
“Khahkhakhakhakhakahkak. Aduh perutku. Apa kau ingin mengulang kisah kita yang dulu? Anggap saja, jika dulu itu aku kurang waras.” Gea tersenyum manis.
“Tunggu.”Gea kembali mengingat sesuatu yang sangat penting.
“Kau masih menggerutu dengan janji kita tadi.” Dino melirik wajah Gea yang tampak sedikit kesal.
“Aku masih kurang percaya.” Gea menghentikan kayuh sepedanya.
“Apa kau tidak mempercayaiku? Kita masih kecil, kalau memang begitu, ya sudah seperti ini saja. Kau bisa menulisnya dalam sebuah kertas dan menguburnya. Lalu ketika kita sudah besar nanti, aku akan menggalinya dan akan mewujudkan seluruh kalimat yang telah kau tulis. Bagaimana?” Tanya Dino dengan wajah antusias.
“Okee, aku setuju. Aku akan pulang untuk menulisnya.” Jawab Gea dengan sangat semangat memutar sepedanya kembali pulang ke rumah.
Gea mulai menulis beberapa keinginannya. “Aku ingin menjadi seorang putri yang berjalan di pusat kota dengan seorang pangeran tampan. Kami berpegangan tangan, tanpa peduli dengan tatapan orang lain. Aku memakai pakaian yang sangat bagus, hingga semua gadis iri padaku.” Setelah menulis semua keinginannya, Gea memasukkannya pada sebuah botol pajangan kapal Gio dan menguburkannya tepat di sebelah kamarnya. Tak lupa, Gea membuat sebuah peta harta karun, dan melemparnya ke dalam jandela kamar Dino lalu tersenyum malu.
Gea kembali menatap Brian yang terlihat menatapnya dengan tatapan tajam.
“Apa? apa yang ingin aku tunggu?” Tanya Brian dengan meminum minumannya.
“Apa mungkin kau menemukan harta karun itu?” Tanya Gea balik dengan wajah tidak percaya. Brian langsung tertawa malu, dengan menutup mulutnya.
“Briaaannnn!!!” Rengek malu Gea dengan menunduk dan menutup wajahnya.
“Saat itu kau masih berumur 7 tahun, tapi imajinasimu, benar-benar menakjubkan.”Brian berusaha menahan tawanya ketika mengingat tulisan keinginan Gea.
“Bagaimana kau bisa menemukannya?” Tanya Gea dengan tiba-tiba menatap Brian dengan wajah geram.
“Saat itu, aku siap mandi hendak bersiap pergi ke sekolah. Sebuah gulungan kertas, menghalangi kakiku. Ketika aku hendak melemparnya ke tong sampah, tanpa sengaja aku membuka sedikit gulungan tersebut. Awalnya aku heran, kenapa ada peta harta karun di kamarku. Aku langsung menelusuri, titik demi titik di dalam peta tersebut. Akhirnya aku menemukan sebuah botol yang berisi sebuah kertas, yang tertimbun diantara kamar kita. Waah, kertas itu benar-benar membantu ingatanku.” Brian tersenyum bangga. Sementara Gea kembali mengingat Brian yang memanam pagar bonsai di antara kamar mereka.
“Apa waktu pagi itu? Pagar bonsai?” Tanya Gea dengan sedikit malu. Brian mengangguk imut, Gea kembali menutup wajahnya yang merah karena malu.
“Ada apa? kenapa kau menutup wajahmu?” Tanya Brian dengan sangat manis.
“Aku malu.” Jawab Gea dengan sangat pelan.
“Bagaimanapun juga aku akan tetap menepati janjiku. Jadi, kau harus bersiap-siap dengan seluruh keinginanmu itu.”
__ADS_1
“Tapi, seperti janji kita tadi. Kau harus menjawab seluruh pertanyaanku dengan jujur.” Lanjut Brian lagi membuat Gea menatapnya.
“Jadi yang tadi itu apa?” Tanya Gea dengan wajah heran.
“Bukankah itu keinginanmu. Kau ingin kita menikah pada umur 17 tahun.” Jawab Brian dengan mengedipkan mata kanannya dengan manja.
“Skip.” Bisik Gea dengan wajah datar.
“Aku hanya ingin tau. Selama aku tidak ada di sisimu, apakah kau pernah menjalin hubungan dengan pemuda lain?”
“Tidak.” Jawab Gea dengan ketus.
“Lalu, Ervan, Didi, dan Bimo. Apa kau tidak tertarik sedikitpun dengan mereka?” Tanya Brian.
“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan? Mereka bertiga, tidak pernah memandangku sebagai seorang gadis. Lagi pula, aku sudah tau bagaimana mereka dari luar dan dalam. Dan aku, tidak tertarik sedikitpun dengan mereka.”
“Sebuah kebohongan jika diantara pertemanan seorang gadis dan seorang pemuda tidak ada rasa walau itu hanya sedikit.” Brian meminum minumannya.
“Brian, apa kau tidak percaya padaku?” Tanya Gea dengan wajah sedikit kesal.
Ervan, dan Bimo.
“Aku tidak tau dengan seberapa ingat dirimu pada kami. Tapi, dari ucapanmu barusan, aku ragu jika ingatanmu itu benar-benar sudah kembali.”
“Apa maksudmu? Apa kau meragukanku?” Tanya Brian dengan sorot mata tajam.
“Ya, sekarang aku meragukanmu. Kau harus tau, kaulah yang membuatku bermain dengan mereka dan membuat
kami menjadi lebih dekat, dan sekarang kau mengatakan jika kau tidak suka jika aku dekat dengan mereka. Aaaahahahahaha, gaya interaksi? Kami memiliki gaya interaksi tersendiri, itu memang terdengar kasar atau seperti menghina dan kadang lebih negatif. Tapi tidak bagi kami. Karena bagi kami, itu hanya cara untuk mengekspresikan bagaimana dekatnya kami. Kau juga harus tau, kami memang saling menghina, tapi tidak pernah merasa terhina. Kami saling merendahkan tapi tidak pernah merasa terrendahkan. Seseorang menyenggol salah satu bahu kami, dengan sigap kami semua berdiri dan membalas hal setimpal, hingga kata hormat tersebut terdengar di telinga kami. Apa kau tidak tau bagaimana semua itu bisa terjadi? Semua itu terjadi, karena dirimu, kaulah yang memulai itu semua dan menanamnya di dalam kepala kami.” Kencam Gea dengan nada emosi.
“Gea, bukankah kita sekarang sudah dewasa. Aku tidak peduli dengan masa lalu. Sekarang ini, tentang bagaimana masa depan kita. Kau harus bisa menentukan pilihanmu. Antara aku, atau mereka.” Mendengar itu, Gea sangat terkejut lalu terdiam lama dan memalingkan wajahnya.
“Mereka, sudah terlibat banyak didalam hidupku.” Jawab Gea dengan menunduk.
“Jadi, kau lebih memilih mereka ketimbang diriku ini. Huuft.”Brian menghela nafasnya, lalu berdiri. Gea memahami situasi ini.
__ADS_1
“Apa semuanya akan berakhir disini?” Tanya Gea dengan melirik Brian.
“Aku akan memberimu kesempatan untuk berpikir.” Jawab Brian dengan menatap Gea lebih dalam.
“Jangan beri aku kesempatan. Karena bagiku, itu tidak perlu lagi dipikirkan. Jika bagimu mereka adalah sebuah pilihan, mari kita berhenti di sini.” Gea memalingkan wajahnya dan berdiri. Brian lebih terkejut mendengar ucapan Gea. Tampak raut rasa tidak percaya di wajahnya.
“Brian, kau tau, dulu sebelum kau mengetahui jika aku adalah masa lalumu, kau smemandangku dengan amat sangat rendah. Bahkan itu tidak hanya dengan tatapanmu, tapi dari seluruh ucapanmu. Kau, termaksud beruntung di bandingkan dengan pria lain.Karena jika saja mereka bertiga tau kau berbuat seperti itu padaku, kau tidak akan pernah hidup dengan tenang. Kau tidak tau apapun mengenai kisah kami berempat. Setidaknya, dengan ucapanku ini, kau mengertikan bagaimana berartinya mereka dalam hidupku. Mereka, lebih dari saudaraku. Jika kau membuat pilihan antara kau dengan mereka bertiga, itu sudah lebih jelas jika aku lebih memilih mereka bertiga ketimbang dirimu. Karena prinsip hidupku, aku tidak akan meninggalkan temanku hanya karena seorang pria pecundang yang tidak bisa menerima teman-tamanku.” Bisik Gea dengan pelan, lalu berbalik badan.
“Apa kau akan meninggalkanku karena mereka bertiga?” Tanya Brian dengan wajah tidak percaya. Gea langsung melangkah, dengan sigap Brian menahannya.
“Maafkan aku. Jangan tinggalkan aku.” Brian menahan tangan Gea. Gea menoleh pada Brian. Brian tampak begitu terhenyak dengan ucapan Gea.
“Brian, kau seharusnya sadar. Kau harus berterima kasih pada mereka bertiga. Kau tau, banyak pemuda diluar sana yang ingin berbuat jahat padaku. Selama kau tidak ada disisiku, merekalah yang melindungiku, walau
sebenarnya aku bisa melindungi diriku sendiri, tapi bagiku aka nada yang kurang jika mereka tidak turun tangan. Mereka menjadi kakak, abang, dan teman untukku. Aku memang mencintaimu, tapi jika aku harus meninggalkan mereka hanya karena cintaku, itu terlalu hina untukku.” Gea menatap Brian dengan sepenuh hati.
“Aku memang egois. Aku hanya memikirkan tentang diriku sendiri.” Brian menunduk kesal.
“Kau tidak egois, hanya cemburu buta melihatku bersama mereka. Kau hanya belum melihat bagaimana gaya kami bermain, jika kau melihatnya, kau pasti akan membatalkan rasa cintamu padaku.” Brian menatap Gea dengan wajah heran.
“Kenapa? Apa mereka berbuat sesuatu padamu?”
“Kau lihat saja nanti.” Gea tersenyum manis lalu memeluk Brian.
“Bagaimana aku bisa membatalkan rasa cintaku padamu jika kau selalu menggodaku?”
“Hey, bukankah kita sudah berakhir.” Gea melepas pelukannya dan membuat Brian melempar wajah datar padanya.
“Sebenarnya, aku tidak terlalu cemburu pada Didi, Ervan, dan Bimo. Aku hanya takut jika nanti mereka mempengaruhimu untuk meninggalkanku. Aku melihat kau sangat mudah di pengaruhi.Tapi setelah aku mendengarkan penjelasan darimu tadi, aku bisa lebih tenang sekarang. Namun sekarang, aku sangat cemburu
pada poster korea yang kau tempel di dinding kamarmu itu.” Bisik Brian menatap wajah Gea dengan lebih dekat.
“Aaaa-aah.” Gea tidak bisa berkata apa-apa.
“Suami khayalanmu itu, membuat dada ini sesak.” Bisik Brian membuat Gea menahan nafasnya.
__ADS_1