
Sorenya, Gea berserta keluarga sampai di rumahnya. Gina melangkah pelan menuju kamarnya.
“Jadi ini jawaban kenapa kamar itu selalu terkunci. Bang Gio, kau benar-benar pandai dalam berdrama.” Bisik Gea pada Gio, membuat Gio ingat pada dusta yang ia ceritakan pada Gea perihal kamar tersebut. Gio mengatakan jika kamar tersebut adalah kamar hantu dan siapa yang masuk ke dalamnya tidak akan pernah bisa keluar. Dan dengan polosnya Gea mempercayai itu semua.
“Masuk saja ke dalam kamarmu.” Gio mendorong Gea masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
“Aish, dia begitu kaku. Apa dia grogi ketika kak Gina pulang?” Guman Gea lagi lalu melirik poster korea yang aman ia rindukan.
“Jimin-oppa, I miss you. Aaaaaakkkhh.” Teriak gila Gea dengan berlari pelan kearah depan poster.
“Aaah, maafkan aku. situasi saat itu sangat buruk. Makanya, aku lupa mengemasi dirimu. Ayoo, cium aku. Aku sudah pulang, oppaku sayang.”
“Apa? Kau kesal dengan sikapku. Tapi tidak masalah karena aku mempunyai kabar gembira tentang hubungan kita. Apa kau ingin tau?”
“Iya, cinta kita telah direstui. Khikhikhikhik.” Tawa geli Gea.
“Tapi aku sangat lelah, aku harus beristirahat dulu.” Gea melangkah mundur menuju kasurnya, dan langsung merebahkan diri.
“Apa semua penderitaan ini benar-benar akan berakhir?” Tanyanya dengan tatapan kosong. Tangannya meraba sebuah benda yang berada di bawah bantal.
“Apa ini? Seingatku aku tidak pernah meletakkan benda apapun di bawah bantalku.” Gea menarik benda tersebut.
“Buku apa ini?” Tanya Gea lagi sembari duduk dan memeriksa sebuah kertas yang terselip di atasnya. Gea mulai membacanya “ Kau pasti penasaran siapa aku sebenarnya. Buku ini akan menjelaskan siapa aku, dan dari mana aku berasal, dan apa tujuanku yang sebenarnya.”
“Apa mungkin?” Tanya Gea lagi dengan berpikir jika buku yang ia pegang adalah buku catatan harian Nesi. Gea menelan ludahnya dan mulai membuka buku tersebut secara acak. Sebuah tulisan dengan tinta merah yang tulisannya lebih besar dari tulisan lainnya. “Dia mengatakan aku harus membunuh satu diantara mereka, atau dia akan membunuh Nesa.”
“Geaa, aku masuk yaa.” Tiba-tiba, Gina datang dengan gaya santai Gea langsung melempar catatan harian Nesi kearah sudut kamarnya, dan melesat ke bawah lemari bajunya.
“Buku apa itu? kenapa kau melemparnya?” Tanya Gina dengan wajah curiga.
“Aaa aaaa, ooooo.” Jawab Gea yang berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan Gina dengan jawaban yang tepat.
“Kau mencurigakan.” Bisik Gina dan bergegas meraih buku tersebut dari bawah lemari Gea.
“Jangan!!” Teriak Gea dengan lantang. Tapi Gina sudah terlebih dulu mendapatkan buku tersebut.
“Mari kita lihat, buku apa ini?” Gina mulai membaca buku tersebut, sementara Gea memejamkan matanya karena takut bila Gina mengetahui apa yang sedang ia sembunyikan.
“Novel ini, kau harus membacanya bukan melemparnya. Membaca itu perlu untuk wawasanmu.” Gina dmelempar buku itu ke pangkuan Gea, membuat Gea membuka matanya dan melihat buku tersebut. “ Kenapa novel ini ada
di bawah sana?” Tanya Gea dalam hati. Ia ingat jika novel tersebut adalah novel yang dibelikan Lia untuknya, karena tidak percaya dengan cinta, Gea melemparnya
dan melesat ke bawah lemarinya. Ya, Novel Euforia.
__ADS_1
“Jadi ini suamimu, kau benar-benar harus sadar. Dunia kalian berbeda, dan yang pasti dia bukan jangkauan untukmu.” Gina berusaha menasehati Gea.
“Kami berdua, akan disatukan oleh takdir. Karena dia adalah takdirku kak Gina.”Tatap Gea dengan sepenuh hati.
“Terserahlah, aku ingin tidur di sini.” Gina menarik sebuah bantal dan merebahkan tubuhnya. Gea kembali melirik buku harian Nesi yang terselib di bagian lain. Ponselnya berbunyi.
“Ervan.” Gea menerima panggilan tersebut.
“Hallo, yaa.” Sapa Gea dengan cuek.
“Hallo yaaa? Apa seperti itu sapaanmu setelah sekian lama?” Tanya Ervan dengan nada emosi.
“Lalu, aku harus bagaimana?” Tanya balik Gea.
“Halte depan komplek, Sekarang!!!” Teriak Ervan dengan mengakhiri panggilan.
