
“Apa kau pikir dengan pemandangan ini, abang akan berubah pikiran? Hmmm, tidak sama sekali. Setelah aku bertemu dengan gadis itu, aku akan menganggap lunas utangnya, dan membawamu dari Negara ini.” Bisik Gio dengan melangkah masuk ke dalam rumah Sem. Gio kembali mematung ketika memasuki rumah Sem. Gio menatap penuh foto Sem yang sengaja di pasang Gea di ruang tamu.
“Ada apa Bang?” Tanya Gea
“Aku tau, dan aku sudah menemukanmu.”Gio menatap penuh foto tersebut.
“Iyaa, abang sudah menemukanku. Jangan mengigau, ayo duduk.” Ajak Gea dengan menarik tangan Gio.
“Apa dia gadis yang kau ceritakan tadi?” Tanya Gio dengan mata yang masih melirik foto tersebut.
“Mmmm, kami miripkan.”
“Apa kau benar-benar betah tinggal di sini?” Tanya Gio lagi dengan sepenuh hati.
“Yaa, sangat betah.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan mengalah.” Gio tersenyum manis, membuat Gea langsung berpikir tajam. “Bagaimana mungkin Bang Gio mengalah dengan keinginannya yang kuat untuk membawaku ke Singapura? Apa mungkin dia punya rencana lain? Atau mungkin dia ingin aku kembali ke rumah?” Bisik Gea dalam hati.
“Tapi ada syaratnya.” Sambung Gio dengan tersenyum licik.
“Aiiish, aku sudah tau itu. Ujung-ujungnya pasti punya syarat yang mematikan.” Lirik Gea dengan wajah jengkel.
“Syarat pertama: kau harus tetap pergi ke sekolah. Nilai sekolahmu, sangat menentukan untuk diterimanya dirimu di universitas sana.”
“Tapi,” Ketika Gea ingin membantah, dengan sigap Gio memotong pembicaraannya.
“Syarat kedua: aku ingin sisir rambut gadis itu.” Gio menunjuk foto Sem.
“Untuk apa?” Tanya Gea rancu. Tiba-tia Sem datang.
“Hey, apa kita kedatangan tamu?” Tanya Sem pada Gea. Mendengar suara Sem, Gio langsung mematung.
“Iya, dia abangku. Abang, ayo sapa kak Sem.” Sambut Gea sembari berdiri. Sem terlihat syok ketika mendengar ucapan Gea.
“Ayo Bang, jangan malu-malu.” Bisik Gea dengan tersenyum licik pada Gio. Dengan pelan, Gio berdiri dan menghadap kearah Sem. Gio menatap Sem dengan sepenuh hati, begitu pula Sem.
“Hehehey, kenapa jadi kikuk yaa?” Tanya Gea berusaha memecahkan kecanggungan.
“Salam kenal, Gio, abang Gea.” Gio mengulurkan tangannya.
“Aaah, iya, salam kenal juga.” Sem terlihat sangat canggung namun ikut mengulurkan tangannya.
“Aku mendengar banyak tentangmu, menarik sekali. Tapi sebelumnya, aku sangat berterima kasih atas bantuanmu pada adikku.”
__ADS_1
“Aaah, tidak masalah. Seharusnya aku yang berterima kasih padanya. Hey Gea, apa aku tidak membuatkan abangmu minum?” Tanya Sem berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Aaah, sebentar akan aku buatkan.”
“Tidak usah, biar aku saja, temani saja abangmu.” Sem tersenyum manis melangkah ke dapur.
“Apa-apaan dia. Mencurigakan.” Gea melirik Sem dengan memangku tangannya. Gio terlihat lemas.
“Abang, apa kau baik-baik saja?” Tanya Gea dengan cemas.
“Ambilkan saja.” Bisik halus Gio pada Gea.
“Apa?” Bisik balik Gea.
“Apa kau sudah lupa?” Tanya Gio dengan emosi.
“Tapi untuk apa?” Tanya Gea balik.
“Ambilkan saja.” Gea langsung mengambil sisir rambut Sem, dan memberikannya pada Gio. Gio langsung meraih sehelai rambut yang tersangkut di sisir tersebut. Gea mulai menangkap maksud Gio.
“Apa mungkin abang ingin mengambil rambut kak sem untuk tes DNA?” Bisik Gea pada Gio.
“Ketika hasilnya sudah keluar, saat itu pula aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku pergi dulu.” Jawab Gio sembari berdiri dan melangkah keluar rumah.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Gea dengan terdiam lama. Pikiran Gea mulai mengarah, jika Sem adalah kakaknya.
“Dia bilang dia punya urusan lain.”
“Aaah, dia benar-benar tidak berubah.” Gea melirik sem dengan sorot mata tajam.
“Aku juga harus pergi kerja. Jangan lupa untuk mengunci semua pintu.” Sem berusaha mengalihkan pembicaraan, lalu pergi.
“Aaaah, apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku juga harus ikut bertindak?” Tanya Gea dengan melirik ponselnya.
“Ya, aku harus bertindak.” Gea melirik sekeliling isi rumah Sem, berupaya mencari bukti.
**
Sem turun melesat, dan melangkah menuju parkiran komplek.
“Apa kau tidak merindukanku?” Tanya seseorang yang ternyata sudah menunggunya tepat di depan mobilnya.
“Siapa kau?” Tanya balik Sem dengan sangat judes.
__ADS_1
“Gio Semenip.” Gio berbalik menatap Sem. Sem kembali syok dan melangkah mundur.
“Abang Gea? Apa yang sedang anda lakukan disini? Bukankah anda memiliki urusan lain?” Tanya Sem dengan sopan.
