Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 59. Kau Tidak Salah


__ADS_3

“Jadi kau pelakunya.” Ia melirik tangan Gea lalu menatap wajah Gea.


“Ge-ge-a.”  Wanita ini tampak sangat ketakutan.


“Santi, jadi kau pencundang itu. Ahahahahaha.” Tawa geli Gea dengan melangkah keluar dari lemari loker.


“Ge-ge-a a-a-ku bi-bi-sa je-jelakan.”


“Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu. Santai, beberapa gadis pasti melakukan ini pada pria yang dikaguminya.”  Gea melepaskan tangannya dari lengan Santi. Santai terlihat lebih tenang.


“Maaf.” Santi menunduk.


“Kenapa kau meminta maaf kepadaku?” Tanya Gea.


“Soal coklat ini, aku tidak bermaksud untuk merebut Ervan darimu.” Jawab Santi.


“Merebut Ervan? Ahahahaha, omong kosong. Ervan bukan milikku.”


“Bukankah kalian berpacaran?” Tanyanya.


“Lagi dan lagi, aku dikira berpacaran dengan teman komplekku.” Umpat Gea dalam hati.


“Ahahaha, tidak, kami hanya berteman. Hei, bukankah kau juga mengetahui itu. Aku, Ervan, Didi, dan Bimo, sudah bersama sejak kami kecil.  Aku sungguh tidak terima jika kau berkata seperti itu. Walau kau tinggal di komplek sebelah, seharusnya kau juga tau itu.”


“Oooh seperti itu.” Santi tersenyum malu.


“Hei, jadi semua coklat yang enak itu milikmu. Kenapa tidak kau berikan saja secara langsung? Kau tau, itu membuat Ervan menjadi sangat risih. Terlebih dia tidak suka dengan pecundang yang meresahkan hidupnya.”


“Benarkah, dia meraka resah, tapi aku malu Gea. Bukankah kau juga seorang wanita, kau pasti mengetahui perasaan itu. Bagaimana bisa aku menyatakan cintaku padanya? Aku hanya seorang wanita pemalu yang tidak mungkin memulai mengatakan cinta.” Santi tertunduk malu.


“Santi, katakan saja. Jika kau itu aku, aku akan mengatakannya. Walau nanti aku ditolak, aku akan berusaha untuk mendapatkannya kembali. Tapi jangan berbuat hal yang tidak diinginkannya, seperti ini. Dan jangan menjadi


pecundang. Karena Ervan, sangat membenci pecundang.”


“Mmmm, baiklah.”Angguk Santi.


“Lalu, apa kau akan memberikan coklat ini, pada hari ini juga?” Tanya Gea.


“Tidak, untuk saat ini tidak. Tapi aku akan berhenti dengan cara pecundang ini.” Jawab Santi dengan tersenyum.


“Oh iya, awalnya aku curiga loh sama Kak Deni.” Bisik Gea dengan berupaya mencongkel kebenaran.


“Oh, Kak Deni. Aku meminta tolong padanya. Jika Ervan tidak ke sini, maka Kak Deni yang akan meletakkan coklat ini di kamar Ervan.”


“Bagaimana bisa kau mengenal Kak Deni. Umurnya jauhkan diatas kita.”

__ADS_1


“Kak Deni-kan berpacaran dengan abangku, jadi aku memanfaatkan itu.” Sombong Santi dengan mengedipkan mata kirinya pada Gea.


“Ooooh, Apa? Bukankah abangmu itu, Bang Taka si dosen tampan, legit, berhati dewa, itu-kan.” Santi mengangguk.


“Aaaaah, aku benar-benar mengidolakan Bang Taka. Wujud rupa Oppa-Eunwoo di komplek sebelah.” Gea menghayal jika Bang Taka adalah kekasih hatinya.


“Eh Gea, sepertinya Ervan sudah selesai, aku pergi dulu ya. Oh iya, apa kau bisa menjaga rahasia ini?” Tanya Santi.


“Aku tidak bisa, karena aku tidak mau berbohong pada temanku.”


“Tolonglah Gea, besok aku akan menemui Ervan. Aku mohon, malam ini saja.” Santi memohon, membuat Gea menatapnya dengan tatapan tajam.


“Benar, ini semua bukan urusanku.” Bisik Gea dalam hati.


“Baiklah.” Angguk Gea.


“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Santi berjalan dengan terburu-buru dan tanpa sengaja ia meninggalkan coklat tersebut di tangan Gea.


“Kenapa dia tidak membawa coklat ini?” Tanya Gea. Tiba-tiba Ervan dan Brian sudah ada di belakangnya.


“Gea, apa yang sedang kau lakukan di sana?” Tanya Brian. Mendengar suara Brian, Gea langsung memasukkan coklat tersebut ke dalam bajunya.


“Tidak sedang apa-apa.” Jawab Gea sembari berbalok dengan senyuman yang tampak terpaksa.


“Kau mencurigakan, apa kau sudah bertemu dengan orangnya?” Tanya Ervan.


“Benarkah? Lalu kenapa tasku ada di tanganmu?” Tanya Ervan dengan mengambil tasnya di tangan Gea.


“Aku, aku sedang mencari charger, ponselku mati.” Alasan Gea.


“Triitit.” Tiba-tiba ponsel Gea berbunyi.


“Itu ponselmu hidup.” Lirik Brian pada saku baju Gea.


“Tadi, ada anak komplek sebelah, dan karena tidak ada charger di dalam tasmu, dia meminjamkan charger miliknya. kami berbincang sebentar, sampai baterai ponselku sedikit berisi.”Gea berusaha mengarang kejadian.


