Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 54. Persiapan Reuni Acara Komplek.


__ADS_3

Hari yang cerah. Gea sibuk berselancar di akun instagramnya. Matanya berhenti pada sebuah komentar pada fotonya.


“Kau dimana? Kami semua ada di rumah Didi. kemarilah.”


“Kebiasaan Bimo, selalu saja.” Umpat Gea karena Bimo memberi kabar melalui kolom komentar di akun instagramnya. Gea langsung keluar kamar. Langkahnya terhenti ketika melirik Gina yang menatapnya dengan sorot mata tajam.


“Kak Gina, ada apa?” Tanyanya dengan berdiri tegap bersiap menerima nestapa. Gina melangkah dengan cepat kearah Gea.


“Apa kau mengenal seorang pria seumuran dengan Bang Gio, dia tinggi matanya sipit, dan memiliki karisma yang sangat mempesona dan tinggal di komplek ini? Bisiknya.


“Apa kulitnya hitam?” Bisik balik Gea.


“Tidak, kulitnya putih.”


“Apa dia keluar dari rumah di depan sana?” Tanya Gea dengan menunjuk arah rumah Kevin, berpikir pria itu adalah Alvan.


“Tidak, arahnya ke belakang sana.” Jawab Gina dengan menunjuk arah rumah Ervan.


“Apa mungkin bang Erwin?” Tanya Gea berusaha menebak. Mereka berdua terdiam lama, dan kembali berbicara.


“Memangnya ada apa? apa Kakak menyukainya?”


“Tidak, tidak sama sekali. Kenapa aku menyukainya?”


“Lalu, kenapa kakak bertanya dengan cara berbisik-bisik?”


“Lantas, kepada siapa lagi aku bertanya?”


“Bang Gio, lebih senior.” Gea menunjuk kamar Gio.


“Apa kau ingin melihat pertumpahan darah di komplek ini?” Gea kembali ingat bagaimana nyolotnya Gio dengan para pria yang mendekatinya. Gea menggangguk ngeri.


“Sepertinya, kakak butuh kunjungan tetangga, ayo ikut denganku.” Gea menarik tangan Gina.


“Hohohoho, tidak semudah itu Mak Lambe. Aku ini adalah gadis yang memiliki harga diri, aku tidak semudah itu untuk bertemu dengan Si Erwin itu.” Bisik Gina dengan gaya cuek melangkah menuju kamarnya.


“Yang bilang ingin bertemu Bang Erwin siapa? Aku hanya ingin memperkenalkanmu pada ingatanmu dulu.”Umpat Gea dengan wajah kesal melangkah keluar rumahnya. Gea melihat Didi berlari dengan sangat kencang.


“Apa yang terjadi? Kenapa dia berlari dengan kencang?” Tanya Gea melihat siapa yang mengejar Didi.


“Ka-ka-kaaak, A-a-aulia.” Gea bergegas kembali masuk ke dalam rumahnya.


“Priiit.” Suara pluit menghentikan langkah Gea.


“Gea Semenip, kau kah itu? Berbalik sekarang juga!” Teriaknya membuat Gea berbalik. Mendengar Gea tertangkap, Didi menghentikan larinya.


“Kalian berdua, kemari. Panitia acara komplek, kalian berdua diutus untuk itu!” Teriaknya.


“Glek.” Gea menelah pahit ludahnya.


“Kak Aulia, ini tidak adil. Kakak menyerang dijalan. Kami menolaknya.” Teriak Didi dengan gaya sombong.


“Hohoho, kalian pikir aku mau melakukan ini. Jika bukan karena Bang Dodo, aku juga tidak ingin melakukannya.” Aulia berjalan kehadapan Didi.


“Lantas kenapa kakak mau? Apa kakak menyukai Bang Dodo?” Tanya Gea dengan wajah polos berjalan mendekat ke hadapan Aulia.

__ADS_1


“Ti-ti-ti-dak.” Jawabnya gagap.


“Apa mungkin kakak akan menjadi kakak iparku?” Kencam Didi dengan wajah kesal.


“Aku rasa iya.” Bisik Gea berusaha memanas-manasi.


“Kenapa kau berpikir seperti itu? Ayo, kita harus rapat, mengenai perencanaan acara komplek kita.” Aulia menarik tangan Didi dan Gea ke aula komplek.


