Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 24. Kita Ini Jodoh


__ADS_3

Ibu Oliv begitu marah, hingga datang ke rumah Gea untuk memintapertanggung jawaban. Brian yang hendak masuk ke dalam rumahnya langsung menghenntikan langkah Ibu Oliv.


“Tante, tante, yang sabar tante.” Brian berusaha menghentikan aksi brutal Ibu Oliv.


“Dia pikir dia siapa? Selalu saja mencelakai anak saya. Benar-benar anak si Luni ini!” Teriaknya.


“Sabar Tante, untuk saat ini, kita belum bisa memastikan siapa yang salah.” Brian berusaha menenangkan Ibu Oliv.


“Jadi maksud kamu, yang salah itu Oliv. Kamu tidak melihat kakinya harus di jahit!” Teriak Ibu Oliv menggaduh seisi komplek. Gea yang terlihat kesal keluar dari rumah Didi, diikuti ketiga temannya.


“Nah ini dia, anak tidak tau malu!” Teriak Ibu Oliv.


“Sabar tante!” Teriak Brian dengan emosi membuat Ibu Oliv terdiam.


“Oliv sendiri yang melempar piring tersebut kearah kakinya, lalu mengambil belingnya dan merobek kakinya sendiri.” Jelas Gea dengan wajah kesal.


“Apa kamu bilang? Bagaimana mungkin dia melukai dirinya sendiri?” Teriak Ibu Oliv dengan lebih keras.


“Apa tante ingat, ketika Oliv melukai dirinya sendiri di atas aspal ketika ia sedang belajar bersepeda dulu? Mungkin penyakitnya kambuh lagi tante.” Sahut Ervan membuat Ibu Oliv berpikir lama, lalu tampak menjadi lebih kesal, dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


“Haaaaah, dia begitu gigih membela anaknya yang gila itu.” Didi menatap Ibu Oliv dengan wajah heran.


“Setiap orang tua pasti seperti itu.” Gea melangkah menuju rumahnya.


“Gea tunggu.” Brian mengentikan langkahnya.


“Deg, deg, deg.” Jantung Brian berdegup kencang ketika   menatap Gea yang terlihat anggun dengan balutan kebaya modern, lengkap dengan rambut yang di sanggul cantik.


“Apa kau ingin mengataiku dengan kata-kata kasar? Kau harus tau tempatnya.” Bisik Gea melirik ketiga temannya yang terlihat curiga dengan ancang-ancang Brian.


“Apa kau baik-baik saja? Apa ada terluka?” Tanya Brian sembari memeriksa kedua tangan Gea, tanpa peduli ucapannya barusan.


“Tentu saja, aku hanya menonton. Dia yang melakukannya sendiri. Kau juga harus menjaga pacarmu itu dengan  baik. Sepertinya, dia sangat takut kehilangan dirimu.” Gea melepaskan tangannya dari tangan Brian.


“Kami ke rumah Bimo dulu, kalau kau mau ikut, kau harus dari jendela.” Sorak Ervan dengan tersenyum manis. Gea hanya mengangguk lalu berbalik badan menuju rumahnya.


“Malam ini, kau terlihat sangat cantik.” Bisik Brian membuat Gea kembali menoleh padanya.


“Apa?” Tanya Gea heran,


“Beristirahatlah.” Jawab Brian lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


“Huuft, apa yang aku katakan?” Tanyanya dengan memukul pelan kepalanya. Dia kembali mengintip Gea dari jendela rumahnya. Gea terlihat mematung, seperti ada sesuatu yang membiusnya.


“Dino.” Gea  melirik rumah Brian.


“Kenapa dia masih belum masuk ke dalam rumah?” Tanya Brian lagi melihat Gea yang masih terdiam. Gea mengingat, tepatnya pada tempat sekarang ia berdiri. Dino juga pernah memujinya. Kata-kata itu kembali terulang.


