
Gio yang mendapat kabar tentang Gea, langsung pulang dengan wajah sangat emosi.
“Kenapa dia bisa pergi? apa yang terjadi?” Tanya Gio dengan sangat emosi pada Mamanya.
“Mama kehilangan perhiasan, lalu Mama menemukan kotak perhiasan itu di dalam kamar Gea. Di tambah lagi, Gina mengatakan jika Gea selalu mempuanyai ponsel baru. Mama yang terlanjur emosi berkata kasar dan mengusirnya.” Mama menangis begitu dalam.
“Ma, Mama tau kan, Gea tidak mungkin berbuat seperti itu. Asal Mama tau, dia memiliki perusahaan online dengan penghasilan yang besar. Dia bahkan tidak sedikitpun menyentuh uangku. Bagaimana mungkin dia mencuri perhiasan Mama yang harganya jauh lebih rendah dari pendapatan perbulannya.” Bentak Gio dengan sangat emosi.
“Maafkan Mama Gio, Maafkan Mama. Mama ini tidak tau apa-apa. Tolong cari adikmu Gio, tolong bantu Mama.” Mama mengusap mata sembabnya yang, sepertinya sudah menangis berhari-hari di tambah dengan wajah yang sangat pucat.
“Tentu, aku akan mencarinya. Tapi aku, tidak akan membawanya pada kalian. Kami berdua, akan pergi meninggalkan kalian dengan anak kesayangan kalian itu!!” Teriak Gio dengan keras. Papa hanya terdiam menunduk sedih, dan hanya bisa pasrah.
“Jangan begitu Gio, tolong bawa Gea ke pangkuan Mama. Mama mohooon.” Mama memohon pada Gio. Gio yang emosi langsung meninggalkan rumah. Sebelumnya, ia melirik CCTV tersembunyi di dalam rumah yang sengaja ia pasang. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mulai menghubungi seseorang.
“Aku butuh kau untuk menangani masalah di rumahku. Kau bisakan.”
***
Ervan, Bimo, dan Didi duduk di sebuah kafe di depan komplek.
“Kemana si konyol itu, kenapa dia tidak juga menghubungi kita?” Tanya Didi dengan lesu sembari melirik ponselnya.
“Apa kau sudah menyuruh anggotamu untuk mencarinya?” Tanya Bimo pada Ervan.
“Sudah, Gea tidak ada di kota ini.” Jawab Ervan dengan meminum minumannya.
“Tidak sopan sekali, dia pergi tanpa ucapan perpisahan dengan kita.” Didi terlihat sangat galau.
“Hentikan ekspresi wajah menjijikkanmu itu. Dia tidak pergi bersama Bang Gio. Dia benar-benar kabur dari rumah. Bang Gio juga sedang berusaha mencarinya.” Ervan memalingkan wajahnya dengan menatap jalan.
“Apa? Apa masalahnya? Apa karena Gina lagi? Aku yakin itu. Gadis gila itu, tidak ada hentinya. Lalu, permasalahannya kali ini apa? Aku tidak begitu yakin jika Gea senekad itu.” Bimo penasaran.
“Bang Gio bilang, karena Mamanya menuduh Gea mencuri perhiasan. Bagaimana mungkin Gea mencuri perhiasan yang nilainya lebih rendah di banding pendapatannya.” Ervan tersenyum sinis.
“Ini sudah empat hari, aku sangat merindukannya.” Didi merebahkan tubuhnya ke atas meja.
“Hei, ini baru empat hari kau sudah seperti ini. Bagaimana jika dia benar-benar pindah ke Singapura?” Bimo melirik prihatin pada Didi.
“Setidaknyakan, ponsel ini bisa digunakan. Tapi saat ini, ponsel mahal ini tidak ada gunanya.” Ungkap Didi dengan melempar ponselnya. Tiba-tiba seorang gadis datang dan mengemasi ponsel Didi.
“Apa kau ingin membuangnya?” Tanyanya dengan wajah tidak percaya.
