Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 41. Haris Itu Milikku


__ADS_3

Setiba di kelas, Gea langsung dipanggil oleh Buk Ros.


“Selamat pagi buk.” Gea masuk ke dalam ruangan buk Ros.


“Selamat pagi, silakan duduk.” Sahut tegas Buk Ros pada Gea.


“Kau sudah taukan, kenapa kau ibuk panggil. Lihat libur panjang ini.” Buk Ros mengeluarkan catatan absen Gea.


“Iya Buk.” Gea hanya menunduk.


“Tidak seperti biasanya.Ada apa Semenip? Biasanya kamu akan mencecar ibuk dengan ribuan alasan.” Buk Ros melirik Gea dengan wajah menjengkelkan.


“Ya Buk.” Gea tetap menunduk


“Ah, sudahlah, ibuk sudah tau alasannya. Sekarang, cukup kerjakan tugas ini sebagai ganti nilai Ulangan Harianmu. Oh iya, ibuk juga ikut berbelasungkawa atas kejadian yang terjadi pada keluargamu.” Gea mengangkat


kepalanya dan menatap Buk Ros dengan tatapan tajam.


“Bagaimana ibuk bisa tau?” Tanya Gea dengan nada suara pelan.


“Mamamu sudah datang ke sini. Kerjakan ini semua, dan pastikan semuanya selesai pada hari ini.”


“Baiklah Bu.” Gea menunduk hormat dan menuruti perintah Buk Ros tanpa membantah sedikitpun. Sesampai di kelas, Gea langsung membagi tugas yang diberikan Buk Ros pada Dina dan Lia.


“Entah kenapa kau yang pergi liburan, kami juga ikut kena getahnya.” Ciloteh Dina sembari mengeluarkan sebuah kertas sebagai lembar jawaban.


“Kerjakan saja, aku mendapat info jika besok jam 11 ada obral poster Kpop di kafe Korean klub.” Gea melirik kedua temannya dengan  mata licik.


“Benarkah?” Tanya Dina dan Lia dengan serempak.


“Kerjakan  sekarang, harus selesai hari ini juga.” Jawab Gea dengan dingin dan memulai menulis. Tiba-tiba


Haris datang dan sudah duduk di sebelahnya.


“Apa liburanmu menyenangkan?” Bisiknya pada Gea membuat Gea meliriknya dengan sorot mata tajam.


“Hehehey, mata indah ini. Apa kau baik-baik saja?” Tanya Haris lagi sepertinya tau apa yang sudah dialami oleh Gea.


“Mmmm, aku baik-baik saja.” Angguk Gea, sementara Haris memperbaiki poni Gea.


“Kau licik sekali.” Bisik Haris dengan wajah imut.


“Licik kenapa?” Tanya Gea balik.


“Namamu sudah terdaftar di universitas kedokteran Singapura. Sementara aku belum, bukankah kita janji untuk selalu bersama. Kau mengatakan jika kau pergi liburan, tapi nyatanya, secara diam-diam kau pergi tes gelombang

__ADS_1


pertama.”Jawab Haris membuat Gea tercengang.


“Be-be-benarkah?” Tanya Gea dengan gagap.


“Hehehey, jangan bilang jika kau belum melihat hasilnya. Tunggu.” Jawab Haris dengan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nama Gea.


“Bagaimana mungkin?” Tanya Gea lagi.


“Besok adalah tes gelombang kedua. Aku akan ikut tesnya. Kau, harus mendoakanku supaya kita bisa tetap bersama.” Haris tersenyum dengan manis.


“Ta-tappi.” Gea masih tidak percaya dengan hasil seleksi tersebut, karena dia sama sekali tidak pernah ikut tes apapun yang menyangkut dengan Universitas Singapura.


“Tapi apa? Kau tidak ingin mendoakanku. Picik sekali.” Haris melirik Gea dengan mata genit.


“Oh iya, hari ini aku akan pulang lebih cepat karena ada beberapa administrasi yang harus aku lengkapi. Aku duluan yaa.” Haris  berdiri dan menyandang tasnya lalu pergi. Gea langsung mengeluarkan ponselnya dan membuat panggilan pada Gio.


“Apa kau cabut lagi dan tertangkap oleh petugas?” Tanya Gio.


“Aiih, bukaan.”


“Lalu apa? kenapa kau menelponku pada jam pelajaran?”


“Apa yang abang lakukan pada Universitas kedokteran di Singapura? Apa abang memanipulasi seleksi?” Bisik Gea dengan nada amatir.


“Tidak, aku hanya memasukkan datamu dari jalur prestasi. Apa kau lulus?”


“Aku semakin curiga jika kau tidak sedang berada di sekolah. Hidupkan GPSmu sekarang juga!”


“Aku sedang di kelas, hanya saja tadi temanku mengatakan jika aku lulus disana. Sementara aku belum ikut tes apapun.”


