
“Apa kau yakin dia tinggal di sini?” Tanya Sem yang memperhatikan jalan, dan memberhentikan mobilnya.
“Tentu saja, dia pelanggan situsku. Biodata diri para pelanggan, harus di simpan dengan aman.” Jawab Gea dengan tersenyum licik.
“Itu dia.” Gea menunjuk Jovi yang turun dari taksi.
“Kau tunggu di sini, biar aku yang membawanya naik ke atas mobil.” Sem membuka sabuk pengaman dan turun dengan gaya santai. Sem mulai mendekati Jovi dan sedikit berbincang. Sem terlihat sedikit menyentuh pundak Jovi. Jovi berjalan santai mengikuti Sem, dan naik ke atas mobil. Gea sangat tercengang melihat aksi Sem.
“Bagaimana bisa dia membawa Jovi dengan jalan aman?” Gea memperhatikan mata Jovi yang tampak kosong.
“Apa ini?” Tanya Gea dengan wajah heran. Sem dan Jovi naik mobil dengan tenang. Sem melentikkan jari, dan Jovi langsung pingsan.
“Heey, apa yang kau lakukan?” Tanya Gea heran melihat aksi Sem.
“Mentalnya sedang terganggu, jadinya sangat mudah untuk di hipnotis.” Jawab Sem membuat Gea tercengang.
“Aku pernah mempelajarinya dulu, dan menggunakannya hanya ketika dibutuhkan.” Sem berusaha menjelaskan.
“Apa kau pandai menghipnotis?” Tanya Gea lagi.
“Hanya pada orang-orang yang lemah, seperti dia.” Tegas Sem dengan wajah sangat serius.
“Aiiish. Tapi itu menakjubkan” Decak kagum Gea.
“Makanya, jangan pernah memperlihatkan kecemasanmu pada orang lain, itu adalah sasaran empuk bagi orang jahat.” Sem tersenyum balik, dan melesat menuju rumahnya. Mereka sampai di parkiran komplek rumahnya.
“Lalu bagaimana kita membawa si kunyuk ini? apa nanti warga tidak curiga?” Tanya Gea dengan berusaha berpikir. Sem kembali melentikkan jarinya. Jovi bangun dan langsung turun dari mobil.
“Waah.” Kagum Gea melihat Jovi berjalan normal di belakang Gea dan Sem.
“Apa dia juga akan masuk ke dalam rumah?” Tanya Sem pada Gea.
“Tidak, cukup ikat dia di sini. Dia akan menikmati pemandangan malam yang indah di sini.” Jawab Gea dengan mengikat Jovi di sudut pagar rumah Sem.
“Kau benar-benar psikopat gila.” Bisik Sem pada Gea lalu masuk ke dalam rumah.
“Ini hukuman untukmu. Kau harus merasakan beku diluar ini.” Bisik Gea pada Jovi lalu masuk ke dalam rumah.
Sem langsung memeriksa keadaan Brian.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Gea yang sudah muncul di depan pintu kamar gelap tersebut.
“Sudah berangsur, dan mungkin karena obat bius tadi, dia akan tertidur pulas hingga besok pagi.”
“Syukurlah.’ Gea melirik luka robek di lengan kiri Brian. Sementara Sem langsung keluar menuju kamarnya.
“Haah, andai sendari awal aku sudah mengenalimu.” Bisik pelan Gea sembari duduk di samping Brian. Gea mulai memperhatikan wajah Brian yang tetap tampan walau luka lecet menempel di wajahnya.
“Apakah kau benar-benar Dinoku?” Gea menatap wajah Brian, lalu melirik tangan Brian.
“Ya, sekarang aku ingat, bekas luka ini, adalah ulahku.” Gea memegang erat tangan Brian dan melihat pasti bekas luka di lengan Brian.
***
Paginya, Brian bangun dan langsung melirik tangan kirinya.
“Gea.” Bisiknya dengan pelan sembari menggenggam balik tangan Gea. Gea langsung tersentak dan mengusap matanya.
“Aaah, sudah pagi.” Gea melirik Brian yang tersenyum imut melihat tampang acak-acakan Gea.
“Kenapa dengan senyumanmu itu?” Tanya Gea dengan wajah mengesalkan.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya balik Brian.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Terlalu banyak luka robek di tubuhmu.”
__ADS_1
“Aku jauh lebih mencemaskanmu.”
“Kenapa?” Tanya Gea lagi.
“Kau masih bertanya kenapa?”
“Oooh, pasti karena aku diusir dari rumahkan. Aku tidak menyangka gosipnya begitu hebat, hingga sampai di telingamu. Siapa yang menceritakannya? Didi? Bimo? Ervan?” Brian menggeleng pelan.
“Kau sendiri yang menceritakannya padaku.” Gea mengkerutkan dahinya.
