Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 46. Ciuman Pertama


__ADS_3

Gea sampai dirumahnya, dan langsung menutup pintu.


“Hoooh, hebaat.”  Gea  tertawa geli seperti kasmaran.


“Kau kenapa?” Tanya Gina dengan wajah curiga, melihat Gea basah kuyup dengan senyum-senyum menjijikkan.


“Aaaah, aku baik-baik saja. Uuuh, dingin sekali.” Jawab Gea dengan melangkah masuk ke dalam kamarnya dan kembali tertawa geli.


“Apa mau aku buatkan the panas?” Sorak Gina dari luar.


“Tidak usah.” Sorak balik Gea dengan langsung mandi dan mengeingkan rambutnya.


“Sekarang tanggal berapa? Hari ini adalah ciuman pertamaku. Aaaaaaa.” Tawa riangnya sembari meraih ponsel dari dalam tasnya dan melihat tanggal.


“Tunggu, aku merasa ini bukan kali pertamanya, dan rasanya juga sama, tapi dimana dan dengan siapa?”


“Aaah mungkin di dalam mimpiku yang indah bersama Jimin-oppa.” Tiba-tiba Gea ingat pernyataan Brian ketika masih di rumah Gina dulu. Mengatakan jika Gea harus pergi memeriksakan kepalanya. Dan Gea kembali ingat dengan pecahan botol di pusat kota.


“Pusat kota, ya, aku rasa aku pernah ke sana sebelumnya.”  Gea kembali berusaha mengingat kejadian pada


malam itu.


“Merobek pakaian, melempar jaket, dan melepas ikat rambut. Berjalan menuju Bar. Minuman, mabuk, dan bau parfum itu.” Gea mengingat runtutuan kejadiannya ketika diusir dari rumah dengan melirik baju olahraga Brian tadi pagi.


“Aaaaaaaaaa.” Teriak Gea dengan histeris.


“Aaah, itu tidak mungkin. Aaah, aku rasa itu hanya mimpi. Ya, hanya mimpi. Hahahahaha.”


“Bukan, itu bukan mimpi.” Umpat Gea dengan wajah datar. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Sebuah nomor baru.


“Akhir akhir ini, terlalu banyak nomor baru yang menghubungiku.” Gea langsung menolak panggilan tersebut. sebuah pesan masuk. Gea mulai membaca pesan tersebut.


“Apa kau tidak ingin mengangkat panggilan dari pacarmu?”


“Ini nomor Brian. Apa yang harus aku balas? Apaa? Ini begitu, aaa.” Pesan baru kembali masuk, dan Gea kembali membacanya.


“Apa kau sudah mandi? Segeralah beristirahat, jangan sampai kau sakit karena hujan-hujanan tadi.”


“Bagaimana mungkin aku sakit, karena yang tadi itu.” Bisik Gea dengan tersenyum geli. “Hey, ada apa denganku, apa aku sedang kasmaran? Jadi ini yang namanya kasmaran. Aaah, apa yang harus aku lakukan?” Umpat Gea dengan kembali membaca pesan Brian.


“Jangan hanya membaca, ayo tuliskan sesuatu.”


“Aaah, apa yang harus aku tuliskan. Selamat malam? Sudah makan atau belum? Pasti dia sudah makan. Atau, aku mencintaimu.” Karena begitu grogi, tangan Gea mengetik sebuah kalimat.


“Aku sedang kasmaran, jadi jangan ganggu aku.”


“Aaaaah tidaaaakkkkk, kenapa tangan ini bisa mengetik kalimat semengerikan ini? aaah, memalukan sekali.” Brian langsung membalas.


“Ahahaha, kau sedang kasmaran. Mau aku obati, kemarilah. Atauu, apa aku harus pergi kesana?”


“Kraaakk.” Bunyi gorden kamar Brian.


“Apa dia benar-benar ingin kesini? Aku harus membalasnya dengan sesederhana mungkin.”


“Aaah, jangan terburu-buru, tidurlah, dan mimpi indah. Good night, sayangku. Muuach.”


Brian kembali membalas.


“Ahahahahaha, Aku tidak akan terburu-buru, tapi aku akan menyegerakan. Kau mengertikan ? Good night,


sayangku, love you. Muuach.”