“Iya, ambil saja.” Jawab Didi dengan sigap Bimo merebut ponsel tersebut dari tangan si gadis.
“Maaf, dia sedang galau. Pacarnya sudah empat hari tidak menghubunginya.”Bimo menundukkan kepalanya.
“Apa itu Gea? Aku ke sini untuk menemui teman-teman komplek Gea. Apa itu kalian?” Tanya Gadis itu.
“Ya, kau siapa?” Tanya Ervan dengan dingin.
“Aku Dina, dan ini Lia. Kami teman dekat Gea. Tadi kami ke rumah Gea, tapi tidak ada orang. Kami kira dia sakit. Makanya, kami datang untuk menjenguknya. Apa kalian tau dia kemana? Sudah 4 hari dia tidak dapat dihubungi.”
“Dia sedang pergi ke rumah pamannya. Mungkin akan kembali dalam satu minggu lagi.” Jawab Didi membuat Ervan dan Bimo sedikit tercengang.
__ADS_1
“Oooh, pantas saja. Dia sedang menikmati liburannya. Ya sudah, kami pergi dulu. Permisi.” Dina pergi
meninggalkan kafe.
“Hey kunyuk, apa yang sedang kau katakan. Dengan mereka berdua, kita bisa mendapat tambahan tenagakan untuk mencari Gea.” Bentak Bimo kesal.
“Apa kau ingin membuat keributan di sekolahnya? Mulut gadis tidak bisa di percaya. Gea bisa kehilangan imejnya jika kita menyebutkan masalah sebenarnya.” Didi menatap Bimo wajah kesal.
“Aish, pada saat seperti ini kau masih memikirkan imej.” Bimo menyeringai hambar.
“Heey, sudahlah. Bagaimanapun juga, kalian harus pantau akun-akun Gea. Mungkin dia bisa aktif beberapa saat untuk melihat webnya.” Ervan berdiri dan membayar semua minuman.
“Aku dengar Brian juga ikut mencari.” Timpal Bimo membuat Ervan menghentikan langkahnya.
“Apa?” Tanya Ervan dengan menoleh pada Bimo.
“ 2 hari yang lalu, dia sempat bertanya padaku. Kenapa Gea tidak kunjung keluar rumah. Ya aku mengatakan jika Gea sudah meninggalkan rumah. Dan kemarin Ibunya juga mengatakan, jika Brian belum pulan sejak 2 hari yang lalu.”
“Apa mungkin Brian juga kabur dari rumah?” Tanya Didi rancu.
“Entahlah, itu tidak mungkin. Hubungannya di dalam rumah baik-baik saja.” Jawab Bimo dengan berdiri lalu melangkah keluar kafe.
“Hey, bagaimana kau bisa tau hubungannya baik-baik saja.” Teriak Didi berupaya meminta kejelasan.
***
“Haatchih.”
“Kau hanya duduk di depan Tv tapi bisa kena bersin-bersin.” Sem melirik Gea.
“Mungkin sudah saatnya kau pulang. Pulanglah.”
“Apa Kakak mengusirku?”
“Menurutmu?”
“Aku tidak akan pulang.”
“Hey, bagaimanapun juga, kau memiliki orang tua di rumahmu. Aku yakin mereka sedang mencarimu. Pulanglah. Rumahku ini, akan selalu terbuka untukmu, tapi kau harus pulang dulu.”
“Tidak mau, aku lebih nyaman tinggal di sini.”
“Terserahlah.”
“Kak Sem, apa aku boleh meminjam laptopmu?”
“Pakai saja.”
“Hehehe, aku sudah lama tidak login.” Gea mulai melihat situs-situsnya.
“Hey, apa-apaan ini?” tanyanya kesal melihat seluruh situsnya kena blokir.
“Huaaaa, mata pencarianku.” Teriaknya dengan histeris.
__ADS_1
“Apa kau sudah gila?” Tanya Sem dengan heran.
“Situs film bajakanku kena blokir.” Sedih Gea dengan linangan air mata.
