Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 48. I Love You


__ADS_3

“Aku akan keluar, bersiap-siaplah tirai ini akan aku buka.”  Hana keluar dari kamar ganti.


“Apa dia sudah selesai?” Tanya Brian dengan berjalan kearah Hana.


“Tunggu sebentar, aku akan membuka tirainya.” Bisik Hana dengan ramah. Hana langsung membuka tirai tersebut. Tak ada seorang pun di balik tirai tersebut.


“Kemana dia?” Tanya Brian dengan sedikit terkejut dan langsung naik ke arah dalam tirai. Brian melirik sebuah kaki di balik tirai yang tergulung indah di tepi ruangan.


“Apa yang sedang kau lakukan di sana?” Tanya Brian dengan lembut, lalu menarik tirai tersebut. Gea langsung menahannya.


“Apakah tidak apa memakai baju ini? Memangnya kita mau kemana?” Tanya Gea dengan suara pelan dari balik tirai.


“Tidak akan terjadi apapun. Ayo keluar.” Brian menarik tirai tersebut.


“Woaah.” Brian terpana melihat kecantikan Gea dengan Mini dress biru tersebut. Beberapa pelayan dan pengunjung butik, juga ikut terpana melihat Gea yang terlihat sangat canggung.


“Kenapa semua orang menatapku dengan tatapan seperti itu?” Bisik Gea pada Brian yang masih terpana dengannya.


“Aaah, aku sudah tau, sedari awal baju ini tidak cocok untukku.”  Gea berbalik badan. Brian langsung menahan tangannya.


“Kau mau kemana?” Tanya Brian dengan tersenyum manis.


“Mengganti baju inilah. Mau kemana lagi.” Bisik Gea dengan melotot tajam.


“Kenapa harus diganti? Baju ini sangat cocok untukmu. Kau terlihat sangat cantik.” Brian menaikkan sedikit resleting baju Gea.


“Benarkah? Aku rasa tidak. Aku terlihat lebih tua dari umurku yang sebenarnya.” Gea melirik kesal pada cermin besar yang berada dihadapannya.


“Bukankah itu lebih baik, maka kita bisa berkencan dengan gaya orang dewasa.” Bisik Brian dan memeluk Gea dari belakang.


“Brian.” Gea melepas pelan pelukan Brian.


“Apa?” Tanya Brian dengan menyentuh lembut rambut Gea. Gea berbalik, dan menatap Brian dengan sorot mata tajam.


“Aku lapar.” Bisik Gea. Brian langsung tersenyum.


“Baiklah, ayo pergi.” Brian  menggenggam tangan Gea.


“Terima kasih Hena.” Brian  mengkedipkan mata kirinya pada Hena, lalu membawa Gea melangkah keluar. Mereka melangkah menelusuri ramainya jalanan pusat kota.


“Kita mau kemana?” Tanya Gea dengan berjalan mengikuti Brian dari belakang.


“Nikmati anginnya.” Brian dengan menghirup udara lebih dalam. Semua mata tertuju pada mereka berdua.


“Apa sebelumnya kau pernah melakukan hal yang gila?” Tanya Brian pada Gea.


“Aku selalu melakukannya, karena semua yang aku lakukan adalah hal yang gila.” Jawab Gea dengan wajah datar.

__ADS_1


“Seperti ini.”Brian dengan meraih pinggang Gea, lalu mengkecup bibir Gea dengan sangat dalam. Gea sedikit syok dengan hal yang dilakukan Brian di tengah keramaian.


“Kau sangat cantik, dan aku tidak bisa menahannya. I love You. Bukankah ini gila.” Bisik Brian dengan tersenyum manis, dan kembali membawa Gea berjalan menuju pusat kota.


“Aaah dia benar-benar gila. Untung saja wajahku terlihat lebih tua dari umurku. Jika tidaaak.” Bisik Gea dalam hati. Brian berhenti di sebuah hotel mewah. Ternyata, di sana sedang diadakan acara penghargaan.


“Jangan bilang jika kita  akan masuk ke dalam sana.” Bisik Gea dengan melirik para paparazzi yang sibuk memotret mereka berdua. Brian dengan bangga mengenggam tangan Gea dan masuk ke dalam hotel.


“Bagaimana rasanya?” Tanya Brian dengan melirik manja Gea yang tampak sangat bahagia.


“Luar biasa, jadi seperti ini rasanya menjadi seorang artis.” Jawab Gea dengan tersenyum manis. Mereka berdua berjalan melalui red karpet yang di sediakan untuk para tamu undangan. Brian tersenyum manis pada para pelayan, lalu berbelok kiri menuju anak tangga.


“Hey, bukankah acaranya ada di sana?” Tanya Gea dengan wajah heran pada Brian. Brian membuka pintu, dan memberikan Gea seikat bunga mawar berwarna merah. Gea langsung meraihnya, dan mencium aroma harum dan segar dari bunga tersebut.


“Ayo naik.”Brian mengenggam tangan Gea dan melangkah naik melewati anak tangga. Gea tampak sangat bahagia, ketika Brian mengajaknya untuk melangkah lebih cepat. Mereka berdua sampai di penghujung anak tangga.