Gea membaca lembar demi lembar perencanaan acara.


“Apa kita akan mengulang foto ini?” Tanya Didi dengan menunjukkan foto jadul mereka sewaktu kecil.


“Iya, baju yang sama dengan foto tersebut juga sudah selesai.” Jawab Aulia dengan tersenyum manis, melirik sebuah tumpukan kardus di sudut meja. Didi dan Gea langsung berdiri dan mulai memeriksa isi kardus tersebut.


“Hebaaat.” Kagum Gea dan Didi secara serempak.


“Aku juga mendengar ada tetangga baru, ajak mereka juga.” Lirik Aulia pada Gea.


“Baiklah, lalu sekarang apa?” Tanya Gea dengan melirik tumpukan brosur yang ada di hadapan Aulia.


“Bagikan ini keseluruh masyarakat komplek. Pastikan mereka untuk hadir besok pagi.” Aulia memberikan setumpuk selebaran pada Didi.


“Besok pagi? Besok pagi kami sekolah.”Didi berpikir keras.


“Sekolah? Sekolah kentutmu, besok tanggal merah.” Aulia  tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya.


Gea dan Didi mulai melangkah keluar aula. Sementara Aulia, sibuk merancang acara lainnya.


“Ternyata benar.” Gea  menendang sebuah kerikil.


“Jika kau berusaha menghindari sesuatu, maka yang kau hindari akan muncul tepat di depan matamu.”  Gea   memanyunkan bibirnya.


“Heiih, jangan pikirkan itu. Pikirkan bagaimana kita membawa mereka semua ke aula.”


“Benar, mari kita mulai.” Gea melangkah menuju rumah Kevin.


“Tiing, toong. Tiiing tooong.” Didi menekan bel dengan seenak jarinya.


“Aku rasa, tidak ada orang di dalam rumah Kevin, karena Kevin ada di rumahku.” Bisik Didi yang asyik memainkan bel pintu rumah Kevin.


“Kenapa kau tidak bilang jika Kevin ada di rumahmu? Kau ini."


“Apa kau ingin bermain Dj dengan bel itu?” Sorak seorang pemuda dari belakang Gea dan Didi. Mereka berdua menoleh.


“Bang, Alvaaaan!” Teriak Gea dengan berlari kearah Alvan. Wajahnya yang tampan dan di terpa sinar matahari membuatnya sangat sedap di pandang mata.


“Apa Kevin tidak ada dirumah? Mungkin dia di rumah Gempal.” Sapa Alvan dengan ramah.


“Kami tidak sedang mencari Kevin, Kevin ada di rumahku, dan kebetulan ada dirimu Bang.” Sapa balik Didi dengan gaya sombong karena iri melihat ketampanan Alvan.


“Kebetulan?” Tanya Alvan rancu.


“Aku mohon, tolonglah abangku yang tampan, aku mohon hadirlah di aula besok pagi.” Jawab Didi berubah menjadi memohon dengan gaya menjijikkan.


“Maaf Didi, abang tidak bisa, besok abang harus ikut acara kantor. Walau tanggal merah, kami tetap ngantor karena akhir tahun.” Jawab Alvan membuat Didi melemparnya dengan wajah kesal.

__ADS_1


“Hanya satu hari, apa itu sulit? Kita akan membuat acara yang luar biasa, untuk komplek ini.” Bentak Didi dengan amarah membara membuat Alvan sedikit terkejut.


“Hahahah, bukankah acara itu kekanak-kanakan. Kalian sudah besar, berpikirlah untuk melakukan sesuatu yang lebih dari pada itu.” Alvan tersenyum, membuat Gea menatap kesal padanya.


“Ayolah Gea, kita cari yang lain. Coret namanya, dan bakar bajunya. Aku benar-benar kesal. Kekanak-kanakan? Cih. Aku bahkan tidak tahu siapa yang mengawali upacara ini.” Teriak Didi dengan menarik tangan Gea. Gea bergegas memberikan sebuah brosur pada Alvan.


“Yang aku tau, angkatan pertama yang memulai semua ini. Jika aku bisa berpikir lebih, aku mungkin sudah berada di luar negeri sana, dan memulai debutku sebagai girlband, waah, pasti luar biasa.” Gea berbalik dan melangkah


meninggalkan Alvan. Alvan terdiam, dan mulai melihat brosur tersebut.