“Hah? Apa? Ooohhooh, bagaimana mungkin? Kapan aku menceritakannya padamu? Kita baru bertemu kemarin. Apa jangan-jangan hantaman keras pada kepalamu kemarin membuatmu sedikit berilusi. Apa sebaiknya aku membawamu ke rumah sakit untuk memeriksakan kepalamu ini? Aku takut jika kau mengalami geger otak.” Bisik cemas Gea dengan wajah prihatin.
“Aku baik-baik saja. Apa kau benar-benar tidak ingat? Malam itu,” Brian melirik Gea dengan wajah serius.
“Malam itu?” Tanya balik Gea rancu.
“Sepertinya kau yang benar-benar harus di periksakan ke rumah sakit. Apa kau benar-benar lupa? Padahal malam itu, sungguh menyenangkan.” Brian tersenyum malu, membuat Gea semakin penasaran.
“Malam kapan? Apa kau ingin menggoda gadis menjijikkan ini?” Tanya Gea membuat Brian menatapnya datar.
“Aaaaaaaaa.” Teriakan Sem dari luar membuat Gea langsung berdiri dan berlari kencang ke sumber suara.
“Ada apa? ada apa?” Tanya Gea panik.
“Kau ini, apa kau benar-benar seorang psikopat gila?” Tanya Sem dengan wajah sangat marah.
“Kenapa?” Tanya Gea dengan menyolot.
“Lihat anak itu!!” Tunjuk Sem kearah wajah Jovi.
“Astaga aku lupa, aku berencana hanya mengikatnya selama 3 jam. Ya ampun, wajah ini benar-benar penuh dengan bentol-bentol. Jenis serangga apa yang telah menggigitnya?” Tanya Gea dengan wajah cemas.
“Tentu saja nyamuk. Nyamuk malam terkenal ganas. Aku harus memberinya anti biotik.”Sem masuk ke
dalam rumahnya. Ekspresi Gea langsung berubah.
“Minumkan ini padanya.” Sem memberikan sebuah obat ke tangan Gea.
“Kenapa dia masih juga belum sadar?”
“Karena jiwanya terlalu lemah. Suruh saja dia meminumnya sendiri.”
“Apa sebaiknya kita bawa dia masuk ke dalam?” tanya Gea lagi.
“Hei kunyuk, ayo masuk ke dalam.” Perintah Sem, Jovi melirik ikatan kakinya.
“Apa kau tidak bisa melepasnya sendiri?” Tanya Gea kesal, lalu membuka ikatan kaki Jovi. Jovi masuk ke dalam rumah.
“Hehey, apa kau tidak ingin bertemu dengan korbanmu?” Tanya Gea dengan nada licik sembari menarik tangan Jovi masuk ke dalam kamar rawat Brian.
“Siapa dia? Kenapa dengan wajahnya?” Tanya Brian dengan sedikit syok melihat wajah Jovi yang sudah sembab di gigit serangga.
“Gea, mengikatnya semalaman di luar sana.” Sahut Sem dengan meletakkan sebuah kursi dan menyuruh Jovi duduk di depan Brian.
“Kau bisa bertanya apapun padanya. Dia pasti akan menjawab jujur.” Sem menepuk pelan bahu Gea lalu keluar dari kamar.
“Dia kenapa?” Bisik Brian pada Gea yang sudah duduk di samping Brian.
“Kak Sem menghipnotisnya.” Bisik balik Gea.
“Untuk apa?” Tanya Brian rancu.
“Ayo kita tes. Hey Jovi, apa kau mengenalku?” Tanya Gea dengan mengkedip-kedipkan matanya.
“Ya, aku mengenalmu.”
__ADS_1
“lantas, siapa aku?” Tanya Gea lagi.
“Gea Semenip, gadis cantik dengan kepribadian ramah pada siapa yang berbuat baik padanya. Memiliki banyak pengawal. Terkenal hampir di seluruh sekolah di kota ini.”
“Astaga, apa itu penilaianmu terhadap diriku ini? Mereka bukan pengawal, mereka teman baikku.” Senyum bahagia Gea.
“Kau juga, tipe idealku. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Aku bahkan selalu bermimpi untuk bisa menjadi kekasihmu.” Senyum Jovi membuat Gea tercengang.
“Haaah? Jadi kau menyukaiku. Ahahahaha, Apa ini berupa pernyataan cinta?” Tanya Gea lagi dengan girang dan melirik Brian. Gea langsung terdiam ketika melihat ekspresi wajah Brian yang menatapnya dengan tatapan ingin
membunuh.
“Kenapa?” Tanya Gea pada Brian. Brian hanya memalingkan tatapannya kearah lain.
