
“Gea, kau dengar tidak.” Lia menyenggol bahu Gea.
“Iya, apa?” Tanya Gea.
“Aku penasaran, kenapa wajah kakakmu bisa berubah?” Tanya Lia.
“Berubah bagaimana? Dari dulu juga seperti itu.” Jawab gea.
“Aku sudah membandingkan fotonya, kau jangan berbohong. Apa dia melakukan operasi plastik?” Tanya Lia.
“Tidak.” Jawab Gea.
“Lalu?”
“Ya, seperti itu saja.”
“Bum bam!” Lia memukul pelan perut Gea.
“Ahahahah, iya iya, akan aku ceritakan.” Gea menceritakan kisah yang sebenarnya.
“Waaah, berarti Gina yang sekarang, adalah kakak kandungmu. Pantas saja, kalian sangat mirip. Sebenarnya, aku pernah bertemu dengannya di rumah sakit. Kau juga memiliki foto dengannya. Makanya, aku curiga padamu. Dan kenapa kau tidak menceritakannya kepada kami?” Tanya Lia dengan membalik maskernya.
“Aku butuh waktu yang tepat, untuk menceritakan semuanya.” Jawab Gea.
“Iya, iya, ini waktu yang sangat tepat.” Potong Dina.
“Aku suka gaya kakakmu, yang santai namun tetap berwibawa.”Kagum Lia.
“Semua orang bilang begitu.” Jawab Gea, Ponsel Lia berbunyi, dengan sigap Lia mengangkatnya.
“Ya, Gisel.”
“Aku sudah di bawah, bisa jemput aku.”
“Oke, aku akan turun.” Lia bangun.
“Kau mau kemana?” Tanya Dina.
“Artis terkenal itu ingin di jemput.” Jawab Lia. Beberapa lama kemudian, Gisel muncul dengan wajah berbinar layaknya manusia yang baru terkena hujan cinta.
“Aku ingin tau skin care merk apa yang dia gunakan?” Bisik Dina pada Gea.
“Skin care merk cinta Kevin, apa kau mau?” Bisik balik Gea.
“Bagaimana kencanmu?” Tanya Lia pada Gisel
“Kencan? Tidak, kami tidak berkencan.” Gisel membuka jaketnya dan menggantungnya di lemari Lia.
“Bohong, jelas-jelas mereka berdua memang sudah berkencan. Gisel, memangnya kau pikir dunia ini adalah lahan untuk menanam cintamu dan cinta Kevin. Tolong, beri kami sedikit lahan untuk menanam cinta kami.”Umpat Dina membuat Gea tertawa.
“Sumpah, aku tidak berkencan dengannya, kami hanya berteman.” Sumpah Gisel membuat Gea bangun dan menatap wajah Gisel.
“Benarkah? Apa dia membuat sebuah hubungan gantung kaki padamu?” Tanya Gea dengan berpikir.
“Apa maksudmu dengan hubungan gantung kaki?” Tanya Lia.
“Hubungan yang diibaratkan hanya menggantungkan kakimu ke sebuah pohon, yang berarti hubungan yang sia-sia dan menyakitkan layaknya hubunganmu dengan seorang timun. Tapi, bagaimana mungkin Kevin melakukan itu?” Tanya Gea.
“Timun?” Tanya Dina.
“Dulu, ada seorang pemuda yang medekatiku dengan cara mengirimkan timun. Tenyata, sikap pemuda itu sangatlah tercela untuk dijadikan pasangan. Makanya, pria pecundang, dan yang seperti itu aku sebut Timun.” Jawab Gea.
“Aku, aku tidak tau. Bukankah dia temanmu, seharusnya kau lebih mengerti dia ketimbang aku.”
“Mmmm, lalu bagaimana dengan perasaanmu padanya?” Tanya Gea,
“Aku nyaman, terlebih setelah skandal kami usai dan beberapa kontrakku dibatalkan. Aku bahkan sangat berterima kasih padanya. Karena dia sudah menyadarkanku.” Gisel tersenyum menjelaskan betapa bahagianya dirinya.
“Bagaimana jika Kevin menyukai Dina?” Tanya Gea. Gisel menatap Dina dengan tatapan tajam. Gea dan Lia menangkap tatapan Gisel yang sudah jatuh cinta pada Kevin.
“Lah, kok suka sama aku?” Tanya Dina rancu.
“Wah, dia jatuh cinta.” Lia menyenggol bahu Gea.
