Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 29. Pergi


__ADS_3

Malam pun tiba, Gea masuk ke dalam kamar Sem. Kamar Sem sangat sederhana, dimana hanya ada satu buah tempat tidur, sebuah lemari di sudut ruangan, lalus ebuah meja rias di dekat jendela. Gea berjalan kearah meja rias


dan mulai melihat wajahnya yang tampak sedikit lebab akibat tamparan Mama.


“Aku membencimu Luni.” Gea mengingat kejadian semalam. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Aku membencimu Semenip.” Gea  duduk di depan meja rias Sem, lalu mengusap air matanya. Gea melirik bantal beruang biru di atas kasur, dan langsung berbaring di sampingnya.


Sementara itu, Bimo, Didi, dan Ervan sedang asyik dengan game di warung internet langganan mereka.


“Hey, bukankah ini aneh. Seharian, aku tidak melihat Gea.” Bimo memulai pembicaraannya.


“Mungkin dia seharian di kafe biru sedang mendownload produknya.” Balas Ervan.


“Mungkin.” Didi menoleh pada Bimo.


“Biasanya dia pasti menghubungiku jika ia ingin ke kafe biru.  Aneh.” Sambung Didi,  Bimo mengentikan permainannya, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Gea.


“Bagus, tidak aktif.” Bimo mengulangi panggilannya.


“Mungkin dia ketiduran, dan ponselnya mati.” Timpal Ervan. Mereka bertiga kembali melanjutkan gamenya.


**


Papa dan Mama Gea pulang, dan memeriksa kamar Gea.


“Gina, apa Gea masih belum pulang?” Tanya Mama.


“Belum Ma, mungkin dia benar-benar pergi.” Jawab Gina. “Ini adalah kesempatan besar bagiku untuk mengambil simpati Mama.” Bisik Gina di dalam hati.


“Bagaimana mungkin dia bisa berbuat seperti itu?” Tanya Mama cemas. Gina sudah menyiapkan makan malam.


“Bagaimana ini Sem? Dia tidak pulang.” Mama  kembali menangis.


“Mungkin dia sedang pergi les. Palingan nanti jam 10 dia pulang.”  Papa melirik penuh pada kamar Gea. Mama yang tidak sabaran, langsung melangkah menuju tempat les Gea yang ada di depan komplek. Mama melangkah cepat masuk ke dalam gedung komplek dan memeriksa kelas. Mama tidak menemukan Gea.


“Maaf buk, sedang mencari siapa?’ Tanya kakak yang sedang mengajar di kelas tersebut. Brian tampak memperhatikan Mama Gea, sementara Oliv hanya tersenyum kecut.


“Apa Gea ada di sini?” Tanya Mama Gea.


“Tidak buk,  Gea sudah pindah ke kelas gold. Coba ibu tanyakan di lantai 3.” Jawab Kakak tersebut membuat Mama Gea berjalan dengan cepat. Dan benar, Gea tidak ada di kelas, begitu pula dengan ketiga temannya


yaitu Didi, Ervan, dan Bimo. Mama Gea mulai memutar pikiran, kemungkinan Gea bermain. Mama Gea berjalan cepat menuju warung internet depan komplek. Mama Gea langsung masuk dan memeriksa warung internet yang lumayan luas. Mama Gea menemukan Bimo, Didi, dan Ervan sedang asyik dengan gamenya.


“Didi, apa kau melihat Gea nak?” Tanya Mama Gea membuat Didi menoleh dan langsung berdiri.


“Ti-ti-tidak Ma. Seharian kami tidak melihatnya.” Jawab Didi. Ervan dan Bimo menoleh dan langsung mengentikan gamenya.

__ADS_1


“Mungkin dia ada di kafe biru Ma. Ah, biar aku jemput.” Didi langsung berdiri dan melangkah keluar dari warung internet.


“Mama ikut Di.”Tanpa pertanyaan lebih, Didi membonceng Mama Gea ke kafe biru. Sementara Ervan, dan Bimo juga mengikutinya.


“Ada apa sih? Kenapa Mama Gea tampak begitu cemas? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Bimo pada Ervan yang sedang membawa motor.


“Entahlah, sepertinya ada masalah baru.” Jawab Ervan.


Didi memarkirkan motornya, sementara Mama Gea masuk ke dalam Kafe dan mencari Gea. Mama Gea keluar dari kafe dengan wajah yang sangat murung. Tampak, tubuhnya lunglai lemah tak berdaya.


“Ada apa Ma? Kenapa Mama mencari Gea?” Tanya Ervan.


“Anu, sepertinya Gea sudah pergi meninggalkan rumah.”Jawab Mama pelan.


“Apa?” Tanya serempak Ervan, Didi, dan Bimo.


“Bagaimana bisa Ma?” Tanya histeris Didi.


“Di, ayo jalan. Mungkin Gea masih di sekitaran sini. Kasih kabar para preman untuk ikut mencarinya. Bimo, bawa Mama pulang.” Ervan langsung berlari ke parkiran kafe. Didi masih mematung tidak percaya.


“Baiklah, ayo Ma.” Ajak Bimo dengan mengajak Mama pulang.


Brian dan Oliv berjalan bersama menuju gerbang komplek. Mereka melihat Bimo membonceng Mama Gea.


“Sepertinya Gea sedang dalam masalah. Isst dia itu benar-benar.” Oliv melirik Brian yang tampak berpikir lama.


“Tidak ada. Ayo, sepertinya sudah mau hujan.” Jawab Brian. Brian kembali memikirkan Gea. Ia masuk kedalam kamarnya, dan membuka jendela kamarnya. Ia melihat kearah jendela kamar Gea. Lampu kamar Gea mati.


“Apa dia sudah tidur?” Tanyanya. Lalu menutup kembali jendela kamarnya. Tampak rasa cemas di wajah Brian.


“Kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini?” Tanyanya dengan mengambil ponselnya, lalu mulai menghubungi nomor Gea.


“Ponselnya Mati.” Brian meletakkan ponselnya, lalu berbaring di kasurnya.


**


Bimo memberhentikan motornya tepat di depan rumah Gea.


“Bimo, tolong temukan Gea ya Nak.” Mama Gea memohon dengan air mata bersimbah ruah. Melihat itu, Bimo tak sanggup bertanya, dan hanya mengangguk, lalu memutar motornya.


Semalaman, Gea tidak di temukan. Paginya, Ervan kembali menggerahkan teman-temannya untuk menemukan Gea. Didi bahkan tidak tidur semalaman, semua itu hanya untuk melacak keberadaan Gea.


“Kemana sih kau Gea?” Rengek sedih Didi.


Sorenya, Didi pulang dan langsung mengganti baju. Brian melihat Didi yang bolak-balik lalu mengentikannya.


“Hei, kau tampak sibuk. Ada apa?” Tanya Brian. Didi dengan wajah kesal hanya melewatinya. Brian menoleh ke rumah Gea.

__ADS_1


“Sudah 2 hari, aku tidak melihatnya. Kemana dia sebenarnya?” Tanya Brian dengan berpikir jika Gea pergi meninggalkan rumah. Tidak lama kemudian, Bimo datang dengan motornya dan turun dengan cepat. Brian yang curiga dengan gerak-gerik mereka bertiga, mulai menahan Bimo dengan memegang lengan Bimo.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tau jika sikap kalian menunjukkan sesuatu perihal Gea. Apa yang terjadi padanya?”Tanya Brian dengan wajah serius. Bimo menatap wajah Brian.


“Bukannya aku tidak tau, jika kau sering menghinanya. Anggap saja, jika aku masih membiarkanmu untuk bernafas di dunia ini.” Bimo melepas tangan Brian dari lengannya. Ini kali pertamanya berbicara serius dengan Brian.


“Apa maksudmu?” Tanya Brian.


“Wanita murahan, branmur, dan menyedihkan.” Jawab Bimo dengan tegas dan jelas.


“Bagaimana kau mengetahui semua itu? Apa Gea mengadu padamu? Cih.” Brian tampak kesal.


“Tidak, dia tidak pernah mengatakan rasa sakitnya. Karena dia adalah gadisku yang sangat hebat. Dan untuknya, trotoar bisa aku buat bertelinga, dan berbicara padaku akan mulut kotormu yang selalu menghinanya.” Brian menatap Bimo dengan tatapan tajam


“Gadisku? ” Tanya Brian.


“Aku jadi penasaran, kenapa kau mengatakan jika dia murahan?” Tanya Bimo.


“Tentu saja, karena aku menyaksikan kalian membawanya keluar setiap jam 2 malam. Apa yang dilakukan seorang wanita di tengah malam dengan 3 orang pemuda?” Tanya Brian.


“Ooooh, jadi kau berpikiran jika kami bertiga melakukan sesuatu pada Gea, dengan 3 berbanding satu, begitu?” Tanya Bimo dengan tersenyum sembari menggeleng-geleng.


“Bukan seperti itu,” Brian terdiam karena ia tidak ingin kembali merendahkan Gea.


“Ada banyak alasan kenapa kami keluar pada jam 2 malam. Jika itu alasanmu untuk merendahkannya, aku sedikit keberatan.” Bimo meraih kerah baru Brian.


“Tussh.”Bimo memukul wajah Brian.


“Pergilah, aku tidak ingin melihatmu lagi.” Bimo melangkah, namun Brian kembali menahan Bimo.


“Aku tidak percaya dan aku benar-benar tidak tau. Tapi, ketika aku melihatnya dan semua perkataan Oliv, aku menjadi ragu. Setidaknya, kau beri tau aku siapa Gea yang sebenarnya?” Tanya Brian.


“Ooooh, jadi Oliv sudah membenamkan presepsi itu di kepalamu. Saranku, sebaiknya kau menjauh dari Oliv. Dia kurang baik dalam berteman. Dan juga Gea, aku akan memberi taumu tentang beberapa hal. Pertama, dia itu tidak


murahan, hanya karena dia bermain dengan kami, kau mengatakan dia murahan. Kau itu siapa memangnya ha? Tuhan? Malaikat? atau mungkin seorang Dewa? Yang aku tau, kau hanya manusia bodoh yang tak tau diri. Berani sekali kau mengatakan itu pada makhluk Tuhan, yang Tuhan sendiri tidak pernah mengutuknya. Kau tau, setiap jam 2 malam, kami selalu melakukan aktivitas yang menurut kami menyenangkan.”  Bimo  mengambil sebuah kunci di dalam saku bajunya.


“Ini, ini adalah duplikat dari kunci aula komplek ini. Kau ingin tau tempatnya dimana? Itu, di depan taman komplek sana. Aula itu seperti bioskop kecil, nah Gea dan juga kami bertiga memiliki bisnis film bajakan, kami selalu berusaha mencari film-film jadul dari berbagai genre dan menduplikatkannya untuk di posting di web film milik Gea. Biasanya, jika ada film yang menarik kami berempat akan menontonnya bersama pada jam 2 malam. Kenapa di aula komplek, karena hanya disana yang terdapat berbagai makanan dan yang pastinya tidak mengganggu rakyat komplek yang sudah tidur. Yang Kedua, jangan pernah lagi mengganggunya,karena jika aku tau kau masih mengganggunya, maka kau akan benasip sama denagn Kriss. Kau mengerti.” Bentak keras Bimo lalu melepaskan tangan Brian dari lengannya.


“Lalu dimana Gea sekarang?” Tanya Brian yang sudah merasa sangat bersalah pada Gea.


“Dia pergi dari rumah.” Jawab Bimo.


“Apa?” Brian langsung mengeluarkan ponsel, dan mulai menghubungi seseorang.


“Aku butuh bantuanmu.” Brian meninggalkan Bimo dengan wajah yang heran.


“Capek-capek aku cerita, dia hanya bilang Apa?” Bimo  masuk ke rumahnya.

__ADS_1


**


__ADS_2