“Iya aku sangat menyukaimu. Oleh sebab itu, aku selalu rajin membayar paket padamu. Tidak hanya cantik tetapi tau selera masa sekarang.”
“Kenapa kau membawanya ke sini?” Tanya Brian dengan nada emosi memotong pembicaraan Gea dan Jovi.
“Aku masih ingin mengorek-ngorek pemuda yang menyukaiku, tapi si Brian ini malah menganggu. Jika aku tau ini menyenangkan, pasti aku tidak akan membawa Jovi ke hadapan Si Brian bodoh ini.” Umpat Gea dalam hati.
“Apa kau ingin menjadikanku sebagai penonton untuk pernyataan cintanya?” Brian melirik Gea dengan tatapan kesal.
“Jovi, apa kau mengenal pemuda ini?” Tanya Gea pada Jovi tanpa mengacuhkan Brian.
“Tentu saja aku kenal. Dia pembunuh abangku. Setelah dia membunuh, dia langsung melarikan diri ke amerika sana. aku ingin membalaskan dendamku padanya, tapi seseorang telah menggagalkan rencanaku.”
“Apa?” Tanya Brian dengan wajah tidak percaya. Gea langsung melirik tajam Brian dan kembali bertanya.
“Apa abangmu itu bernama Jaka?” Tanya Gea dengan wajah antusias.
“Yaa, ketika dia berumur 13 tahun, dia terlibat proyek yang sama dengan pembunuh ini. dia membunuh abangku di lokasi syuting. Sementara dia, berpura-pura lupa ingatan dan melarikan diri ke Amerika.” Ucapan Jovi membuat Brian langsung berdiri dan memegang kerah baju Jovi.
“Jadi, apa kau orang yang selalu menerorku, dan membuat hidupku menjadi tidak tenang?” Tanya Brian, tiba-tiba Jovi sadar.
“Dimana ini? kau!!” Teriaknya pada Brian.
“Jawab akuu!!” Teriak balik Brian.
“Cih, pembunuh sepertimu, bagaimana mungkin bisa hidup dengan tenang.” Bisik kencam Jovi pada Brian.
“Hoy kalian berdua, tenanglah. Semua bisa di bicarakan baik-baik.” Sorak Gea membuat Jovi melirik Gea.
“Gea, apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Apalagi? Kalau bukan ingin membunuhmu.” Gea ikut berdiri.
“ Ooh jadi kau yang kemarin telah menyerang anak buahku. Kemampuanmu lumayan juga.” Jovi tersenyum hambar pada Gea.
“Lumayan juga? Tentu saja, aku pemilik sabuk hitam, bertarung dengan pisau, adalah keahlianku. Bahkan untuk mematahkan lehermu, hanya lentikan jari untukku.” Gea membalas dengan tersenyum manis.
“Lalu kenapa kau selalu berpura-pura lemah dan menjadikan Ervan, Didi, dan Bimo sebagai pengawalmu?” Pertanyaan Jovi membuat Brian melirik Gea.
“Mereka bukan pengawalku, mereka hanya temanku. Aku dan Bimo, paling malas untuk bertarung, karena kami berdua masih menggunakan otak kami. Berbeda dengan Didi dan Ervan, pertarungan adalah cara untuk mempertajam keahlian mereka. Dan juga, naluri wanita lebih menekankan perasaan di bandingkan logika, itu adalah alasan kenapa mereka menjadi lebih buas ketika aku di ganggu oleh pemuda bodoh tak tau diri.” Gea menggaruk kepalanya seraya ingat ucapan Ervan padanya.
“Ya, itu semua menyadarkanku, jika kau cukup berbahaya, sampai-sampai menarik ular piton ke pangkuan mereka. Tapi kau harus tau, ini semua tidak ada urusannya denganmu. Jadi jangan ikut-ikutan. Apalagi dengan pembunuh ini.” Bisik Jovi.
“Bukh!” Brian memukul Jovi dengan keras.
“Kau bilang tidak ikut-ikutan, aku tidak melawan orang suruhanmu itu, karena kau menggunakan nama Gea. Kau tau itukan.” Kencam Brian dengan sangat emosi.
“Apa maksudmu?” Tanya Gea pada Brian.
“Sejak kau keluar dari rumah, aku berusaha mencarimu. Aku menghubungi seluruh temanmu, termaksud dia. Dia mengatakan, jika kau pergi ke perternakan itu. Dan beberapa orang disana mengancam akan membunuhmu, oleh
sebab itu aku hanya mengikuti perintah.” Jelas Brian dengan emosi. Gea terdiam lama, ia menatap Brian yang ternyata termakan guyonan bodoh.
__ADS_1
Tiba-tiba, Jovi mengambil sebuah pisau bedah, dan hendak menodongkannya pada Brian. Dengan sigap, Sem menghentikan langkahnya.