“Baiklah, aku akan membantumu. Bagaimana jika minggu depan?” Tanya Gea.
“Setuju.” Sorak Lia dan Dina.
“Minggu depan, mau apa?” Tanya Gisela rancu.
“Membuat Kevin menyatakan cinta padamu.” Bisk Gea dengan tersenyum manis.
__ADS_1
**
Ujian telah selesai, misi mereka akan mereka jalankan. Brian melihat Gea sedang menempelkan kertas kecil di setiap sudut tembok dan tiang sekolah. Brian mulai mencabut, satu persatu kertas, dan sesekali tersenyum malu
membaca pesan yang ada di kertas tersebut. Ketika ia mendekat kearah Gea. Brian berdehem.
“Ehem.” Gea menoleh.
“Eh, kau ada di sini sayangku, cintaku, lope-lopeku, hatiku, seluruh jiwa dan ragaku hanya untukmu.” Sapa Gea membuat Brian merasa merinding dan merasa sangat bersalah akan dehemnya.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Tanya Brian.
“Ini, aku sedang menempel pesan cinta Gisel untuk Kevin.” Jawab Gea dengan memperlihatkan segulung kertas yang akan ia tempel. Brian melirik kertas yang ada di tangannya.
“Apa kertas ini bukan untukku?” Tanyanya dengan memperlihatkan beberapa lembar kertas kecil di tangannya.
“Kenapa kertas ini ada di tanganmu? Aduuuh, bukan, ini untuk Kevin. Tempel lagi!” Bentak Gea, membuat Brian terkejut.
“Kau, membentakku. Bukankah, aku ini sayangmu, cintamu, lope-lopemu, hatimu dan seluruh jiwa dan ragamu. Maka, lakukan sendiri demi diriku.” Bisik kejam Brian dengan memberikan kertas tersebut pada Gea, lalu pergi meninggalkannya.
“Dasar, Brian gigi 2 jalur. Lihat saja nanti, aku akan membalasnya.” Umpat Gea dengan berbalik arah dan menempelkan kertas itu kembali.
“Mataku tak mampu berkedip, ketika aku melihatmu.” Gea menoleh, dan itu adalah Brian. Gea menatap Brian dengan tatapan kesal. Brian mendekat ke hadapan Gea.
“Bibirku kelu ketika kau tersenyum. Jantungku, berdebar ketika aku memegang tanganku.” Brian dengan memegang tangan Gea.
“Hanya kau, hari-hari di dalam hidupku.” Brian mencium tangan Gea.
“Kau terlalu sibuk mengurus cinta orang lain, hingga kau mengabaikanku. Tapi aku, tetap mencintaimu Geaku.” Senyum Brian.
“Jika aku tidak mengurus ini, maka bisa saja Gisel merebutmu dariku wahai Brianku.” Gea dengan menarik tangannya lalu kembali menempel kertas tersebut.
Waktunya, tiba. Kevin kembali dari perpustakaan. Akhir-akhir ini Kevin sering membaca buku romantis yang ada di perpustakaan. Gea, Dina, dan Lia duduk di mejanya. Kevin tersenyum pada Gea, Gea membalas senyuman Kevin dengan semanis mungkin.
“Senyuman gadis ini, membuatku merasa jika ada sesuatu yang tidak beres. Aku tau betul lebar senyumnya itu, adalah sebuah pertanda buruk.” Bisik Kevin dalam hati, lalu duduk di mejanya. Ketika, ia membuka tasnya, ia melihat sebuah permen loly dengan secarik kertas. Kevin membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.
“Pertemuan kita adalah sebuah mimpi burukku.” Kevin melirik Gea dengan tatapan membunuh.
“Aku ini mimpi burukmu, Gea jahanam.” Kencam Kevin pada Gea. Gea menunjuk kearah meja yang ada di sebelahnya. Kevin kembali menemukan sebuah kertas, dan kembali membacanya.
“Mimpi burukku, coba temukan aku.” Kevin kembali menatap Gea.
“Apa maksudmu?” Tanya Gea. Kevin yang emosi, berjalan keluar, dan kembali melihat sebuah kertas tertempel di pintu.
“Aku bukan Gea, jika kau marah padanya, berarti kau belum bangkit dari cintanya.” Kevin menoleh pada Gea lalu tampak berpikir lama. Kevin kembali berjalan dan mengikuti secarik demi secarik kertas.
“Satu hari kita menjadi musuh.”
“Aku benar-benar muak melihat wajahmu.”
