
Gio memberhentikan mobilnya tepat di depan tempat les Gea. Gea turun dengan wajah yang berbenar-binar. Ia merasakan beban yang ia rasa selama ia hidup di dunia ini sudah sedikit berkurang.
“Benar, aku sudah mendapatkan tempatku disisi Bang Gio. Itu saja sudah cukup.” Gea melangkah masuk ke dalam gedung les. Ketika Gea masuk ke dalam gedung, 3 koboi sudah menantikannya dengan ekspresi mengerikan.
“Astaga, aku terkejut.” Gea mengelus dadanya. Bimo, Ervan dan Didi tetap menatapnya. Gea yang mengerti dengan tatapan tersebut langsung menjawabnya.
“Maaf, kemarin aku pulang duluan karena Jovi menitipkan tugas dan barang berhargaku pada Brian. Kita pergi makan ayam lagi yook.” Ajak Gea dengan memegang tangan Didi. Tapi, tatapan mereka menatap lebih pada pakaian Gea, yang masih memakai seragam sekolah.
“Aah itu.” Gea menunduk memikirkan sebuah jawaban yang tepat. Didi, Ervan dan Bimo menyeretnya keluar gedung.
“Tunggu, aku bisa jelaskan.” Teriak Gea membuat Didi dan Ervan melepaskan tangannya dari lengan Gea.
“Akan aku ceritakan.” Bisik Gea membuat Ervan langsung merangkulnya menuju kafe di seberang gedung. Sesampai di kafe, Gea disudutkan dengan tatapan yang lebih gila. Pertanyaan dari mereka bertiga hanya berasal dari tatapan, bukan dari mulut dengan ucapan.
“Inilah kenapa aku harus mengajak mereka dalam setiap detik hidupku.” Umpat Gea dalam hati.
“Kemarin malam, aku makan malam dengan keluargaku. Bang Gio mulai menyinggung masalahku dengan Kak Gina. Kalian tau, Papa mengamuk dan langsung meninggalkan meja makan dan menyalahkanku.” Gea tertunduk sedih, Gea melirik ketiga temannya dan tatapan itu masih terpancar dari mata mereka bertiga.
“Akhirnya aku memutuskan untuk keluar rumah lebih pagi, ketika aku duduk di halte, aku bertemu dengan bang Gio….” Gea menjelaskan kejadian hari ini sedetail-detailnya.
“Huuft, lalu apa rencanamu?” Tanya Ervan yang sudah kembali normal.
“Entahlah, aku akan tetap menjalani hari-hari ini. Sampai saatnya.” Jawab Gea membuat ketiga temannya semakin penasaran.
“Sampai saatnya? Apa kau akan pergi?” Tanya Bimo dengan sedikit terkejut.
“Ya tidaklah, mau pergi kemana juga coba. Dan juga, gosip komplek tentang Kak Gina, sudah di benarkan oleh Bang Gio.” Gea meminum teh esnya.
“Kaan, apa aku bilang. Aku sudah yakin dari awal, kalau si Gina itu kakak angkatmu.” Sahut Didi dengan rasa bangga. Karena Didi-lah dalang yang membantu gosip itu tersebar luas.
“Cih, wajahnya saja berbeda jauh dengan wajahmu dan Bang Gio. Oh iya, apa kita perlu membuat sesuatu yang menarik dengannya?” Tanya Ervan berusaha menghasut Gea.
“Jangan, bagaimanapun juga dia itu kakakku.” Jawab Gea dengan wajah polos.
“Yaah, di kasih masukan, malah nolak. Ayoklah Gea, sekali saja.” Bisik Didi dengan lembut.
“Dia itu licik. Kita sudah pernah terjebak dengan permainannya. Sudahlah, sekarang hidupku dan hidupnya tidak berhubungan walau kami satu rumah.” Gea tampak sangat bangga membuat ketiga temannya tertawa.
“Khakhakhakhak”
“Gea kau tau, selama dia masih berada di dalam rumahmu, kau tidak akan pernah merasa hidup dengan nyaman. Dia akan selalu menganggumu, aku pastikan itu.” Ervan masih berupaya menghasut, membuat Gea terdiam.
“Hidup yang nyaman, aku nyaman dengan kehidupanku yang sekarang ini. Kalau bukan seperti itu, apa seharusnya aku pindah ke Singapura?”Tanya Gea membaut ketiga temannya terdiam.
“Kaan benar, apa Bang Gio menghasudmu untuk pergi bersamanya?” Tanya Bimo dengan wajah kesal.