“Mampus.” Senyum bahagia Sem lalu melangkah keluar.
“Pasti ini ulah Bang Gio. Tenang Gea, kau pasti bisa mengembalikannya.” Gea mengotak-atik situs tersebut dengan berbagai cara. Tanpa sengaja, ia meretas sebuah skandal.
“Apa ini?” Tanyanya sembari membaca satu paragraph.
“Pembunuhan Dino yang sudah lama kita rencanakan telah gagal total. Seorang anak kecil bernama Jaka, telah menjadi korban. Sementara Dino selamat setelah di selamatkan oleh orang tak dikenal.”
“Astaga, aku membuka yang seharusnya tidak aku buka.” Gea dengan nafsu iblisnya terus menelusuri, dan menemukan percakapan melalui nomor ponsel pribadi.
“Aku memang pintar.” Ungkapnya dengan tersenyum manis. Gea mulai membaca pecakapannya. Tahun 2009, menarik. “ Tunggu, Dino ini mungkinkah Dinoku?” Tanya Gea rancu dengan membaca percakapan lebih seksama.
“Selamat siang bos, Dino tidak mau menandatangani kontrak bos. Katanya, dia tidak ingin lagi menjadi artis. Dia ingin hidup normal. dan iklan sepeda ini menjadi pekerjaannya yang terakhir.”
“Itu hanya alasannya untuk bergabung dengan agensi lain. Jika dia tidak mau melanjutkan kontrak. Kita lenyapkan saja, semua selesai. Dino tidak akan bisa dimiliki siapapun.”
“Astagaaa, ini adalah perencanaan pembunuhan. Buktinya, aku harus memberi tahu Brian, mana ponselku.” Gea berdiri meraih ponselnya. Tapi, tangannya yang nakal kembali menekan sebuah tombol, dan muncul percakapan baru.
“Maaf bos, yang mati bukan Dino, tapi Jaka. Sepertinya, Dino hilang ingatan bos. Ini kesempatan besar untuk memperpanjang kontrak.”
“Hahahaa, iya tolong buat skandal ini menjadi lebih besar, sehingga mereka tidak sanggup melawan.”
“Oke bos.”
Air mata Gea kembali berlinang.
“Dino, aku harus membantumu.” Gea meraih ponselnya dan melihat kontak.
“Astaga, aku tidak memiliki kontaknya. Bagaimana ini?” Tanya Gea dengan cemas. Sementara pesan di ponselnya masuk dengan bertubi-tubi.
“Apa-apaan ini?” Gea melihat pesan dari anak komplek sampai 2000 pesan. Tanpa mengacuhkan pesan-pesan tersebut, Gea kembali mengotak atik laptop sem.
“Kode nama Dino, ini dia.” Gea yang hendak ingin menelurusi kembali skandal mengerikan tersebut.
“Jaringan apa ini?” Tanya Gea rancu.
“Aaah, sepertinya aku salah lokasi.” Jawabnya.
“Tidak, ini adalah lokasi dimana Brian El Dino berada.”
“Perternakan Madani? Apa yang sedang dia lakukan di sana? Apa dia sedang membangun bisnis perternakan?” Gea kembali menelusuri objek. Ia kembali meretas sebuah percakapan.
“Bos, sepertinya si Brian ini sudah kehabisan darah. Bagaimana? Apa kita biarkan saja dia mati membusuk di sini?” Ketika membaca ini Gea terdiam lama. Ini adalah aksi pembunuhan.
“Heey, jangan bunuh dia. Cukup siksa, kau mengertikan.”
“Tapi bos, sepertinya dia sekarat.”
“Baiklah, biarkan saja dia mati. Lagian, aku juga sudah menyiapkan pasporku untuk kabur keluar negri.”
__ADS_1
Gea langsung menyalin nomor tersebut dalam kontaknya. Nomor tersebut tersimpan dengan nama Jovi.
“Jovi?” Teriak rancu Gea dengan emosi.