
Paginya, Gea bangun dan langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah.
“Semalam kau pulang jam berapa? Bukankah sudah kakak katakan untuk pulang sebelum makan malam.” Celoteh Gina yang sudah berdiri di depan pintu kamar Gea.
“Hehehe, namanya juga aku baru bertemu dengan mereka setelah sekian lama. Maklumlah Kaaaak.” Gea tersenyum manis.
“Kenapa kau tidak mengajaknya ke rumah? Lalu apa semalam kau makan? Dimana?” Tanya Gina lagi membuat Gea sedikit kewalahan.
“Aku makan di kafe komplek yang berada di depan sana.” Jawab Gea dengan suara pelan.
“Apa kau berbohong?”Tanya Gina balik.
“Kau harus terbiasa dengan Gea. Dia memang seperti itu. Dia menanggap semua rumah di komplek ini adalah rumahnya. Jika dia masih berkeliaran di komplek ini tidak masalah, asalkan jangan sampai ke pusat kota sana.” Jawab Papa sembari duduk dan menikmati sarapan paginya.
“Tapi tetap saja Pa, dia seorang gadis. Apa kata tetangga kita nanti.” Bentak Gina dengan kesal.
“Apa kata tetangga kita nanti? Mereka tidak akan berkata apa-apa.” Mama membela Gea.
“Aku berangkat dulu.” Gea memakai sepatunya. Gea melirik sorot mata Gina yang tampak sangat kesal padanya.
“Aaah, sebaiknya aku juga ikut sarapan.” Gea berbelok ke meja makan.
“Huaa, kenapa pagi-pagi sudah ribut? Ada apa haa?” Tanya Gio dengan melangkah ke meja makan.
“Si Gea, masak pulang jam 10 malam.” Sindir Gina dengan wajah kesal.
“Hey, kau dari mana sampai pulang selarut itu?” Tanya Gio dengan melirik sinis pada Gea.
“Bermain dengan teman-temanku.” Jawab Gea pelan. “Aku benci saat-saat seperti ini. Aku suka saat-saat dulu dimana tidak ada yang protes tentang waktu bermainku.” Umpat Gea dalam hati. Gea sedikit kesal karena ada yang mempermasalahkan jam pulangnya. Biasanya, tidak ada yang akan membahas tentang jam pulang, jam makan, dan jam-jam lainnya.
“Mulai besok jam 5 sore kau sudah duduk di rumah. Tidak ada lagi cerita keluar malam.” Tatap Gina dengan tegas.
“Aku les sampai jam 9 malam. Apa berarti aku bebas dari les?” Tanya Gea dengan antusias.
“Tidak!” Kata Mama.
“Kau sudah banyak libur, dan ketertinggalanmu hanya bisa dikejar dengan les. Gina, kau juga harus terbiasa dengan aktivitas Gea. Mama tidak bisa mentoleransi nilai uasnya rendah apalagi itu masuk ke dalam persentase nilai ujian sekolah yang berpengaruh pada kelulusannya nantinya.” Gea tertunduk sedih.
“Kau pulang sekolah jam berapa?” bisik Gina pada Gea.
“Jam 2 siang.”
“Les di mulai jam berapa?”
“Jam 4 sore.”
“Heeih, miris sekali. Tenang, aku akan menambah uang jajanmu.” Bisik lembut Gina pada Gea.
“Benarkah?” Tanya Gea dengan mata kerlap-kerlip.
Gea berpamitan untuk pergi ke sekolah. Setiba di halaman rumahnya, Gea melirik Didi yang berdiri tepat di depan rumah Brian.
“Didi, kenapa kau berdiri disana?” Tanya Gea dengan wajah heran.
__ADS_1
“Kriiitkt” Pagar rumah kosong sebelah rumah Brian berbunyi.
“Dia datang, dia datang, ayoo.” Ajak Didi dengan berjalan cepat.
“Siapa?” Tanya Gea heran.
“Ayooo, nanti kita ketahuan.” Jawab Didi dengan menarik tangan Gea.
“Aku tidak melakukan apapun. Kenapa mesti ketahuan?” Tanya Gea lagi. Didi hanya diam, dan tetap menarik Gea sampai ke halte bus.
