
“Sudah, jangan bermain dengan anak laki-laki itu jika kau pulang dan menangis. Apa kau akan mengulangnya lagi? Berjanjilah jika kau tidak akan bermain dengan anak laki-laki lagi. Ayo, kemarikan jari kelingkingmu. Jika kau ingkar janji, aku akan mengurungmu di kamar mandi. Sepakat?” Gina menyeka air mata Gea yang menangis akibat ulah Didi.
“Sepakat.”Gea mengikat jari kelingkingnya pada jari kelingkingnya pada jari kelingkirng Gina. Tapi, Gea mengingkari janjinya.
“Lagi-lagi kau menangis karena anak laki-laki itu? apa janjimu kemarin? Ayo masuk kamar mandi!” Teriak Gina dengan keras.
“Kakak, buka pintunya, aku takut. Kakak.” Tangis histeris Gea. Tiba-tiba Gio datang, dan mengeluarkan Gea dari dalam kamar mandi.
“Apa yang kau lakukan pada adikku. Dasar orang asing!!” Teriak Gio pada Gina. Gio menggendong Gea ke kamarnya.
“Sebenarnya, dia pernah menjadi gadis yang baik.” Gea kembali menangis, membuyarkan segala lamunan
panjangnya.
Sementara itu, Gio dan Sem menabur bunga diatas makam Nesi.
“Terima kasih, kau sudah menjaga adikku. Sebagai hadiah dariku, kau akan kembali pada identitas awalmu. Begitu pula dengan Sem, dia akan kembali pada identitas awalnya sebagai Gina Semenip. Sekali lagi, terima kasih.” Gio mengusap nisan Nesi.
“Mulai saat ini, namamu adalah Gina. Aku tidak ingin ada yang memanggilmu Sem.” Gio menatap Gina dan
melirik pada Gea.
Gio melihat Mama dan Papa datang dengan tertatih, tak lupa keluarga besar komplek juga ikut hadir. Gio langsung mengajak Gina dan Gea pergi.
“Mereka sudah datang, ayo pergi.” Gio melangkah pergi. Gina mematung ketika melihat Mama dan Papa yang datang.
“Gina, ini saat yang belum tepat. Percayalah, ayooo.” Ajak Gio dengan menarik tangan Gina. Mereka bertiga berdiri di bawah pohon dan menatap dari kejauhan. Papa dan Mama terlihat begitu sedih.
“Dari awal aku sudah mengetahuinya. Tapi dia sudah seperti anakku sendiri.” Mama menangis tersedu-sedu.
“Sudahlah Luni.” Papa menenangkan Mama. Keluarga besar komplek sudah berangsur pulang. Sementara Papa dan Mama masih bersimpuh di depan makam Nesi.
Gio menangkap pasti mata Papa yang melirik pada mereka bertiga. Perlahan Papa berdiri.
“Abang, apa Papa mengetahui keberadaan kita?” Tanya Gea yang juga menatap Papa yang menatap mereka bertiga.
“Hmmm, sepertinya. Ayo pergi.” Jawab Gio dengan berbalik. Gea dan Gina tetap menatap Papa yang mulai berjalan tertatih kearah mereka.
“A-nak- anakku.” Papa menatap penuh pada mereka bertiga. Melihat Papa, Mama juga menatap kearah Gio, Gina, dan Gea.
“Gea!” Teriak Papa dengan sangat keras.
“Pa-pa.” Gea menatap Papanya yang berjalan kearah mereka, lalu melirik Gina.