“Centang namanya, dia pasti datang.” Bisik Didi dengan memberikan Gea sebuah pena.


“Apa kau yakin, Bang Alvan akan datang? aku kurang yakin deh.” Bisik Gea dengan tetap mencentang nama Alvan.


“Apa kau tidak melihat ekspresinya tadi? Dia pasti datang. Selanjutnya, Gempal, akuu dataaang.” Didi melangkah santai masuk ke dalam rumah Bimo, sementara Gea tetap berdiri di luar. Tidak lama kemudian, Didi kembali keluar.


“Tidak ada orang di dalam rumah, tadi Kak Aulia mengatakan jika Bang Gempal sudah kembali dari Medan. Kemana si Mamut itu?” Tanya Didi sembari melirik ke belakang rumah.


“Itu Bang Gempal, sepertinya dia baru dari rumah Ervan.” Tunjuk Gea membuat Didi melirik tajam kearah bang Gempal.


“Ada apa haaaa? Mana brosurnya.” Teriak Gempal menandakan jika ia mau ikut acara.


“Ini bang, besok yaa, jam 9.”  Senyum bahagia Didi dengan semangat.


“Wokeeh, pasti serukan?” Tanya Gempal dengan lebih semangat.


“Pasti dooong!”  Didi merampas kantong plastik yang berada di tangan Gempal, dan bergegas berbalik badan.


“Kalau begitu, kami ke rumah Bang Beni dulu, bye bye bang.” Lambai Gea dengan manja, sementara Gempal tersenyum.


“Bagi dong Diii!” Gea menarik makanan yang ada di tangan Didi.


“Iya, iya ini.” Didi memberi Gea secuil makanan yang ada di tangannya.


“Mereka besar dengan cepat. Aaah, aku merasa sudah sangat tua.” Gempal  menggeleng melihat melihat aksi


Didi dan Gea yang berebut makanan.


Sesampai di depan rumah Beni, mereka melihat Beni yang tampak terburu-buru masuk ke dalam mobil.


“Aku rasa dia sedang berakting.” Bisik Didi dengan memandang Beni dengan wajah datar. Tanpa pemberitahuan sedikitpun, Beni kembali dan mengambil selembar brosur di tangan Gea lalu masuk kembali ke dalam mobilnya, lalu tancap gas.


“Hebat, memangnya sesibuk apa dia?” Umpat Didi lagi dengan berjalan menuju rumah Oliv. Seperti tadi, Didi  masuk dan memeriksa ke dalam rumah, sementara Gea menunggu diluar. Tak ada satu orangpun didalam rumah. Didi kembali keluar. Ervan datang dengan wajah heran.


“Kalian dari mana saja? Kami sudah menunggu kalian dari tadi. Dan kau Didi, kenapa kau keluar dari dalam sana? Minumannya mana?” Tanya Ervan sembari melirik tangan Gea yang memegang brosur. Gea menempelkan brosur tersebut tepat di wajah Ervan, sebagai jawaban dari semua pertanyaannya. Ervan dengan wajah datar  meraih brosur tersebut dari wajahnya dan mulai membaca.


“Ckckckckck, dasar dua manusia bodoh. Kegunaan ponsel kalian apa? Ini sudah zaman modern, masih juga pakai cara tradisional.” Ervan mengeluarkan ponselnya, lalu memotret brosur tersebut.


“Tring.” Ponsel Gea berbunyi, Gea meraihnya dan memeriksa pesan masuk. Ervan membagikan hasil potretnya di grup komplek dan direspon cepat oleh anggota grup. Ervan mengembalikan brosur tersebut dengan menempelkan brosur yang ada di tangannya ke wajah Gea, lalu melangkah menuju depan komplek. Sementara Didi dan Gea terdiam cukup lama. Brosur di wajah Gea jatuh ke aspal.


“Kau benar-benar bodoh.” Lirik Gea dengan menyalahkan Didi.


“Kau jauh lebih bodoh.” Balas Didi.


“Khikhikhikhikhik.” Tawa mereka berdua.

__ADS_1


**


__ADS_2