“Apa kau sudah gila? Ini adalah hari pertamaku ke sekolah, jangan sampai karena tangan sialmu ini, aku ikut-ikutan sial.” Celoteh Gea dengan melepaskan tangan Didi dari tangannya. Didi terlihat cuek dan seperti Stay cool.
“Apa-apaan gaya itu, biasanya gaya sembiring sekarang gaya sok ganteng.” Gea naik ke atas bus. Karena berdesak-desakan, tanpa sengaja seseorang menginjak tumit kaki kanannya.
“Woi hati-hati dong, kalau naik pakai kaki, jangan pakai tangan!!” Teriak Gea dengan emosi.
“Yang benar, kalau mau naik gunakan kaki di sertai mata, jangan hanya menggunakan kaki.” Bisik Ervan yang sengaja menoleh ke kebelakang.
“Iyaa, itu maksudnya!!” Teriak Gea. Gea menoleh ke belakang untuk melihat pelakunya.
“Aaah, maaf. Tadi aku terburu-buru.” Mohon seorang gadis pada Gea. Gea sedikit terdiam melihat wajah imutnya.
“Apa dia juga seorang artis? Aah tidak mungkin dia artis, kenapa dia naik bus. Waah wajah imutnya dan tubuh semoknya ini, persis seperti pemeran Kim Tae Hee si senior imut pada drama Gangnam Beauty. Aaah, imutt sekali. Mata yang besar, dengan pola wajah yang menawan. Rambut yang sengaja diikalkan.” Kagum Gea di dalam hati.
“Tidak masalah. Lain kali, kau harus sedikit berhati-hati. Ayo Gea, kau bisa berdiri di sebelahku.” Didi melirik gadis itu dengan dingin, lalu menarik tangan Gea. Gadis itu terlihat kurang nyaman, ketika Didi mengatakan itu padanya.
“Baru kali ini aku melihat gadis itu di komplek kita. Siapa dia?” Bisik Gea pada Ervan yang berada di sebelah kanannya.
“Siapa di? kenapa aku baru melihatnya hari ini?” Bisik Gea pada Didi yang berdiri di sebelah kirinya.
“Kau ingin tau siapa dia, merapatlah.” Bisik Didi dengan cekatan Gea merapat padanya.
“Dia adalah,”
“Plak!” Tiba-tiba sebuah pukulan maut dari buku mendarat di kepala Didi.
“Kau menggunakan Gea untuk membuatnya cemburu. Dasar jahanam!! Dia tidak akan cemburu.Khikhikhikhik” Bisik Bimo sembari turun dari bus, sementara Didi kembali dengan wajah kesalnya.
“Ooohhh.” Gea menutup mulutnya dan melirik gadis tersebut dan menghadap kearah Ervan.
“Kau sudah tau. Dia akan menjadi kakak iparmu di masa depan. Khikhikhikhik.” Bisik Ervan dengan tatapan manja pada Gea.
“Jangan dekat-dekat dengannya. Dia itu virus pembawa sial.” Teriak Didi dengan keras, dan menarik Gea dari dekat Ervan.
“Apa maksudmu?” Tanya Ervan dengan nada emosi.
“Apa kalian ingin perperangan dimulai?” Tanya Gea dengan wajah geram. Bus berhenti.
“Ya.” Jawab Didi sembari melirik gadis itu yang dari tadi memperhatikan mereka bertiga.
“Aku duluan ya sayaang. Dadaah.” Lambai Gea dengan imut, turun dari bus. Setelah sampai di halte, Gea meninggalkan ribuan ciuman yang ia terbangkan melalui tangannya. Dengan cekatan, Ervan membalasnya.
“Ciuman itu untukku.”Bisik geram Didi pada Ervan.
__ADS_1
“Aku rasa terbangnya padaku.” Ervan tersenyum genit.
Sementara itu, Gea menunggu Bus tersebut berlalu.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Dina dan Lia secara serempak, yang ternyata sudah memperhatikan aksinya dari awal sampai akhir.
“Gadis itu benar-benar manis.” Jawab Gea membuat Dina dan Lia menatapnya dengan tatapan jijik.
“Apa sekarang seleramu seorang gadis?” Tanya Lia dengan sedikit tercengang.
“Tidak, tadi di atas bus aku bertemu dengan seorang gadis mirip dengan kim tae hee pada drama Gangnam Beauty. Kalian tau kan, si senior yang imut ituuu.” Gea berusaha menjelaskan.
“Tidak, yang aku tau hanya Kyungsuk. Ooh oppa eun.” Dina tersenyum-senyum malu tak jelas.
“Ayo pergi.” Ajak Lia pada Gea dan meninggalkan Dina.
“Bagaimana libur panjangmu, apakah menyenangkan?” Tanya Lia dengan memperbaiki ujung baju Gea yang terhimpit oleh tas.
“Sangat menyenangkan.” Jawab Gea dengan berhenti di sebuah karangan bunga.
“Ooh ini, kau tau, ini karangan bunga Nesa anak 12 IPS berapa itu, aku lupa. Kabarnya dia dibunuh oleh ibunya sendiri.” Lia mengambil satu bunga.
“Letakkan kembali, itu bukan punyamu.” Gea merebut bunga di tangan Lia dan kembali meletakkannya.
“Nesa Wahyuni, maafkan aku. Semoga kau dan kak Nesi bahagia di alam sana.” Busik Gea dalam hati.
“Ada apa ini, kenapa kalian berdua berdiri masih di sini?” Tanya Dina yang masih senyum-senyum sendiri. Gea dan Lia langsung berjalan cepat ke depan.
“Selalu saja, mereka pikir aku ini tidak tau kebiasaan mereka yang selalu memuja poster kpop. Aiish, naïf sekali.” Guman Dina yang berjalan dengan kesal di belakang Gea dan Lia. Gea dan Lia kembali berhenti di tepi lapangan.
Mereka melihat beberapa siswa berpakaian seba hitam membawa balon putih.
“Oooh aku lupa lagi, hari ini hari duka Nesa. Mereka anak kelas Nesa sedang melepas balon sebagai bentuk rasa duka mereka.” Bisik Lia pada Gea. Gea kembali terdiam. Salah seorang siswa membawa beberapa balon putih tersebut dan membagikannya kepada beberapa siswa yang berada di tepi lapangan. Gea langsung mengambil satu balon, dan meraih sebuah spidol dari tasnya. Dia mulai menulis sebuah kalimat di balon tersebut, dan melepasnya ke angkasa. Langit biru, yang masih diterangi cahaya matahari pagi di iringi angin manja, mulai menyambut balon putih tersebut. Gea tersenyum melepas balon tersebut.
“Berbahagialah Kak Nesi?” Tanya Lia Heran.
“Mmmm, semalam aku bermimpi dengannya, dia begitu bahagia. Awalnya, aku masih belum bisa menerima kenyaataan yang telah terjadi. Tapi hari ini, aku benar-benar menerimanya dan melepasnya. Maka dari itu, berbahagialah Kak Nesi. Terima kasih untuk kehidupan keduaku ini.”Jawab Gea dengan memandang langit biru yang perlahan tampak cerah.
“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana kabar pamanmu?” Tanya Lia membuat Gea heran dan memandang wajah Liayang manis.
“Kabar pamanku?” Tanya Gea rancu.
“Bukankah selama hampir 3 minggu ini kau pergi liburan ke rumah pamanmu. Kenapa kau malah bertanya padaku?” Tanya Lia balik dengan memangku kedua tangannya.
“Siapa yang mengatakan rahasia besar ini padamu?” Bisik Gea pada
Lia.
“Temanmu yang berotot, tinggi dan agak eksotis. Kalu dia putih, dia agak mirip Kristian Ronaldo. Siapa namanya, aku lupa.”
“Didi?”
“Ah yaa, dia.” Jawab Lia membuat Gea berpikir. “Aku sudah yakin dari awal jika si ceroboh itu mengatakan ini. Tapi tak apalah, setidaknya masalah keluargaku sedikit redup.” Bisik Gea dalam hati.
__ADS_1