“Aku baru saja meretas identitasmu. Panti asuhan Bunda.” Gio menunjuk ponselnya.
“Apa maksudmu?” Tanya Sem dengan wajah cemas.
“Mengakulah, atau aku yang akan membuatmu mengaku.”
“Aaah, saya tidak mengerti dengan apa yang anda ucapkan.”
“Aku memiliki sampel rambutmu, semua akan terbukti. Dan tanda lahir pada tangan kananmu itu, aku sangat mengenali itu. Tanda lahir itu sama persis dengan tanda lahirku yang berada di paha kiriku. Dan tanda itu, juga ada
pada dada kanan Gea. Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Kenapaa?” Teriak keras Gio membuat Sem gemetar.
“Selama ini, aku mencari-cari keberadaanmu. Aku sangat merindukanmu. Apa tidak ada sedikit saja rasa itu untukku?” Tanya Gio dengan air mata yang berlimpah ruah di pipinya.
“Maafkan aku.” Sem menundukkan kepalanya.
“Kau tidak bersalah.” Bisik Gio pada Sem.
“Maafkan aku.” Sem menunduk dengan menahan air matanya.
“Aku ingin tau alasannya.”
“Maafkan aku.” Sem tetap menunduk.
“Apa kau tidak ingin mengatakannya?” Tanya Gio dengan melangkah pelan kearah Sem. Sem terlihat sangat ketakutan.
“Aku percaya, jika kita pasti akan bertemu. Gina Semenip, adikku.” Gio langsung memeluk Sem. Sem menangis sejadi-jadinya. Sebuah kenyataan, jika Sem adalah Gina Semenip yang asli.
“Maafkan aku bang. Maafkan aku.” Tangisnya beserta ucapannya adalah jawaban bagi Gio. Jika Sem adalah adiknya. Gio mengajak Sem masuk ke dalam mobilnya. Sesudah agak tenang, Gio memulai pembicaraan.
“Aku tau satu hal, semua ini dimulai ketika kecelakaan hebat terjadi pada keluarga kita, ketika kita hendak berlibur. Mobil yang kita tumpangi masuk ke dalam jurang yang sangat dalam dengan sebuah sungai yang sangat deras di dasarnya. Dan pada saat itu, kau hanyut terbawa arus. Sejak kejadian itu, Papa dan Mama mengalami trauma yang hebat. Mama berangsur pulih karena memikirkanku yang juga sekarat. Tapi Papa, tetap hidup dengan rasa trauma, dan terus mencari keberadaanmu. Bahkan, ketika Gea lahir, Papa sama sekali tidak pernah menoleh padanya. Kau tau, ketika dia baru pandai berbicara, kata papa ia lontarkan untukku. Hingga suatu hari, seorang gadis kecil pulang bersama dengan papa. Gadis itu, memiliki tanda lahir yang sama denganmu. Aku tau, itu bukan
tanda lahir yang asli, karena tanda lahir milikmu, memiliki bekas luka tipis. Kau tau, semenjak ia masuk ke dalam rumah, Papa mulai sembuh dan seluruh perhatian hanya tertuju padanya. Begitu juga dengan Mama, Mama begitu terhanyut dengan dramanya, hingga tidak pernah lagi memperhatikan Gea. Gea yang terabaikan, ia jadikan celah untuk menyiksa Gea, mengintimidasi Gea, dan bahkan tidak segan melukai Gea. Aku menjamin keamanan Gea ketika aku berada di rumah, tapi tidak jika aku kembali ke Singapura. Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kabar jika Gea kabur dari rumah. Aku sudah tau apa masalahnya. Itulah alasannya kenapa aku bisa ada di sini. Bagaimanapun, Gea adalah adikku, yang aku besarkan dengan tanganku, dan aku akan mencarinya sampai keujung dunia. Begitu juga dengan dirimu, beruntung ketika wajah kita bertiga mirip. Dan sekarang, aku ingin tau kebenarannya, dari dirimu.” Gio menatap Sem dengan sepenuh hati. Sem menyeka air matanya.
“Maafkan aku.” Sem yang kembali menangis mendengar cerita Gio.
“Sudahlah Gina, semua sudah berlalu, sekarang aku sudah kaya, kau sudah lihat itukan. Jika semua itu hanya karena uang, aku bisa membayarnya.” Gio berusaha menenangkan Sem.
“Kecelakaan itu, aku berhasil selamat ketika di tolong oleh seorang kakek yang hendak mencari kayu api. Kakek tersebut membawaku ke sebuah puskesmas. Aku dirawat beberapa hari dengan obat-obatan yang sangat minim.
__ADS_1
Karena hantaman yang keras pada kepala ini, aku menderita amnesia. Kakek itu sangat baik ia mau merawatku dengan kehidupan yang sangat pas-pasan, namun takdir berkata lain. Beberapa bulan setelah itu, kakek tersebut meninggal karena jatuh dari pohon kelapa. Warga berinisiatif mengantarkanku pada panti asuhan Bunda. Panti asuhan bunda, aku merasakan kehangatan keluarga baru. Tapi, pada saat itu ingatanku kembali pulih. Aku ingat nama Mama dan Papa. Aku berusaha pulang, dengan menumpang pada mobil seorang petani yang hendak ke
kota. Aku sampai di depan komplek. Aku berlari dengan riang, namun seorang wanita datang dan menarik tanganku. Dia mengatakan kenapa aku masih hidup? Aku sangat ketakutan. Dia mengajakku ke sebuah taman. Di sana dia menceritakan semuanya.” Sem tiba-tiba terdiam.