
“Haris.” Gea tampak sangat terkejut.
“Aku pulang.” Haris memberikan Gea seikat bunga mawar merah segar. Itu membuat Brian melirik Gea. Semua mata tertuju pada Haris, kecuali Brian yang melirik kesal pada ekspresi menggemaskan Gea pada Haris.
“Cieee.” Sorak seluruh siswa yang berada di kelas, bahkan yang berada diluar kelas juga ikut-ikutan.
“Ciee, pacarnya pulang. Cuwit, cuwit.” Sahut Dina dengan wajah malu-malu menjijikkan. Sementara Gea melirik Brian yang menatapnya dengan sepenuh hati.
Haris adalah teman Gea sejak duduk di bangku SMP. Haris memiliki mata tajam, tubuh yang tinggi dengan rambut ikal yang selalu di potong pendek bak tampilan seorang tentara. Haris terkenal hebat akan bela diri, dan merupakan
bos besar dari geng terkenal di daerahnya. Akibat dari jabatannya, ia selalu terlibat tawuran antar sekolah ataupun antar daerah. Suatu ketika, Haris mendapatkan hantaman keras pada bagian perutnya. Hal itu menyebabkan organ
hatinya hancur. Menurut dokter, Haris tidak akan bisa bertahan lama jika tidak segera mendapatkan donor hati. Keluarganya yang merupakan keluarga yang lumayan berada, mulai mencari donor hati hingga keluar negeri. Dan untuk mendapatkan penanganan yang lebih maksimal, Haris di bawa ke Jepang. Tidak hanya itu, karena Haris selalu mengikuti dan menemani Gea banyak yang beranggapan jika mereka berdua berpacaran. Namun anehnya, mereka berdua tetap santai dengan isu murahan tersebut. Mereka lebih memilih menikmati dari pada menganggapi. Hasilnya, pada hari ini, gossip tersebut kembali berhembus kencang. Karena Haris telah kembali.
“Hahahaha, ka-ka-kapan kau sampai di Indonesia?” Tanya Gea dengan sedikit terbata-bata, dan menerima seikat mawar tersebut.
“Kemarin, aku sangat merindukanmu.” Jawab Haris dengan lembut lalu sedikit merapikan poni Gea.
“Ciee, cieee dapat bunga mawar double.” Sahut Dina dan Lia membuat Gea sedikit mundur dari posisinya.
“Double? Siapa yang berani memberi ratuku bunga mawar?” Tanya Haris sembari melirik Omar.
“Plak.” Gea menjitak kepala Dina.
“Dia adik kelas yang mengagumiku. Kenapa? masalah?” Tanya Gea dengan wajah menjengkelkan.
“Tidak masalah, jika dia tidak menganggu kenyamananmu. Hey, kenapa dengan mata ini?” Tanya Haris melihat garis hitam di bawah mata Gea.
“Aku kurang tidur.” Jawab Gea dengan tersenyum manis.
“Kurang tidur, kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganjal di kepala besarmu ini?”
“Yaa, ada seseorang yang sangat mengesalkan, dan itu membuatku muak.” Gea melirik Brian.
“Siapa orangnya? Apa itu Kris? Aku akan mematahkan lehernya sekarang juga.” Bisik pelan Haris sembari melangkah menuju pintu. Dengan sigap Gea menahannya.
“Kau juga mengetahui kisahku dengan Kris. Astaga, ternyata bagimu Jepang dan Indonesia hanya berbatasan tembok. Sudahlah, lehernya sudah patah. Dan wajahnya juga sudah bonyok. Lagi pula, dia juga sudah menyesal dan mengaku salah.”
“Hmmhaaah.” Haris menghela nafas panjang, lalu berbalik menatap Gea.
“Apa kau benar baik-baik saja? Aku tau kau selalu berusaha melindungi para timun bodoh itu.” Kencam Haris dengan wajah serius.
“Kenapa aku harus melindunginya? Aku hanya mengatakan, sudah cukup untuknya.” Jelas Gea dengan tersenyum kecut.
“Khikhikhik, kau terlihat imut ketika berdebat denganku. Kita akan duduk dimana? Di sini saja.” Haris melempar tas yang berada di atas meja sebelah tempat duduk Brian dan Gisel.