“Huuft, siap-siap kena bunuh.” Guman Gea dengan melangkah kearah lemarinya.
“Mau kemana?” Tanya Gina dengan wajah curiga.
“Menemui pacar-pacarku.” Jawab Gea dengan bangga.
“Pulanglah sebelum makan malam.”Gina menarik selimut dan kembali memejamkan matanya. Dengan cepat Gea memasukkan buku harian Nesi ke dalam tasnya dan melangkah pelan keluar kamar.
“Huuft.” Keluhnya, namun lagi Gio dengan wajah detektif gila meliriknya dari depan ruang keluarga.
“Apa kau menyembunyikan sesuatu?” Tanya Gio dengan dingin.
“Ti-ti-tidak.” Jawab Gea kaku.
“Gio!!! Berhenti mengganggu Gea. Pergilah, teman-temanmu sudah merindukanmu.” Papa melangkah kearah Gea, memberikan Gea uang saku.
“Terima kasih Pa.” Gea memeluk Papa.
“Bukankah gerak-geriknya mencurigakan.” Gio melirik Gea dengan wajah kesal. Gea melepaskan pelukannya.
“Dewa Gio, hamba pergi dulu.” Gea menunduk hormat lalu keluar dari rumahnya.
“Cih.” Gio berdecih melihat aksi adiknya.
“Dia sedang menyesuaikan diri dengan kakaknya. Kau tonton saja televisi itu. Aaduh, lelahnya.” Papa melangkah masuk ke dalam kamarnya. Gio hanya terdiam mendengar omelan Papanya, dan sedikit tersenyum tipis lalu kembali fokus pada siaran televisinya.
***
__ADS_1
Gea melangkah menuju halte komplek. Ia melihat ketiga temannya sudah menunggunya dengan wajah yang amat sangat kesal. Gea hanya menunduk untuk meminta pengampunan.
“Heey, dengan wajah seperti itu aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Didi melangkah kearah Gea dan memeluk Gea.
“Aku sangat mencemaskanmu.” Bisik Didi membuat Gea tersenyum.
“Terima kasih, aku baik-baik saja.” Gea balik memeluk Didi.
“Heey, kalian berdua. Apa hanya kalian berdua yang memiliki dunia ini?” Tanya Ervan dengan kesal lalu menarik Gea dari pelukan Didi. Didi tercengang melihat aksi Ervan yang terlihat cemburu.
“Sudah cukup sedih-sedihnya, ayoo makann.” Ajak Bimo dengan naik ke atas bus.
“Apa dia tidak merindukanku?” Bisik pelan Gea dengan menatap tajam Bimo yang cuek naik ke atas Bus.
“Seharusnya kau bertanya seperti itu padaku.” Ervan menarik tangan Gea naik ke atas Bus.
“Didi, apa kau tidak ikut?” Tanya Gea dengan melirik pada Didi yang mematung akibat aksi Ervan padanya. Didi tersenyum dan mengejar Gea. Karena Bus penuh, mereka berempat harus berdiri.
“Oi Bimo, apa kau tidak merindukanku?” Tanya Gea dengan lirikan mata kesal.
“Kenapa aku harus merindukanmu?” Tanya balik Bimo membuat Gea menghela nafas.
“Apa terjadi sesuatu selama aku kabur dari rumah?” Bisik Gea ke telinga Ervan.
“Entahlah, akan ada ribuan pertanyaan yang akan kami lempar padamu.” Bisik balik Ervan.
“Bimo, apa kau tau kemana jurusan bus yang kita naiki ini?” Tanya Didi yang memperhatikan belok-belok mencurigakan bus.
“Seperti biasa, aku hanya naik. Hehehee.” Tawa garing Bimo membuat Didi melirik jurusan bus yang terpampang di belakang supir.
“Pusat Kota. Hebat.” Angguk Didi dengan bangga, membuat Ervan meriksanya kembali.
“Pusat kota?” Tanya Gea dengan wajah tidak percaya, lalu tersenyum licik.
Mereka sampai di pusat kota. Mereka turun dengan sangat gembira.
“Aaah, sudah lama kita tidak mampir ke sini.” Ervan memandang toko-toko yang berada di pinggir jalan.
“Yaa terakhir, dua bulan yang lalu.” Didi melangkah duluan. Gea melirik pecahan kaca yang ada di ujung halte. “Seperti tak asing di mata ini. Aku rasa, aku pernah melihatnya. Tapi dimana?” Bisik Gea dalam hati.
“Ada apa? kenapa kau memandang pecahan kaca itu?” Tanya Bimo heran, membuat Ervan meliriknya.
“Tidak, Aku hanya heran kenapa pecahan kaca itu dibiarkan ada di sana, bukankah ini pusat kota, pecahan kaca itu bisa berbahayakan.” Gea melangkah menyusul Didi.
__ADS_1
“Jadi rencananya kita mau makan dimana?” Tanya Ervan pada Bimo.
“Ikuti Didi, dia pernah makan masakan jepang yang enak di daerah sini. Kita akan makan disana.” Ajak Bimo dengan tersenyum ramah pada Ervan.