“Aku percaya sebuah kalimat, jika seorang Papa sangat menyayangi anak perempuannya. Itu terbukti pada Papa, Papa benar-benar menyayangi anak perempuannya. Terutama dirimu, Kak Gina Semenip. Tak ada tanggal merah untuk mencari keberadaanmu. Semalam aku mendengar pembicaraan kalian berdua mengenai Papa dan Mama. Bang Gio mengatakan jika Papa tidak pernah menghiraukanku. Tidak, dibanding Mama, Papa lebih memperhatikanku. Aku selalu menghianati kenyataan ini. Aku selalu beranggapan jika itu semua hanya mimpi. Tapi itu semua nyata, hanya saja karena Nesi, aku menjadi membenci Papa. Aku tau, jika setiap malam Papa selalu menyelimutiku, menutup jendela kamarku, dan selalu menungguku walau aku pulang larut malam karena bermain dengan teman komplekku. Papa selalu membawa oleh-oleh untukku pada setiap akhir pekannya. Biasanya, itu tas, atau baju baru. Papa juga memarahi Mama secara terang-terangan karena tumpukan baju di kamarku. Aku seperti tidak terurus, dan Mama mulai melampiaskannya padaku. Mendengar aku dimarahi, ketika aku tidur Papa membersihkan kamarku. Sebuah kekonyolan yang aku tunggu, adalah saat dimana Papa membersihkan kamarku. Ya itu biasanya pada tanggal merah dan aku sedang tidak di rumah. Aku masih ingat ketika Bang Gio menentang Papa dengan mengatakan jika aku merasa terintimidasi ketika berada di dalam rumah. Malamnya dikala aku tidur, Papa menangis di kamarku, dengan meminta maaf. Aku berpura-pura tidur, namun air mataku mengalir begitu saja, dan membuat kecanggungan diantara aku dan Papa, itulah alasan kenapa aku memilih keluar pagi, untuk menghindari Papa. Abang tau, aku bertahan di rumah bukan karena Mama, tapi karena Papa. Aku tetap diam, mengikuti alur yang telah di rencanakan Nesi. Karena aku tau, kasih sayang yang lebih dari Papa hanya untukku. Oleh sebab itu, Nesi berusaha membaginya untuk dirinya sendiri. Jangan membenci Papa dan Mama, terutama Papa.” Gea membuat Gio dan Gina terdiam. Sementara Gea berlari mengejar Papa yang sudah berurai air mata.
“Aku kalah Gina. Aku kalah. Pergilah Gina, peluk Papa dan Mamamu.” Gio menatap Gea yang berlari kearah Papa.
__ADS_1
“Papa!!!” Teriak Gea dengan lantang. Mama ikut berlari kearah Gea.
“Oh putriku. Maafkan Papa.” Papa menangis tersedu-sedu.
“Aku yang salah Papa. Jangan menangis.” Gea memeluk Papa.
“Gea, anakku. Maafkan Mama nakk, Jangan tinggalkan Mama.” Mama menangis dengan lebih histeris, emmbaut Gea melepaskan pelukan Papanya.
“Tidak Mama, tidak akan pernah.” Gea memeluk Mamanya dengan sangat erat. Papa yang terharu juga ikut memeluk mereka berdua. Sementara itu, Gina dengan langkah pelan mulai mendekati Gea, Papa dan Mama.
“Kak Gina.” Papa dan Mama meliriknya.
“Ya Tuhaaaan.” Histeris Mama, membuat dada semua Mama di dunia ini terkoyak. Mama melangkah ke hadapan Gina.
“Anakku.” Papa meraih Gina lalu memeluknya dengan erat.
“Papa, Mama.” Bisik pelan Gina membuat Papa dan Mama lebih menangis histeris. Melihat itu, Gio ikut berlari kearah Gina, dan ikut memeluk Papa, Mama, Gina, dan Gea.
“Terima kasih Tuhan, telah memberikan kesempatan itu pada keluargaku.” Syukur Papa dengan berurai air mata.
**
Karena sudah merasa sangat lapar, Gio mengajak keluarganya untuk singgah di sebuah Restauran. Mama dan Papa tidak henti memeluk Gina. Gina menceritakan semua kisah hidupnya selama ini.
“Seharusnya, Papa menceritakan bagaimana masa lalu Papa kepada kalian semua, terutama Mama. Mama mungkin merasa sangat kecewa pada Papa.” Papa menunduk, tetapi Mama tetap sibuk menatap Gina.
membuat Nesi masuk ke dalam rumah.” Papa dengan menangis tersedu-sedu.
“Bukan Pa, bukan Gina. Tapi Gea.” Gina berusaha menenangkan Papa.
“Aku baik-baik saja.” Sahut Gea dengan menyeruput Teh Esnya.
“Kau masih mengatakan jika kau baik-baik saja, sementara nyawamu hampir melayang karena peluru itu.” Bisik Gio dengan geram pada Gea.
