Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 62. Terlanjur Lope-Lope


__ADS_3

Sepulang sekolah, Gea melihat Tasya sedang berjalan ke dalam komplek dan tersenyum-senyum manja.


“Hei Tasya.” Sapa Gea.


“Hai Gea.” Sapa balik Tasya.


“Ada apa? Kenapa kau tersenyum-senyum manja seperti itu?” Tanya Gea.


“Iya, tadi aku menerima ini.” Tasya memperlihatkan sebuah coklat yang ia peluk dengan erat.


“Bukankah itu coklat milik Santi. Kenapa coklat itu bisa sampai di pelukan Tasya? Aaah, aku yakin ada seseorang yang telah menjarah kamarku. Aku yakin penjarah itu adalah si Didi.” Umpat Gea dalam hati.


“Kenapa kau memeluknya seperti itu, itukan hanya coklat.” Tatap Gea pada Tasya.


“Coklat ini dari penggemar rahasiaku.” Bisik Tasya dengan nada suara lembut, Gea melirik ke belakang pohon dan melihat jika seseorang tengah bersembunyi di sana. Tiba-tiba Ervan muncul.


“Penggemar rahasia itu, tidak lebih dari seorang pecundang yang bersembunyi dibalik manisnya coklat. Apa kau mau dengan seorang pecundang? Cuih.” Ervan membuang ludahnya, lalu pergi.


“Darimana munculnya setan itu?”


“Dari tadi dia ada di belakangmu.”JawabTasya.


“Beraninya dia membuang ludahnya di hadapan kita. Aha, aku punya ide.” Gea mengeluarkan spidol putih dari dalam tasnya, dan melingkari air ludah Ervan yang jatuh di aspal.


“Apa yang sedang kau lakukan? Iih, itu menjijikkan.” Kencam Tasya.


“Dengar Tasya, kau tidak perlu mendengar perkataan Ervan. Coklat itu adalah wujud cinta seseorang yang ingin kau merasakan rasa manis cintanya. Dia tidak sedang bersembunyi, tetapi dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk muncul di hadapanmu.”


“Iya, aku tau itu.”  Tasya  masih melirik lingaran ludah Ervan.


“Kau tau, aku akan membuat Ervan menjilat kembali ludahnya ini. Kau tunggu saja tanggal mainnya.” Bisik kejam Gea. Tiba-tiba Didi muncul dari balik pohon.


“Didi, jadi kau yang ada di sana. Aku kira Bimo.” Sorak Gea, tanpa mengacuhkan Gea, Didi berjalan dan mendekat kearah Tasya.


“Tasya, aku sudah tau waktunya.” Bisik Didi dengan suara rupawan. Tasya melirik Gea yang berada di belakang Didi.


“Waktu apa Di?” Tanya Tasya canggung.


“Waktu yang tepat untuk muncul dan menyatakan perasaanku. Aku tidak ingin menjadi pecundang. Aku benar-benar suka sama kamu.” Jelas Didi dengan wajah merona.

__ADS_1


“Apa ini?” Umpat pelan Gea yang mengerti dengan situasi ini.


“Hei, kalau begitu aku pergi dulu.”  Gea berupaya berjalan meninggalkan mereka berdua.


“Tidak, kau tidak boleh pergi Gea. Kau akan menjadi saksi sumpahku pada Tasya.” Didi menahan Gea dengan tangan kanannya.


“Sa-saksi?” Tanya Gea rancu. Didi meletakkan tangan kanannya di atas kepala Gea.


“Tasya, dengan ini aku bersumpah, atas nyawa Gea. Aku tidak akan mengecewakanmu, menduakanmu, dan akan selalu mencintai lalu menjagamu. Dan yang pasti, aku akan selalu membuatmu bahagia hingga akhir hayat hidupku. Jika aku melanggar sumpahku, maka nyawa Gea menjadi taruhannya.”  Didi memejamkan matanya seraya menikmati sumpahnya. Tasya tercengang dan melihat reaksi wajah Gea yang ingin muntah


bercampur kesal.


“Kenapa harus nyawa Gea? Kenapa tidak nyawamu saja?” Tanya Tasya dengan nada emosi.


“Aku tidak pernah memikirkan diriku sendiri, aku selalu memikirkan Gea lebih dari pada diriku. Maka dari itu, aku mengatasnamakan nyawa Gea, karena hanya nyawa Gea yang paling berharga di komplek ini.”


“Lantas, jika kau selalu memikirkan Gea, kenapa kau tidak menikah saja dengannya?” Teriak emosi cemburu Tasya. Gea menjadi sedikit terkejut.


“Kami punya misi hidup dan mati akan dirinya. Jadi, aku sudah terbiasa menjaganya. Sekarang, aku akan menjaga 2 orang gadis di komplek ini. Yaitu kau dan juga Gea.”


