
“Jovi?” Teriak rancu Gea dengan emosi.
“Apa dia terlibat dengan skandal Brian yang sebelumnya? lihat saja, aku akan menghajarnya.”Gea bangun dari duduknya, dan bersiap untuk menyelamatkan Brian.
Gea membawa beberapa barang yang bisa melindunginya, temaksud pisau dapur dan sebuah tongkat baseball.
Tak lupa, ia memakai sebuah masker untuk perlindungan identitas. Dia bisa saja melapor polisi, tapi akan muncul skandal baru yang membahayakan Brian, dia tidak ingin hal itu terjadi.
“Semoga ini beguna.” Gea tersenyum manis, lalu melangkah menuju lokasi dengan menggunakan bus. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai di Perternakan Madani adalah kisaran 4 jam. Gea turun di halte di kampung Madani. Gea menatap kearah padang rumput yang terbentang luas di hadapannya. Di sebelah kanannya, terdapat gang perkampungan.
“Astaga, bagaimana bisa aku menemukan Brian di sini. Tempat ini sangat luas, dan penduduknya juga tidak begitu beraktivitas di luar rumah. Kampung ini, cocok untuk di jadikan lahan horror. Apa sebaiknya aku berkeliling saja ya?” Gea melangkah menelusuri kampung. Setelah satu jam berputar-putar, Gea melirik sebuah kandang ternak
yang berada di atas bukit.
“Kenapa firasat ini mengatakan jika dia ada di sana?” Gea langsung memanjat bukit tersebut. Tiba-tiba seorang bapak menghentikan aksinya.
“Hey nak, kau mau kemana? Kalau mau olahraga, di sana saja, lapangannya bersih dan pemandangannya juga indah.” Bapak itu melirik tongkat bassball yang berada di tangan kiri Gea.
“Aaaah, ini. Oh, aku ingin olahraga panjat tebing pak.” Gea tersenyum semanis mungkin.
“Oooh, Bapak cuman mau kasih tau. Di atas sana ada kandang ternak yang sudah lama di tinggal oleh pemiliknya, dan sangat terabaikan. Jika kamu sudah sampai di atas, bergegaslah untuk turun. Karena berkemungkinan banyak ular yang bersarang diatas sana. Ini juga demi keselamatanmu.” Bapak itu tersenyum sendu.
“Iya pak terima kasih atas peringatannya.” Gea melanjutkan aksinya, sementara bapak itu melanjutkan langkahnya. Ketika Gea sampai diatas, ia melihat jenjang tebing di sudut seberang ia memanjat.
“Aaaah, benar-benar buang-buang waktu.” Gea melirik kesal pada tangga tanah tersebut, sembari menyeka keringatnya.
“Uhuk,uhuk, uhuk.” Gea mendengar suara seseorang yang sedang batuk. Ia bergegas mengintip ke dalam kandang tersebut, melalui celah kayu dengan posisi jongkok. Benar, ia melihat Brian terikat di sebuah kursi dengan tubuh terkulai lemah tak berdaya dengan beberapa luka tusukan di perut, dan kepala yang berdarah. Brian juga diawasi oleh 2 orang preman berpakaian serba hitam dengan tubuh tegap.
“Mati saja!! Kami hanya menunggu itu!!” Teriak salah satu preman.
“Mati, astaga, dia menyuruh Brian mati. Benar, dengan kondisinya yang seperti itu, itu akan membuatnya benar-benar mati. Aku harus menolongnya. Tapi, aku tidak boleh gegabah, salah langkah kami berdua akan mati di sini.”
Gea terus mengawasi dari celah kayu. Tangan kanan Gea meraba sesuatu yang sangat licin.
“Apa ini?” Gea menoleh pada tangan kanannya. Ternyata, yang dikatakan bapak tadi benar . Ada ular piton yang bersarang di kandang ini. Ular ini memiliki panjang sekitar 4 meter dengan perut yang menggembung.
“Astaga, ini ular piton yang kekenyangan. Untung aku tidak pobia ular.” Gea memiliki ide untuk memasukkan ular tersebut ke dalam kandang ini.
“Hehehe.” Tawa liciknya ketika menarik ular tersebut kearah pintu depan.
Gea membunyikan sebuah suara dramatis.
“Kriiiiiik.”
“Suara apa itu?” Ketika preman itu membuka pintu mereka terkejut dengan penampakan ular tersebut, dengan cepat Gea memukulnya.
“Bukhh” Gea memukul tepat di tengkuk preman 1. Itu membuat si Preman 1, pingsan. Melihat rekannya di serang, preman 2 langsung berlari kearah Gea.
“Beraninya kau!” Teriak Preman 2.
“Aku tidak takut denganmu. Ayo, maju!” Gea memutar kakinya dan mengeluarkan jurus mautnya. Preman itu mengeluarkan sebuah pisau.
