Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 23 Drama Oliv


__ADS_3

Gea turun di halte yang berada di depan komplek rumahnya. Haris melambaikan tangannya dengan tersenyum manis.


“Dia sangat manis, itu yang aku suka.” Guman Gea dengan membalas lambaian tangan Haris. Terbesit di benaknya gaya lambaian tangan Ervan dan Didi.


“Setidaknya, haris tau bagaimana menjadi manusia.” Gumannya lagi sembari melangkah pelan. Gea melihat Brian sedang berdiri di depan sebuah swalayan dengan minuman kaleng di tangannya. Matanya terlihat menatap Gea


dengan sangat tajam. Brian melempar minuman kaleng tersebut pada sebuah tong sampah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Merasa tak penting, Gea tetap mengayunkan langkahnya dengan santai.


“Apa sekarang kau bahagia?” Tanya Brian membuat Gea menghentikan langkahnya, dan menoleh pada Brian.


“Jadi, sejak kapan kau memulai hubungan dengannya?” Tanya Brian lagi membuat Gea merasa rancu. “Apa maksud si brengsek ini? Apa mungkin dia menyukai Haris?” Bisik Gea dalam hati. Brian melangkah hingga berdiri tepat di hadapan Gea.


“Jadi benar, kau berpacaran dengannya.” Brian melirik pada dua ikat bunga mawar di tangan Gea.


“Ya, aku memang bepacaran dengannya. Kenapa? Apa kau butuh bukti untuk itu? Hey, dulu aku pernah memberikan bukti pada Omar. Bukti melalui celana dalam Haris. Akulah yang membukanya dan memberikannya pada Omar. Apa kau juga ingin bukti itu?”  Brian tercengang.


“Apa-apaan gadis ini?” Bisik Brian dalam hati.


“Oooh iya, sebelumnya aku meminta maaf padamu. Mulai detik ini, Aku gadis murahan dan menjijikkan ini, tidak akan mengganggumu lagi. Dan untuk kejadian beberapa hari terakhir, aku tidak akan mengulanginya lagi. Hiduplah


dengan baik, semoga kau dengan pacarmu juga bahagia, layaknya aku dengan pacarku.” Gea menunduk hormat lalu tersenyum manis dan melangkah meninggalkan Brian yang tampak masih terdiam mendengar ucapan Gea.


“Seharusnya aku yang meminta maaf.” Brian melangkah pelan menuju rumahnya.


***


 Gea menari-nari dengan dua ikat bunga mawar.


“Geaaa!!! Bukak pintunya!!” Teriak Mamanya membuat kegaduhan.


“Ya Ma.” Sahutnya.


“Kau ini, pakai ganti-ganti kunci kamar segala. Kan kakakmu jadi susah untuk membersihkan kamarmu yang sudah kayak kandang **** ini. Lihat, baju kotormu di sudut sana, bagaimana bisa Bibi Yur mengambilnya kalau kamarmu dikunci terus. Sudah sini, mana kuncinya biar mama duplikatkan, kalau tidak mau jangan pernah kunci kamarmu.” Ceamah Mama membuat Gea heran.


“Kau mengerti tidak?” Teriak Mama dengan wajah kesal.


“ Mama bilang kakak membersihkan kamarku. Hellow Mama, itu tidak pernah. Bibi Yur mengambil pakaian, sejak kapan dia mau mencuci bajuku. Aku sendiri yang mencuci bajuku setiap hari minggu. Di kunci atau tidak dikunci, semua tetap sama.”


“Apa maksudmu?” Tanya Mamanya dengan suara pelan, membuat Gea terdiam.


“Sudahlah, ini uang jajanmu. Yang kemarin pasti sudah habis.” Mamanya memberikan uang sebesar 200 ribu pada Gea. Gea menerimanya.


“Yang kemarin? Dari siapa?” Tanya Gea dengan melipat uang tersebut.


“Dari kakakmulah.” Jawab Mama dengan wajah penuh tanda tanya.

__ADS_1


“Aku tidak pernah menerima uang darinya. Kecuali dari bang Gio.” Mamanya tampak terdiam lama, dan menatap wajah Gea.


“Aaaaah, itu membuat Mama pusing, nanti Mama akan bertanya pada Gina. Oh iya, nanti malam kau harus ikut hadir di rumah Tante Vera. Dia mau mengadakan selamatan karena anaknya baru pulang dari Jerman.” Mama mengusap kepalanya lalu melangkah keluar.


“Yaah Mama, Mama aja.” Teriak Gea dengan suara memelas.