“Hmmm, dia mengajakku untuk pergi bersamanya. Tapi aku tidak mau. Kau benar Ervan, dan begitu juga Bang Gio, aku memiliki tempat diluar rumah yaitu kalian. Dan tidak memiliki tempat, di dalam rumah.”Gea menunduk sedih.
“Jadi apa keputusanmu?” Tanya Ervan dengan jantan, membuat Gea menatapnya.
“Entahlah, untuk saat ini aku hanya menjalani saja. Menurut kalian bagaimana?” Tanya Gea pada ketiga temannya.
“Singapura.” Jawab mereka serentak.
__ADS_1
“Mengesalkan!” Teriak Gea yang berharap ketiga temannya berusaha untuk menahannya.
“Kau tau Gea, kau bahagia jika bersama kami, itu sudah sebuah kepastian. Tapi didalam rumahmu, kami tidak bisa menjamin itu. Siksaan Gina sangat keterlaluan, ditambah lagi respon kedua orang tuamu yang tidak pernah menganggap dirimu ada. Ini sudah 17 tahun, kau berhak bahagia. Tak ada lagi tangisan dari mata indahmu itu, itu yang kami harapkan.” Ervan mengakui kesedihan hidup Gea.
“Yaa, aku juga berpendapat seperti itu. Kau mencemaskan kami bertiga, tenang kita akan tetap berhubungan. Ditambah lagi, kita sudah kelas 3 SMA. Sudah wajar, jika kita harus segera berpisah.” Bimo tersenyum hambar, membuat Didi, Ervan, dan Gea menatapnya.
“Woi Kebo, apa kau bilang? Kita akan berpisah? Asal kau tau, walau aku sudah menua aku akan tetap menempel pada kalian bertiga.” Didi memeluk Ervan, dengan cepat Ervan menangkisnya
“Baiklah, aku akan memikirkannya.” Sahut Gea dengan tersenyum manis pada Bimo.
“Tidaaak, jangan tinggalkan aku Gea. Aku tidak bisa hidup tanpamu.” Sorak Didi membuat seisi kafe menatap mereka berempat.
“Kenyot nih teh es.” Bisik Ervan dengan geram memberikan sedotan pada mulut Didi. Hampir 2 jam mereka bercengkrama dan bermain ludo di dalam kafe. Gea menyadari satu hal.
“Hey bukankah kita harus Les?” Bisik Gea dengan wajah dramatis.
“Sekarang hari sabtu, kita hanya les sampai hari kamis.”Didi memutar anak ludonya.
“Benarkah?” Tanya Gea lagi dengan tersenyum manis.
“Kita ini kelas gold. Pelajaran di kelas biasa akan terkalahkan.”Didi bangga.
“Gea, kau sudah kalah dua kali. Jujur atau Berani?” Tanya Bimo dengan suara rupawan.
“Kau juga kalahkan Bimo.” Jawab Gea yang tidak mau mengalah.
“Jangan jujurlah, itu semua sudah lumrah. Tak ada yang tidak tau dengan aib dari kita berempat. Hukumannya hanya pada Berani.” Tegas Ervan dengan tersenyum sinis.
“Baiiklah,” Sahut Gea dengan nada pasrah.
Gea melangkah mendahului Brian dan Oliv yang pulang dari les. Brian menatap Gea dengan penuh pertanyaan.
“Kau memakai seragam sekolah, tapi tidak pergi ke sekolah.” Tatap Brian pada Gea, sehingga Gea menoleh padanya.
“Namanya juga, anak nakal.” Sindir Oliv dengan wajah menjengkelkan. Brian melihat sebuah teh es di tangan Gea.
“Eits, itu bukan urusanmu Olivia. Oh iya Brian, mana titipan Jovi untukku?” Tanya Gea sembari menadahkan kedua tangannya. Brian langsung mengeluarkan buku tersebut. Ucapan Didi tentang tantangan berani tadi kembali menggema di telinganya.
“Nanti sepulang dari sini, kita pasti akan bertemu dengan Oliv dan si Kangen band. Kabarnya, mereka berdua sedang berkencan. Nah, tantanganmu di sini, kau harus membuat oliv jengkel menggebu-gebu padamu dengan cara apapun juga. Jengkel dalam artian cemburu buta, khikhikhik. Aku ingin tau kabar itu nyata atau tidak.”Didi mengusap-ngusap dagunya.
“Jadi kau menyuruhku untuk menggoda pacar orang. Perbuatan tercela macam apa itu?” Tanya Gea dengan wajah tidak percaya.
“Bukankah kau paling pandai menari di depan poster koreamu itu. Kau bisa menari untuk membuat Oliv murka. Dan ingat satu hal, kita hanya membuktikan, bukan merebut.” Saran Ervan dengan melentikkan jarinya.
