Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 13. Kutukan Murahan


__ADS_3

Brian masih duduk dengan sebuah buku di tangannya namun dengan Gea yang masih berputar-putar di dalam kepalanya. Ia mempercayai jika Gea adalah gadis murahan, selalu bermalam dengan teman laki-lakinya, dan bahkan menjual dirinya seharga 200 ribu selama sebulan. Apalagi, ditambah dengan pernyataan Oliv yang meyakinkan. Tapi, ketika mendengar ucapan Kris tentang Gea, membuatnya ragu akan pernyataan Oliv. Tanpa ia sadari, Gea sudah duduk disampingnya, dan menyalin habis tugas miliknya.


“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Brian dengan sangat syok.


“Apa kau sedang memikirkanku?” Tanya Gea balik, dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Brian.


“Tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?” Tanya Brian lagi.


“Kenapa kau begitu terkejut ketika melihatku?” Bisik maut Gea sembari menghisap ingusnya.


“Karena kau Branmur, menjijikkan.” Jawab Brian dengan wajah kesal lalu berdiri.Gea tampak berpikir tentang ucapan Brian. Dia tersenyum licik, lalu memanggil nama Brian.


“Hoi Brian.” Sorak manja Gea sembari meraba pelan dada besarnya, dan menggigit geli sudut bibirnya. Brian tercengang melihat aksi Gea, dan bergegas berjalan keluar perpustakaan.


“Mampus kau Brian. Kau mengatakan aku menyedihkan, murahan, dan menjijikkan. Aku akan membuatnya menjadi nyata. Dan aku akan membuat ludah yang kau buang, menjadi minuman segarmu.” Guman kesal Gea dengan wajah menahan amarah.


“Woi, jamnya sudah habis, saatnya jam olahraga. Ayo ganti baju.” Ajak Lia sembari mengunyah kacang goreng


ditangannya. Setelah berganti baju, mereka langsung berjalan menuju lapangan. Buk Leni sudah berdiri tegap dengan pluit di bibirnya. Ia memberikan komando untuk melakukan pemanasan.  Tanpa sengaja, Gea berdiri pada baris paling belakang dan tepatnya di samping Brian.


“Wah, wah wah, ini pasti akan sangat menyenangkan.” Bisik Gea dalam hati. Lagi, akal licik Gea datang menghampirinya. Gea mulai melakukan gerakan pemanasan dengan gerakan-gerakan hot yang disengaja. Padahal Gea mengenakan pakaian olahraga yang sangat longgar atau bisa di katakan terlalu besar untuk dirinya. Gea bahkan dengan sengaja memperlihatkan tali kutangnya pada Brian, dan tersenyum genit. Melihat itu, Brian langsung cari tempat aman dengan meminta teman di depannya untuk berganti posisi.


“Ahahahaha, tak sanggup kau kan Brian, melihat warna hitam tali kutangku. ****** kau gigi jalur dua. Akan aku hujani kau dengan rayuan murahan ala ludah yang kau lempar di wajahku.” Bisik Gea dalam hati.. Gea tampak ingin tertawa lepas. Pluit penutup pemanasan berbunyi.


“Oke, mengingat rapat guru kemarin. Ibuk memiliki sebuah informasi. Dimana, olahraga khusus untuk kelas 12, hanya berlangsung selama 3 bulan di semester ini. Dan itu artinya, ini adalah saat-saat terakhir kita. Kita sudah jalan 2 bulan, berarti tinggal 1 bulan lagi. Dan rencananya, minggu depan ibuk sudah mulai merekap nilai UAS olahraga kalian. Ujian pertama kita adalah lari jarak 500 M. Yang kedua, senam lantai. Yang ketiga lompat jauh. Yang keempat basket untuk laki-laki, dan volley untuk perempuan. Yang terakhir lari jarak 1500M.” Ibuk Leni menjelaskan.


“Yaaa,.” Keluh serentak murid.


“Jangan mengeluh, itu hanya ujian sekolah belum ujian hidup. Hari ini kalian silakan berlatih.” Ibuk membawa dua orang murid untuk mengambil bola basket dan volley di ruangannya.


“Mati sudah, senam lantai.”  Gea  terkapar ditengah lapangan, menantang sinar matahari. Tiba-tiba Brian datang dan menghalangi sinar tersebut.


“Woi, menyingkirlah, aku ingin menghitamkan kulitku.”


“Apa maksudmu dengan gerakanmu tadi?” Tanya Brian dengan wajah penuh amarah. Gea sedikit tertawa, dan langsung duduk.


“Gerakan yang mana?” Tanya Gea balik dengan tersenyum manis, lalu menggedipkan mata kirinya. Brian hanya menatap Gea.


“Apa kau sudah gila?” Tanya Brian lagi.


“Apa yang ini?” Bisik Gea sembari meraba pelan dadanya. Melihat aksi Gea yang tidak tau malu, Brian langsung pergi menepi dari lapangan.


“Pria pemberani, kau akan segera tenggelam dengan ludahmu, lalu kau akan mengatakan aku ingin menjadi pacarmu.” Guman Gea dan ikut menepi.

__ADS_1


Bel pulang berbunyi, Gea langsung melangkah menuju halte bus. Sementara Brian berjalan lambat di belakangnya. Brian tampak memperhatikan Gea. Sementara Gea berjalan sembari bergurau dengan Lia dan Dina. Mereka


berpisah di halte Bus. Gea naik keatas Bus.“Apa aku telah melakukan sebuah kesalahan?” Guman Brian sembari ikut naik ke atas bus. Untuk mencari aman, Brian memilih tempat duduk di kursi depan. Dan Gea duduk di kursi belakang. Gea langsung duduk dan memangku tasnya, lalu tertidur pulas tanpa memperdulikan situasi. Mulut Gea terbuka seolah-olah ia sedang tidur di kamarnya. Brian kembali tercengang melihat Gea. “Apa dia sedang bermain peran?” Tanya Brian lagi. Di halte selanjutnya, beberapa siswa sekolah lain yang berpenampilan seperti preman naik ke atas bus. Mereka melihat Gea dan memantau situasi. Satu diantaranya duduk disebelah Gea. Brian mulai mengawasi dari kejauhan. Satu jam didalam bis. Siswa itu membangunkan Gea.


“Kak, sudah sampai.” Bisik pelannya membangunkan Gea. Gea yang masih separuh sadar berjalan turun. Satu hal yang ditangkap oleh Brian, jika Gea telah dilindungi oleh sekelompok siswa yang seperti preman tadi. Brian masih memperhatikan Gea yang berjalan di depannya.


“Aku merasakan jika si gigi 2 jalur ada di belakangku.” Gea yang sadar lalu mulai berbuat nakal. Gea mulai menggoyangkan pinggul seksinya ke kiri dan ke kanan, lalu menoleh ke belakang dan memutar tubuhnya ke hadapan Brian.


“Braayeen.” Geamenepuk pelan dadanya ala Hyuna. Melihat Gea kembali beraksi, membuat Brian mempercepat langkahnya dan mendahului Gea.


“Mampus kau Brian. Kau yang menyatakan perang, aku yang akan merdeka. Dan juga, aku akan membuatmu masuk dalam siksaan nafsu maut. Lihat saja Brian, hehehe.” Guman Gea sembari tersenyum sinis ala pemeran


antagonis.


“Aaah, aku sangat lelah.” Gea berjalan menuju rumahnya.


Jam menunjukkan pukul 4 sore, Gea dan ketiga teman laki-lakinya sudah sampai di tempat les, tepatnya kelas gold. Mereka begitu menikmati pelajaran. Dan pada jam 6 sore, mereka mulai membuat aksi kembali. Tapi kali ini mereka pergi ke warnet untuk bermain game online. Hingga jam menunjukkan pukul 9 malam. Ketika pulang mereka berjumpa dengan Oliv dan Brian, yang berjalan di depan mereka.


“Mereka terlihat serasi.”  Mulai Bimo membuat Didi tertawa geli dan memukul pelan lengan besarnya.


“Khikhikhikhik.” Ervan mengingat kejadian tadi pagi.


“Bagaimana jika kita mendahului mereka, sambil nyenggol dikit.” Ajak Ervan dengan wajah licik.


“Ya ampun, Ervan sudah mulai ikut-ikutan.” Bisik Gea dalam hati.


“Ciee-ciee yang berasa komplek milik berdua. Padahal nyatanya masih nyewa.” Sindir Didi dengan suara cempreng, membuat langkah Brian dan Oliv berhenti dan melirik tajam pada Didi, Ervan dan Bimo.


“Kalian ini benar-benar tidak ada bosannya.” Kencam Oliv dengan wajah yang sangat emosi. Tetapi Didi, Ervan, dan Bimo tampak masa bodoh, dan terus berjalan. Melihat itu, Gea kembali berpikiran nakal.


“Aku sampai lupa jika aku sedang berperang dengan si gigi.” Gea berjalan cepat dan berdiri di depan Brian.


“Brian. Muach.” Gea membalas kencaman Oliv, membuat Oliv semakin meradang.