“Aaah, itu tidak mungkin.” Gea melangkah masuk ke dalam rumahnya. Tanpa sengaja, Gea mendengar pembicaraan Gina dengan seseorang.


“Oh iya, nanti kakak usahakan.”


“Jangan berkata seperti itu, bilang juga pada Mama untuk tidak terlalu khawatir.”


“Iyaa, maafkan kakak sebelumnya.”

__ADS_1


“Nesa, halo, hallo.” Panggilan itu terputus. Gina terlihat kesal bercampur cemas. Ia beberapa kali berdecih, dan melirik kearah kamar Gea. Gea dengan sigap melesat masuk ke dalam kamarnya.


“Dia kenapa? Mama? Apa dia punya Mama selain Mamaku?”


“Mencurigakan.” Guman Gea sembari mengganti bajunya.


***


Paginya, Gea bersiap seperti biasanya. Dia duduk di meja makan dengan sepiring sarapan yang sudah disiapkan Mamanya. Gina memulai pembicaraan.


“Oh ya Pa, Gina boleh ngak mintak uang.”


“Boleh, kamu mau berapa sayang.” Papanya tampak d tersenyum sendu. Mama langsung menginjak kaki kanan Gea yang menatap panjang Gina dan Papa.


“20 juta saja Pa.”


“Khahahaha, hanya 20 juta.” Gina tampak tersenyum puas. Papa langsung mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang 400 ribu. Ekspresi Gina berubah menjadi wajah sangat mengesalkan.


“Ini.” Papa memberinya uang tersebut.


“Lah Papa.” Rengeknya dengan wajah kesal.


“Kamu tau kan, itu sama dengan gaji papa selama satu bulan. Hanya segitu uang Papa. Kuliah yang benar, memangnya uang 20 juta untuk apa? lihat Gea, jajan cuman 20 ribu perhari. Naik bus tiap hari. Kamu mana pernah naik bus. Selalu naik mobil sendiri.” Omel Papa sembari berdiri.


“Ya sudah Papa berangkat dulu. Gea, beli seragam baru, Papa lihat itu sudah terlalu sempit.” Papa yang kembali membuka dompetnya dan memberikan Gea uang sebesar 7 ratus ribu. Gea yang awalnya terkejut mendengar pembicaraan papanya tentang dirinya, mulai tersenyum.


“Makasih Pa.” Gea memasukkan uang tersebut dalam tasnya. Gina terlihat sangat kesal pada Gea. Tiba-tiba Mama menarik uang yang diberikan Papa pada Gina, sebanyak 200 ribu.


“Mama mengawasimu Gina!” Mama memberikan uang tersebut pada Gea.


“Uang bulanan Gea kemana perginya? Dan sekarang dengan beraninya kau meminta uang sebanyak itu pada Papamu. Untuk apa uang sebanyak itu?” Tanya Mamanya membuat Gina berdiri dan berjalan keluar.


“Selalu saja seperti itu.” Umpat Mama dengan kesal.


“Aku berangkat dulu Ma.”  Ketika Gea melangkah keluar, Gina langsung menghadangnya.


“Ooooh bagus yaa, sekarang kau sudah bergerak untuk mengambil posisiku. Mana uang yang diberikan papa tadi, berikan padaku!” Teriaknya dengan mata melotot. Gea hanya melemparnya dengan wajah datar.


“Kau, Cih.” Gina mendorongnya dengan kuat. Tiba-tiba Brian datang dan menahan tubuh Gea yang hendak terjatuh.


“Awas saja, jika kau berani bertindak yang lebih.” Gina naik ke atas mobilnya.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Brian dengan membantu Gea berdiri dengan baik.


“Iya.” Jawab Gea yang terheran-heran melihat Brian.


“Bagaimana kau bisa langsung berada di belakangku? Apa mungkin?” Tanya Gea curiga.


“Tadi aku sedang menanam pagar bonsai di sana.” Jawabnya dengan menunjuk arah jendela kamar Gea.


