Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 35. Aku Jahat, Aku Tau Itu


__ADS_3

Sem tiba-tiba terdiam.


“Menceritakan apa?” Tanya Gio penasaran.


“Wanita itu adalah istri pertama Papa. Mereka menikah selama hampir 5 tahun, namun tidak kunjung mendapatkan anak. Saat itu, Nenek selalu mendesak Papa, karena Nenek menginginkan cucu. Dan akhirnya timbul permasalahan dan pertengkaran yang tak ada hentinya. Akhirnya, Papa menceraikan wanita


tersebut. Beberapa tahun berlalu, papa bertemu dengan Mama. Disanalah kisah cinta mereka terjalin, hingga berujung pada pelaminan. Abang lahir, dan wanita itu mulai merasa iri dan sakit hati pada Mama dan Papa. Hingga aku lahir, kebahagian keluarga kita adalah siksaan baginya. Kecelakaan itu, adalah ulahnya. Dan sampai kapanpun, ia menginginkan kehancuran keluarga kita. Dia mengatakan, jika aku sudah digantikan oleh anak angkatnya. Saat itu, aku menangis dan mengatakan aku tidak mau, mereka adalah mama dan papaku. Tapi


wanita itu mengatakan, jika aku kembali dia akan membunuhmu, membunuh Mama dan merampas Papa. Aku tidak ingin itu terjadi, cukup aku yang menghilang dan seluruh dendamnya berakhir. Lalu wanita itu berjanji untuk tidak menyentuhmu, jika aku mengikuti apa yang ia katakan. Mulai detik itu, aku mulai mengubah identitasku menjadi Sheina Sem. Aku menjadikan nama Sem sebagai nama panggilanku.”


“Kenapa kau begitu bodoh?” Potong Gio dengan wajah kesal.


“Mmm, tapi takdir mengarah padaku. Seorang gadis, yang mirip denganku bertemu dengan preman yang biasa menagih utang padaku. Awalnya aku tidak percaya. Tapi, ketika aku bertemu dengannya secara langsung aku seperti melihat diriku sendiri. Dia menceritakan seluruh keluh kesahnya padaku. Aku mulai berpikir, apa mungkin aku memiliki seorang adik perempuan? Ketika ia tidur, aku mengambil helai rambutnya dan membawanya ke laboratorium. Dan disana, aku melihat dengan pasti Gea adalah adikku. Aku menangis sejadi-jadinya. Dada ini


terasa sangat sesak. Apalagi, ketika mengingat ceritanya tentang perbuatan gadis itu padanya. Andai saja, aku tau jika aku memiliki seorang adik, aku pasti kembali untuk merampas apa yang seharusnya menjadi milikku. Tapi semuanya sudah terlambat.”Sem  menangis tersedu.


“Semuanya belum terlambat. Apa kau masih bertemu dengan wanita itu?” Tanya Gio dengan tersenyum lembut.


“Ya, dia juga memberikanku mobil itu.” Jawab Sem dengan menunjuk mobilnya.


“Sepertinya dia tidak mengincarmu.”


“Ya, sepertinya tidak. Tapi, apa mungkin dia mengincar Gea?” Tanya Sem dengan wajah cemas.


“Entahlah, yang penting untuk saat ini kita harus berhati-hati.”Jawab Gio yang sibuk mengotak atik ponselnya.


“Abang sedang apa?” Tanya Sem


“Meretas keberadaan wanita itu. Tunggu, dia ada di gedung rumahmu. Gea.”


“Ayo bang!” Teriak Sem, mereka berdua berlari sekuat tenaga.


“DOoor!!” Suara tembakan terdengar dari atas atap.


“Geaaaa!!!!!!” Teriak Gio dengan sangat lantang bercampur histeris sembari berlari dengan kencang keatas atap. Seseorang meloncat dari atas atap, Sem yang juga ikut berlari keatas atap kembali turun.


“Bruuk, draaakkk.” Ia mendarat dengan wajah yang hancur dengan telinga, mata dan hidung yang bersimbah darah. Sem terhenyak melihat wanita tersebut.


“Se-se-se-mua su-su-su-dah be-be-berak-hir, A-ad-dik-mu su-sud-ah ma-ma-ti.” Nafasnya langsung berhenti.


“Geaaa!!” Teriak Sem dengan berlari keatas atap. Beberapa warga mulai datang melihat aksi tersebut.


“Geaa!! Geaa!!” Teriak Gio keseluruh penjuru rumah.


Seorang gadis terlihat tergeletak tak bernyawa di atas lantai dengan darah segar yang bercucuran dari kepala dan perutnya. Gio ingat, baju yang digunakan Gea. Sweater biru, dengan celana coklat.


“Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin.” Gio melangkah dengan tertatih kearah jasad tersebut.


“Geaaa!!!! Tidaaak, Geaaaaaaa!” Teriak Gio dengan histeris memeluk jasad yang sudah tak bernyawa.


“Sadarlah Gea, sadarlah. Abang akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga.” Gio menggendong jasad tersebut tanpa melihat wajahnya.

__ADS_1


“Bruk,bruk,bruk. Hmmmm hmmmmm.” Gio yang menangis histeris mulai sedikit terdiam mendengar suara itu.


“Suara apa itu?” Tanyanya. Ia kembali meletakkan jasad tersebut. Ada sesuatu yang aneh dengan Gea, kenapa dia mengunakan masker, pikir Gio. Gio langsung membuka masker tersebut.


“Gina?” Tanyanya dengan wajah tidak percaya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Gio lagi dengan menyeka air matanya.


“Hmmmm, hmmmm, hmmmmm, Bruk bruk.” Gio melirik lemari yang berada di kamar Sem.


“Gea.” Teriaknya dengan semangat lalu mendobrak pintu lemari. Ternyata benar, Gea berada di dalam lemari dengan posisi tangan dan kaki terikat lalu mulut di lakban. Tak lupa sebuah earphone dengan headset di


telinganya. Gio langsung membuka lakban tersebut, beserta ikatannya.


“Abaaang.” Teriak Gea dengan langsung memeluk Gio.


“Syukurlah, syukurlah. Terima kasih Tuhan. Huuuuft.”  Syukur Gio  memeluk Gea dengan sangat kuat. Sementara itu, Sem datang dengan lebih histeris.


“Geaaa!!!!, Gea!!! Sadarlah, aku akan mengeluarkan peluru itu dari tubuhmu.” Teriak Sem dengan sangat histeris. Sem melirih wajah jasad tersebut, dan langsung berdiri.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyanya rancu lalu berlari ke kamarnya.


“Geaaa.” Teriak Sem lalu memeluk Gea dengan sangat erat. “Apa kau baik-baik saja? Dimana yang terluka?” Tanya Sem dengan membolak balik tubuh Gea.


“Memangnya apa yang terjadi? Kak Gina, dimana kak Gina?” Tanya Gea yang merasa sangat cemas. Gio dan Sem terdiam.


“Niiinuuutniiinutt.”Suara ambulan dan suara mobil polisi mulai meriuhkan gedung rumah Sem. Tanpa pikir panjang Gea melangkah keluar.


“Kak Gina!!! Sadarlah!!! Kakak bangunlah!!! Kak Sem, tolong bantu dia. Aku mohooon. Kak Gina, ayoo bangunn.” Teriak Gea dengan menangis histeris sembari menepuk-nepuk pipi Gina.


“Untuk saat ini, sebaiknya kita tidur di apartemen saja.”  Gio merangkul Sem dan Gea menuju parkiran komplek.


**


Gea sibuk membongkar seisi rumah Sem. Setelah hampir 20 menit mengobrak-abrik. Ia menemukan sebuah foto lama. Foto mama dan papanya.


“Bukti, aku menemukannya.” Gea  tersenyum sinis seraya menatap penuh pada foto lama tersebut. Ia seperti


pernah melihat foto tersebut, tapi entah dimana.


“Tiingtoong.” Bel rumah berbunyi.


“Siapa itu?” Tanya Gea dengan membuka pintu.


“Kak Gina?” Tanya Gea dengan menahan emosi. Gina yang terlihat pucat, tanpa basa-basi ia langsung masuk ke dalam rumah Sem.


“Apa yang sedang kau lakukan disini? Tidak cukupkah untukmu? Tanya Gea dengan emosi.


“Buka bajumu!” Bentaknya.


“Apa?” Tanya Gea dengan lebih emosi. Gina yang pandai bela diri, langsung menyerang Gea. Akhirnya, Gea takhluk dengan tangan dan kaki yang diikat oleh Gina. Gina mengganti bajunya dengan baju Gea.

__ADS_1


“Apa yang ingin kau lakukan?” Teriak Gea dengan keras.


“Pelankan suaramu.” Gina menarik Gea masuk ke dalam lemari pakaian Sem.


“Duduklah disini. Tunggu, sampai semuanya selesai. Kau mengerti.” Gina tersenyum dengan lembut sembari mengusap pelan kepala Gea .


“Apa maksudmu?” Tanya Gea sementara Gina melirik jam tangannya.