“Aaah, kalau pisau aku tidak takut.” Gea menangkis pisau tersebut dan menghantam dada preman 2 dengan kaki kanannya.
“Ini adalah jurus Ervan.” Gea berteriak dengan menendang Si Preman 2 dengan kedua kakinya.
“Ini adalah jurus Didi.” Gea berlari kearah Si Preman 2 dan menghantam kepala Si Preman 2 dengan kaki kirinya.
__ADS_1
“Tenju maut Bimo. Hiyaaa!” Gea meraih kerah baju Si Preman 2, dan meninju wajah Si Preman 2 dengan sangat kuat. Seketika, Si Preman 2 pingsan.
“Mampus kau, mati!! Mati!!” Kencam Gea. Ketika Gea berbalik, si Preman 1 sudah sadar dan mengeluarkan pisaunya.
“Aaah, aku sudah lelah untuk bertarung. Aku punya ini.”Gea mengeluarkan sebuah pistol dari dalam dadanya.
“Aku ini polisi, angkat tangan kalian!!!!” Teriak Gea dengan keras. Preman itu langsung tunduk. Gea langsung mengikat mereka berdua di sebuah tiang, dan menutup mulut mereka. Gea menghantam mereka seperti mereka menghantam Brian. Setelah puas mengahajar, Gea langsung menghampiri Brian.
“Brian, sadarlah.”Gea menepuk pipi Brian.
“Siapa kau?” Tanyanya dengan pelan.
“Aiish banyak bicara, apa kau bisa jalan?” Tanya Gea dengan prihatin.
“Mungkin.”
“Kau harus kerumah sakit, lukamu sangat parah.” Gea melihat kepala Brian yang robek.
“Jangan bawa aku ke rumah sakit. Aku mohon.”Gea membuka tali ikatannya.
“ Tunggu, penutup aksi ini.” Gea meletakkan ular piton tersebut di pangkuan kedua preman tersebut.
“Hehehehe.” Tawa lirik Gea
“Ayo, kita pulang.” Gea membantu Brian untuk bangun dengan menahan tubuh Brian.
“Akh, perutku.” Brian meringis kesakitan ketika Gea sedikit menyenggol lukanya.
“Aaah, maaf.” Brian melirik Gea yang tampak prihatin.
“Suara ini, aku seperti mengenalnya.” Brian langsung menarik masker Gea. Kedua mata mereka bertemu.
“Aiish, kau ini mematahkan kemisteriusanku.” Gea menarik sebuah masker baru dari dalam saku bajunya.
“Pakai ini, dan ini biar kita menjadi dua misterius.” Gea memakaikan Brian masker dan sebuah topi.
“Jangan bawa aku ke rumah sakit.” Gea hanya menatap Brian. “Benar, jika aku membawanya ke rumah sakit, skandal baru akan muncul. Lalu, aku harus bawa dia kemana?” Pikir Gea dengan mengeluarkan ponselnya.
Gea memesan sebuah taksi online untuk menuju rumah Sem. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Gea. Sementara Brian terlihat sangat lemah, dan bersandar di bahu Gea. Sesampai di rumah Sem.
“Apa kau sudah gila? Seharusnya kau membawanya ke rumah sakit.”Teriak Sem dengan sangat emosi, namun tetap membantu Gea membawa Brian ke tempat tidur kamar gelapnya.
“Dia ini seorang artis terkenal, apa kau tidak mengenal wajahnya ini? Jika dia di bawa ke rumah sakit skandal besar akan muncul. Kakak tau, aku baru saja menyelamatkannya dari penculikan yang mengerikan.” Gea memberikan
wajah dramatis pada Sem.
“Apa? Penculikan. Kasihan sekali, baiklah akan aku kerjakan.” Sem langsung membersihkan luka di sekujur
tubuh Brian. Sementara Brian tampak tertidur pulas dengan bius yang disuntikkan padanya. “Kenapa Jovi melakukan semua ini pada Brian? Aku sangat penasaran.” Pikir Gea dengan menatap Brian yang penuh dengan luka. Melihat Brian sudah mulai membaik, Gea berpikir untuk menemui Jovi.
“Eits kau mau kemana?” Tanya Sem dengan wajah curiga.
“Ada sesuatu yang harus aku selesaikan.” Jawab Gea dengan tersenyum sinis.
“Jangan terlibat terlalu dalam. Tampaknya ini sangat berbahaya.” Sem menahan tangan Gea.
“Aku sudah kehilangan dirinya satu kali. Apa aku harus kehilangan dirinya untuk kedua kalinya?” Bisik Gea ke telinga Sem, membuat Sem melepaskan tangannya.
__ADS_1
“Berhati-hatilah, gunakan masker untuk menutup wajahmu.” Sem tersenyum hangat. Gea keluar dan berpikir keras mengenai Jovi.
