
“Wah, hari ini benar-benar menyenangkan. Baru kali ini, aku benar-benar sebahagia ini.” Oliv menurunkan kaca mobil Brian untuk melihat suasana sore menjelang malam hari.
“Benarkah?” Tanya Brian dengan tersenyum kecut sembari fokus membawa mobilnya.
“Hmmm, minggu depan kita pergi lagi yaak.” Jawab Oliv dengan tersenyum imut.
“Baiklah, oh iya, aku benar-benar minta maaf dengan kejadian tadi.”
“Tak masalah. Dia adalah tunanganmu, wajar saja dia cemburu.” Oliv tersenyum lembut.
“Itu tidak akan terulang lagi.” Brian mempercepat laju mobilnya. Brian memberhentikan mobilnya di halte di depan komplek.
“Bukankah itu Gea.” Brian ingin keluar untuk membantu Gea.
“Eits, kau mau kemana?” Tanya Oliv mengehentikan Brian.
“Membantunya, sepertinya dia kewalahan dengan barang belanjaannya.” Jawab Brian. Ketika hendak keluar, Oliv langsung menyindir Gea.
“Apa kau butuh tumpangan ke dalam?” Tanya Oliv pada Gea membuat Brian kembali menahan langkahnya. Gea hanya mematung dan hanya sedikit menoleh pada Oliv. Oliv kembali mengulanginya.
“Hey, gadis murahan, butuh tumpangan?” Tanya Oliv membuat Brian sedikit kesal.
“Sraaak.” Segelas minuman dingin melayang mengenai wajah Oliv dan membasahi bajunya. Brian hanya tersenyum puas dan tidak menolong sedikitpun.
“Aaah, apa kau sudah gila?” Teriak Oliv pada Ervan melempar sebuah minuman dingin pada wajahnya.
“Kaulah gadis murahan itu.” Ervan menyeringai, lalu berjalan kearah Gea.
“Apa kau sudah menunggu lama?” Tanya Ervan sembari membawa beberapa barang belanjaan Gea. Gea menggeleng. Dengan cuek, Ervan melangkah duluan.
“Baru juga naik mobil udah sombong, dasar!!” Sindir Bimo yang juga membawa barang belanjaan Gea.
“Aduh, jatahmu sudah dilempar Ervan ke wajah Oliv. Minum saja punyaku.” Didi memberikan minuman dingin miliknya pada Gea yang masih mematung
“Aiiish, mereka itu benar-benar keterlaluan.” Oliv tampak sangat emosi sembari membersihkan wajahnya dengan tisu.
“Bukankah, kau yang sudah keterlaluan. Aku ingin membantunya, tapi kau malah membuat masalah.”
“Hooo, jadi kau sudah berpihak pada wanita murahan itu. Ini semua aku lakukan untuk kebaikanmu, sehingga kau terhindar dari pengaruh negatif wanita murahan itu.” Teriak Oliv dengan keras.
“Kita sudah sampai.” Sahut Brian dengan cuek lalu mematikan mesin mobilnya. Oliv keluar dari mobil dengan kesal.
“Dengar Brian, aku tidak akan melupakan ucapanmu barusan.” Oliv melangkah menuju rumahnya.
“Aku juga, aku tidak akan lagi menyerap ucapan negatifmu lagi Oliv.” Oliv menghentikan langkahnya. Oliv berbalik dan memangku kedua tangannya.
“Oooh, jadi kau sudah tau semuanya. Baguslah.”
“Mmmm.” Angguk Brian.
“Iya, itu lebih baik. Lindungilah gadis murahanmu itu.” Teriak Oliv membuat Brian terdiam.
“Apa maksudmu? Apa mungkin?” Tanya Brian dengan wajah tidak percaya. Brian mulai berpikir jika gadis kecil itu bukan Oliv, melainkan Gea. Namun, Oliv bergegas masuk ke dalam rumahnya. Sementara Brian hanya terdiam dengan berdiri di depan mobilnya.
“Jika yang aku pikirkan ini benar, berarti aku sudah membuat kesalahan besar.”Brian melihat Ervan, Didi keluar dari rumah Bimo dengan membawa beberapa tas belanjaan Gea tadi.
__ADS_1
“Bukankah, itu milik Gea, kenapa mereka membawanya pulang?” Tidak lama kemudian Gea juga keluar dari rumah Bimo. Gea berjalan santai sembari membawa beberapa barang belanjaannya.
