
Gea duduk di halte sembari menunggu bus menuju kafe yang dikatakan oleh Ervan. Ponselnya berbunyi. Ia meraih ponselnya, dan memeriksa sebuah pesan. Pesan dari Jovi pakar dari Fisika dan Kimia di sekolah, jika ia sudah menitipkan tugas akhir minggu ini pada Brian. Tak lupa, ia juga menyelipkan flasdisk Gea di dalam buku tersebut. Gea ingat jika Jovi hanya menginginkan film barat Genre dewasa.
“Anak bodoh, bagaimana jika Brian si ember itu balas dendam padaku dengan flasdisk tersebut. Apalagi, bos besar sedang berada di rumah. ****** sudah diriku ini.” Gea dengan cemas, naik ke atas bus menuju rumahnya, untuk menyusul Brian. Gea bergegas menuju rumah Brian. Ketika sampai di depan pintu rumah Brian, ia mulai berpikir akan lama jika ia dari pintu depan. Gea melangkah menuju jendela kamar Brian. Gea melihat aksi nafsu Brian pada pemuda tersebut. Brian terlihat menggigit resleting celana pemuda tersebut. Sontak, Gea langsung berteriak.
“Woi!!! Apa kalian berdua sudah gila?” Teriak Gea menggema di sekeliling kamar Brian. Brian dan Dami terkejut melihat Gea yang berdiri di depan jendela kamar Brian yang terbuka lebar.
“Apa yang sedang kau lakukan disana?” Tanya Brian dengan emosi.
“Ah, maaf aku tadi hanya numpang lewat. Aku sungguh minta maaf karena telah menganggu keintiman kalian berdua. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Jawab Gea dengan tertunduk canggung sembari menahan tawa dan melangkah pergi. Gea tak sanggup menahan tawanya lalu melepas tawanya, di bawah pohon yang berada di depan rumahnya.
“Astaga, apa yang barusan aku lihat? Khakhakhakhak.” Gea tertawa terbahak-bahak sembari menepuk geli pohon tersebut.
“Ini benar-benar menggelikan. Khakhakhak.” Tawanya lagi memegang perutnya yang sakit akibat tawanya.
“Aduh, aduh. Ampun ampun.” Rintihnya sendiri sembari kembali tertawa.
“Khakhakhak. Pantas saja, dia tidak pernah sedikitpun tergoda walau aku selalu menggodanya dengan dadaku. Itu semua karena, khakhakhakhak.” Tawa Gea yang semakin menjadi-jadi hingga ia jongkok untuk menahan sakit perutnya.
“Yaa Tuhan. Ternyata dia penyuka sesama jenis. Khakhakhak.” Tawa Gea lagi sembari melempar beberapa daun dihadapannya. Tiba-tiba Gio sudah berdiri dihadapannya.
“Kau kenapa?” Tanya Bang Gio heran. Gea langsung berdiri dan menyelesaikan rimah-rimah tawanya lalu menyeka air matanya.
“Aku melihat mereka merokok. Khakhakhak.” Jawab Gea kembali tertawa.
“Lalu, jika mereka merokok. Lucunya ada dimana?” Tanya Gio dengan penasaran. Gea langsung terdiam, dan melangkah menuju rumahnya.
“Hey.” Teriak Gio, namun Gea tidak mengacuhkannya.
Gea masuk ke dalam kamarnya. Karena lelah dengan tawa yang sangat menggelikan, ia tertidur dengan pulas.
Di sebuah ruang keluarga, dua orang anak kecil sibuk mengotak-atik chanel tv.
“Diinoooo, aku lebih suka film itu. Jangan diganti.” Gadis kecil itu merebut remot dari tangan si anak laki-laki.
“Kartun lebih menyenangkan.” Si anak laki-laki itu melempar remot tersebut ke atas lemari rumahnya.
“Aku lebih suka film kakak-kakak tadi!” Teriak Gadis kecil itu dengan wajah kesal.
“Jangan menonton hal-hal yang menjijikkan seperti itu. Keriputmu akan bertambah jika kau membayangkannya.” Si anak laki-laki tersenyum manis.
“Ayo ambil lagi remotnya!” Bentak gadis kecil itu dengan wajah serius.
__ADS_1
“Tidak mau.” Sahut anak laki-laki itu dengan wajah mengesalkan.
“Baiklah, aku yang akan mengambilnya.” Gadis kecil itu memanjat ke atas sebuah kursi.
“Hey, nanti kau bisa jatuh.” Si anak laki-laki berusaha menahan gadis kecil itu. Tiba-tiba, kaki gadis kecil itu tergelincir dan jatuh ke lantai.
“Bruuk.” Gea jatuh dari tempat tidurnya.
“Kau ini, tidur atau berenang?” Tanya Gio yang bersandar pada pintu kamar Gea. Gio membuka lebar pintu kamar Gea.
“Aaah, akhir-akhir ini aku selalu mimpi aneh deh.” Gea mengusap matanya.
“Kau terlalu banyak menonton drama korea, makanya terbawa mimpi. Kamarmu ini, cih.” Gio yang menatap kesekeliling kamar Gea penuh dengan poster korea, dan lantai kamar yang seperti kapal pecah.
“Bukan mimpi drama.” Gea dengan wajah dingin.
“Ayo makan.” Ajak Gio pada Gea. Gea terdiam, kapan terakhir kali ia makan malam bersama keluarganya. Gea keluar dari kamarnya, ia melihat Papa, mama, dan Gina sudah duduk di meja makan. Seperti biasa, Papa terlihat dingin pada Gea.