“Pergi atau mati.” Teriak balik Mamanya membuat Gea menelan pahit ludahnya.


Brian masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung tidur, untuk melupakan kekesalan siang ini. Kekesalan akan Haris, dan kekesalan akan ucapan maaf dari Gea. Ia terlelap hingga mimpi menyongsong pikirannya.


Langkah Brian terdengar mulai mendekati pintu kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya sembari menutup pintu. Brian langsung melangkah menuju lemari bajunya. Brian mulai memilih baju yang hendak ia kenakan. Brian dengan seksi membuka bajunya. Tubuhnya yang memiliki garis kotak-kotak membuat semua gadis bertekuk lutut padanya. Setelah mengganti bajunya, Brian langsung berbalik badan kearah kasurnya. Seketika dengan sigap, ia mundur merapat ke arah lemari bajunya. Betapa terkejutnya Brian melihat Gea dengan pose menggoda duduk di atas ranjangnya. Kancing bajunya, terbuka lebar hingga memperlihatkan dua tonjolan yang menggoda.


“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Brian.


“Aku datang ke sini untuk meminta jatahku, sebagai pacarmu!”  Gea menjilat seksi bibirnya dan mulai berdiri manja sembari membuka kancing belakang rok mininya.


“Hentikan! Apa yang ingin kau lakukan?” Bisik geram Brian melangkah cepat ke arah Gea dan berusaha menahan aksi vulgarnya dengan mengenggam erat kedua tangan Gea.


“Aku menginginkannya Brian. Aku butuh bukti, bukti jika kau benar-benar mencintaiku.” Bisik Gea menggoda mengambil kesempatan berupaya jatuh ke dalam pelukan Brian dan mengkecup lembut leher Brian. Sontak, Brian


mendorong Gea dengan kuat hingga Gea terhempas cantik ke atas tempat tidurnya.


“Jadi, kau tidak mau. Baiklah, aku yang akan membukanya sendiri, dan melihat bagaimana isinya.”  Teriak Gea membuat kegaduhan di kamar Brian. Gea mendororng Brian kearah kasur dan duduk diatas tubuh Brian. Gea dengan semangatnya berusaha membuka kancing celana Brian. Tarik menarik terjadi, karena Brian berusaha menahan kancing celananya. Sementara Gea berusaha sekuat tenaga membukanya.


“Hentikan! Aku bilang hentikan! Jangan bagian ini! Aku mohon!” Teriak Brian pada Gea. Namun, Gea tidak menghiraukannya.


“Brian!!!” Teriak Ibu Vera menggema sampai menggetarkan seisi rumah. Gea mulai menelan pahit liurnya, karena aksi bejatnya terpampang jelas di depan Ibu Brian. Bagaimana ini? Bisik Gea pada Brian. Brian langsung menutup


wajahnya dengan sangat malu.


“Briaaan!!” Teriak Ibu Vera lagi.


Brian langsung duduk dan mengusap matanya. Sorakan Ibunya menghentikan mimpi konyolnya. Brian melihat ke sekeliling kamarnya, untuk memastikan keberadaan Gea. Ia melihat pakaiannya, lalu melihat jendela kamarnya.


“Apa yang tadi itu hanya mimpi?” Tanyanya. Ibunya tampak heran, berusaha mencerna ucapan Brian.


“Khakhakhakhakhak.”Tawa lepasnya terdengar sampai ke seluruh penjuru rumah.


“Apa kau sudah gila? Bangun dan bantu menyiapkan meja. Acara sudah mau dimulai.” Bentak Ibunya, lalu keluar dari kamar Brian.


“Khakhakhakhakhak. Aku butuh bukti. Khakhakhakhakhak.”Tawanya kembali lepas.


Brian mulai berias, lalu keluar dari kamarnya. Oliv datang mengahampirinya.


“Kau baru keluar dari kamarmu pada jam segini? Kau ini benar-benar.” Bisik manja Oliv sembari membawa beberapa piring ditangannya. Brian hanya tersenyum, lalu menghampiri abangnya.

__ADS_1


“Bang.” Sapanya sembari menjabat tangan Beni.


“Hey, aku melihat gadismu disini. Aku rasa kau sangat bahagia. Pria brengsek.” Beni meninju pelan dada Brian.


“Hahaha, abang ini bisa saja.”Brian memeluk abangnya.


“Prankk.” Suara gaduh akan pecahan piring terdengar dari arah dapur.