“Dua hari aku menjadi rindu.”
“Aku benar-benar membencimu.”
“Tiga hari aku mencari tau tentang dirimu.”
“Ku tau, kau dewa yang terjatuh dari langit.”
“Empat hari aku sadari hal itu.”
“Hal, tentang salahku padamu.”
“Lima hari kau bawa madu dan lebah untukku.”
“Kau berikan rasa sakit yang nyata, untuk menyadarkan angkuhku.”
“Enam hari kau ajak aku berteman.”
“Aku benar-benar bahagia, dengan dirimu teman terbaik di hidupku.”
“Tujuh hari, aku ingin sesuatu yang lebih dari itu.”
“Dan hari ini.” Kevin berhenti di tepi lapangan basket, lalu menatap ketengah lapangan basket. Seorang gadis berdiri dengan seikat balon di tangannya dengan posisi membelakanginya.
“Cieee-ciee. Kepiin.” Sorak Gea memicu kericuhan. Beberapa siswa yang berada di dekat lapangan basket mulai mendekat membentuk sebuah lingkaran.
“Apa kau yang pemilik kertas ini?” Tanya Kevin dengan pelan, gadis itu berbalik. Kevin tampak sangat terkejut, dan tidak percaya dengan aksi gadis ini.
“Gisel.” Kevin menatap Gisel, lalu memperhatikan ke sekeliling lapangan, dan mulai menutup wajahnya karena malu.
“Cieee-cieee kepiin maluuuu.” Sorak Gea lagi berupaya memanas-manasi.
__ADS_1
“Ini pasti ide Gea si bodoh, idiot, dan tak tau diri itu. Dia bahkan berusaha memanas-manasi situasi dari sana. Astaga, ini memalukan sekali. Jantungku juga tidak bisa berhenti berdetak. Sepertinya aku, sudah jatuh cinta pada gadis angkuh ini. Bagaimana ini?” Bisik Kevin dalam hati.
“Iya, itu milikku. Ini, kertas terakhir untukmu.”Gisel memberikan Kevin kertas terakhir. Kevin menerimanya, lalu terdiam lama.
“Kau, ingin aku menjadi pacarmu. Apa kau yakin?” Tanya pelan Kevin.
“Ya, apa kau mau menjadi pacarku?” Gisel memberikan Kevin seikat balon warna-warni. Kevin melirik Gea yang berada di tepi lapangan. Gea mengangguk, dan seraya memberikan sorot mata membunuh.
“Ayo terima Kevin, atau aku akan mencekikmu tepat di depan para manusia ini.” Bisik Gea dalam hati. Kevin menatap Gisel, lalu kembali melirik Gea.
“Gea, aku tau ini adalah idemu. Apa kau sudah gila? Ini memalukan!” Sorak Kevin membuat semua orang terdiam. Gisel mundur dua langkah, ia seperti takut jika Kevin menolak cintanya. Kevin melangkah cepat ke hadapan Gea, dan menarik Gea ke tengah lapangan.
“Ambil balonmu itu, darinya!” Bentak Kevin pada Gea.
“Itu bukan balonku, itu balon milik Gisel!” Bentak balik Gea.
“Apa ini caramu untuk menjauhkanku darimu? Apa dengan keberadaan Brian, itu tidak cukup untukmu?” Tanya Kevin pada Gea.
“Tidak, aku ingin dia juga berada diantara kita.” Jawab Gea. Kevin melangkah ke hadapan Gea. Melihat itu, Brian ingin mendekat dan menyelamatkan Gea dari Kevin, namun Haris menghentikannya.
“Aku memang sudah lama bersama Gea. Tapi mereka telah lebih dahulu bersama dan sempat saling melukai. Biarkan luka yang tak kunjung sembuh itu, menyembuhkan dirinya. Baik kau, atau aku hanya bisa menonton dari sini.” Bisik Haris, membuat Brian menatapnya dengan tatapan heran. Haris tersenyum dan menepuk pelan bahu Brian.
“Bukankah ini menyenangkan.” Kevin menatap Gea dengan tatapan tajam.
“Aah, aku tau maksudmu. Cih, kau masih ingat akan wibawa pangeran di buku dongeng itu.” Bisik Gea pada Kevin.
“Ya, ini menjatuhkan harga diriku. Ayo, ambil balonnya.” Bisik Kevin pada Gea. Gea melangkah ke hadapan Gisel dan mengambil balon itu dari tangan Gisel.
