Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 7. Wanita Murahan


__ADS_3

Brian mulai mengenakan model yang jauh dari kata layak dipandang oleh mata. Ia menggunakan rambut palsu dengan kontak lensa berwarna coklat menutupi pupil abu-abunya. Tak lupa, untuk menutup ketampanan bibirnya, ia menggunakan gigi palsu yang sudah di set sesuai dengan rahang atasnya. Gigi palsu itu membuat bibirnya menjadi penuh. Tujuannya adalah untuk penyamarannya sebagai manusia yang hidup dengan normal tanpa gangguan dari


fans-fans liarnya yang selalu mengejar-ngejarnya. Ia mulai menyamar ketika hendak sampai di Indonesia, tepatnya ketika ia masih berada di bandara. Awalnya ia tampak ragu untuk keluar dengan gaya tersebut. Namun, dengan tujuan barunya, ia berani melangkah dengan percaya diri hingga naik ke atas mobil.


“Aku akan menjemputmu, wahai ingatanku yang hilang.” Bisiknya dalam hati.


Sesampai di rumah neneknya, pak sopir mulai memarkir mobil dan menurunkan beberapa barang. Ketika hendak membuka pintu mobil, matanya melirik seorang gadis yang sangat cantik. Ia terdiam sejenak, dan memandang gadis itu dengan tatapan tanpa kedipan. Gadis itu memiliki tinggi kisaran 160 CM, dengan wajah tirus yang dihiasi mata yang sangat indah dengan pupil coklat. Tak lupa, rambut panjang sampai pinggul yang mulai di goda oleh


angin manja, membuat gadis itu mulai merapikan rambutnya. Gadis itu terlihat berbincang ramah dengan seorang pemuda yang bertubuh gendut. Pria itu memperlihatkan sebuah benda yang ia sebunyikan di dalam bajunya, dan kembali menyembunyikannya. Tampak senyum licik mengambang pada bibir gadis itu, menambah kesan betapa manisnya dirinya. Brian mulai tersadar dengan lamunannya, ia langsung turun dari dalam mobil. Ia melihat gadis itu memandangnya dengan wajah tidak percaya dan sedikit tertawa kesal. Ia tau, gadis tersebut pasti mentertawai model yang sedang ia kenakan. Dengan memperkuat percaya dirinya, ia dengan gagah melangkah menuju pintu rumah neneknya dan bergegas masuk. Ia kembali mengintip gadis itu melalui jendela yang berada di samping pintu. Ia melihat, gadis itu juga sudah berlalu dengan masuk ke dalam rumah.


“Brian, kau sudah datang. Apa yang sedang kau lakukan disana?” Tanya Ibunya dengan wajah heran, membuatnya terkejut.


“Aku sedang memeriksa debu di jendela ini Bu. Aku rasa mereka kurang membersihkan bagian ini.” Jawabnya sembari menggorek-ngorek sendi pintu yang sedikit berdebu.


“Sejak kapan kau peduli dengan debu?” Tanya Ibunya dengan wajah curiga, Brian berbalik.


“Aku ingin hidup normal Bu. Dimana kamarku?” Tanyanya sembari menarik salah satu koper yang tersusun di depan meja ruang tamu.


“Gea, namanya Gea. Di sana.” Tunjuk Ibunya kearah sebuah kamar yang berada di  sudut ruangan.


“Siapapun namanya, aku tidak peduli.” Brian berpura-pura cuek dengan melangkah menuju kamar tersebut.


“Berarti benar apa yang Ibu pikirkan.” Sahut Ibunya dengan  melangkah ke dapur. Sementara Brian langsung masuk menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya. Ia kembali terdiam menatap seisi kamar tersebut.


“Apa semuanya akan berawal disini?” Tanyanya dengan kesal sambil memukul pelan pintu kamarnya. Ia menatap sebuah benda yang berada di bawah tempat tidurnya. Ia berjalan menuju benda tersebut dan meraihnya.


“Peti apa ini?” Ia membuka peti tersebut, dan melihat sebuah foto gadis kecil yang sangat manis dengan jepitan unik di poni kirinya.

__ADS_1


“Siapa gadis kecil ini? Apa sebelumnya, dia pemilik kamar ini?” Tanyanya lagi sembari membalik foto tersebut.


“The man cant be moved? Ini seperti judul lagu kesukaanku. Ternyata selera kami sama.” Bisiknya dengan tersenyum. Ia kembali meletakkan foto tersebut ke dalam peti itu, dan kembali meletakkannya ke tempat semula.


“Aku rasa dia akan kembali. Aku harus membiarkan susunan kamar ini tetap seperti ini.” Brian menghempaskan badannya pada kasur yang berada di depannya. Ia mulai memikirkan hal yang menyenangkan hingga matanya melayang terbang ke dalam alam mimpi. Seorang anak laki-laki berjalan menuju rumahnya. Ia melihat seorang gadis kecil sedang menatapnya.


“Apa kau tidak merindukanku? Sudah sekian lama yaa. Dan kau sudah pulang, tapi kau tidak menyapaku.”  Sapa si gadis kecil dengan sangat lembut. Namun, anak laki-laki itu terlihat sangat kesal dan tetap berjalan kearah rumahnya.


“Apa semuanya akan sia-sia?” Tanya si gadis kecil  lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Namun, anak laki-laki itu hanya meliriknya dan berjalan menuju pintu rumahnya.