“Aaakh, apa yang sedang kau lakukan?” Teriak Oliv. Brian dan beberapa orang yang berada di ruang tamu langsung berlari ke dapur melihat apa yang sebenarnya terjadi. Brian melihat Gea yang mematung melihat Oliv dengan kaki yang sudah berlumuran darah.


“Oliv apa yang terjadi? Kenapa dengan kakimu?” Tanya Brian dengan cemas.


“Gea melempar piring-piring ini pada kakiku. Karena dia merasa tidak senang dengan keberadaanku di rumah ini. ” Jawab Oliv dengan air mata yang berlinang.


“Geaa!!” Teriak Brian membuat Gea sedikit syok.


Beberapa orang mulai membawa Oliv ke rumah sakit.


“Sepertinya lukanya butuh jahitan.”


“Sudahlah Gea, korban di sini bukan hanya Oliv tapi juga dirimu. Kau tidak usah takut. Sebaiknya, kau pulang ya.”Bisik pelan Ibu brian sembari memegang bahu Gea. Gea keluar dari rumah Brian. Dan melangkah menuju rumah Didi.


“Kenapa dengan wajahmu itu? apa acaranya sudah selesai?” Tanya Bimo yang asyik dengan snack ringan di tangannya.


“Woi, apa kalian pernah merasa jika hidup ini penuh dengan drama?” Bisik dramatis Gea dengan menggunakan tangannya.


“Mmmm, pernah, waktu itu aku melihat Oliv sedang belajar bermain sepeda. Aku berusaha membantunya, tapi apa. dia sengaja menjatuhkan badannya, lalu menggoreskan kakinya pada aspal. Lalu menangis sekuat tenaga. 1 minggu aku dikurung di dalam rumah.” Masa lalu Ervan yang ia ungkit dengan wajah kesal.


“Aku juga, waktu itu aku melihat Oliv menggunakan kamera barunya. Ia kesal, lalu melempar kamera tersebut kea rah pohon hingga kamera itu pecah diambang kerusakan. Dan akhirnya, Ibuku yang mengganti kamera tersebut. lalu, uang jajanku di potong selama 3 tahun. Ahahahahahha, lucunya Beb Oliv.” Tawa renyah Didi.


“Aku juga, waktu itu Gea baru saja membeli ikan hias dan di beri nama Shark. Aku berlari kearah kolam di samping rumah Gea, dengan menyanyikan lagu Shark. Tak lupa aku mengajak Oliv yang sedang asyik bermain dengan


gelembung sabunnya. Kami berlari bersama, sepertinya Oliv kecewa. Dia mengira, jika Shark adalah hiu sungguhan. Dengan kesal, dia menceburkan diri ke dalam kolam tersebut, berteriak sekeras mungkin, dan menuduh jika aku mendorongnya.” Bimo tersenyum kecut seraya melirik Gea.


“Khakhakhakhakhak,”Tawa geli Didi menepuk bahu Bimo. Gea terlihat tercengang mendengar ucapan ketiga temannya.


“Apa drama hidupmu juga Oliv?” Tanya Didi dengan menahan tawa.


“Tadi, ketika aku masuk ke dalam rumah Brian, aku di sambut hangat oleh keluarganya. Lalu, aku mulai melangkah ke dapur, dan mulai membantu mengemasi piring. Oliv terlihat tidak senang dengan kedatanganku. Dia bertanya,


apa yang sedang kau lakukan di sini? aku tidak mengacuhkan pertanyaannya. Lalu dia kembali bertanya, apa kau sudah tau siapa Brian yang sebenarnya? Aku langsung meliriknya, dan menjawab: Ya, aku tau. Lalu dia tampak emosi dan mengatakan: Brian itu milikku, hanya milikku. Lalu ia melempar beberapa piring yang berada di tangannya kearah kakinya, lalu mengambil pecahan piring tersebut, dan menggores sendiri kakinya. Dan bertindak, seolah-olah akulah pelakunya.”


“Ahahahahahahaha.” Ervan, Bimo, dan Didi tertawa geli.


“Apa ada yang lucu?” Tanya Gea dengan wajah datar.

__ADS_1


“Lalu?” Tanya Didi dengan menyeka air matanya, yang keluar karena tertawa terlalu girang.


“Yaa, dia juga mengatakan pada semua orang yang berada di sana, jika aku melempar piring tersebut kearah kakinya. Dia menyudutkanku tidak hanya melalui tindakan dan ekspresi wajahnya, tetapi juga melalui perkataannya.” Jawab Gea dengan tersenyum manis, membuat tawa mereka bertiga semakin menjadi-jadi.


__ADS_2