“Kenapa Jovi ingin membunuh Brian? Apa masalah mereka berdua? aku penasaran, apa sebaiknya aku menculik Jovi dan membuatnya mengaku? Ya, penculikan di bayar dengan penculikan. Dimana aku akan menculiknya. Oh iya, mungkin dia sedang menuju tempat kejadian perkara, untuk melihat para preman bayarannya. Aha, aku hanya tinggal menunggunya di halte yang berada di depan rumahnya. Hehehe, aku datang Jovi.” Gea tertawa licik, tiba-tiba Sem berdiri di samping Gea, dengan dandanan ala preman seksi.
“Apa yang kakak lakukan disini? Penampilan mengerikan ini. Apa kakak sedang kesurupan?” Tanya Gea dengan wajah heran.
“Kau ini makhluk sosial. Kau tidak akan bisa melangkah tanpa bantuan orang lain. Ayo, kita tangkap pelakunya.” Jawab Sem dengan memakai masker untuk menutupi wajahnya.
“Lalu, bagaimana dengan Brian?”
“Lukanya sudah dijahit, dia akan tertidur pulas hingga besok pagi. Ayo, tidak ada waktu lagi.”Sem menarik tangan Gea dan mengajak Gea menuju parkiran komplek.
“Kenapa kita ke sini. halte bus ada di sana.” Tunjuk Gea dengan tangan kanannya. Sem mengeluarkan kunci mobil, dan mulai membuka mobil mewah yang terparkir dihadapan mereka.
“Cckckck, kau punya mobil yang bagus, tapi utangmu berceceran.” Decak kagum Gea dengan mengelus-ngelus mobil tersebut.
“Naiklah, jangan banyak bicara.” Sem menghidupkan mesin mobilnya.
“Aku hanya kagum wahai Kak Sem.” Aku naik keatas mobilnya.
“Mobil ini, adalah mobil yang diberikan seorang penjamin padaku, dan pada saatnya aku akan mengembalikannya. Jadi, aku tidak bisa menjualnya.”
“Penjamin? Penjamin apa? apa ada seseorang yang berutang padamu?”
“Bukan urusanmu. Kau masih anak di bawah umur.” Sem melajukan mobilnya.
“Apa kau tidak melihat dada yang besar ini? Astaga, aku lupa membawa suamiku kabur bersamaku. Pasti
dia sangat cemas, dan tidurnya kurang nyenyak. Jimin-oppa, bulan di atas sana adalah bukti kekuatan cinta kita, aku akan membeli tiket konsermu, ketika Kakak iparmu melunasi utangnya.” Gea ingat poster kpop di kamarnya, sembari menatap langit malam.
“Apa kau sudah gila? Apa itu Jimin-Bts? Kau ini benar-benar, aku kira kau benar-benar sudah menikah.” Lirik sinis Sem pada Gea.
“Ssst, kami sudah menikah sejak tahun 2013 dulu. Pernikahan kami selama 5 tahun ini, adalah bukti kekuatan cinta kami berdua. Kau, tidak akan bisa memisahkan kekuatan cinta ini.” Gea menyentuh dadanya.
“Menurutku, dari ukuran ketampanan, pemuda yang di rumah tadi jauh lebih tampan.”
“Jleb.” Nada kekesalan dari otak Gea.
“Dia itu, hanya tampan level sampah. Sementara Jimin-oppa adalah pemuda tertampan no 1 di dalam hati ini.”
“Matanya abu-abu. Apa dia keturunan bule?”
“Entahlah.” Gea menjadi badmood.
“Jika kau sedikit berpikir sesuai dengan kata hatimu, kau pasti tau dengan satu hal yang sedang terjadi pada dirimu.”
“Apa maksud kakak?” Gea menatap Sem.
“Mulutmu mungkin bisa mempengaruhi pikiranmu untuk bisa membohongi hatimu. Tapi tidak dengan tindakanmu, dia adalah gambaran penuh dari isi hatimu. Seberapa benci kita pada seseorang, kita bisa menutupinya dengan ucapan yang dipengaruhi oleh pikiran kita, tapi itu, tidak tidak akan mempengaruhi tindakan kita. Sepandai
dan selihai apapun seseorang menutupinya, satu dari ketulusan hatinya pasti akan tampak, dan mempengaruhi tindakannya.”
“Aaaah, aku tidak tau dengan semua ini. Apa yang sebenarnya aku lakukan? Apa sekarang aku sedang kesurupan?” Tanya Gea dengan wajah kesal membuat Sem lebih kesal.
“Jadi apa rencananya?” Tanya balik Sem berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Sebaiknya kita menunggunya di dekat halte yang berada di dekat rumahnya.” Jawab Gea sembari membuka google map di ponselnya.
__ADS_1
“Nah, lewat jalan ini.” Gea menunjukkan arahnya pada Sem.