“Pagar bonsai? Untuk apa?” Tanya Gea lagi.


“Untuk meminimalkan energi negatif dari dirimu. Bisa-bisa energi positif dari diri ini bisa terpengaruh.” Jawabnya dengan lembut membuat Gea sedikit terpesona.


“Khakhakhakha, jadi kau berpikir kalau aku ini energi negatif dan kau itu energi positif? Jangan terlalu takut sayangku, karena kita berdua adalah energi yang berjodoh di muka bumi ini. Dimana kita, akan selalu tarik menarik, sampai hari kiamat nanti!” Gea yang tiba-tiba geram melangkah pergi. Sementara, Brian terdiam mendengar itu.

__ADS_1


“Cih, kenapa aku jadi malu?” Tanyanya dengan mengusap pipinya yang merah.


“Panas, apa aku harus mandi lagi?” Tanyanya seperti orang salah tingkah.


***


Sesampai di sekolah, Gisel langsung menahan Gea.


“Kau mau apa sih?” Tanya Gea heran. Gisel membawa Gea berdiri kearah sudut.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Gisel dengan pelan.


“Mmmm.” Angguk Gea.


“Aku yakin jika dia melukai dirinya sendiri. Tapi, kenapa dia begitu tega yaa.”


“Semalam kau juga berada di rumah Brian. Kenapa aku tidak melihatmu?”


“Hehehey, aku datang pada ronde terakhir. Siapa nama gadis yang penuh drama semalam?”


“Oliv.”


“Iya, beberapa minggu yang lalu, aku pernah bertemu dengannya di sebuah restaurant mahal. Ia sedang melakukan kencan buta dengan Brian. Awalnya, aku hanya ingin menyapanya. Ketika Brian hendak pergi ke toilet, si Oliv itu


langsung menyiram bajunya dengan jus pesanannya. Ia bertingkah seolah-olah aku yang menyiramnya.” Ungkap Gisel membuat Gea tercengang.


“Apa? dia juga melakukannya padamu. Astaga.” Gea menutup mulutnya.


“Kau tau, akhirnya Brian berteriak keras, dan mengusirku dengan cara yang kasar. Aku benar-benar kesal padanya. Jika dia menjadi artis, dia pasti sudah ratusan kali mendapat penghargaan atas kepiawainya dalam beracting.”


Kencam Gisel dengan wajah penuh amarah.


“Mmmm.” Angguk Gea setuju.


“Aku tidak menyangka jika kau bertetangga dengan Brian. Di kelas kalian seperti tidak saling mengenal.”


“Mmmm, beberapa bulan yang lalu dia baru saja pindah ke rumah kosong yang berada sebelah rumahku.”


“Apa ini? Bukankah itu memang rumahnya. Dia hanya pulang kampung.”


“Tidak, itu rumah nenek Rosmini, keluarga Brian membelinya.” Ungkap Gea dengan tersenyum manis.


“Hehehey, iyaa, nenek Rosmini itu, neneknya Brian. Brian sendiri pernah mengatakan jika sebelum ia melakukan debut di Amerika, dia pernah tinggal bersama neneknya.”


“Deg, deg, deg.”Jantung Gea berdebar kencang.


“Apa maksudmu?” Tanya Gea.


“Ehmmmm, nenek Rosmini itu adalah neneknya Brian. Dulu itu, namanya Dino masa kau tidak tau sih. Beberapa tahun yang lalu, Brian sebagai seorang artis terkenal terlibat skandal mengerikan. Dan akhirnya, dia memulai


debutnya di Amerika dengan nama El Dino. Dan beberapa bulan yang lalu, dia mengatakan jika dia menemukan gadis teman masa kecilnya dulu. Yaitu, si Oliv yang penuh dengan drama.”


“Trak.”Seketika, Gea tumbang, dan kesadarannya hilang.


“Apa mungkin Dino?” lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2