“Ya sudah, jika kita tidak menemukannya sekarang, besok kita lanjutkan.” Ervan menyandang tasnya, lalu melangkah duluan. Sementara Brian melangkah menyusurl Ervan dengan melirik curiga pada Gea.


“Kita? Cih. Hanya aku yang menunggunya, kalian hanya berolahraga.” Gea melangkah mendahului Brian dan Ervan.


Gea sampai di depan rumahnya, Brian berpamitan dengan Ervan. Ketika Gea hendak berbelok kearah pintu rumahnya, Brian mengentikan langkahnya.


“Pembohong.” Bisik Brian dengan memegang lengan Gea.


“Apa maksudmu?” Tanya Gea dengan menatap tajam pada Brian.

__ADS_1


“Aku tau, jika kau sudah bertemu dengan pemilik coklat ini.” Brian menekan coklat yang ada di balik baju Gea.


“Aku mengenalmu sejak kau masih berusia 3 tahun. Aku tau betul, bagaimana ekspresimu jika kau sedang berbohong. Apalagi, tangan kirimu itu terus kau kepal.” Bisik Brian.


“Iya, iya. Memang benar, aku sudah bertemu dengan gadis yang memberikan coklat ini pada Ervan. Tapi dia memohon untuk tidak mengatakan perihal dirinya kepada Ervan. Setelah aku pikir-pikir, memang sebaiknya dia


sendiri yang mengungkapkan isi hatinya kepada Ervan. Brian, aku sadar, jika aku tidak bisa masuk terlalu dalam dalam hubungan percintaan Ervan. Karena aku, hanya teman perempuannya. Ervan juga berhak tau tentang isi hatinya, dengan cara mengenali hatinya sendiri. Jika aku mengatakan perihal gadis itu padanya, pasti dia akan menemui gadis itu dan menolaknya dengan cara yang kasar. Aku tau betul dengan Ervan. Ada pagar besi di dalam hatinya. Ervan pernah di kecewakan oleh gadis bodoh yang sangat ia cintai melebihi dirinya sendiri. Rasa kecewa


yang terlalu dalam, membuatnya enggan untuk memulai hubungan baru. Kau tau, yang pernah terkecewakan akan sulit untuk bangun kembali.” Jelas Gea sementara Brian hanya terdiam.


“Sudahlah, aku masuk dulu.”Gea melangkah masuk ke dalam rumahnya.


“Kau salah Gea, jika kau tidak ada, mungkin Ervan sudah menjadi pemuda brengsek yang akan menghancurkan hati semua gadis. Itulah jati diri seorang pemuda, balas dendam yang kejam, akan kekecewaannya. Tapi dia hanya


memasang pagar besi, dan lebih fokus untuk melindungimu, karena dia takut rasa kecewa itu hadir pada dirimu. Sekarang, apa yang bisa aku lakukan untukmu Ervan? Aku sekarang malah menjadi takut, karena bisa saja kau merebut Gea dariku.” Umpat Brian dengan melihat kearah rumah Brian.


**


Paginya, Brian, Gea, Ervan, Oliv, dan Santi naik ke atas bus. Gea memberikan kode mata pada Santi. Santi hanya menunduk. Menyadari itu, Brian menyenggol bahu Gea. Gea dan Brian turun dari bus. Gea melambai indah pada


Ervan, dan mengedipkan mata kirinya pada Santi.


“Jadi dia gadis pemberi coklat itu, imut juga.” Tatap Brian pada Santi lalu melangkah.


“Iya, tapi si Ervan benar-benar kurang peka, masa dia tidak curigadengan Santi. Oh iya, kalau diingat-ingat Santi selalu satu bus dengan kami. Jadi selama ini dia telah memperhatikan interaksiku dengan Ervan. Pantas saja


dia menyangka jika kami berpacaran, karena ketika di bus, aku selalu berdiri di bawah ketek Ervan.” Brian menghentikan langkahnya dan menatap Gea.


“Aku juga merasa seperti itu, tatapan Ervan, senyum Ervan, dan semua yang dilakukan Ervan padamu, itu semua lebih dari apa yang dilakukan seorang pemuda pada teman gadisnya. Aku curiga, jika Ervan telah mencintaimu di


dalam diamnya.” Bisik  Brian dalam hati, lalu berbalik melangkah meninggalkan Gea.


“Apa sebaiknya aku mencari pacar yang baru saja?” Umpat Gea dengan melirik Brian dengan mata kesal.


“Kami duluan yaa.” Sapa sepasang manusia dengan mendahului Gea. Gea melihat Gisel dan Kevin berjalan dengan bercengkrama ramah, bagai tidak ada masalah. Mereka tertawa bersama dan Gisel bahkan memukul pelan lengan Kevin, layaknya sepasang manusia yang sedang di mabuk cinta.


“Aku rasa, pupuk skandal, membuat cinta tumbuh dengan sangat cepat.” Umpat Gea dengan wajah tercengang. Tiba-tiba Lia dan Haris datang dan menyapa Gea.


“Hei Gea, kenapa kau masih di sini, 5 menit lagi bel akan berbunyi.” Sapa Haris.


“Kau sendirian saja, Brian mana?” Tanya Lia.


“I-i-itu.”Gea menunjuk Kevin dan Gisel. Haris dan Lia menatap kearah yang ditunjuk Gea.


“Wah, apa mereka sudah bersama? Sejak kapan?” Tanya Lia dengan terpana.

__ADS_1


“Kenapa kalian begitu syok melihat mereka? Sudahlah, ayo kita sudah terlambat.”Haris menarik tangan Lia dan Gea.


__ADS_2