“Bukankah misimu sudah selesai, dan Gea sudah menjadi urusanku.” Brian yang tiba-tiba muncul langsung melepas tangan Didi dari kepala Gea.


“Briaaan.” Rengek Gea.


“Kau harus melepasnya, atau aku akan mengambil alih Tasya.” Brian merangkul bahu Tasya.


“Tidak, jangan dia, baiklah.” Didi mendorong Gea dari pelukannya.


“Aku benar-benar tidak rela melihatmu dengan laki-laki lain, berbeda dengan Gea, aku merelakannya dengan Brian. Tapi tidak untuk dirimu dengan Brian. Baiklah, pergilah kau Gea makan sana Brianmu itu.”Didi kembali mendorong Gea.


“Kenapa? bukankah di komplek ini, hanya kita berdua yang selalu bersekutu. Jangan begitu, aku tetap teman perempuanmu. Lihat ini, kita akan membuat pemuda brengsek itu menjilat ludahnya ini. Hehehehe.” Ide licik Gea


berupaya menghasud Didi.


“Iya, kita akan buktikan jika aku bukan pecundang. Tapi, Tasya, tolonglah terima cintaku ini. Aku sudah terlanjur lope-lope padamu.” Mohon Didi, Tasya mengangguk dan tersenyum.


“Yeeee, yeeeee, lihat Gea sekarang aku punya pacar.” Teriak Didi.


“Ssssst, jika ada yang tau hubungan kalian, kau taukan apa yang akan terjadi?” Bisik ancam Brian.

__ADS_1


“Iya, aku mengerti.” Bisik balik Didi.


**


Hari ini adalah libur semester 1. Gea sedang duduk di teras rumahnya. Ia menerima pesan dari Brian jika Brian sedang keluar kota untuk mengurus bisnis barunya. Dan ia akan kembali pada malam tahun baru. Hari itu, Didi


berjalan santai melangkah kearah rumah Gea.


“Gea, apa Kak Gina ada di rumah?” Tanya Didi.


“Tidak, memangnya kau ada perlu apa dengan Kak Gina?”


“Aku benar-benar penasaran dengan gossip ibu-ibu komplek. Aku ingin dia mengklarifikasi gossip tersebut.” Didi  duduk di sebelah Gea.


“Memangnya apa gossip ibu-ibu komplek?” Tanya Gea.


“Kata umakku, Ibu Kevin melihat kau berciuman dengan Bang Erwin. Aku bilangkan, ngak mungkinlah kalau itu kau, pasti itu Kak Gina.” Jawab Didi dengan tersenyum kecut.


“Mmmm, sepertinya mereka memang berkencan. Itu artinya,”  Gea  menatap wajah Didi.


“Artinya apa?” Tanya Didi.


“Aku akan iparan dengan Ervan.” Jawab Gea dengan pelan.


“Khikhikhikhikhikhik.” Tawa geli Didi dan Gea.


“Ngomong-ngomong, aku sudah lama tidak melihat Ervan, dia dimana ya? Kerumahnya yuk.” Ajak Gea pada Didi. Mereka berdua berjalan kerumah Ervan, dan masuk tanpa permisi.


“Kemana semua manusia di rumah ini?” Tanya Gea pada Didi dan keluar dari rumah Ervan. Diluar rumah, tampak Santi yang sedang memohon pada Ervan.


“Ervan, aku mohon maafkan aku. Aku malu mengakui semuanya. Aku benar-benar mencintaimu.” Teriak Santi dengan menangis histeris. Ervan tidak mengacuhkannya, dan tetap berjalan. Langkahnya terhenti ketika melihat Gea dan Didi yang berdiri di depan pintu rumahnya.


“Apa yang sedang kalian berdua lakukan di sini? Pulanglah.” Ervan menerobos masuk rumahnya. Dengan sigap, Gea dan Didi menahannya.


“Selesaikan masalahmu, jangan lari.” Bisik Didi. Ervan melirik tangan Gea dan Didi yang menahan kedua tangannya.


“Pecundang yang sesungguhnya bukan orang yang bersembunyi, tetapi orang yang lari dari masalah.” Bisik Gea.


“ Aku tidak peduli, aku tidak peduli. Pergi kalian!” Teriak Ervan dengan menghempaskan tangan Gea dan Didi.

__ADS_1


“Untuk saat ini, aku benar-benar membencinya.” Gea meninggalkan rumah Ervan. Sementara Didi, hanya terdiam. Gea melihat Santi yang berjalan pelan ke depan komplek. Gea merasa sangat bersalah pada Santi.


“Akan aku balikkan tagisanmu hari ini dengan tawa bahagia.”  Gea mengepalkan kedua tangannya.


__ADS_2