
Sesampai di kelas, Gea hanya menatap pada Gisel dan Kevin yang sudah duduk bersama di hadapannya. Sekarang, Gea hanya duduk sendirian. Gea berdiri, lalu duduk di dekat jendela, dan menoleh ke belakang. Gea melihat Dina yang tersenyum malu melihat ponselnya.
“Ada apa dengan semua orang?” Tanya Gea.
“Entahlah, aku juga sangat canggung untuk bertanya.” Jawab lia dengan meletakkan cerminnya ke dalam laci mejanya.
“Hei, Dina, kau sedang apa?” Tanya Gea. Dina tidak mengacuhkannya, dan tetap mengetik balasan pesan. Lia memberi kode mata pada Gea, supaya Gea merebut ponsel Dina. Lia mengedipkan mata kirinya, dengan sigap Gea merebut ponsel Dina, lalu Lia menahan Dina.
“Hei, apa yang ingin kau lakukan?” Teriak Dina,
“Gea, lari!” Teriak Lia yang ikutan lari mengejar Gea.
“Hei, gadis nakal, kembalikan ponselku!” Teriak Dina, tanpa mengacuhkannya, Gea dan Lia terus berlari. Mereka masuk ke dalam warnet.
“Haaaah, haaaah, apa dia masih mengejar kita?” Tanya Gea.
“Sepertinya tidak, ayo buka ponselnya. Dengan siapa dia saling berbalas pesan hingga ia tidak mengacuhkan kita. ” Umpat Lia. Gea langsung membuka ponsel Dina dan menulis sandi ponsel Dina. Mereka melihat pesan Dami
dengan stiker love.
“Apa ini?” Tanya Gea.
“Apa dia?” Tanya Lia dengan membaca penuh pada pesan Dami.
“Jangan rindukan aku ya sayang, karena rindu itu sangat berat, biar aku saja yang merindu.” Bisik Gea dengan menatap wajah Lia. Lia menatap wajah Gea. Mereka berdua saling menatap dan terdiam agak lama.
“Woii kalian berdua!” Teriak Dina. Mereka berdua masih saling menatap dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“Kalian berdua kenapa?” Tanya Dina heran. Dina merampas ponselnya dari tangan Lia.
“Aaaaah, ebeb Damiii.” Bisik Dina dengan genit menyadarkan Lia dan Gea.
“Jadi, sejak kapan kau dan Dami berkencan?” Tanya Lia dengan wajah ingin membunuh.
“Sejak tadi malam.” Jawab Dina dengan wajah genit.
“Kau taukan, jika Dami itu seorang artis. Sangat berbahaya jika berhubungan dengannya, apalagi nanti jika fansnya tau.” Lia berubah prihatin.
“Aaah, tenang saja, kami pandai menjaga rahasia.” Bisik Dina.
“Apa kau yakin?” Tanya Gea.
“Mmmm, aku yakin.” Jawab Dina.
“Lalu, bagaimana kalian bisa bersama, sementara di sekolah kalian berdua tampak tidak saling mengenal?” Tanya Gea dengan wajah detektif gila.
“Jangan coba-coba berbohong dari kami berdua. Kau taukan akibatnya jika kau berbohong.” Ancam Lia dengan nada suara mencekam.
“Baiklah-baiklah akan aku ceritakan. Sebenarnya, sebelum Dami sekolah di sini, aku sudah sering bertemu dengannya. Aku bahkan juga sering menolongnya dari kerumunan fans gila liar yang selalu mengikutinya. Kalian
berdua kan tau, kalau kita tidak mungkin menyukai artis Indonesia, jika para oppa masih bersinar. Dari situlah, dia mulai mengenalku.” Jelas Dina.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana dia bisa menjadi pacarmu?” Tanya Lia.
“Ya, semalam, dia mengajakku untuk makan malam bersama. walau awalnya sangat canggung, tapi dia mampu membuat semuanya menjadi hangat. Aaaah, dia menyatakan cintanya, dan aku menerima cintanya. Sudah, sekian.” Dina berubah dingin dengan tersenyum manis.
“Aku masih tidak yakin dengannya, pasti ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua. apa mungkin Dina menjebak Dami?” Bisik Lia pada Gea tetapi masih di dengar oleh Dina.
“Mungkin saja. Bukankah, motto dari jodoh Dina adalah, menjebak semua yang bisa dijebak. Karena jodoh itu di jebak baru dicintai.” Bisik Gea.
“Kalian membisikkan perihal diriku, tapi terdengar olehku. Terserah kalian percaya atau tidak, aku tidak peduli.” Bentak Dina dengan congkak.
“Royalnya, mana?” Tanya Lia. Dina terdiam, lalu menarik kedua tangan temannya ini ke kantin. Sesampai di kantin, mereka kembali melihat Gisel dan Kevin sedang asyik menikmati sarapannya.
“Lia, jam pertama kita belajar dengan siapa?” Tanya Gea.
“Dengan Bu Susi. Tapi karena besok akan ujian semester, para Guru sibuk pergi membuat soal. Jadi, satu hari ini kita kosong.” Jawab Lia sementara Gea masih menatap Kevin dan Gisel.
“Mmmm, aku rasa mereka berdua juga baru jadian.” Tunjuk Dina pada Kevin dan Gisel.
“Ayo duduk.” Ajak Lia dengan mengajak kedua temannya duduk menghadap kearah Kevin dan Gisel.