“Tumben makan.” Sindir Gina pada Gea.
“Apa kau bilang?” Tanya Gio dengan wajah dingin. Gina tidak menyadari jika Gio juga berada di sana. Gea hanya tertunduk canggung dan membalik piringnya.
“Aku hanya menyapa.” Jawab Gina dengan wajah sedih melirik papanya untuk meminta pembelaan.
“Oh ya Pa, hari ini BAB II aku acc loh.”Gina memulai pembicaraan.
“Benarkah? Waah anak papa yang pintar, ayo tambah nasimu.”
“Ini ikannya.” Sambung Mama sembari meletakkan ikan tersebut di piring Gina. Gina terlihat amat bahagia. Gea menghela nafas panjang, dan hanya menyuap nasinya.
“Sekarang sudah lewat 4 tahun, dan udah masuk 5 tahun dan kau masih BAB II. Udah kuliah di Indonesia masih juga lalai. Kerjaan main terus sih.” Gio menyindir Gina. “Bagaimana dengan sekolahmu?” Tanya Gio pada Gea, membuat Gea terkejut dan melirik Mama dan Papanya.
“Hmmm, baik-baik saja.” Jawab Gea dengan menunduk canggung.
“Kau tertawa puas diluar sana, dan menunduk ketakutan di dalam rumah. Bukankah, itu terbalik?” Tanya Gio membuat, Papa, Mama, dan Gina melirik Gea.
“Itu.” Jawab Gea dengan menatap Gio.
“Kapan terakhir kali kau duduk di sana?” Tanya Gio menanyakan kapan terakhir kali ia makan bersama Mama dan Papa. Gea hanya terdiam, dengan sendok yang gemetar ditangannya.
“Gio, apa kau ingin membuat kegaduhan dirumah ini?” Tanya Mama pada Gio.
__ADS_1
“Mama, aku tidak akan tinggal diam, jika kalian memperlakukan Gea seperti ini. Dia, adikku.” Jawab Gio dengan kesal menatap Mamanya dan melirik Papanya.
“Bang Gio, apa maksudmu? Kau baru pulang dan kau sudah mengancam Mama. Gea memang seperti itu, dia selalu bertindak seenaknya. Dia itu anak nakal Bang.” Gina berusaha mengambil hati Gio.
“Aku tidak ada urusan denganmu. Urus saja kuliahmu. Jika dia nakal, itu adalah sesuatu yang wajar karena sesuai dengan umurnya. Tapi jika itu kau, kau harusnya lebih sedikit berpikir.” Jawab Gio membuat Gina terdiam.
“Bang Gio, aku baik-baik saja. Biasanya jam segini aku masih les, makanya aku jarang makan malam bersama mama dan papa.” Jawab Gea berusaha membuat suasana menjadi lebih kondusif.
“Bagaimana dengan uang sakumu?” Tanya Gio membuat Gina melirik tajam pada Gio.
“Itu,” Jawab Gea dengan wajah cemas.
“Dia ini anak boros. Mama selalu menambah uang jajannya setiap minggu. Makanya, dia selalu kekurangan.” Sambung Mama membuat Gea tertunduk dengan menahan air mata. Karena kenyataannya tidak seperti itu.
“Aku tidak akan menangis, aku tidak akan menangis, aku tidak akan menangis.” Bisik Gea dalam hati.
“Cih, 4 Kartu kredit yang abang berikan 2 tahun yang lalu ada dimana?” Tanya Gio dengan emosi. Gea hanya menunduk sedih.
“Gea, apa di rumah ini, kau merasa terintimidasi?” Tanya Gio lagi.
“Katakan semuanya, kau tidak sendiri, ada abang disini.” U Gio menatap Gea yang menunduk takut.
“Gio! Kau baru saja sampai dirumah ini, dan kau sudah memulai masalah. Gea merasa terintimidasi? Gea baik-baik saja. Kau lihat dia kan.” Teriak Papa pada Gio.
“Sudahlah Pa, mungkin Gio salah paham.” Mama berusaha menenangkan Papa.
“Gea, jawab abang!” Teriak Gio.
“A-a-a-aku ba-ik-ba-ik sa-ja bang.”
“Kau dengarkan, dia baik-baik saja. Aah, selera makanku hilang karena anak tidak tau sopan santun ini.” Papa berdiri dan melangkah pergi dari meja makan. Gea langsung berdiri dan berlari ke kamarnya.
“Aaah, selalu saja.” Mama seperti ikut-ikutan menyalahkan Gea.
“Aku akan mengajarkannya sopan santun, dan akan membawanya bersamaku, karena dari awal, kalian tidak pernah menginginkannya. Dan kau Gina, kau harusnya sadar, jika kau berbeda dibandingkan aku dan Gea.” Gio ikut berdiri dan melangkah mendahului Papanya. Papa hanya terdiam mendengar pernyataan Gio. Sementara Gina merasa sangat kesal sehingga langsung berlari ke kamarnya
Gea masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu.
“Itulah alasannya, kenapa aku lebih senang keluyuran diluar sana ketimbang tetap dirumah.” Gea menangis tersedu-sedu.
“Itulah alasannya kenapa aku memulai bisnis plagiat haram itu.”
__ADS_1
“Itulah alasannya kenapa aku, kenapa aku selalu berusaha mencari tempat yang bisa membuatku bahagia.”
“Papa dan Mama tidak pernah menyayangiku. Mereka hanya menganggap aku ini sebagai beban hidupnya.” Gea menangis hingga mata itu lelah dengan air mata, dan tertidur pulas.