__ADS_1
“Hey, apa kau tidak punya mata? Di sana sudah ada Monik dan Vivi.” Teriak Gea melihat aksi Haris.
“Aku tidak peduli, ayo duduk.” Haris menarik tangan Gea untuk duduk disampingnya.
“Kau benar-benar tidak berubah.” Bisik geram Gea pada Haris.
“Kau juga.” Bisik balik Haris dengan tersenyum manis.
“Apa benar mereka berdua berpacaran?” Tanya Gisel dengan wajah terpana pada Lia dan Dina.
“Mmmmm, mereka berpacaran sejak SMP.” Jawab Lia dengan tersenyum manis.
“Beruntungnya, aku juga ingin seperti itu.” Gisel melirik sinis Brian yang berada di sebelahnya. Brian langsung berdiri dan melangkah keluar kelas, diikuti oleh Dami.
“Tunggu, apa lukamu sudah sembuh?” Tanya Gea sembari menyentuh perut Haris.
“Mmmm, tentu saja ini sudah hampir 2 tahun.” Jawab Haris tanpa canggung memperlihatkan bekas operasinya yang terlihat seperti goresan tipis di perutnya.
“Syukurlah, lalu apa tidak ada sekolah lain selain sekolah ini?” Tanya Gea.
“Sekolah lain sangat banyak, tapi yang hanya ada dirimu hanya ada di sekolah ini.” Jawabnya dengan tersenyum manis, dengan memangku dagunya.
“Aiissh, lalu dengan jurusan ini. Bukankah jurusan IPA terlalu berat untukmu? Pindah jurusan saja, IPS lebih menjamin.”
“Aku lebih nyaman dengan jurusan ini. Terlebih, kau selalu mengirim buku cetak, sampai pada rangkuman soal beserta jawabannya. Oleh sebab itu, aku sangat mengerti dengan seluruh mata pelajaran jurusan IPA.” Haris memakai dasinya.
“Hey, jangan bercanda seperti itu. Kau tau, salah satu alasanku untuk tetap semangat hidup adalah dirimu.” Tatap Haris dengan sepenuh hati pada Gea.
“Aku tidak berbohong, wahai Harisku yang bodoh. Mana, aku ingin melihat buku rangkumannya.” Gea merebut tas Haris dan meraih sebuah buku rangkuman.
“Ini, tulisan Lia, Lia yang mengirim semua ini padamu.” Bisik Gea membuat Haris melirik Lia yang menatapnya dengan sepenuh hati.
“Heheey, itu tidak mungkin. Ayoolah, sebuah kesempatan besar untukmu ketika aku berada di jepang sana.”
“Aku tidak bercanda, wahai Haris idiot. Lagian, segitu rajinkah diriku sampai mau menulis rangkuman lengkap dan secara rapi lalu sebanyak 2 rangkap. Bahkan aku tidak memiliki rankuman selengkap ini. Ini adalah rangkuman
lengkap seringkas Dewa.” Haris tersenyum.
“Aku juga sudah yakin jika itu bukan kau. Mengingat kau terlalu tenggelam pada cinta pertamamu.” Gea menatap tajam pada Haris.
“Kau pikir aku percaya jika kau jatuh cinta padaku. Cih, lelucon idiot.” Gea melempar Haris dengan wajah cemooh.
“Lalu apa rencanamu? Apa kau mau menunggu reinkarnasinya?” Tanya Haris dengan senyum menggoda.
“Kau sendiri, apa rencanamu? Apa kau akan mendekati Lia?” Haris melirik Lia.
__ADS_1
“Entahlah, kita lihat saja nanti.”
“Lalu, bagaimana dengan Geng bangsatmu itu? Apa kau akan kembali mengambil alih kerajaanmu itu?”
“Hmmmm, sekarang aku sudah pandai menggunakan otak ini. Tapi, jika mereka pandai merayuku. Aku akan malas menggunakannya.” Haris dengan mendekatkan wajahnya tepat dihadapan Gea.
“Apa kau ingin mati dua kali?” Tanya Gea dengan wajah emosi.
“Kalau begitu, ayo larang aku. Ayooo, larang akuu. Ayooo.” Jawab Haris dengan imut menggoyang-goyangkan bahunya. Tiba-tiba Omar datang.