“Aku tidak mau lagi menunggumu! Aku sangat membencimu!” Teriak gadis kecil dengan wajah yang sangat imut. Anak laki-laki itu terlihat cuek dan melangkah masuk menuju rumahnya.


“Dino, kau sudah pulang. Bagaimana dengan sekolahmu tadi?” Tanya seorang nenek tua pada anak laki-laki itu.


“Menyenangkan Nek, tapi aku tidak suka dengan gurunya.” Jawabnya dengan wajah kesal.


“Huhuhuhu. Kenapa kau tidak menyukai gurumu? Apa dia berbuat sesuatu yang membuatmu kesal?” Tanya Nenek tua itu lagi pada anak laki-laki itu.


Jawabnya dengan melangkah menuju kamarnya. Ia meletakkan tasnya dan menggantung beberapa bajunya. Ia meraih beberapa mainan yang berada di bawah tempat tidurnya dan berlari keluar menuju halaman belakang rumahnya. Ia melihat gadis kecil tadi sedang menangis dan melempar beberapa batu ke dalam kolam ikan yang


berada di sudut taman.


“Kau akan melukainya.” Anak laki-laki itu menahan tangan si gadis kecil itu.


“Aku membencimu! Pergi!” Teriak gadis kecil itu dengan mendorong pelan bahu anak laki-laki itu.


“Kau tidak akan pernah bisa membenciku.” Teriak anak laki-laki itu dengan wajah yang sangat kesal.

__ADS_1


“Benar, walau kau selalu membuatku menangis, aku tetap mau menerimamu. Kenapa? Kenapa? Sekarang, aku tidak ingin lagi mengenalmu!” Teriak gadis kecil itu dengan berlari masuk ke dalam rumahnya. Teriakan gadis kecil itu membangunkan Brian.


“Maafkan aku!!” Teriak Brian dengan sangat keras, langsung bangun dari tidurnya.


“Huuft, hanya mimpi.” Brian mengusap wajahnya.


“Siapa gadis kecil itu? Sepertinya tadi itu adalah masa laluku.” Brian meraih peti kecil yang berada di bawah tempat tidurnya. Ia meraih foto tadi.


“Benar, kau adalah gadis kecil yang berada di dalam mimpiku tadi. Kenapa? Apakah kamar ini sebelumnya adalah kamarku?” Brian menatap dalam pada foto itu.


“Dan siapa kau sebenarnya?” Tanyanya sembari memegang erat foto tersebut dan langsung melemparnya hingga foto tersebut melayang dan menyelip ke bawah lemari bajunya.


“Kenapa aku bisa melupakannya? Kenapa aku bisa lupa semuanya?” Teriaknya dengan kesal, lalu berdiri dan menghidupkan lampu kamarnya. Matanya melirik ke arah jendela kamarnya. lantunan music yang sangat bergairah, membuat telinganya mencari sumber suara. Di seberang jendela kamarnya, ia melihat dengan pasti, gadis cantik tadi siang menari dengan erotisnya tanpa menggunakan baju. Hanya bra berwarna biru yang menghiasi tubuh seksinya.


“Astaga, apa ada gadis yang seindah itu?” Tanyanya dengan wajah terperangah kagum. Brian menyaksikan tarian itu dengan hikmat, tiba-tiba gadis itu sudah berdiri di jendela kamarnya seperti menantang Brian yang sedang asyik menonton aksi hotnya. Dengan reflek, Brian langsung menarik tirai jendela kamarnya. Ia yakin, rasa kesal pada gadis itu pasti sedang bersimpah ruah. Ia kembali mencoba mengintip, ternyata benar gadis itu sedang memanjat jendela kamarnya tanpa menggunakan baju. Nafas Brian sesak tak karuan, entah apa jawaban yang akan ia berikan jika gadis itu datang melabraknya. Ia mulai memikirkan cara. Benar, pasrah adalah cara yang benar,


pikirnya. Ia berdiri sembari menunggu gadis itu menghampirinya. Namun, gadis itu tidak kunjung sampai. Ia kembali mengintip, dan jendela kamar gadis itu sudah tertutup rapat. Nafas lega ia lepaskan.


“Apa dia malu?” Bisik Brian sembari menahan tawanya. Ia duduk di depan komputer yang berada di sampingnya. Ia mulai melihat berita perihal dirinya.


“Pemecatan?” Ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi produsernya.


“Ooooooh, jadi aku sudah di pecat.”


“Ya, itu semua karena  permintaan Ibumu, dia melawanku dengan hukum. Aku bisa apa.” Jawab Produsernya dengan nada suara lebih kesal.


“Hahahaha. Aku tau wanita itu akan tetap menjarakkan kita berdua. Kalau begitu, hiduplah dengan baik pak, semoga kau bahagia.”

__ADS_1


“Apa kau pikir aku akan melepaskanmu? Aku akan menjemputmu nanti.” Sahut produsernya lalu memutuskan panggilan tersebut. Brian terdiam, dan mematung. Ia tampak berpikir keras tentang langkah hidupnya.


“Entahlah, aku juga tidak tau dengan langkah ini. Semoga saja, jika itu memang kau. Aku akan menemukanmu secepatnya.” Brian  menarik pelan foto gadis kecil tadi dari bawah lemari dengan kakinya.


__ADS_2