.”
“Benar, dia hanya bayangan Brian. Jika dia anakku, aku akan melarangnya untuk membuat album. Memalukan sekali, palingan lakunya juga tidak berapa.”
“Woi mak emaaak. Udah-udah, ngak usah ngomongin orang deh, urus aja tuh anak-anaknya. Apa anak-anak emak udah pada sukses?” Tanya Dina dengan wajah geram, mendengar gunjingan Ibu-ibu tersebut tentang Dami. Ibu-ibu itu menoleh pada Dina,
“Eh anak kecil, jangan ikut campur deh urusan orang tua.”
“Urusan orang tua? Perasaan ini tempat anak muda deh, emak-emak tuh di sana tempat obral. Eh Mak, kalau ngomong pikir dulu kenapa? Dami bayangan Brian, dibandingkan suara Brian, suara Dami lebih bagus, makanya dia bikin album. Lakunya juga banyak. Ini mah cuman jumpa fans di Indonesia. Asal emak-emak pada tau, si Dami udah promosi sampai ke Amerika, dan albumnya udah terjual habis. Makanya, jangan ponsel aja yang pintar,” Tiba-tiba Dami datang dan menutup mulut Dina.
“Ternyata kau banyak bicara juga ya.” Dami melepas tangannya dari mulut Dina.
“Kau masih berada di sini.” Dina terkejut melihat Dami.
“Mmmm, tadi aku menonton seluruh aksimu dari sana.” Bisik Dami dengan tersenyum manis.
“Heeih, kau harus melawan mereka yang berkata buruk tentangmu. Jangan hanya diam, kau taukan kau lebih dari itu.” Bisik Dina dengan sangat semangat.
“Khakhakhakhakhak. Hmmm, aku selalu merasa lebih. terlebih, ketika kau mengomeli para ibu-ibu tadi.”
“Aaah, itu. Aku belajar dari Gea dan Lia, mengatakan yang sebenarnya, tanpa berbelit-belit.” Dina tersenyum bangga. Dami melirik gulungan poster yang berada di tangan Dina.
“Apa ini?” Dami meraih gulungan poster tersebut. Dina langsung menaruh gulungan poster tersebut di belakang tubuhnya.
“Rahasia. Kalau begitu, aku pulang dulu yaa. Sampai jumpa di sekolah.”Dina bergegas pergi dari hadapan Dami. Dami tersenyum ketika melihat aksi Dina.
“Cute.” Bisiknya lalu berbalik badan.
**
__ADS_1
Sementara itu, Gea sampai di halte depan komplek. Ketika turun, Gea melihat Brian duduk di halte.
“Apa yang sedang dia lakukan di sana?” Tanyanya sembari melirik poster yang berada di tangannya. “ Aaah, sebaiknya aku sembunyikan ini dulu.” Gea memasukkan poster tersebut ke dalam bajunya. Gea mulai turun dan melirik Brian yang ternyata sudah menunggunya.
“Apa kau tau sekarang jam berapa?”
“Aaah, jam 8. Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kau bukanlah Papa, Mama, Abang ataupu Kakakku. Jadi jangan sok mengaturku.” Lirik Gea dengan sombong melangkah dari Brian.
“Druusshhh!”Hujan turun dengan sangat lebat, membuat Gea kembali mundur ke halte.
“Apa semuanya akan sia-sia?” Tanya Brian yang menatap Gea dengan sepenuh hati, dan melangkah lalu berdiri
tepat di hadapan Gea.
“Aku sudah membuang semuanya. Dan apa balasan yang aku dapatkan? Kau bahkan, tidak memandangku. Benar, karena aku hidup di Amerika dan tidak tau bagaimana wajah imut itu sudah berubah menjadi sangat cantik. Benar, karena aku lupa, aku tidak ingat bagaimana kau melempar jepitan rambut yang aku beri untukmu. Aku tidak ingat dengan masa lalu kita, dan semua tentang mimpi kita. Tapi tidakkah kau tau, selama aku lupa, selama itulah aku berusaha mencarimu. Mencari cahaya hidupku. Mencari tempatku. Namun sebuah kenyataan telah aku sadari, dimana pada saat kita pertama kali bertemu, pada saat kita saling menatap, pada saat itulah aku telah jatuh hati padamu. Gea, walau aku tidak mengingatmu, tapi aku sudah lebih dulu jatuh cinta padamu.” Brian merundukkan kepalanya dan menatap mata Gea dengan sepenuh hati. Gea melihat, air mata Brian yang berlinang dimatanya.