“Iya, buktinya aku duduk di sini.” Jawab Gea dengan tersenyum sinis.
“Cih, nafas ini hampir putus ketika mendengar suara tembakan itu. Dan ekspresimu itu.” Bisik Gio dengan menyenggol kaki Gea dari bawah meja.
“Sudahlah, kalian berdua tidak ada bosannya. Bagaimanapun juga Gea, kau berutang nyawa pada Nesi.” Timpal Gina membuat Gea meliriknya.
“Iya, dia adalah kakakku yang sangat mengesalkan.” Sahut Gea dengan tersenyum manis.
“Jangan sok cantik. Senyummu sangat menjengkelkan.” Cemooh Gio membuat Gea meliriknya dengan wajah kesal.
“Papa, aku akan menikah dan langsung keluar dari rumah.” Senyum manis Gea membuat Gio emosi, sementara Papa dan Mama sibuk berbicara dengan Gina mengenai kronologi kematian Nesi.
“Dengan siapa? Pria mana? Apa pekerjaannya? Seberapa mampu dia?” Tanya Gio beruntun pada Gea.
__ADS_1
“Dia sangat mampu. Ketika dia datang ke Indonesia dia akan langsung melamarku.” Jawab Gea dengan mengesalkan.
“Jangan terlalu tenggelam dalam khayalanmu. Kau juga harus melihat langit masih berwarna biru.” Sindir Gina membuat Papa dan Mama melirik Gea dan Gio.
“Mimpi? Ooooh aku tau. Poster di kamarmu itu. Cih, tunggu saja aku akan membakarnya.” Bisik sinis Gio pada Gea.
“Kak Nuri sepertinya sudah kembali ke Indonesia.” Potong Gea, membuat Gio terdiam. Nuri adalah gadis yang menjadi masalah dalam kisah percintaan Gio.
“Benarkah? Aaah, sepertinya komplek akan ada acara penyambutan. Gina, kau juga harus hadir di sana.” Semangat Mama dengan antusias.
“Aku mau membayar makanannya dulu.” Gio berubah menjadi lesu melangkah ke kasir.
“Plak!” Mama menjitak kepala Gea.
“Mama.” Rengek Gea.
“Kau sudah tau, itu kelemahan abangmu. Dan kau masih saja, mengatakan nama itu di depannya.” Mama menatap Gea dengan wajah kesal.
“Kan si abang yang salah Mama. Ngapain pakai mau bakar poster segala.” Tatap Gea dengan lebih kesal.
“Sudahlah Luni, kau baru bertemu dengan anakmu dan sudah memukulnya.” Papa mengusap kepala Gea.
“Memangnya kau tau dari mana?” Tanya Mama lagi pada Gea.
“Dari dalam mimpiku.” Jawab Gea dengan wajah polos.
“Memangnya Nuri itu siapa sih?” Tanya Gina dengan sangat rancu.
“Kau akan mengenalnya jika kau pulang. Ayo, kita pulang.” Jawab Mama sembari berdiri.
“Tapi,” Gina seperti tidak ingin ikut pulang.
“Ayo pulang nak. Sudah cukup, Papa sangat bangga dengan pengorbananmu. Apa kau tidak ingin pulang
bersama Mama dan Adikmu ini?” Tanya Papa dengan sangat lembut.
“Aku ingin, tapi.” Jawab Gina.
“Kamarmu masih seperti dulu, tak ada yang berubah. Papa selalu merapikannya, dan membersihkan debunya. Ayo pulang, tempatmu telah menantimu.” Ajak Papa dengan merangkul Gina.
“Ayolah Kak Sem, kau akan merasakan betapa serunya komplek rumah
kita.” Senyum licik Gea.
“Kak Sem?” Tanya Gio dengan emosi.
“Kakak Gina Semenip.” Sahut Gea dengan lantang. “Kenapa bawaannya selalu emosi? Aku rasa, mungkin Kak Nuri benar-benar pulang dan membawa pacar bulenya yang sangat tampan itu. Aaah, babang bulee.” Umpat Gea dengan suara pelan.
__ADS_1
“Aku mendengarnya.” Umpat Gio.