Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 57. Aku Akan Berjuang


__ADS_3

Selesai acara, semua orang kembali pulang ke rumah masing-masing. Gea berjalan dengan Didi dengan beberapa guyonan ganjil. Brian menghentikan langkah mereka berdua.


“Didi.” Mereka berdua menoleh.


“Aku rasa, pacarmu sudah diculik oleh Kevin.”


“Bagaimana kau bisa tau?” Tanya Didi curiga.


“Tadi aku melihatnya, mereka berdua, ke sana.” Jawab Brian dengan menunjuk kearah belakang aula, membuat Didi langsung mengejar Kevin.


“Ternyata kau pandai juga.” Sindir Gea pada Brian dengan melanjutkan jalannya.


“Ayo ikut aku!” Brian menarik Gea kearah taman di samping Aula komplek.


“Aku kecewa padamu.”  Brian menatap Gea dengan tatapan penuh emosi.


“Kecewa kenapa? Kau yang berpelukan dengan Oliv, dan kau yang merasa kecewa. Apa pelukannya kurang berasa?”


“Bukan itu. Tapi kau tidak mengatakan perihal Gina.”


“Apa aku belum menceritakannya? Baiklah, akan aku ceritakan.”


“Apa kau ingin membuat part 2?”


“Kenapa? Aku akan menceritakannya sedetail mungkin.”


“Kau hampir mati!” Teriak Brian dengan mata yang sudah berlinang.


“Maafkan aku.” Gea menunduk sedih, membuat Brian tersentuh.


“Tidak masalah, seterusnya, kau harus menceritakan semuanya padaku. kau, mengerti.”


“Mmmm.” Angguk Gea. Mereka terdiam lama. Gea memandang langit malam yang berkerlap kerlip.


“Sebentar lagi tahun baru, aku ingin melihat kembang api yang besar.” Gea melambaikan tangannya.


“Kenapa harus menunggu tahun baru? Besok, aku akan membuatnya untukmu.”


“Haaa, benarkah? Bola matamu mengungkapkan jika kau sedang memberikanku harapan palsu.”


“Besok jam 4 sore, tunggu aku di depan komplek.”


“Kenapa harus jam 4 sore? Paginya kau mau kemana? Berkencan dengan gadis lain.” Tatap Gea dengan wajah curiga.


“Kenapa pemikiranmu begitu dalam? Kau harus percaya padaku. tidak ada yang lain selain dirimu. jika pun aku pergi jauh, tempat yang paling aku rindukan adalah dirimu.” Brian mengenggam tangan Gea.


“Bohong.”


“Percaya atau tidak, aku tidak peduli.” Brian melangkah ke hadapan Gea lalu mengkecup bibir Gea. Tiba-tiba Gio datang dan berteriak keras.


“Gea, dimana kau Gea?” Teriak Gio membuat mereka terkejut. Gea menarik tangan Brian kearah rumah-rumahan di tengah taman.


“Ke-ke-na-pa Bang Gio bisa sampai ke sini?” Bisik Gea.


“Kenapa kau begitu takut? Hubungan kita bukan hubungan yang baru. Ayo keluar, kita akan menunjukkan hubungan kita pada Bang Gio.” Ajak Brian.


“Kau lihat tangannya Bang Gio, tongkat bassball.” Bisik Gea dengan menahan Brian.


“Aku yakin, jika tadi aku melihat Gea berjalan dengan seorang pemuda ke sini. Lihat saja, jika aku menemukan kalian, aku akan membunuh kalian berdua.” Kencam Gio.


“Kenapa hubungan kita begitu terlarang di mata Bang Gio?” Bisik Brian.

__ADS_1


“Sejak kejadian Bang Gio dan kak Nuri, hukum berpacaran dengan sesama warga komplek di haramkan. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku melupakan hukum ini.” Bisik Gea.


“Benarkah, lalu sekarang bagaimana?” Bisik Brian.


“Tetap diam-diam seperti inilah, kau ini.” Bisik Gea.


“Hoi Gio, sedang apa kau di sana?” Sorak seseorang dari tepi taman.


“Siapa itu?” Bisik Gea.


“Bang Beni.” Bisik Brian.


“Tidak, aku hanya sedang menghirup udara segar di malam hari.” Sahut Gio.


“Lihat saja Gea, aku pasti akan menemukan pacarmu itu.” Kencam Gio lalu pergi. Melihat Gio sudah pergi, Gea langsung berdiri.


“Aku harus sampai di rumah sebelum Bang Gio sampai di rumh. Aku duluan ya.” Gea berlari kencang, menyusup ke jalan kecil di samping aula.


“Aku masih belum mengerti dengan kejadian ini.” Brian melangkah menyusul Gea. Brian bertemu dengan Didi yang terlihat sangat geram.


“Apa kau melihat Tasya?” Tanyanya.


“Dia sudah pulang.” Jawab Brian.


“Ooooh, aku jadi lega.”Didi berubah santai. Mereka berdua berjalan santai keluar dari taman komplek.


“Daaaaa, aku menemukan kalian!” Sorak Gio dengan wajah kemenangan. Brian tampak syok, sementara Didi terheran-heran.


“Menemukan kami?” Tanya Didi.


“Tadi aku melihat Gea bersama kalian. Dimana dia?” Tanya Gio berubah menjadi dingin.


“Bersama kami? Kami hanya berdua. Sepertinya Gea sudah pulang. Tadi aku, meninggalkannya di jalan.” Jawab Didi.


“Kenapa Bang Gio berkata seperti itu?” Tanya Didi pada Brian.


“Entahlah, mungkin dia sedang mengawasi adiknya.” Jawab Brian.


“Hey, aku menangkap sesuatu dari kepalamu. Apa kau sedang berpacaran dengan Gea?” Tanya Didi curiga.


“Memangnya kenapa kalau kami berpacaran.”Brian yang lesu mulai berjalan pelan.


“Berhati-hatilah. Berpacaran dengan sesama warga komplek akan membuat ruang gerak kalian menjadi lebih sempit. Tetaplah bersebunyi, sampai saat dimana kalian sanggup menerima cercaan. Dan juga, jangan anggap masalah Gea adalah masalah sepele. Kau, tau itukan.” Kencam Didi lalu melangkah mendahului Brian.


“Aku benci berpura-pura.” Umpat Brian dengan wajah kesal.


**


Gea bergegas masuk ke dalam rumah, dan berlari masuk ke dalam kamarnya.


“Aku tidak mau masuk ke dalam nama manusia yang di awasi di komplek ini.”Gea langsung berbaring di ranjangnya. Gea meaih ponselnya, dan menerima pesan dari Didi.


“Berhati-hatilah Gea, jika kau masuk dalam daftar manusia yang diawasi maka kau tidak akan bisa lagi melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti dulu lagi. Brian? Kau pandai mencari pemuda yang tidak bisa ku bunuh.”


Tiba-tiba Gio datang, dan langsung membuka kamar Gea.


“Gea!” Teriak Gio. Gea melirik Gio dengan wajah heran.


“Ada apa bang?” Tanya Gea. Gio hanya mengangguk-angguk dan menutup pintu kamar Gea.


“Huuuf, syukurlah.” Umpat Gea. Gea kembali menerima pesan dari Brian.

__ADS_1


“Apa kau baik-baik saja?”


“Ya, aku baik-baik saja. kau sendiri.” Tulis Gea.


“Ya, sama. Oh iya, aku setuju dengan ucapanmu tadi, tentang hubungan kita.”


“Maksudmu?” Tulis Gea.


“Iya, aku setuju, jika kita sebaiknya bersembunyi dulu.”


“Lah, siapa yang telah meluluhkan hatimu hingga kau berkata seperti itu?” Tanya Gea.


“Bang Beni, dia bilang jika watak Abangmu sangat keras. Dan Bang Beni yakin, jika Abangmu tidak akan membiarkanmu berkencan dengan pemuda komplek ini, termaksud aku. Tapi aku akan bersabar sembari terus berjuang.”