“Aku rasa, mereka berdua sedang dimabuk cinta.” Tunjuk Dina lagi.
“Iya, mereka berdua bahkan tidak mengacuhkan tatapan kita.” Bisik Gea.
“Itulah yang dinamakan jika kau sedang jatuh cinta, dunia serasa milik kita berdua, yang lainnya ngontrak.” Lia dengan berdiri lalu memesan makanan.
“Aku juga punya pacar, bagaimana bisa dia menganggapku mengontrak?” Tanya Dina dengan rancu.
“Kau punya pacar juga baru 1 hari, belum sampai semalam, jadi jangan sombong.” Bisik Gea.
Hari ini adalah hari minggu menjelang malam senin, dan besok akan diadakan ujian semester 1. Gea, Dina, dan Lia, tidur sejajar dengan masker timun segar di wajahnya.
“Hei Lia, kamarmu bagus, tapi sepertinya tempelan postermu kurang penuh.” Dina menunjuk dinding yang ada di ujung kakinya.
“Iya sih, kemarin aku baru saja membuka separoh yang ada di sebelah sana.” Tunjuk Lia.
“Kenapa?” Tanya Dina.
“Ketika aku video call dengan Haris, dia marah ketika melihat tempelan poster dewa yang menandingi ketampanannya.” Jawab Lia.
“Benarkah?” Tanya Dina
“Hati-hati Dina, nanti Dami akan menyuruh poster di kamarmu itu diturunkan, sebagai bukti cintamu padanya.” Jawab Gea.
“Memangnya Brian juga seperti itu?” Tanya Dina.
“Kalau Brian sih boleh-boleh saja, asalkan apapun yang aku lakukan di depan poster, juga harus aku lakukan di hadapannya.” Senyum bahagia Gea.
“Cih. Tarian gilamu itu.” Lia tersenyum tipis.
“Iyaaa, eh apa kau tidak mengajak Gisel?” Tanya Gea pada Lia.
__ADS_1
“Sudah, tapi katanya dia sibuk.”
“Cih, sibuk apanya, tadi pagi aku melihatnya jalan bersama Kevin.” Umpat Gea.
“Mungkin dia belajar kelompok bersama Kevin.” Bisik Dina.
“Entahlah, mungkin.” Gea mengingat perseteruannya dengan Gina siang tadi.
Gea bersiap untuk ke rumah Lia, ia membawa satu baju seragam, dan beberapa buku.
“Gea, kau mau kemana?” Tanya Gina yang sudah berdiri di samping Gea.
“Ke rumah Lia, kak.” Jawab Gea.
“Kenapa pakai bawa baju seragam juga?” Tanya Gina curiga.
“Karena aku mau menginap di sana. Sudah menjadi ritual kami pada malam pertama ujian, kami akan belajar bersama.” Jawab Gea.
“Tidak boleh, apa kau pikir Mama akan mengizinkanmu?” Tanya Gina.
“Iya, ini aku sudah minta izin.” Gea menunjukkan pesan dari Mama.
“Kenapa Mama mengizinkanmu?” Tanya Gina dengan wajah heran. Dengan sigap, Gea melesat pergi meninggalkan Gina.
“Geaaa! Tunggu! Kau tidak boleh pergi!” Teriak Gina. Gina mengejar Gea yang sudah berlari kencang.
“Aku pergi dulu ya kaaaak!” Teriak Gea. Tiba-tiba larinya terhenti ketika melihat melihat Bang Erwin sudah di depan pintu rumahnya dengan seikat bunga.
“Bang Erwin.” Gea tersenyum manja ketika melihat bunga tersebut.
“Gea, ada apa? Kenapa kau berlari?” Tanya Erwin cemas.
“Apa itu untuk Kak Gina?” Tanya Gea dengan tersenyum genit. Erwin tersenyum malu.
“Apa Abang tau dengan kepribadian Bang Gio? Auuuurgh.” Goda dengan menirukan suara harimau.
“Ahahaha, iya, iya. Aku tau maksud ucapanmu. Kau akan mengatakan perihal bunga ini pada Gio-kan. Apa yang kau inginkan dariku?” Tanya Erwin.
“Bantu aku, untuk menahan Gina. Masalah kita, selesai.” Jawab Gea.
“Gea, mau kemana kau? Besok mau ujian, kau pikir Kakak akan membiarkanmu pergi.” Teriak kejam Gina yang muncul di depan pintu keluar. Gea bergegas bersembunyi di balik tubuh Erwin.
“Hai Gina, apa kabar?” Tanya Erwin, membuat Gina salah tingkah.
“A-a-abang, kenapa abang bisa ada di sini?” Tanya Gina yang tidak fokus karena masih melirik Gea.
“Ini, abang bawakan kamu bunga.” Erwin memberikan bunga tersebut pada Gina.
“Waaah, indahnya.” Gina menerima bunga tersebut, dan mencium aroma wangi bunga tersebut. Memanfaatkan situasi, Gea berlari lebih kencang kearah depan komplek.
“Gea, tunggu!” Teriak Gina.
__ADS_1
“Ada apa Gina?”Tanya Erwin menahan Gina.
Sementara itu, Gea kembali melihat Gisel dan Kevin. Ketika ia ingin menyapa, Bus menuju rumah Lia sudah datang, dan itu membuatnya naik ke atas bus.