
Papa menepis tangan Gina, dan menolak obat tersebut. Mama langsung membawa Papa ke dalam kamar.
“Rencananya bukan seperti ini. Bagaimana ini?” Lirih Gina lalu berlari ke dalam kamarnya.
Sementara itu, Papa yang di bantu Mama langsung merebahkan dirinya di atas kasur.
“Luni, apa yang sudah kita lakukan?” Tanya Papa dengan air mata yang berlinang.
“Entahlah Sem, aku adalah seorang Mama yang gagal.”
“Aku juga, aku adalah seorang Papa yang hancur. dan sekarang lebih hancur.”
“Jangan diungkit lagi Sem, Gina sudah bersama kita.”
“Bukan Gina, tapi Gea. Karena begitu gila mencari keberadaan Gina, kita lengah pada Gea. Kau lihat, bagaimana hancurnya dia.”
“Ada sesuatu yang salah dengan Gina. Aku benar-benar merasa bersalah pada Gea, dia menjahit tangannya sendiri.” Mama menyeka air matanya.
“Apakah dia benar-benar anak kita?” Tanya Papa dengan lebih cemas.
“Aku akan menggunakan Pak Ho, untuk menyelidiki semuanya.”
“Aku juga berpikiran seperti itu, aku akan menghubunginya sekarang juga.” Papa berdiri lalu mulai menghubungi Pak Ho, penyidik hebat yang dikenal oleh kedua orang tua Gea.
Sementara itu, Gina mulai menghubungi seseorang.
“Halo Ma, bagaimana ini? rencana kita gagal. Gea meninggalkan rumah. Sepertinya, si Tua Bangka itu juga kesal padaku.”
“Lalu, kartu debit dan kredit Gea bagaimana?”
“Itu masalahnya Ma, sepertinya dia membawanya.”
“Kau ini anak tak becus, percuma aku bersusah payah membuatmu masuk ke dalam rumah itu. Aaah, jangan hubungi aku lagi sebelum kau dapat uangnya termaksud kartu milik Gea!!” panggilan tersebut terputus.
“Aaaish, apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tanya Gina dengan cemas.
***
Gea dengan air mata yang berlimpah ruah, berjalan menuju halte depan komplek. Ia menaiki bus menuju pusat kota.
"Hahahaha, sekarang aku bebas!!"Teriaknya sembari turun di pusat kota. Ia mulai memperhatikan gaya orang sekitar, dan melirik pakaiannya. Gea langsung menyesuaikan diri. Ia membuka ikat rambutnya, dan membuat rambut panjangnya tergirai indah. Ia juga membuka jaketnya, dan menyisakan sebuah baju lengan pendek robek-robek. Gea melirik sebuah pecahan kaca, lalu merobek celananya.
"Pas!" Gumannya, lalu melangkah menuju sebuah bar.
"Waah, bar ini benar-benar megah." Ia memesan sebuah minuman.
"Minuman apa ini? Ini seperti pahit-pahit meledak. Aiish." Gea kembali memesan 1 gelas lagi, dan lagi.
"1 gelas lagi." .
__ADS_1
"1 gelas lagi."
"Hey tampan, 1 gelas lagi." Gea sepertinya sudah mulai mabuk.
"Aku mohon, 1 gelas lagi."
"Yang botol itu saja." Pelayan itu memberikan Gea sebotol minuman.
“Hai cantik, mau ikut.” Seorang Pemuda mengajaknya untuk menari. Gea spontan berjalan kearah panggung dan mulai menari dengan seksinya.
“Buhk!” Seorang pemuda memukul pemuda yang berusaha menyentuh Gea.
"Jangan menyentuhnya!" Kencam pemuda itu.
"Jimin-Oppa, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Gea dengan spontan mengkecup lembut bibir pemuda tersebut, layaknya ia mencium ganas poster korea yang berada di dalam kamarnya.
"Aaah, kenapa kau terasa begitu nyata?" Gea memeluk erat pemuda tersebut, lalu kembali menciumnya. Pemuda itu langsung membalas ciuman Gea. Melihat keadaan tidak lagi kondusif, pemuda itu langsung menarik Gea keluar dari Bar.
"Jimin-Oppa, kita mau kemana? Kaki ini lemah, hati ini hancur, kepala ini amat pusing." Gea menghentikan langkah pemuda tersebut.
"Apa kau sudah gila? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tanya pemuda itu berusaha menyadarkan Gea.
"Sssst, bukankah aku sudah menceritakan semuanya padamu. Dinoku hidup kembali. Mamaku menuduhku mencuri perhiasannya, Mama menamparku, lalu mengusirku. Aku sangat hancuur." Gea menangis dengan tersedu-sedu.
"Apa?"
"Maafkan aku."
"Jimin-Oppa, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Sekarang, dunia ini hanya milik kita berdua." Gea kembali mencium hangat pemuda tersebut lalu memejamkan matanya. Tiba-tiba, Gea tertidur, dan merebahkan tubuhnya di dalam pelukan pemuda tersebut.
"Hey, kau malah tidur." Pemuda itu menggendong Gea menuju mobilnya.
***
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, alarm sudah berbunyi 2 kali.
“Astaga, aku bisa terlambat ke sekolah.” Gea bangun dengan mengusap matanya.
“Kenapa aku bisa sampai di sini?” Tanyanya heran dengan melihat ke sekeliling kamarnya.
“Aaah, aku harus mengemasi barang-barangku.” Gea duduk dan langsung mengemasi barang-barang penting.
“Cukup dengan kartu-kartu ini, aku bisa hidup di luar sana. Hahahaha.” Tawa Gea dengan melangkah menuju halte bus. Seorang gadis dengan memakai sebuah topi menghentikan langkahnya.
“Gea.” Gadis itu membuka topinya dengan gaya seksi. Gea menoleh pada gadis tersebut, dan sedikit tercengang ketika melihat wajahnya. Gadis itu sekilas mirip dengannya, namun, memiliki tinggi badan dan lingkar dada yang
sedikit lebih dari Gea. Gadis itu memakai baju kaos lengan pendek dengan celana pendek seksi.
“Aku adalah orang yang telah kau bebaskan dari lentenir mengerikan itu.” Gadis itu menunduk hormat.
__ADS_1
“Astaga, jadi kau orangnya. Dasar manusia tidak tau malu, kau tau uangku habis dalam sekejap karena dirimu.” Teriak Gea dengan emosi.
“Maafkan aku, apa kita bisa berbicara di tempat lain?” Ajaknya pada Gea dengan kembali memakai topinya.
“Aku tidak bisa pergi kemanapun, apalagi sekarang mau masuk jam sekolah, petugas patroli akan muncul.”
“Aaah, kalau begitu aku mohon supaya kau bolos untuk hari ini saja.”Gadis itu melempar sebuah helm ke tangan Gea.
“Tunggu apa lagi? Ayoo!” Ajak Gadis itu, dengan spontan Gea naik berboncengan dengannya. Mereka sampai di sebuah tempat. Sebuah komplek perumahan padat penduduk. Gadis itu mengajaknya untuk naik ke lantai paling
atas.
“ Wah, pemandangannya benar-benar indah. Dari atas sini, kota terlihat begitu jelas.” Gea terkesima.
“Ayo masuk.” Ajak Gadis itu dengan membuka sebuah pintu atap. Atap yang dijadikan rumah ini benar-benar seperti di drama korea pada umumnya.
“Aaah, aku suka tempat ini.” Ungkap Gea terkesima ketika melihat bagian dalam atap. Atap ini memiliki 3 buah ruangan. Ada 2 buah kamar, dan satu ruang keluarga sekaligus dapur.
“Ini rumahku. Hanya ini tempat yang aman bagi kita, untuk membicarakan persoalan kita berdua.”
“Ayo duduk.” Ajaknya lagi dengan memberikan Gea sebotol minuman dingin.
“Oh iya, perkenalkan namaku Sheina Sem. Aku biasa dipanggil Sem. Namamu, Gea Semenip-kan. Aku mengetahui identitasmu, setelah memohon-mohon di Bank. Setidaknya, aku ini manusia yang bertanggung jawab, aku menemuimu untuk membicarakan perihal pelunasan utangku.”
“Tentu saja, aku bahkan berniat untuk melaporkanmu ke kantor polisi. Utang yang sebanyak itu, kau gunakan untuk apa?” Gea melirik seisi rumah Sem, yang biasa-biasa saja.
“Untuk biaya pendidikanku. Aku menyelesaikan pendidikan kedokteranku selama 4 tahun. Kedokteran tidak hanya modal otak, tapi juga modal uang. Dengan otak dan pinjaman modalku, aku berhasil meraih gelar ahli bedah.”
“Waaah, mengagumkan.” Ungkap Gea kagum.
“Hahaha, biasa saja.”
“Lalu, apa kau disini tinggal sendirian? Aku tidak melihat tanda-tanda adanya keluargamu di sini.”
“Sejak kecil, aku sudah hidup sendirian. Aku besar di panti asuhan, karena sudah besar aku tidak mungkin lagi tinggal disana. Aku harus mulai hidup mandiri.” Ceritanya dengan begitu transparan.
“Jadi apa kau sudah mencari tau siapa orang tuamu?” Tanya Gea dengan antusias.
“Sudah, tapi itu semua tergantung kepala ini. Aku benar-benar lupa dengan hidupku yang dulu.” Ungkapnya mengingatkan Gea pada Brian.
“Aaaaih persoalan yang sangat berat. Lalu, bagaimana kau bisa bertahan dengan kehidupan yang amat menyakitkan ini?”
“Aku bekerja di Bar sebagai pelayan untuk bisa bertahan dan untuk bisa makan. Kau tau, pengalaman bekerja di Bar. Beberapa orang yang belum mengenalku selalu mengatakan jika aku ini murahan. Aku hanya bekerja memberikan minuman pada pelanggan, dan mereka tidak pernah menyentuhku. Lalu, murahannya itu ada dimana coba?” Curhat colongan Sem membuat Gea tersenyum sinis, persoalan murahan sama sepertti yang Gea rasakan.
“Ya ya, aku tau bagaimana perasaanmu. Tapi, utang tetap utang dan kau harus melunasinya bagimanapun caranya.” Ungkap Gea dengan tersenyum manis.
“Tentu, dengan senang hati.” Sem mengeluarkan sebuah buku. Tiba-tiba seorang wanita datang dengan penuh emosi.
“Sem, Sem! Keluar Kau!”
__ADS_1