“Berjuang? Memangnya apa yang akan kau lakukan?” Tanya Gea.


“Sesuatu, yang membuat Abangmu mau memberikanmu kepadaku.” Gea berpikir lama ketika membaca pesan Brian.


“Ini sudah malam, tidurlah. Jangan lupa mimpikan aku ya sayang.” Tulis Brian lagi. Gea meletakkan ponselnya ke bawah tempat tidur.


“Si Brian ini, dia tidak tau bagaimana si Gio yang sebenarnya. Aku harus bagaimana?” Tanya Gea.


**


Paginya, Gea keluar dari rumahnya. Ia memakai jaket biru kesukaannya. Ketika ia melirik kearah rumah Brian. Gea melihat Brian berjalan santai dengan Oliv.


“Apa yang sedang dia lakukan dengan Oliv? Ini tidak bisa aku biarakan” Gea berjalan cepat menghampiri Brian.


“Ada apa ini Brian?” Tanya dingin Gea. Brian memberi kode pada mobil hitam di sebelah mereka. Mobil ini adalah mobil Bang Gio, Gea langsung berdalih.


“Semakin hari, kalian semakin mesra saja. Waah, apalagi setelah Brian melepas gelar artisnya. Apa kalian berdua tidak tau tentang peraturan berkencan di komplek ini?” Tanya Gea membuat Oliv menatapnya tajam.


“Itu semua bukan urusanmu, urus saja hidupmu. Jangan mengganggu kami. Ayo Liv, kita sudah terlambat.” Brian melirik kesak pada Gea lalu berjalan. Oliv melempar senyum kemenangan pada Gea.


“Beraninya si Brian gigi 2 jalur itu, lihat saja nanti, aku akan membalasnya.”Umpat Gea.


“Hoi, apa kau tidak pernah bosan untuk menganggu mereka?” Tanya Gio yang tiba-tiba keluar dari mobilnya.


“Bang Gio? Sejak kapan abang ada di sana?” Tanya Gea was-was.


“Sejak kau memanggil Brian.”Jawab Bang Gio.


“Tunggu, apa abang sedang mengawasiku?” Tanya Gea.


“Iya, abang sedang mengawasimu. Abang curiga jika kau sedang berkencan dengan salah satu pemuda di komplek ini. Setelah abang perhatikan, kau tidak berkencan dengan Brian. Apa mungkin dengan Didi?” Tanya Bang Gio.


“Didi, mungkin setelah hari kebangkitan nanti.” Kencam Gea lalu meninggalkan Gio.


“Abang hanya ingin kau bahagia, tetapi tidak dengan pemuda komplek ini.” Sorak Gio.


“Kaaan, benar jika Bang Gio mengawasiku. Aku harus hidup dalam drama.” Gea  mempercepat langkahnya.


Diatas Bus, Gea, Brian, dan Oliv berdiri sejajar dengan tangan memegang  pegangan bus. Gea tampak sangat lesu.


“Kenapa?” Sapa Brian.


“Bukan urusanmu, urus saja pacarmu.” Jawab Gea. Gea masih memikirkan kejadian tadi. Ia seperti tidak sanggup menerima cobaan ini. Brian mengkerutkan dahinya.


“Apa kau sedang berkencan dengan pemuda di komplek kita?” Tanya Oliv membuat Gea dan Brian meliriknya.


“Berhati-hatilah, Bang Gio memberikan komando kepada semua warga komplek untuk mengawasimu. Jika kau ketahuan, mungkin kalian akan dipisahkan secara paksa. Itu sangat menyakitkan.”  Oliv yang tiba-tiba pengertian membuat Gea mununduk lesu, Brian melirik Gea gan menyenggol lengannya.

__ADS_1


“Aku tidak berkencan dengan siapapun.” Bisik Gea pada Oliv, membuat Brian menatapnya dengan tatapan tajam.


“Benarkah?” Tanya Brian dengan tatapan membunuh pada Gea. Gea mengedipkan matanya.


__ADS_2