“Gea.” Gea menghentikan langkahnya dan menoleh pada Brian. Brian mulai melangkah ke hadapan Gea, sementara Gea hanya terdiam. Brian merunduk dan menatap wajah Gea secara penuh.
“Astaga,”Gea sangat terkejut melihat wajah Brian, hingga barang belanjaan yang berada di tangannya jatuh.
“Kau begitu terpana melihat wajah ini.” Brian tersenyum manis pada Gea lalu mengemasi barang belanjaan Gea yang berserakan. Suara ini, Gea benar-benar mengenalnya.
“Brian?” Tanya Gea dengan wajah tidak percaya.
“Hmmm.” Jawab Brian mengangguk sembari memberikan tas belanjaan Gea.
“Apa yang sedang kau lakukan disini?” Tanya Gea dengan heran.
“Aaah, aku sedang menghirup udara segar.” Jawab Brian dengan canggung sembari menggaruk kepalanya. Gea melihat wajah Brian yang berubah drastis. Mata abu-abu Brian membuat Gea menatap Brian begitu lama.
“Deg, deg, deg.” Jantung Gea berdegup dengan sangat kencang.
“Kau, apa mungkin? aah pasti bukan.” Gea memalingkan wajahnya, seraya menahan deguban jantungnya yang menjadi-jadi. Menyadari perasaannya yang sudah tidak karuan, Gea berbalik dan ingin meninggalkan Brian.
“Apa?” Tanya Brian berusaha menahan Gea dengan memegang tangan Gea. Brian berharap jika Gea mengatakan sesuatu perihal wajahnya.
“Di-di-no.” Bisiknya dalam hati.
“Tapi, itu tidak mungkin, Dino sudah meninggal, dia Brian, hanya Brian.” Umpat Gea berusaha menenangkan diri. Gea berbalik ke hadapan Brian. Brian menatap Gea seraya menunggu jawaban dari Gea.
“Oh iya, bukankah flashdiskku ada bersamamu.” Jawab Gea membuat Brian tertunduk lesu dan melepaskan genggamannya dari
tangan Gea.
“Jadi selama apa ini kau belum tau perihal wajah ini?” Tanya Brian pada Gea, Gea kembali terlihat berpikir..
“Tidak, aku tidak begitu peduli dengan penampilan seseorang. Selama dia berbuat baik padaku, aku akan berbuat baik padanya, begitu juga sebaliknya.” Gea tersenyum manis pada Brian.
“Deg, deg, deg.” Ucapan Gea di tambah dengan senyum manisnya, membuat jantung Brian berdebar.
“Aaah,” Pinta Brian dengan memukul pelan dadanya.
“Apa kau seorang artis yang diintai oleh Oliv?” Tanya Gea dengan wajah polos.
“Menurutmu?” Tanya balik Brian yang masih memukul pelan dadanya.
“Wah, ternyata si Oliv benar, kau memang seorang artis. Jadi, waktu yang ia luangkan untuk mengintaimu, tidaklah
sia-sia.” Gea melirik rumah Oliv.
“Apa maksudmu?”
“Apa kau tidak tau? Setelah kau pindah ke sini, dia selalu berdiri didepan rumahnya dengan sebuah kamera. Kalau kata Kevin sih, dia bisa meraup banyak keuntungan hanya dengan satu petikan. Tapi aku tidak mengerti dan tidak akan peduli. Sudah ah, aku mau pulang, flashdiskku.”
“ Lalu bagaimana denganmu. Apa kau juga tidak ingin mengambil keuntungan dariku?” Gea mengkerutkan dahinya.
“Kenapa aku harus mengambil keuntungan darimu? Aku sudah punya bisnis dan punya banyak uang, dan menurutku itu sudah cukup. Aku juga tau betapa dinginnya dunia yang kau singgahi itu.” Brian terdiam, lalu menunduk sedih.
“Kau tau dari siapa? Bukankah kau hanya gadis biasa.”
__ADS_1
“Dari temanku, dia selalu ingin keluar dari sana dan ingin hidup seperti anak biasa.” Gea mengingat Dino yang selalu membentaknya jika dia berusaha membahas dunia keartisan.
“Deg, deg, deg.” Jantung Brian kembali berdetak kencang.
“Temanmu yang mana?” Tanya Brian dengan menatap tajam pada Gea, Brian berharap jika Gea mengatakan jika itu adalah dia.
“Aku tidak ingin membahasnya.” Gea tiba-tiba berubah menjadi dingin dengan memalingkan wajahnya.