“Selamat siang bos raja, kami sangat senang jika anda hadir dalam pesta penyambutan anda yang sudah kami siapkan secara mendadak di markas indah kita.” Sapa Omar dengan ekspresi tegap. Haris hanya melambaikan tangannya sebagai kode keras pada Omar untuk pergi, dengan mata yang masih tertuju pada wajah Gea.
“Hey mulailah mengurangi kekonyolan ini, dan bertingkahlah sesuai dengan umur kalian.” Bisik Gea dengan wajah kesal.
“Memangnya kenapa? Kami suka.” Bisik Haris dengan wajah imut.
“Cih,” Gea berdecih sembari berdiri
“Kapten Omar, aku akan segera datang. Aku ingin seluruh anggota hadir, untuk melihat ketampanan wajah rajanya ini. Dan juga, tolong siapkan jadwal tawuran. Darah ini sudah mendidih untuk membalaskan dendam.” Mata Haris
masih terfokus pada Gea yang terlihat kesal.
“Awas saja jika kau masih ingin ikut tawuran. Sebelum kau sampai di tempat tawuran, aku sudah lebih dahulu sampai di sana untuk membunuhmu!” Bentak Gea dengan wajah kesal melangkah keluar kelas.
“Aku paling suka ketika dia marah.” Haris tersenyum geli.
***
Sementara itu, Brian bergegas berjalan menuju toilet. Ia berjalan, tanpa memperdulikan mata para gadis yang terkesima dengan wajahnya. Ia mulai menutup pintu.
“Prak, bum, bum.” Brian mulai memukul tembok toilet dengan sekuat tenaga.
“Kenapa? Kenapa? Kenapa aku begitu kesal melihatnya bersama laki-laki lain? Kenapa?” Teriaknya dengan keras dan kembali melampiaskan kekesalannya pada tembok toilet.
“Dada ini sesak ketika melihat matanya memandang laki-laki lain. Kenapa?” Dami datang dan langsung menenangkan dirinya.
“Hey Men, tenangkan dirimu.” Dami mengeluarkan rokok dari saku celananya. Suasana mulai sedikit membaik. Dengan rokok tersebut, Brian terlihat lebih tenang. Mereka berdua jongkok di lantai toilet, dengan rokok mereka.
“Kau sudah menemukan dirimu yang sebenarnya.” Dami melentikkan abu rokoknya.
“Apa maksudmu?” Tanya Brian dengan heran.
“Seharusnya aku juga menceritakan ini padamu. Aku ingat, ketika aku pertama kali bertemu denganmu, kita terlibat pada film yang sama. Kau begitu kasar kepada semua orang. Mata abu-abumu itu, selalu menyorot dingin semua orang yang hendak ingin dekat denganmu termaksud pada fansmu sendiri. Aku tak pernah melihat, jika
bibirmu itu pandai untuk berbicara baik, apalagi tersenyum ataupun tertawa. Tapi, suatu hari aku melihat mata abu-abumu begitu hangat pada seorang gadis cantik. Kau sangat mudah ,melempar senyum dan tawamu padanya. Tidak hanya itu, kau bahkan berbicara dengan sangat sopan padanya. Namun, sejak kecelakaan itu, semua berubah secara drastis. Walau kau kehilangan ingatanmu dulu, sikapmu mulai berubah ramah pada fans. Menurutku, ingatanmu yang hilang membuatmu lebih baik. Makanya, aku tidak pernah mengungkit bagaimana dirimu yang dulu. Brian, aku harap kau bisa lebih baik kedepannya. Sikap kasarmu yang dulu, aku tidak ingin
__ADS_1
itu kembali ke permukaan.” Dami memegang bahu Brian. Brian melepaskan tangan Dami, lalu bangun dan mulai melangkah keluar toilet diiringi oleh Dami.
“Aku tidak bisa larut terlalu lama dalam kepalsuan diriku ini. Berpura-pura dengan sikapku yang sekarang, benar-benar membuatku semakin tersiksa. Satu hal yang sebenarnya aku inginkan, aku ingin diriku yang sebenarnya. Sehingga siksaan tersebut, dapat berakhir dalam diri ini. ” Brian dengan sedikit menoleh ke belakang dan tersenyum pada Dami.