“Aaaah, mungkin kau lulus karena prestasi olimpiademu itu. Sudahlah, aku mau naik pesawat. Nanti aku hubungi lagi.”  Gio n mengakhiri panggilan.


“Tapi aku tetap tidak percaya, akan aku gali kembali.” Gea menggigit ujung karet ponselnya.


“Ada apa? kenapa kau berteriak seperti itu?” Tanya Lia dengan wajah antusias.


“Tidak ada, aku rasa Bang Gio kembali berulah.” Jawab Gea dengan wajah bahagia.


“Kenapa? Kau selalu menyalahkan abangmu yang tampan itu. Apapun yang ia lakukan, itu semua demi kebaikanmu.” Dina berciloteh sembari tetap menulis.


“Jangan sampai kata-kata puitismu yang kau tulis disana. Ini adalah untuk nilai ulangan harianku.” Potong Gea dengan wajah geram.


“Tipex oiii.” Teriak Dina dengan manis pada teman yang duduk di belakangnya.


“Aaiish kau ini, lihat kertasnya jadi kotor!! Ulangi lagi!!” Teriak Lia dengan emosi.

__ADS_1


**


Ketika hendak naik ke atas bus pulang, Lia menahan lengan Gea.


“Ada apa? Aku sudah sangat lelah.” Regek Gea yang kembali turun.


“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.” Lia mengajak Gea duduk kembali ke halte. Gea melirik Dina yang sudah naik Bus menuju rumahnya.


“Apa?” Tanya Gea dengan memanyunkan bibirnya.


“Mmmmm.” Jawab Lia yang sepertinya ragu dengan pertanyaannya. Gea mulai menebak pertanyaan Lia. “Apa ini mengenai Haris?” tanya Gea dalam hati.


“Aaah tidak jadi, besok saja. Itu busku, aku pulang duluan yaa.” Lia terlihat mencurigakan.


“Jangan kau pikir aku tidak tau dengan apa yang telah kau sembunyikan dariku dan Dina.” Bisik Gea dengan menahan tangan Lia. Lia langsung menatap Gea.


“Aku tau kau selalu memperhatikanku ketika aku bercengkrama dengan Haris. Tatapan matamu ketika menatap Haris berbeda dengan tatapanmu ketika menatap kami. Kau tau, kami berdua bertemu ketika kami masuk SMP. Dia adalah pacar pertamaku, dan itu berlaku sampai sampai saat ini. Kami telah berjanji untuk selalu bersama selamanya, walau kau berniat untuk menikungku. Aku sudah lebih dulu membuat tameng perlindungan padanya.” Jelas Gea dengan sombong sembari memangku tangannya.


“Gea, apa maksudmu?” Tanya Lia dengan tatapan tidak percaya.


“Haris itu milikku, dan sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku. Kau hanya akan berdiri di sudut kehidupannya, tidak lebih. Walau kau menyukai Harisku, aku tidak akan pernah memberikannya padamu. Jika kau bergerak sedikit saja, aku akan langsung melemparmu.” Jawab Gea dengan nada sinis.


“Gea!!” Teriak Lia dengan emosi sembari berdiri.


“ Wah, kau berteriak padaku, seolah-olah yang aku katakan itu salah. Lia temanku, jika yang aku katakan itu salah, lalu kenapa kau mengirim paket-paket soal, catatan lengkap, dan kata-kata semangat pada Haris?” Tanya


Gea membuat Lia berlinang air mata karena tak kuasa menahan emosinya.


“Aku mengirimnya, hanya untuk balas budi padanya. Kau tidak perlu takut, aku tidak akan merampas Haris dari pelukanmu.”  Lia berjalan menjauhi halte.


“Lia, kau benar-benar munafik.” Teriak Gea membuat Lia menghentikan langkahnya. Lia menoleh tajam pada Gea.


“Kau jauh lebih munafik.” Teriak Lia dengan nada emosi pada Gea.


“Hari ini, adalah hari terakhir Haris di indonesia. Dia akan menetap di Singapura. Apa kau tidak akan menyesal?” Tanya Gea pada Lia yang langsung tercengang mendengar ucapan Gea.


“Apa?” Tanya Lia dengan air mata bersimbah ruah.


“Lalu kau pikir  apa yang dia bisikkan padaku tadi?


“Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengannya?” Tanya Lia dengan sangat cemas. Sementara Gea susah menahan tawanya, tapi harus tetap dingin.


“Entahlah, yang pasti, dia sudah membawa seluruh berkas-berkasnya.” Jawab Gea dengan lebih dingin.


“Lalu, aku harus bagaimana?” Tanya Lia yang tampak linglung. Gea langsung naik ke atas sebuah bus menuju bandara.

__ADS_1


“Apa kau tidak ingin mengucapkan kata-kata perpisahan  pada Haris?” Tanya Gea pada Lia sembari naik keatas bus.


“Gea, aku ikut!”  Diatas Bus, Lia menangis sejadi-jadinya.


__ADS_2