“Tunggu, sebelum kita membuka pintu ini. Berjanjilah padaku.” Brian  mengacungkan jari kelingkingnya.


“Berjanji untuk apa?” Tanya Gea dengan tersenyum manis.


“Berjanji untuk menjawab seluruh pertanyaanku nantinya, dengan sangat jujur.” Bisik Brian dengan sangat imut. Gea sedikit curiga dengan tatapan itu, namun dengan percaya diri menjawab.


“Baiklah, aku janji.” Gea mengikat jari kelingkingnya pada jari kelingking Brian.


Brian langsung membuka pintu tersebut. Gea begitu terkejut melihat lantai atap hotel yang begitu mewah. Beberapa kolam renang, mengelilingi sebuah lantai yang lebih tinggi dari lantai yang lainnya. Ini seperti panggung di


“Ayo.” Brian menarik tangan Gea. Mereka bedua melangkah di sebuah jembatan, tepat di tengah-tengah kolam renang.


“Waah, ini menakjubkan.” Gea tersenyum bahagia.


“Silahkan duduk.” Bria menarik sedikit kursi, dan mempersilakan Gea untuk duduk, lalu duduk di kursi lainnya.


“Apa kau sendiri yang mempersiapkan ini semua?”


“Mmmm, bagaimana? Apa kau suka?”


“Sangat suka.”Gea kembali memandang ke sekeliling atap hotel, dan berulang kali bersecak kagum akan keindahannya. Mereka berdua memulai makan romantis dengan angin yang mendayu-dayu.


“Apa kau bahagia?” Tanya Brian dengan menatap Gea yang tampak menikmati suasana.


“Mmmm.” Angguk Gea dengan tersenyum manis.


“Aku harap kau juga akan bahagia dengan seluruh peranyaanku.” Gea melempar Brian dengan wajah datar.


“Pertanyaan apa?” Tanya Gea dengan meminum teh es yang berada di ujung meja.


“Apa kau mau menikah denganku?” Tanya Brian membuat Gea hampir mengeluarkan teh es yang sudah sampai di tenggorokannya.

__ADS_1


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Brian dengan memberikan sarbet pada Gea.


“Menikah?” Tanya Gea balik pada Brian dengan wajah tidak percaya.


“Tatapan matamu itu, sudah memberikanku jawabannya.” Jawab Brian dengan memalingkan pandangannya.


“Seharusnya kau tau umur kita ini sekarang berapa. Kau ini.”


“Lalu, jika kita masih berumur 17 tahun memangnya kenapa?” Tanya Brian mengingatkan Gea tentang masa lalunya.


“Aku ingin kita menikah sekarang.” Tegas Gea pada Dino.


“Kita akan menikah ketika kita sudah dewasa. Bawa sepedamu, dan kita akan ke lapangan untuk bermain dengan yang lain.” Dino naik ke atas sepedanya.


“Aku ingin kita menikah sekarang.” Tegas Gea lagi dengan wajah imut.


“Baiklah, bagaimana aku melakukannya? ayo ajari aku.” Dino  turun dari sepedanya.


“Aku juga tidak tau caranya. Aku mendengar pembicaraan Mama dan Papa. Untuk bisa selalu bersama, 2 orang manusia harus menikah.”


“Jika kau tidak tau caranya, maka diamlah dan naik ke atas sepedamu. Tanpa menikah, kita akan tetap selalu bersama. karena aku, tidak akan pernah meninggalkanmu.”


“Bohong, aku tau kau akan pergi jauh dariku, dan akan pergi dengan orang lain. Berdrama di dalam televisi, bepelukan, berpegangan tangan.” Teriak Gea yang lebih dewasa di banding umurnya.


“Mulai besok jangan lagi menonton drama bodoh itu lagi. Nanti kau bisa gila.”


“Aku ingin kita menikah sekarang!!!!” Teriak Gea dengan sangat keras. Dino melirik Nuri dan Gio yang pulang dari sekolah. Dengan cekatan, Dino melangkah menuju Gio.


“Abang.”


“Yaap, tampan. Ada apa? apa gadis kecil itu membuatmu kewalahan?”


“Mmmm, sekarang umur abang berapa?”


“17 tahun.” Jawab Gio, dan Dino kembali ke hadapan Gea.


“17 tahun. kita akan menikah di umur 17 tahun. aku janji itu.” Dino mengacungkan jari kelingkingnya. Dengan terpaksa Gea mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Dino. Mereka berdua mulai mengayuh sepeda


menuju lapangan.


“Brian, apa kau ingin kita menikah sekarang?” Tanya Gea dengan melirik Brian dengan sepenuh hati.


“Mmmm.” Angguk Brian membuat Gea tertawa terbahak-bahak.


“Khahkhakhakhakhakahkak. Aduh perutku. Apa kau sedang mengulang kisah kita dulu? Anggap saja, jika dulu itu aku kurang waras.” Gea tersenyum manis.


“Tunggu.”Gea  kembali mengingat sesuatu yang sangat penting.

__ADS_1


__ADS_2