“Ini, aku juga menyalinnya.” Brian jujur jika ia ikut menyalin tugas Jovi.
“Oh terima kasih, itu semua tidak masalah. Sebagai wujud rasa terima kasihku, dan wujud dari rasa bahagiaku dengan hubungan kalian berdua. Aku akan mempersembahkan sebuah lagu untuk kalian berdua. “ Brian terlihat curiga dengan aksi Gea. Gea memutar sebuah lagu dari ponselnya dan meletakkan ponsel tersebut diatas trotoar, dan mulai mengambil posisi.
Lagu: Hyuna ft Hyunseung Troubel Maker.
“Siulan mulai, 1 2 3.”
“Ni nun-eul bo-myeon nan Trouble Maker (Jika aku melihat matamu, akulah trouble maker)”
__ADS_1
“Ni gyeot-e seo-myeon nan Trouble Maker (Jika aku berdiri di sampingmu, akulah trouble maker)”
“Jo-geum-sshik deo deo deo(Sedikit demi sedikit, lebih lebih lebih)”
“Gal-su-rok deo deo deo (Semakin pergi, lebih lebih lebih)”
“I-jen nae mam-eul na-do eo-jjeol su eobs-eo (Sekarangpun aku tak bisa menolong hatiku lagi)”
“Ni-ga na-reul it-ji mot-ha-ge ja-ggu ni ap-e-seo ddo(Kau tidak bisa melupakanku sebab aku terus menerus berada di depanmu)”
“Ni mam ja-ggu nae-ga heun-deul-eo beos-eo-nal su eobs-do-rok (Aku terus menerus menggetarkan hatimu, hingga kau tidak dapat melarikan diri)”
“Ni ib-sul-eul ddo hum-chi-go meol-li dal-a-na-beo-ryeo (Aku juga akan mencuri bibirmu dan berlari jauh)”
“Nan Trou a a a ble! Trouble! Trou! Trouble Maker! (Aku Trou a a a ble! Trouble! Trou! Trouble Maker!)”
Ketika Gea hendak melanjutkan tariannya, Brian meraih ponsel Gea yang berada di trotoar dan mematikannya.
“Apa aku ini seperti sebuah lelucon untukmu?” Tanya Brian dengan emosi.
“Apa kau pikir tubuhmu itu bisa membuat semua orang terpesona?” Tanya Oliv lagi dengan wajah menjijikkan. Gea terdiam, berusaha ingin menjelaskan tapi semuanya sudah terlanjur.
“Hohohoy, sepertinya ada yang harus dijelaskan disini.” Sorak Ervan dari belakang dan Didi bergegas merebut ponsel Gea dari tangan Brian.
“Gea hanya menjalani tantangan dari kami.”Bimo ikut membela Gea, membuat Brian melirik tajam pada Gea.
“Hmmm.” Angguk Gea dengan tersenyum manis.
“Tantangan? Cih.” Brian kembali kesal.
“Apa kalian terhibur? Semoga setelah kau memiliki seorang kekasih, tabiat burukmu bisa hilang. Ini adalah salah satu wujud persembahan dari kami berempat, korban kelaknatanmu. Khikhikhik” Tawa cekikikan Didi pada Oliv. Mendengar itu, Oliv yang takut menerima pertanyaan lebih dari Brian , dan berlari pergi meninggalkan Brian.
“Apa?” Tanya Brian dengan sedikit tercengang. Brian melirik Oliv yang berlalu meninggalkannya, lalu menatap Gea.
“Lah, sepertinya dia malu.” Didi menyenggol bahu Bimo.
“Long last ya Bro.” Bimo menepuk pelan bahu Brian.
“Gea ayoo, ini sudah sangat malam.” Ervan mengajak Gea yang mematung melihat ekspresi Brian. Sembari berjalan mengikuti Ervan, Gea mengeluarkan suara merdunya untuk sebait lagu.
“(Woo) I don't know, I don't know, I don't know why (Woo, aku tidak tahu, aku tidak tahu, aku tidak tahu kenapa)”
“(Woo) nado nal nado nal moreugesseo (Woo, bahkan aku, bahkan akusendiri pun tidak tahu)
“(Woo) I just know, I just know, I just knowwhy (Woo, saya hanya tahu, saya hanya tahu, saya hanya tahu
kenapa)”
“Cuz its all fake love, fake love, fake love (Karena itu semua cinta palsu, cinta palsu, cinta palsu)” Lagu BTS: Fake Love.
Mendengar nyanyian Gea, Brian seperti merasakan sesuatu. “ Mungkinkah?” Tanya Brian tidak percaya sembari
memperhatikan Gea yang berjalan dengan ketiga temannya.
__ADS_1