Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 56. Acara Reunian Komplek


__ADS_3

Malampun tiba, seluruh persiapan sudah matang. Semua warga komplek datang, tak terkecuali emak-emak rempong komplek.Asemua kehebohan memenuhi aula komplek.


“Astaga, dimana Aulia mendapatkan baju yang sama persis dengan baju di foto ini? Apa lagi kalian berdua terlihat sangat serasi.” Puji Mama Gea membuat Brian malu. Sementara Gea hanya terdiam dan melihat baju pasangannya dengan Brian. Baju berwarna pink lengan panjang yang longgar dan nyaman di pakai.


“Apa Mama ingin melihat yang lebih serasi?” Tanya Gea. Mama Gea menangkap maksud pertanyaan Gea, dengan cepat Mama Gea pergi kearah meja Mama Ervan.


“Apa yang lebih serasi?” Tanya Brian dengan wajah rancu pada Gea.


“Apa kau ingin melihatnya?” Tanya Gea balik.


“Mmmm.” Angguk Brian penasaran. Gea mulai menarik bajunya, ketika hendak membukanya, Gio datang dan mengentikan tangannya.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


“Dia bilang, dia ingin melihat yang lebih serasi.” Bisik pelan tersenyum genit.


“Lalu kau mau memperlihatkannya.” Teirak Gio dengan tatapan ingin membunuh lalu melirik Brian. Mendengar teriakan Gio membuat Brian kaku, sementara Gea mengangguk.


“Coba saja, ayo duduk di sebelahku.” Gio menarik tangan Gea.


“Kenapa lagi dengan mereka berdua?” Tanya Ervan yang tiba-tiba muncul di sebelah Brian, dan meminum minuman yang ada di tangannya.


“Gea ingin memperlihatkan yang lebih serasi darinya, tapi Bang Gio langsung marah dan menarik tangannya.” Ervan terkejut.


“Pruuft.” Ervan mengeluarkan minuman tersebut dari mulutnya


“Kau kenapa?” Tanya Brian kesal karena minuman itu mengenai bajunya.


“Apa kau tidak tau apa maksud dari ucapan Gea?” Tanya Ervan, Brian menggeleng.


“Dia ingin memperlihatkan apa yang ada di balik bajunya, padamu. Aaaah, kau lemah sekali men. Jika kau ingin bersamanya, seharusnya kau tau maksud semua ucapannya. Setidaknya, kau harus peka akan rambu-rambu itu.


Aahhahaha.” Tawa Ervan lalu melangkah pergi. Mendengar itu, Brian sedikit syok dan malu. Wajahnya merona.


“Ehmmm,” Brian berdehem dan berusaha mencari minuman.


**


Semua menikmati acaranya, tak terkecuali Gina. Gina kembali mendapatkan taman-taman lamanya. Kehebohan demi kehebohan mulai terjadi. Mulai dari tarian para emak-emak komplek. Nuri datang melangkah menuju meja Gio dan Gea.


“Apa aku boleh duduk disini?” Tanya Nuri dengan sopan.


“Jangan duduk di sini, carilah tempat duduk yang lain.”  Gio melirik Gea yang ada di sampingnya.


“Bang Gio, Kak Nuri duduklah.”  Ajak Gea dengan tersenyum manis, seraya memegang erat tangan Gio,


berupaya menahan supaya Gio tidak beranjak pergi.


“Terima kasih Gea. Kau benar-benar tumbuh dengan cantik sesuai janji Dinomu, tapi kau tampak baik-baik saja tanpa dirinya, dulu selalu bersama, daan.” Nuri  memulai perkataan yang mengesalkan, membuat Gea dan Gio melemparnya dengan wajah datar.


“Aku baru tau jika dia sangat menjengkelkan. Gaya bicaranya, persis gaya bicara Oliv. Apa mungkin dia adalah Oliv di masa Bang Gio?” Bisik Gea dalam hati.


“Apa maksudmu berbicara seperti itu?” Tanya Gio dengan wajah menjengkelkan.


“Aku tidak bermaksud, hanya saja dia persis sama dengan dirimu. Dan melihatnya, membuatku ingat pada seseorang yang sangat aku benci.” Nuri berubah kesal.


“Kak Nuri, apa kau masih menaruh hati pada Bang Gio? Itu semua hanya masa lalu. Bang Gio, aku tidak ingin memiliki kakak ipar seperti dia.” Gea melirik Nuri, itu membuat Nuri tertohok.


“Memangnya kau tau apa?” Bentak Nuri.


“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, memangnya kau tau apa tentang Dinoku? Apa kau pikir, aku akan menangis jika kau mengungkit Dino? Lihat, pemuda yang berbaju pink itu, dia Dino, dan dia masih hidup. Hey Nuri,


sepertinya kali  ini, kau salah orang. Aku yakin, jika kau pasti sangat mengesalkan pada masa remajamu. Ah mungkin, jika masa remaja kita sama, akan sulit bagimu untuk bertahan di komplek ini.  Bukankah, kita baru bertemu setelah sekian lama. Seharusnya, kau menyapa kami dengan ramah, dan tidak mempersulit dirimu


sendiri seperti yang kau lakukan saat ini. Aku dan Bang Gio memang sama? Lalu kenapa?” Nuri terdiam, lalu berdecih.


“Cih.” Nuri memalingkan wajahnya, seraya tidak percaya dengan ucapan Gea padanya.


“Bang Gio, apa yang Abang pikirkan ketika Abang menyatakan cinta Abang padanya? Dia begitu mengesalkan, apalagi logat bicaranya, jauh dari tipe ideal. Apa Abang benar-benar menutup mata Abang pada saat itu?” Tanya Gea dengan wajah kesal membuat Nuri menatapnya dengan tatapan tajam.


“Itu kesalahan terbesar dalam hidupku.” Jawab Gio dengan tersenyum manis membuat Nuri meliriknya. Tiba-tiba Gina datang dengan lenggokan seksi.


“Gea, kapan foto bersamanya? Aku tidak melihat Kak Wulan. Apa dia tidak datang?” Tanya Gina membuat Nuri langsung berdiri.


“Ooooh, ada Kak Nuri. Hallo.” Sapa Gina dengan sopan.


“Hallo, apa kau baik-baik saja?” Tanya Nuri lagi. Gea dan Gio langsung menangkap maksud Nuri.


“Mmmm, aku baik-baik saja. Memangnya ada apa?”


“Setelah sekian lama berpisah dengan saudaramu, apa kau tidak iri sedikitpun dengannya?” Nuri melirik Gea.


“Aku sangat iri, dan aku sangat menyesal. Seandainya saja, aku muncul lebih awal, aku pasti sudah menyingkirkannya dengan sangat kejam.”  Gina mulai emosi.


“Ahahaha, kau ini benar-benar. Aku hanya bercanda, jangan dibawa ke dalam hati. Bagiamanapun juga, dia adalah adikmu.” Nuri berusaha meraih hati Gina.


“Adikku? Tunggu, yang aku maksud bukan Gea.” Gina  duduk di samping Gea.


“Ahahaha, aku juga tidak mengatakan jika itu Gea.” Tawa garing Nuri.


“Aku mengatakan tentang dirimu. Kau sudah tua, tapi tetap saja tidak berubah. Sedari aku kecil, aku sudah membencimu. Aku tau alasan Bang Gio mau berpacaran denganmu. Itu semua karena kau selalu ingin membocorkan rahasia Kak Wulan-kan, dan karena Bang Gio ingin melindungi Kak Wulan, kau dengan serakahnya menjadikan hubunganmu sebagai jaminan. Sampah sepertimu, lebih menjijikkan dari *** anjing. Cuiih.” Jelas Gina membuat Gea dan Gio tercengang, bahkan mulut Gea sampai terbuka dengan lebar.


“Kalian bertiga!” Teriak Nuri membuat seluruh ruangan memperhatikan mereka berempat.


“Kenapa? Kenapa dengan kami bertiga?” Tanya Gio dengan wajah menjengkelkan.


“Nuri, sudahlah. Kau tidak melihat, mereka itu tiga serangkai yang sehati. Percuma kau mengusik mereka.” Sorak Dodo dengan meminum minuman di tangannya.

__ADS_1


“Akan aku pastikan, kalian bertiga akan malu.” Bisiknya dengan penuh kencaman. Nuri mengambil gelas yang berada di atas meja, dengan cekatan ia menyiramnya kearah Gio, Gea, dan Gina. Sebuah jaket melayang dan menutupi mereka bertiga dari siraman tersebut.


“Aaah, jaket siapa ini?” Tanya Gea dengan membuka jaket tersebut dari wajah mereka bertiga.


 “ Plak! Bukankah aku sudah memperingatkanmu!” Tiba-tiba seorang wanita dengan dress pendek berwarna merah


menampar Nuri dengan keras. Rambutnya yang hitam panjang, tergerai indah. Poni selamat datang, membuatnya terkesan sangat imut.


“Kau masih berani datang ke komplek ini. Cih, apa kau ingin semua orang tau siapa dirimu sebenarnya?” Tanya Nuri dengan penuh emosi.


“Ibuku, adalah seorang simpanan. Kau ingin mengatakan apa lagi ha? Itu bukan sebuah masalah untukku.” Nuri semakin kesal.


 “Sudah cukup Nuri! Jika kau tidak bisa menahan dirimu, pintu itu adalah jalur yang tepat untuk menendangmu!” Teriak Dodo dengan tegas.


“Cih. Kalian berempat, benar-benar mengesalkan!” Teriaknya dengan mendorong wanita itu, membuat wanita itu jatuh. Dengan cepat, Gio bangun dan meraih wanita itu. Wanita itu jatuh di pangkuan Gio.


“Aaaaaaah, aku iri.” Umpat Gea.


“Aku lebih iri.” Gina menggigit bibirnya.


Sementara Nuri melangkah meninggalkan aula.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Gio pada wanita itu.


“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih.” Jawab wanita itu dengan menunduk malu.  Gio tersenyum dan membantu wanita itu untuk berdiri.


“Baru kali ini senyum hangat Bang Gio terlempar pada gadis lain.” Umpat Gea lagi.


“Apa kau cemburu?” Tanya Gina.


“Sedikit.” Gea melirik Gina yang tersenyum licik.


“Aku tau, jika Kakak merencanakan sesuatu.” Gina melirik Gea dengan senyum bahagia. Keadaan mulai membaik. Semua orang mulai berjabat tangan dengan wanita tersebut.


“Kak Gina, Siapa dia?” Tanya Gea yang terpesona dengan kecantikan khas wanita arab.


“Kakak ipaaar!”Teriak Gina dengan semangat.


“Ginaaa!” Teriak balik Gio.


“Apa? aku hanya menyambut kedatangan kakak iparku.”Gina memanyunkan bibirnya.


“Lama tak berjumpa.” Sapa wanita itu pada Gio. Gio  hanya menatap wanita itu lalu melangkah keluar aula. Wanita itu tampak kecewa, dan memalingkan wajahnya.


“Ahahaha, mungkin dia sedang malu. Ayo duduk kak.” Sapa Gina dengan sangat ramah.


“Eh, sebaiknya kita berbicara di luar saja.” Gina menarik Gea dan wanita itu kearah samping aula.


“Kenapa harus di luar sih?” Wanita itu menatap heran pada Gina, lalu melirik Gea.


“Kau sudah besar. Heyy, lihat dada ini, dulu kau selalu datang kerumahku hanya untuk melihat bra seksi.”Wanita ini tanpa segan menggemai dada Gea. Gea kembali mengingat masa lalunya.


“Kakak Berbie?” Tanya Gea. Wanita itu mengangguk dengan tawa malu. Gea langsung memeluknya dengan erat.


“Kakak Berbie?” Tanya Gina balik.


“Dia tidak tau nama Wulandari. Yang ia tau hanya nama Berbie, karena menurutnya aku mirip boneka berbienya. Uuuuh, kau sudah besar, mana Dinomu. Apa dia masih menganggumu?”


“Lebih dari mengangguku.” Gea melepas pelukan Wulan.


“Aaaah, aku tau, apa dia mengencanimu?” Lirik curiga Wulan pada Gea.


“A-anu, rahasia ya.” Bisik Gea pada Wulan. Wulan mengangguk.


“Kak Wulan, apa kau sudah punya pacar?” Tanya Gina.


“Kenapa memangnya? Bukankah kau tau seluk beluk hidupku. Kenapa kau tidak mengubungiku ketika kau sudah sampai di Indonesia? Kau seperti kacang lupa sama kulitnya.” Kencam Wulan pada Gina.


“Bukankah aku sudah mengatakan, jika kau harus bekerja untuk melunasi hutangku padamu.” Gina tersenyum hangat pada Wulan.


“Aku tidak butuh uangmu, aku hanya ingin kau menyelesaikan masalahmu. Aaah, kau benar-benar membuatku cemas, makanya aku pulang. Aku pikir kau sudah mati ditangan nenek lampir itu.” Wulan tampak kesal pada Gina.


“Ada apa ini?” Tanya Gea.


“Gea, kau tau sebenarnya Kak Wulan-lah yang telah menopang hidupku selama ini. Ketika ayah dan Ibunya meninggal, Kak Wulan di letakkan oleh keluarganya ke panti asuhan yang sama denganku. Dia jugalah, yang pertama kali mengetahui jika aku adalah Gina Semenip. Karena takut akan ancaman mantan istri


papa, Kak Wulan mengubah namaku. Waktu itu, posisi kami sama-sama tidak memungkinkan kami untuk maju melawan musuh kami. Makanya, kami bersembunyi. Akhirnya, Kak Wulan mendapat beasiswa sekolah desainer di Singapura. Dia juga membawaku bersamanya. Dia banting tulang untuk hidup kami berdua. Dan dari sanalah dia menjadi kaya raya. Dia juga memaksaku untuk menjadi dokter dan mengirimku kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan masalahku dengan mantan istri papa. Ini rahasia, kau tau itukan. Jika ini diketahui oleh Bang Gio,


posisi Kak Wulan akan semakin tersudutkan. Kau mengerti!” Kencam Gina pada Gea.


“Kakak pembohong, katakan saja yang sejujurnya. Kakak pikir Bang Gio itu bodoh.”


“Aku tau, tapi aku hanya memotong sedikit tentang kisahku. Aku menghilangkan bagian Kak Wulan. Kau mengertikan. Ini rahasia.” Bisik Gina pada Gea.


“Bangkai akan tercium walau kau menyimpannya di dalam peti besi.” Bisik balik Gea.


“Gio sudah mengetahuinya.” Gea dan Gina menatap Wulan dengan wajah tidak percaya.


“Bagaimana bisa?” Tanya Gina.


“Setelah aku mengirimmu pulang, dia datang menemuiku. Kami bersama-sama mencari keberadaanmu yang menghilang begitu saja. Lalu aku mendengar jika Gea menemukanmu. Maafkan aku Gina, akulah yang memisahkan kalian demi kepicikanku.” Wulan menunduk sedih.


“Kepicikan?” Tanya Gina dan Gea.


“Ya, aku sangat picik ketika aku hanya membayangkan keselamatan Gio, aku membuatmu dalam posisi yang sangat sulit.” Gina langsung memeluk Wulan. Wulan memeluk Gina balik


“ Kau bohong, sejak kapan kau membuatku dalam posisi sulit. Hidupmu, hanya untuk membahagiakanku. Walau aku jauh dari keluargaku, aku memiliki malaikat yang selalu bersamaku. Berhentilah, membuat dirimu dalam

__ADS_1


kesalahan, dan berupaya membuatku benci padamu. Aku tidak akan pernah membencimu, wahai malaikatku. Aku tau, apapun yang kau lakukan, sekolah desainer itu, tabunganmu yang banyak itu, itu semua adalah demi diriku. Kau mengirimku ke Indonesia, dan mengirim 5 orang untuk melindungiku. Tujuanmu hanya satu, suapaya aku kembali pada keluargaku. Aku lebih picik dari pada dirimu, kau tau, aku menyogok balik mereka untuk menjauh dariku. Jangan merendahkan dirimu seperti itu Wulan salamander, kau tetap kakakku. Walau Gio si bodoh itu menatap kecewa padamu, aku tetap menatap bangga padamu. Ingat, gelar dokter ini untukmu.” Gina melepas pelukannya dan menatap wajah Wulan yang menunduk seraya menyeka air matanya.


“Aah, mataku terkena debu.”


“Cih, ternyata Kak Wulan, bisa berdrama.” Bisik Gea pada Wulan.


“Aku sangat tamak. Aku masih menginginkan sesuatu dari Kakak. Apa kakak mau mengabulkan permintaan terakhirku?” Gina mengusap air mata Wulan yang terus mengalir. Wulan menatap Gina.


“Aku mohon, tolong urus abangku yang satu itu. Dia sangaaat.” Ungkapan itu dijelaskan Gina dengan ekspresi wajahnya yang sangat menyedihkan.


“Kau selalu mengatakan itu padaku. Bagaimana jika dia menolakku?” Tanya Wulan.


“Aku tidak akan menolakmu.” Suara seorang pria membuat mereka bertiga menoleh.


“Gio.” Wulan memalingkan wajahnya. Gio berjalan ke hadapan Wulan.


“Waktu itu, aku membentakmu. Maafkan aku.” Gio menunduk.


“Akulah yang seharusnya meminta maaf.” Wulan tetap tidak mampu mau menatap Gio.


“Ssst.” Gina memberi kode pada Gea untuk meninggalkan Wulan dan Gio berdua.


“Ah, sepertinya tadi ada yang memanggil namaku, aku masuk dulu.” Gea bergegas masuk ke dalam aula.


“Gea, Kakak ikut.” Gina menyusul Gea. Sementara Wulan menatap curiga pada Gina, lalu melirik Gio yang menatapnya dengan sepenuh hati.


“Mereka berdua adalah adikku, mereka sama pekanya denganku.” Gio melangkah satu langkah dan merunduk menatap wajah Wulan.


“Apa kabarmu?” Tanya Gio, Wulan menangkap mata Gio yang menatap matanya.


“Kau bisa melihatnya.” Jawab Wulan.


“Apa dia sudah membatalkannya?” Tanya Gio lagi.


“Dia siapa?”


“Tunangan palsumu.” Bisik Gio.


“A-a-ah.” Wulan memalingkan wajahnya. Gio berdiri tegap dan tersenyum malu.


“Dia manusia ke lima yang kau gunakan untuk menolakku. Kau bertanya pada Gina, bagaimana jika aku menolakmu? Bukankah seharusnya pertanyaan itu adalah milikku.”


“Ehm.” Wulan berdehem.


“Apa kau masih mau berkilah? Aku adalah pria malang yang sudah puluhan kali ditolak oleh cinta pertamanya.”


“Bukankah kau bilang jika kau suka pria kaya. Sekarang aku sudah kaya, jadi jangan tolak aku.” Bisik Gio pada Wulan seraya berusaha menatap Wulan yang tampak malu.


“Sebenarnya, kau kaya ataupun kau miskin, aku akan tetap mencintaimu. Bagiku, harta bukan ukurannya.”Jelas Wulan.


“Aku tau.” Gio mengangguk dan kembali tersenyum.


“Wulan, aku tau, semua tolakanmu padaku, adalah ancaman dari keluargamu. Dan untuk keamananmu, aku menjadikan Nuri sebagai pacarku. Kau selalu berusaha membuatku jauh darimu. Bahkan, kau berpacaran dengan Alvan. Apa kau ingat, ketika di perpustakaan, aku menyelipkan sebuah kertas kecil di dalam tasmu.” Gio memegang kedua  bahu Wulan. Wulan menatap Gio yang menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.


“Walau kau tidak bisa menjadi pacarku, belum tentu kau tidak bisa menjadi istriku. Apa itu milikmu?” Wulan menatap Gio dengan wajah tidak percaya.


“Ya, itu aku. Apa kau mau menjadi istriku?” Wulan menggangguk haru lalu memeluk Gio.


**


“Aku heran, kenapa kakak menyembunyikan semua itu dari kami semua?” Gea menatap kesal pada Gina.


“Gio, kau taukan si Gio itu. dia bisa menyudutkan Kakakku. Aku tidak mau itu terjadi.”


“Jadi Kakak pikir, Abangku itu suka menyudutkan orang lain.”


“Gea, kau tau, dibandingkan dengan si Gio, aku lebih menyayangi Wulan Salamander.” Bisik Gina.


“Salamander,” Gea tampak berpikir lama.


“Namanya Wulandari, tapi aku tambah dengan salamander karena dia sangat suka salamander.”


“Bang Gio adalah segalanya bagiku. Kakak tau itukan, aku sangat menghormatinya lebih dari Mama dan Papa. Dia adalah hidupku. Jika wanita itu adalah Kak Wulan, aku sangat bersyukur, Papa Gio-ku di berkati malaikat cantik


seperti Kak Wulan.” Gea tersenyum sembari menunduk malu mengakui rasa sayangnya pada Gio.


“Aaaaah, kau adik cantikku. Uuuuh.” Gina memeluk Gea dengan sangat erat.


“Aaah, lepaskan aku.” Berontak Gea.


Acara berjalan lancar, walau ada sedikit gangguan akan sikap Nuri yang berlebihan. Di penghujung acara, mereka kembali melakukan foto bersama sesuai angkatan.


“Di fotokan Gea dan Brian duduk berdampingan, lalu selebihnya berdiri. Kenapa malah Didi dan Ervan yang duduk berdampingan?” Tanya Kayla seraya melirik Dodo.


“Kenapa memangnya Kak? Foto saja, lagian Gea dan Brian sudah tak bersama lagi.”Sorak Didi, Bimo datang dengan membawa kursi tambahan.


“Jangan bilang kau mau duduk di sini.” Kencam Didi pada Bimo.


“Aku yang akan duduk di sini.” Gea duduk di antara Didi, dan Ervan.


“Siapa yang menyuruhmu duduk di sini?" Bentak Ervan.


“Yang mengangkat kursi ini-kan Bimo, kenapa kau yang protes?” Bentak Gea balik.


Kericuhan di mulai. “Hoiii!” Sorak keras Dodo. “Duduk yang rapi.” Ancam Dodo. Akhirnya, Tasya, Gea, dan Oliv


duduk di kursi. Lalu Ervan, Bimo, Didi, Kevin, dan Brian berdiri.

__ADS_1


__ADS_2