__ADS_1


“Menyegerakan? Apa yang akan dia segerakan?” Tanya Gea dengan rancu. “Lebih baik aku tidur.” Gea berbaring dan memejamkan matanya.


**


Paginya seperti biasa Gea berangkat ke sekolah.


“Aku berangkat dulu.” Sorak Gea dengan gembira melangkah menuju pintu. Ketika sampai di depan pintu, ia kembali ingat kejadian tadi malam.


“Aku tidak ingin pergi bersama dengan Brian. Ini pasti akan canggung.” Bisiknya dengan mengintip dari lubang pintu.


“Biasanya, dia berdiri di bawah pohon itu. Tapi hari ini tidak ada. Sepertinya dia sudah pergi duluan. Lagian, ini juga sudah pukul 7.20.” Gea  membuka pintu dengan sangat pelan.


“Selamat pagi.” Sorak semangat Brian, yang sudah tiba di depan pintu rumahnya, membuat Gea sangat terkejut.


“Aaaah, selamat pagi.” Gea membalas dengan tersenyum manis.


“Aku sudah menunggumu dari tadi, ayo berangkat.” Brian  memegang tangan Gea. Dengan sigap, Gea langsung melepaskan genggaman tangan Brian.


“Ayo.” Gea melangkah duluan. Brian terdiam dan melihat tangannya.


“Kau kenapa?” Tanya Gea lagi dengan menoleh pada Brian. Brian tetap terdiam, Gea kembali berjalan kearah Brian.


“Kau seharusnya tau, tempat untuk kita bisa bermesraan. Apa kau tidak tau? Jika salah satu warga komplek mengetahui ini, maka mereka akan memisahkan kita berdua.” Bisik Gea pada telinga Brian. Brian menatap Gea dan berpikir lama.


“Benarkah? Kalau begitu menjauhlah.” Brian  mendorong Gea dengan kasar.


“Kenapa kau mendorongku?” Tanya Gea dengan wajah kesal, tidak terima dengan dorongan Brian.


“Kita harus berjauhan, jika tidak akses kita bisa terputus.” Jawab Brian dengan tersenyum manis, lalu melangkah duluan.


“Brian, apa kau ingin tau bagaimana supaya akses kita tidak terputus?” Sorak Gea membuat Brian menoleh padanya.


“Ahahaha, hentikan! Kau ini.” Teriak Brian dengan menahan badan Gea.


“Tapi kau ingin akses kita selalu terhubung.” Kencam Gea dengan semakin menempel.


“Hoi kalian berdua.” Brian dan Gea menoleh ke belakang.


“Didi, apa kau tidak pergi ke sekolah?” Tanya Brian dengan mendorong Gea, dan lagi Gea langsung menempel seperti perangko. Didi menatap heran pada Gea dan Brian


“Aku rasa jalan di komplek ini cukup lebar.” Jawab Didi dengan wajah heran.


“Walau lebar, tapi bagi kami berdua, jalan ini sangat sempit.” Bisik Gea dengan tersenyum manis pada Brian. Didi menatap tajam pada baju seragam Brian dan Gea.


“Kalian mau kemana?” Tanya Didi dengan wajah datar.


“Sekolahlah.” Jawab Brian yang lagi mendorong Gea. “Ahahhaa.” Tawa Gea yang kembali menempel.


“Apa kalian tidak tau? Seluruh sekolah pada hari ini libur. Temanku yang satu sekolah dengan kalian juga mengatakan itu, makanya nanti siang kami akan pergi berenang bersama.” Gea dan Brian  saling menatap dan terdiam. Didi langsung pergi berjalan kearah depan komplek.


“Kenapa kau tidak memberitahuku?” Tanya Brian pada Gea dengan wajah kesal.


“Kau pikir aku juga tau.” Jawab Gea dengan wajah datar, lalu kembali menempel pada Brian. Brian sedikit kewalahan dengan aksi Gea.


“Aku tau tempat untuk kita berdua.” Bisik Brian dengan tersenyum licik dan menarik tangan Gea.


“Hoi Gea, aku rasa ini suamimu.” Sorak Ervan yang tiba-tiba datang dengan membawa poster semalam. Brian langsung melirik Ervan dengan lirikan mata kesal.


“Hohohoho, suami.” Cemooh Brian dengan melirik poster yang dibawa Ervan dan melirik Gea.


“Dimana kau mendapatkannya? Aku kira dia sudah di bawa oleh selingkuhannya.” Gea mengambil poster tersebut.