“Woi Gea, jaga sikap dong.” Teriak Oliv yang terlihat cemburu. Teriakan itu menghentikan langkah Ervan, Didi, dan Bimo. Mereka bertiga menoleh ke belakang, dan berjalan menghampiri Gea.


“Gea, jangan bilang kalau kau ingin menambah koleksi timunmu. Khikhikhik.” Tatap Ervan sembari tertawa geli.


“Jangan gatal sama laki Oliv. Kau ini, ayo pulang!” Tarik manja Didi membawa membawa Gea bersamanya.


“Brian, duluan yaa. I love you so much! Muah, muah.” Gea mengambil kesempatan sembari mengkedipkan mata kirinya. Ervan menjentik pelan dahi Gea.


“Kau ini, jangan rebut laki Oliv.” Teriak Didi seraya memanas-manasi.

__ADS_1


“Oh tidak, aku sudah jatuh cinta.” Lirih Gea membuat ketiga teman laki-lakinya tertawa.


“Khakhakhakhak.” Tawa Bimo, Ervan, dan Didi. Oliv terlihat marah, sementara Brian hanya terdiam melihat aksi Gea.


“Apa Gea mengetahui dirimu yang sebenarnya?” Tanya Oliv dengan kesal.


“Tidak.” Jawab Brian dengan sedikit tersipu malu, namun matanya masih memperhatikan Gea.


“Sepertinya iya, dia sudah tertarik padamu. Sekarang aku jelaskan, Gea itu bukan wanita baik-baik. Dia itu wanita murahan. Kau bisa melihatnya di bus tadi pagi, dia lebih senang berdiri diantara laki-laki. Itu sudah menjelaskan semuanya.” Jelas Oliv lalu berjalan mendahului Brian. Brian hanya berjalan pelan dan berusaha menelan kata-kata Oliv.


Sesampai di rumahnya, Brian langsung masuk ke dalam kamarnya, membuka topeng diwajahnya  dan merebahkan tubuhnya. Dia langsung memejamkan matanya. Bayangan Gea dengan sangat seksi mulai mengahantuinya. Ia kembali membuka matanya. Ia merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.


“Apa ini kutukan?” Tanyanya sembari mengusap matanya. Ia memutar badannya dan memeluk bantal gulingnya.


“Hahaha, gadis gila. Hahahahaha, Braaaayeeen. Hahahaha, I love you so much.” Brian tertawa seperti orang gila.  Setelah ia lelah tertawa, Brian langsung tertidur pulas dan masuk ke dalam mimpi.


Di sebuah restoran, telihat dua anak kecil yang sedang asyik memilih menu makanan.


“Apa kau yakin kita berdua akan makan disini?” Tanya gadis kecil itu pada seorang si anak laki-laki yang duduk dihadapannya.


“Iya, sekarang pilih makanan yang kau suka.” Jawab si anak laki-laki sembari membalik menu makanan.


“Aku ingin ini.” Gadis kecil itu memilih Teh es, membuat si anak laki-laki tertawa.


“Kau jauh-jauh ke sini hanya untuk minum teh es?” Tanya si anak laki-laki  memesan makanan yang lebih elit.


“Aku suka teh es.” Gadis kecil itu menutup menu makanannya.


“Aku takut mama mencariku.”


“Mamamu tidak akan mencarimu, selagi kau bersamaku.” Anak laki-laki itu membuat gadis kecil itu tersenyum.


“Benar, jika aku bersama Dinoku. Aku pasti akan baik-baik saja.” Gadis kecil itu tersenyum malu. Pesanan mereka datang. Gadis kecil itu hanya memandang makanannya.


“Kenapa? Ayo makan makananmu.”


“Aku tidak suka.” Gadis kecil itu melihat sayuran terutama wortel di dalam makanannya.


“Kau tidak akan menjadi cantik jika tidak mau memakan sayuran. Makanlah.” Si anak laki-laki, mendekatkan piring pada gadis kecil tersebut.


“Aku tidak mau.” Gadis kecil itu lagi, sembari meminum teh esnya. Anak laki-laki itu berinisiatif menepikan seluruh sayuran dalam piring gadis kecil tersebut.


“Makanlah.” Gadis kecil itu mulai memakan makanannya. Tiba-tiba, Gea muncul dengan pose lebih seksi. Gea mulai berjalan melangkah kearah Brian. Gea mengkecup pelan bibir Brian. Brian mulai menikmati permainan Gea. Hingga pagi tiba, Alarm membangunkan Brian.

__ADS_1


“Aaaakh!!” Teriaknya melihat celananya sudah basah.


“Gadis itu, membuatku gila.” Kencamnya berlari ke kamar mandi.


__ADS_2