“Seperti yang kau katakan di bus tadi. Itu teramat sangat menyakitiku. Apa kau sudah melupakanku? Atau, apa aku pulang terlalu lama?” Tanya Brian lagi, dengan memegang kedua bahu Gea.
“Deg, deg, deg.” Gea hanya mematung karena tidak sanggup mengatakan apapun lagi. Jantungnya berdebar sangat kencang, serta nafasnya sesak mendengar pengakuan Brian.
“Brian, menyatakan isi hatinya, bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku melupakanmu Dino? Kau yang pertama, dan kau yang terakhir. Tapi, batinku masih ingin berpikir akan semua yang telah terjadi. Apakah nanti, kau akan meninggalkanku?” Bisik Gea dalam hati.
“Mungkin ini memang jalan yang terbaik. Hiduplah dengan baik Gea. Hari ini, aku melepasmu dari hidupku.” Brian melepas tangannya dari bahu Gea, lalu berbalik badan, dan melangkah meninggalkan halte. Hujan bertambah deras. Gea melirik poster yang berada di dalam bajunya, lalu melirik Brian yang berjalan pelan di bawah hujan.
“Brian!” Teriak Gea. Brian tetap berjalan.
“Brian, kau dengar tidak!”
“Brian!” Brian tetap melangkah dengan pandangan kosong penuh kekecewaan. Gea melempar poster yang ada di balik bajunya ke arah belakang kursi halte dan berlari mengejar Brian.
“Jangan lepaskan aku, Brian. Kau adalah Dinoku, sampai kapanpun, kau adalah Dinoku. Walau mereka memanggilmu Brian, tidak ada yang bisa mengubah semua itu.” Gea memeluk Brian dari belakang dengan sangat erat.
“Maafkan aku. Sebenarnya, aku yang salah. Disaat aku sudah mengetahui semuanya, tapi aku hanya tetap diam. Seharusnya, akulah yang membantumu untuk ingat denganku. Maafkan aku Brian, atas ucapanku di bus tadi, kau salah paham. Aku memang melupakan Dino, karena Dino adalah cinta monyetku. Tapi saat ini Brian, adalah cinta pertamaku. Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu. Jangan tinggalkan aku.” Teriak Gea, berusaha memendekap tubuh Brian di dalam dekapannya. Brian dengan kasar, melepas pelukan Gea.
“Brian.” Gea sedikit terkejut. Dia takut, jika Brian tidak mempercayai ucapannya.
“Apa itu benar?” Tanya Brian dengan berbalik badan.
“Mmmm, Maafkan aku.” Jawab Gea dengan menunduk sedih. Brian merunduk dan langsung meraih leher Gea, hingga wajah mereka berdua begitu dekat.
“Itu yang ingin aku dengar. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melepasmu, karena aku sangat mencintaimu. Gea, aku sangat mencintaimu.” Brian memejamkan matanya, lalu mengkecup mesra bibir Gea. Gea dengan spontan memejamkan matanya, dan menerima kecupan Brian yang begitu dalam.
__ADS_1
“Aku sangat mencintaimu.” Bisik Brian pada Gea.
“Aku lebih mencintaimu, terima kasih sudah mencariku, dan kembali padaku.” Bisik Gea, dan Brian kembali mengkecup mesra Gea lebih dalam lagi. Rasa haru, dan rasa cinta yang teramat dalam bercampur menjadi satu. Cinta yang selama ini terpendam, telah menyatu dan mekar, hingga memenuhi melodi ruang hati yang terlalu lama menunggu, akan arti cinta yang sesungguhnya.