__ADS_1


“Di halte depan komplek. Oh iya, kalian mau kemana? Bukannya hari ini libur.” Tanya Ervan dengan wajah heran.


“Kami tidak tau jadwal.” Jawab Brian dengan wajah kesal.


“Itu tidak masalah, aku punya sesuatu untuk kita. Siang ini di rumahku.” Tawaran Ervan dengan mata licik, lalu melangkah pergi.


“Wokeeh.” Sahut Gea dengan semangat. Brian langsung menarik poster tersebut dari tangan Gea, dan membuka gulungannya.


“Oooh, jadi ini dia Jimin, Jimin yang kau katakan waktu itu.” Brian menatap kesal pada poster tersebut.


“Kapan aku pernah mengatakan dia padamu?” Tanya Gea rancu, dengan merebut poster tersebut dari tangan Brian. Brian merundukkan kepalanya dan mulai berbisik.


“Apa kau lupa? Kau menghabiskan malam denganku, tapi kau malah mengucapkan namanya. Kau pikir aku ini siapa? Kau menciumku, tapi kau menyebut namanya. Aku seperti pelampiasan kesemuan khayalanmu.”


“Aaah, apa itu bukan mimpi?” Teriak Gea pada Brian.


“Apa kau benar-benar lupa?” Tanya Brian dengan menatap mata Gea. Gea kembali menyambung ingatannya.


"Hahahaha, sekarang aku bebas!!"Teriaknya sembari turun di pusat kota. Ia mulai memperhatikan gaya orang sekitar, dan melirik pakaiannya. Gea langsung menyesuaikan diri. Ia membuka ikat rambutnya, dan membuat rambut panjangnya tergirai indah. Ia juga membuka jaketnya, dan menyisakan sebuah baju lengan pendek robek-robek. Gea melirik sebuah pecahan kaca, lalu merobek celananya.


"Pas!" Gumannya, lalu melangkah menuju sebuah bar.


"Waah, bar ini benar-benar megah." Ia memesan sebuah minuman.


"Minuman apa ini? Ini seperti pahit-pahit meledak. Aiish." Gea kembali memesan 1 gelas lagi, dan lagi.


"1 gelas lagi." .


"1 gelas lagi."


"Hey tampan, 1 gelas lagi." Gea  sepertinya sudah mulai mabuk.


"Aku mohon, 1 gelas lagi."


"Yang botol itu saja." Pelayan itu memberikan Gea sebotol minuman.


“Hai cantik, mau ikut.” Seorang Pemuda mengajaknya untuk menari. Gea spontan berjalan kearah panggung dan mulai menari dengan seksinya.


“Buhk!” Brian datang dan memukul pemuda yang berusaha menyentuh Gea.


"Jangan menyentuhnya!" Kencam Brian.


"Jimin-Oppa, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Gea dengan spontan mengkecup lembut bibir Brian, layaknya ia mencium ganas poster korea yang berada di dalam kamarnya.


"Aaah, kenapa kau terasa begitu nyata?" Gea memeluk erat pemuda tersebut, lalu kembali menciumnya. Brian langsung membalas ciuman Gea. Melihat keadaan tidak lagi kondusif, Brian menarik Gea keluar dari Bar.


"Jimin-Oppa, kita mau kemana? Kaki ini lemah, hati ini hancur, kepala ini amat pusing." Gea menghentikan langkah Brian.


"Apa kau sudah gila? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tanya Brian berusaha menyadarkan Gea.


"Sssst, bukankah aku sudah menceritakan semuanya padamu. Dinoku hidup kembali. Mamaku menuduhku mencuri perhiasannya, Mama menamparku, lalu mengusirku. Aku sangat hancuur." Gea menangis dengan tersedu-sedu.


"Apa?"


"Kau tidak akan tau betapa menderitanya aku. Ditambah lagi, si Brian bodoh itu selalu berkata kasar padaku."


"Maafkan aku."


"Jimin-Oppa, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Sekarang, dunia ini hanya milik kita berdua." Gea kembali mencium hangat Brian lalu memejamkan matanya. Tiba-tiba, Gea tertidur, dan merebahkan tubuhnya di dalam pelukan Brian


"Hey, aku sudah mulai serius, kau malah tidur." Brian menggendong Gea menuju mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2