“Apa kau benar-benar tidak mengenali siapa aku ini?” Tanya Brian dengan wajah sedikit kesal. Gea menatap wajah Brian.
“Tidak, maklumlah, aku ini kpopers, oleh sebab itu aku tidak begitu mengenal artis Indonesia, apalagi jika itu artis pendatang baru. Maafkan aku.”
“Bukan itu, bukan status diriku sebagai seorang artis. Tapi, sebagai seorang Brian.” Brian menatap Gea dengan sepenuh hati. Gea mulai memikirkan kejadian siang hari waktu itu. kisah percintaannya dengan Dami. “ Sebagai seorang Brian. Apa mungkin si Brian ini ingin mengaku jika dia seorang gay? Solusi apa yang tepat untuk hubungannya? Pasti itu. benar, cinta segitiga antara dia, Oliv, dan Dami.” Bisik Gea dalam hati. Gea mulai memikirkan sebuah cara.
“Mmmm, tidak.” Gea tersenyum dengan gaya iklan pasta gigi. Membuat Brian kembali menghela nafas panjang.
“Aaaih, sudahlah.” Brian berbalik dengan raut wajah kecewa.
“Tunggu, aku punya solusinya.” Brian menoleh.
“Aku rasa, kau tidak perlu lagi memakai gigi palsu dan rambut palsu tersebut. Cukup kontak lensa berwarna coklat, kau pasti lebih menarik. Dan mungkin, kekasihmu akan semakin mencintaimu.” Brian tercengang mendengar saran dari Gea.
“Jadi apa yang kau pikirkan tentang ucapanku barusan?” Tanya Brian dengan wajah rancu.
“Mmmm, flashdiskku.” Jawab Gea dengan cuek.
“Huuft, Tunggu sebentar.” Jawab Brian dengan kesal sembari masuk ke dalam rumahnya dan mengambil flashdisk.
“Haaaah, aku bisa gila. Mata abu-abunya itu, persis mata Dino. Sekilas aku berpikir jika dia Dino. Tapi, bagaimana mungkin. Waktu itu aku juga ikut kepemakamannya. Dan sikapnya, Dino sangat dingin pada semua orang, kecuali pada diriku. Apa mungkin dia sepupu Dino?” Tanya Gea dengan mengusap-ngusap dadanya. Brian kembali muncul.
“Ini, kemarikan tanganmu.” Gea mengulurkan tangannya.
“Apa yang kau lakukan dengan flashdiskku?” Teriak geram Gea melihat flashdisknya sudah hancur berkeping-keping.
“Mmmm.” Angguk cuek Brian.
“Kau benar-benar, apa tidak cukup hanya dengan menontonnya?” Tanya Gea dengan emosi.
“Ooop, tunggu. Apa kau dihasud oleh ketiga teman-temanmu untuk melakukan hal bodoh ini?” Tanya Brian dengan wajah bersungguh-sungguh.
“Tidak.” Jawab Gea dengan melempar serpihan flashdisknya.
“Lalu kenapa? Apa mungkin semua yang dikatakan oleh Oliv itu benar.” Bisik Brian membuat Gea menatapnya dengan emosi.
“Gadis murahan, menurutmu?” Tanya Gea balik.
“Ya.” Jawab Brian.
“Plak.” Gea langsung menampar Brian.
“Itulah alasannya, aku tidak begitu tertarik dengan orang baru, terutama pada timun seperti dirimu. Aku sudah muak dengan kata-katamu yang merendahkan diriku. Kita baru saja bertemu, dan ucapanmu begitu menggelikan. Menurutmu aku ini seorang gadis murahan, tapi jangan pernah berharap, untuk bisa mendapatkan atau menyentuhku. Karena aku, wanita murahan yang tak akan pernah dimiliki oleh Timun seperti dirimu. Cih.” Gea membawa belanjaannya dan melangkah menuju pintu rumahnya. Namun dengan sigap Brian kembali menahannya.
“Aku hanya butuh pembenaran. Jika dia mengatakan seperti itu, seharusnya kau membuktikan jika kau tidak seperti itu. Kau bahkan, aah dengan film dewasa yang ada flashdisk itu.”
“Pembenaran? Pembuktian? Dan flashdisk itu? Itu semua bukan urusanmu.” Gea menghempaskan tangan Brian lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya. Brian hanya terdiam, dan menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Apa yang sedang aku lakukan? Aku ingin memulai hubungan baik dengannya. Tapi apa?” Tanya Brian sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya.