
Gea bangun lebih pagi. Dengan seragam sekolahnya, ia bergegas melangkah menuju halte bus. Jam tangannya menunjukkan pukul 05.30 AM.
“Lagi, aku berusaha menghindar dari kenyataan.” Gea duduk di halte bus. Air matanya kembali mengalir. Ia langsung mengusap air matanya dan merasakan betapa besar bengkak matanya akibat menangis semalaman. Ia langsung meraih sebuah kaca mata hitam dari dalam tasnya, dan memakainya.
“Huft.” Keluhnya menahan air mata, karena ia tidak ingin lagi menangis.
“Bukan menghindar dari kenyataan, tetapi berupaya menerima kenyataan.” Seorang pria menyambung ucapannya. Gea menoleh dan melihat jika seorang pria tengah berdiri dan bersandar di tonggak halte yang berada di sebelah kanannya.
“Astaga, siapa bapak-bapak ini?” Tanya Gea dengan cemas sembari berdiri berupaya kabur.
“Hoi, bukankah ini terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah.” Sorak pria itu, membuat Gea menoleh dengan sedikit menurunkan kaca matanya.
“Ba-bang Gio.”Gea menatap Gio dengan wajah tidak percaya.
“Benarkan.” Gio melangkah kearah Gea dengan tersenyum manis. Gea berbalik ke halte.
“Apa yang sedang abang lakukan disini?” Tanyanya dengan suara parau.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu.” Jawabnya dengan mengajak Gea kembali duduk.
“Aku, aku ingin berangkat ke sekolah.” Gea membetulkan letak kaca mata di wajahnya.
“Kau tau, aku memangkas waktu dinas 4 tahunku di London menjadi 2 tahun karena dirimu.” Gea merasa tidak percaya dan langsung berdecih.
“Cih, apa hubungannya denganku?” Tanya Gea menunjukkan jiwa kegeramannya yang sebenarnya, membuat Gio lebih tidak percaya. Gio memandang Gea dengan lebih tajam.
“Aaah, maaf Bang.” Gea menyadari ucapannya.
“Apa kau ingin pergi denganku?” Tanya Gio pada Gea.
“Pergi kemana Bang?” Tanya Gea dengan wajah yang sangat kusut.
“Kau akan tau nanti. Ayo.” Ajak Gio sembari menarik tangan Gea masuk ke dalam mobilnya. Gio memutar musik kalsik. Musik itu, membuat Gea tertidur. Mereka sampai di sebuah tempat.
“Gea, bangunlah. Kita sudah sampai.” Bisik Gio sembari mematikan mesin mobilnya. Gea mulai membuka matanya. Ia benar-benar tidak percaya. Ia turun dari mobil dan mulai berlari kearah depan.
“Pantai.” Teriaknya dengan riang mengejar ombak yang surut. Gio mengikutinya dari belakang.
“Huaaaaaa, ombak.” Teriaknya dengan berlari kearah ombak. Gio tertawa ketika melihat aksi konyol adiknya ini.
“Kau tau, disini kita bertemu dengan seorang anak laki-laki yang selalu mengeluhkan tentang dirimu. Apalagi, tentang dirimu yang selalu mengadu pada ombak di Pantai.” Gea melirik Gio dan tersenyum.
“Benar, aku masih ingat itu. Abang tau, hanya ombak laut yang mau mengiyakan semua keluh kesahku. Aku berteriak keras padanya, lalu ombak ini akan menghantam tepian pantai sebagai kata iya untuk teriakanku.” Gea melangkah kearah Gio.
“Haaaah, aku benar-benar harus membawamu.”Gio memperbaiki poni Gea.
“Membawa aku kemana Bang?” Tanya Gea dengan tersenyum.
“Kemanapun aku pergi.” Jawab Gio yang kembali menatap pantai.
“Kau lahir pada saat aku berumur 10 tahun. Kau tau, pada saat itu aku sangat bangga bisa memiliki seorang adik. Kau besar dengan tangan ini. Kenapa? Karena Mama terlalu sibuk dengan karirnya dan Papa terlalu larut dalam posisinya sebagai Jaksa Agung. Sampai kau berumur 4 tahun. Kau bahkan memanggilku Papa. Aku masih ingat itu.” Gio tersenyum mengingat masa lalunya. Gea hanya terdiam sembari menikmati angin pantai.
“Sekarang, aku bertanya padamu. Apa pernah sekali saja kau menganggapku sebagai abangmu?” Tanya Gio membuat Gea menatapnya.
“Tentu saja, kau adalah abangku. Sudah rahasia umum jika aku dibesarkan oleh tanganmu ini.” Jawab Gea sembari memegang tangan Gio yang terlihat susah menahan air matanya.
“Lalu kenapa? Kenapa kau memendamnya?” Tanya Gio dengan menatap Gea sepenuh hati.
“Itu.” Gea memalingkan wajahnya dari Gio dan langsung terdiam.
“Kau ingin tau sebuah rahasia?” Tanya Gio dengan wajah serius.
__ADS_1
“Rahasia apa?” Tanya Gea dengan penasaran.
“Ketika kau berumur 5 tahun, Papa pulang dengan membawa seorang anak perempuan yang berusia 10 tahun. Papa mengatakan, jika dia adalah kakakmu. Kita menerimanya sebagai saudara kita dengan posisinya sebagai anak ke 2. Cih, aku benar-benar kesal jika membicarakan ini.”
“Apa?”Tanya Gea dengan wajah tidak percaya.
“Sekarang aku bertanya padamu. Apakah dia telah mengintimidasimu Gea?” Gio menatap Gea lebih dalam.
“Aku tidak percaya ini. Gina itu kakakku. Dia anak Papa dan Mama. Dan dia juga adalah adikmu.” Ucap Gea dengan air mata yang berlinang di matanya.
“Tidak, aku hanya memiliki seorang adik perempuan. Dan itu adalah kau.” Ujar Gio berbicara tegas pada Gea.
“Hahaha, Bang Gio ayolah.” Tawa kesal Gea berusaha membuat Gio mengubah rahasianya.
“Hmmm. Awalnya aku menyukainya. Aku juga memperlakukannya sama seperti aku memperlakukanmu. Tapi apa, suatu hari aku melihat sisi najisnya. Ia adalah gadis penjilat yang berusaha mendapatkan lebih dan lebih dari Mama dan Papa, hingga kau selalu terabaikan. Ketika aku pulang sekolah, aku medapati dirimu diikat di dalam bak mandi. Aku langsung menghajarnya. Tapi apa? Papa lebih berpihak padanya. Dia bahkan mengatakan jika aku ini anak yang mengerikan padamu, dan itu membuatmu tidak ingin lagi dekat denganku. Tapi itu semua tidak membuatku jera untuk menjauhkanmu dari dirinya. Ketika aku hendak pergi ke sekolah, aku selalu mengantarmu ke rumah nenek Rosmini. Yaa, anak laki-laki yang baik hati itu.”Gio tersenyum lembut sembari memeluk Gea yang mematung tak berdaya karena ceritanya.
“Memang benar, dulu Kak Gina selalu berbicara buruk tentang dirimu. Itulah, yang membuatmu tampak menakutkan dimata ini. Bahhkan kami, memberimu gelar bos besar.”
“Kau adalah versiku dalam wujud perempuan. Bagaimana mungkin aku bisa berlaku buruk pada diriku sendiri.” Gea langsung memeluk Gio.
“Abaaang, maafkan aku. Maafkan akuu, aku benar-benar menderita. Gadis itu selalu berbuat jahat padaku. Apalah dayaku, Papa dan Mama lebih mendengarkan ucapannya ketimbang ucapanku.” Tangisnya pecah dalam pelukan Gio.
“Itulah yang ingin aku dengar. Aku tau semuanya, dan mulai detik ini kau tidak akan menderita lagi. Kau tau, aku
percaya jika kau bisa menjaga dirimu. Dan aku lebih percaya, akibat ulah gadis itu kau juga bisa menghancurkan dirimu sendiri. Itulah makanya ketika aku berada di London, aku sangat, sangat mencemaskanmu. Karena aku tau, semua itu telah terjadi pada dirimu.” Gio melepas pelan pelukan Gea lalu mengusap air mata Gea. Mulai detik itu, anggapan mengerikan akan Gio hilang dari benak Gea. Gio mengajak Gea ke tempat yang lebih santai untuk berbicara, yaitu sebuah kafe di dekat pantai.
“Sekarang, bagaimana dengan sekolahmu?” Tanya Gio dengan santai.
“Menyenangkan.” Jawab Gea dengan tersenyum manis.
“Bukan itu, tapi rencana kuliahmu.” Gio sedikit kesal melihat kopolosan adiknya. Gea langsung mengeluarkan surat persetujuan pemilihan jurusan kuliah dari orang tua. Gio mulai membacanya dengan sangat detail.
“Papa yang mengisinya. Menurut Papa, universitas di sebelah rumah lebih menarik. Selain UKTnya murah ditambah lagi bebas transportasi alias jalan kaki. Dengan begitu, dalam satu semester, aku bisa menghemat uang sebesar 5 juta.” Gea menjelaskan dengan seksama.
“Lalu, apa kau berminat dengan seni tari ini?” Tanya Gio dengan wajah lebih tidak percaya.
“Yaa, aku pandai menari. Lalu, aku akan ikut audisi di sebuah Entertainment di Korea, dan aku debut menjadi seorang anggota girl band terkenal. Aku akan menyapa para fansku dengan ramah. Aku akan membuat fans menjodoh-jodohkanku dengan Jimin-Oppa. Lalu, setelah itu aku mulai menggoda Jimin-Oppa, dan menikah dengannya. Aku pasti sudah sangat amat cantik, dan Jimin-Oppa tidak akan bisa menolakku.” Jawab Gea dengan sigap Gio menjitak kepalanya.
“Plak.”
“Kau ini, apa tidak ada tempat konsultasi bakat di sekolahmu?” Tanya Gio dengan geram.
“Ada.” Jawab Gea dengan tersenyum manis, membuat Gio menghela nafas panjang.
“Apa masih ada lembaran lain dari kertas ini?” Tanya Gio lagi dengan wajah antusias.
“Ada.” Jawab Gea sembari mengeluarkan sebuah kertas baru.
“Aku tidak setuju dengan jurusan ini.”
“Sraaak.” Gio merobek kertas tersebut menjadi remahan-remahan kecil.
“Apa abang sudah gila?” Tanya Gea dengan wajah tercengang melihat kertas jurusannya telah menjadi remahan sampah. Gea sangat bangga dengan jurusannya itu. Karena menurutnya, itu adalah jalannya untuk bertemu dengan Jimin-oppa. Gio mulai mengeluarkan beberapa brosur universitas luar negeri dengan jurusan kedokteran.
“Abang, apa ini semua?” Tanya Gea dengan wajah tidak percaya.
“Akulah yang akan menanggung biaya kuliahmu. Bukan Papa. Jadi, pilihlah universitas yang ingin kau singgahi dalam hidupmu. Beberapa waktu lalu, aku mendengar jika kau membantu Tante Ika melahirkan. Bakatmu sepertinya sama dengan bakat Mama. Aku melihat, kau adalah seorang dokter di masa depan.” Itu Gea lebih tercengang.
“Biaya kuliah jurusan kedokteran di Indonesia saja besar bang. Apalagi diluar sana.”
“Biaya lagi?” Tanya Gio kesal.
__ADS_1
“Tidak, aku akan memilihnya.” Jawab Gea sembari memilih beberapa brosur.
“Singapura sepertinya lebih bagus.”Gio memberikan brosurnya.
“Benar, tetapi Amerika juga lebih menyenangkan.” Jawab Gea mengubah ekspresi Gio.
“Itu terlalu jauh.” Gio merobek brosur Amerika.
“Aku suka yang di Amerika.” Teriak Gea dengan kesal.
“Aku melihatmu menjahit tanganmu sendiri. Sebaiknya, kita menetap di Singapura saja.” Gio menepikan brosur yang lainnya, lalu meninggalkan brosur Singapura.
“Dimana abang melihatnya? Dan apa hubungannya?” Tanya Gea curiga.
“CCTV kamarmu.” Jawab Gio dengan tersenyum sinis.
“Apa?” Tanya Gea yang sedikit cemas.
“Kau selalu menari di depan poster konyol itu. Dan besok, aku akan membakarnya.”
“Jangan wahai Dewa Gio. Jangan bunuh suamiku, yang pastinya adik iparmu. Kami saling mencintai. Jangan lakukan itu wahai Dewa Gio, kasihanilah rumah tangga kami.” Gea menunduk hormat memohon pengampunan.
“Kau juga selalu memanjat kamarmu pada jam 2 pagi.” Gea semakin cemas.
“Apa abang tau semuanya?” Tanya Gea dengan terbata-bata.
“Bisnis situs film bajakan, penghasilanmu lumayan besar untuk membangun sebuah perusahaan.” Gio menaikkan nada suaranya lebih keras, membuat Gea langsung bersimpuh dilantai memohon pengampunan.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Gio dengan wajah heran.
“Aku akan menerima semua hukuman darimu, tapi jangan bunuh suamiku.” Jawab Gea dengan tertunduk takut.
“Duduklah di kursimu. Kenapa aku harus menghukummu?” Tanya Gio membuat Gea lebih curiga.
“Jika ada seseorang diantara kita yang harus dihukum, seharusnya itu aku. Kau seharusnya bertindak sesuai jenis kelaminmu. Khakhakhak. Tapi sudah aku putuskan, aku akan memblokir seluruh situsmu. Gea, kau harus belajar untuk menghargai karya orang lain.”
“Jika Abang berani memblokir perusahaanku. Aku juga akan memblokir balik perusahaanmu. Karena kepandaianku sebagai heaker sejati berasal dari dirimu.” Kencam balik Gea membuat mereka berdua tertawa.
“Hahahahaha.” Gea bangun dan kembali duduk di kursinya.
“Cih, Katakan satu hal, kenapa kau melakukan itu semua?” Tanya Gio pada Gea.
“Aku membuka situs belanja online baju pria. Jadi, di samping aku mengelola situs film bajakan, aku akan memasang iklan produkku di sana. Sudah rahasia umum, situsku menjadi idola dalam google.” Gio tersenyum puas.
“Lalu berapa omset penjualanmu selama sebulan?” Tanya Gio lagi karena sangat penasaran.
“Rahasia.” Jawab Gea dengan wajah mengesalkan.
“Tunggu lima menit, aku akan memblokirnya.” Gio sembari meraih ponsel dari dalam saku jaketnya.
“150 juta.” Jawab Gea membuat Gio tercengang.
“Situs film bajakan atau jual baju?” Tanya Gio lagi.
“Jual baju.”Jawab Gea dengan tersenyum manis membuat Gio tertawa terbahak-bahak.
“Kau ini, benar-benar.” Gio mengusap lembut kepala Gea.
“Bukankah aku ini hebat.” Gea bangga.
“Iya, kau jauh lebih hebat dibandingkan diriku.” Gio memeluk adik kesayangannya Gea.
__ADS_1