“Masih ada waktu 20 menit lagi. Apa kau ingin mendengar  sebuah cerita yang menyedihkan?” Tanya Gina balik.


“Apa maksudmu? Sampai semuanya selesai, cerita menyedihkan. Apa terjadi sesuatu dengan Mama dan Papa?” Tanya Gea dengan wajah cemas.


“Kau sudah menemukan Kakakmu. Bagaimana rasanya? Apa kau bahagia?”


“Apa? Kakakku? Apa mungkin Kak Sem benar-benar kakakku? Kenapa kau bisa mengetahui jika Sem adalah kakakku?” Tanya Gea dengan wajah emosi.


“Ahahahaha, dasar Gea yang bodoh. Jadi kau belum tau, padahal kau sudah menginap di rumahnya. Hmmm, baiklah akan aku ceritakan, tapi sebelumnya, mari berkenalan. Namaku, Nesi Wahyuni. Aku adalah anak angkat dari ibu tirimu.”


“Ibu tiriku?” Tanya Gea rancu.


“Sebelum Mama menikah dengan Papa. Papa pernah menikah duluan dengan Tante Linda. Mereka bercerai karena Tante Linda tidak bisa memiliki anak. Dia menaruh dendam yang begitu dalam pada Papa. Dia adalah penyebab


kecelakaan yang membuat Gina hilang. Keputusasaan melanda Papa karena ia tidak kunjung menemukan Gina, dan saat itulah Tante Linda memanfaatkannya. Dia mengadopsiku dan juga adikku dari panti asuhan, dan membuatku bekerja padanya, dengan cara menggantikan posisi Gina lalu mengisi identitasnya secara penuh


dengan berpura-pura hidup sebagai anak kedua dari Semenip. Tidak hanya membuat keluarga Semenip hancur, tapi aku juga harus mendapatkan uang untuknya. Akulah, yang mencuri perhiasan itu, dan menuduhmu. Hahahaha, bagaimana rasanya diusir dari rumahmu sendiri?”  Gina palsu alias Nesi merobek sebuah lakban.


“Lalu sekarang, apa yang ingin kau lakukan? Apa kau ingin membunuhku?” Tanya Gea dengan air mata yang berlimpah ruah di matanya.


 “Membunuhmu? Cih, aku tidak sanggup melakukannya. Tapi aku hanya harus menutup mulut ini.” Nesi menutup


mulut Gea dengan lakban tersebut.


“Aku tau aku ini sangat jahat. Kau juga tau, hanya aku yang bisa membuatmu kesal dan menangis. Tapi kau juga harus tau satu hal, wanita itu selalu ingin nyawamu. Dan aku, tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika saja,


kau pergi ke Singapura, semua akan baik-baik saja. Tapi sekarang tidak, dia sedang mencari-cari keberadaanmu, dan ingin membunuhmu. Dari pada kau yang mati, lebih baik aku yang mati. Jika aku mati, tak akan ada lagi penderitaan pada dirimu. Kalian bisa berkumpul bersama. Papa dan Mama, Bang Gio, kau, dan juga Gina. Maafkan aku, aku benar-benar meminta maaf. Hiduplah dengan baik, adikku Gea Semenip.” Nesi menyeka air mata yang menggenangi matanya.


“Hmmmm hmmmm hmmmmm.” Gea berusaha berbicara.


“Kau suka lagu inikan.” Ucap Nesi lagi dengan memasangkan Earphone di  telinga Gea.


“Jangan menangis, aku ingin kau tersenyum.”Nesi  menyeka air mata Gea, lalu menutup pintu lemari dan menguncinya.


“Diamlah di sana, aku akan menyelesaikan semua ini.” Bisik Nesi lalu melangkah keluar kamar, dan menuntup pintu kamar Sem. Nesi berjalan pelan lalu duduk di ruang tamu.


“Dengan ini, semua penderitaan akan berakhir. Hahahaha.” Tawa garing Gina dengan memakai masker.


“Tiing, tooong.” Bel berbunyi. Nesi tetap duduk di depan televisi.


“Dia sudah datang.” Nesi menyantaikan duduknya.


“Kriit.” Pintu terbuka.

__ADS_1


“Dor, dor dor!” Tiba-tiba beberapa tembakan mendarat di kepala dan perutnya. Seketika, Nesi tewas. Wanita itu masuk ke dalam rumah Sem, untuk memastikan bidikannya.


“Hahahaha, Semenip akan hancur. Putri kesayangannya, sudah mati. Dan sudah saatnya, aku pergi.” Wanita itu melangkah kearah ujung pagar atap dan meloncat ke bawah.


__ADS_2