“Sepertinya, ini bukan harimu Gisel. Maafkan aku.” Gea merampas balon itu dari tangan Gisel. Gisel tampak terkejut, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia mengira jika Gea tengah mempermainkannya. Gea membawa balon tersebut, dan memberikannya pada Kevin.
“Ini, apa sekarang kau sudah puas? Jika hanya dengan balon itu, kau pikir dia akan menerimamu. Dasar idiot!” Bentak Gea pada Kevin. Gisel menatap heran pada Gea dan Kevin yang masih berdebat.
“Cih, ini benar-benar gila.” Gea meraba dadanya, dan mengambil sebuah cincin yang ia selipkan
dibelahan dadanya.
“Ini, ini adalah cincin milik Ibumu yang kau berikan padaku. Pecundang, timun, kaulah timun pertama di dalam hidupku. Jangan sampai kau mengecewakan dia, seperti kau mengecewakanku. Ini, terimalah.” Gea memberikan
cincin itu pada Kevin. Kevin tertunduk, seraya mengingat masa lalu mereka.
“Kenapa? Kevin-ku yang idiot, walau kau bersamanya, aku akan tetap ada bersamamu. Bukankah aku ini temanmu.” Bisik Gea dengan tersenyum manis. Kevin mengangkat kepalanya dan langsung memeluk Gea.
“Maafkan aku, maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Kevin melepaskan pelukannya. Melihat Kevin yang memeluk Gea,Gisel langsung berbalik dan melangkah pelan menepi dari lapangan basket.
“Issh kau ini, terlalu sering meminta maaf. Lihat, pacarmu sudah menepi.” Tunjuk Gea.
“Gisel” Sorak Kevin membuat langkah Gisel terhenti.
“Kau mau ke mana?” Kevin berlari pelan ke hadapan Gisel dengan balon di tangan kanannya.
“Seharusnya, akulah yang melakukan semua ini untukmu. Kau gadis pemberani, dan kau berhasil membuatku malu.” Kevin tersenyum malu.
“Gisel, maukah kau menjadi pacarku?” Tanya Kevin dengan memberikan cincin tersebut pada Gisel. Gisel melirik Gea yang memberi kode supaya Gisel menerimanya.
“Aku melihat Gea memberikan cincin ini padamu.”
“Dulu, aku memberikan cincin ini pada Gea, cincin ini adalah cincin yang di turunkan oleh kakekku pada Ayahku. Ayahku juga melamar ibuku, dengan cincin ini. Pada saat kami terluka, Gea mengembalikan cincin ini padaku.
Tapi, aku menolaknya, lalu Gea membuangnya. Pada saat itu, aku memungut cincin ini, dan mengembalikan cincin ini padanya, lalu membuat perjanjian. Perjanjian dimana, aku akan menerima cincin ini kembali, jika aku menemukan gadis yang baik untukku. Sebenarnya, sejak kemarin aku ingin meminta cincin ini padanya, tapi dia malah memberikannya padaku, dan membantumu dengan kertas cintanya. Gisel, aku adalah tipe pemuda yang malas membaca dan membenci cerita romansa, tetapi setelah aku mengenalmu, aku tiba-tiba menyukainya, karena hanya dengan pembahasan itu, aku bisa berkomunikasi denganmu. Kau harus tau, semua tentangmu, adalah hal yang paling penting dalam hidupku.” Gisel menyeka air matanya, dan menjulurkan tangan kanannya. Kevin memasang cincin tersebut di jari manis Gisel. Gisel mengambil balon di tangan Kevin dan menerbangkannya ke langit.
“Aku benar-benar mencintaimu Kevin.” Kevin langsung memeluk Gisel.
“Huuuuuuuuuuuuuuu.” Tepuk tangan semua siswa yang ada di tepi lapangan.
“Cie-cieeee aaaaaa, aku jadi terharuuu.” Teriak Gea. Gea kembali mengingat rencana minggu lalu.
“Apa kau sudah gila? Bagaimana mungkin seorang gadis menyatakan perasaannya duluan?” Tanya Dina dengan bangun.
“Aku lebih tau tentang Kevin. Kevin itu selalu dipuja oleh gadis, tetapi sangat jarang gadis yang menyatakan cinta secara langsung padanya. Nah, itu kesempatanmu Gisel.” Rayu Gea.
“Kenapa kau begitu ingin mengkukuhkan hubungan mereka?” Tanya Lia.
“Aku takut dia menikungku.” Jawab Gea.
“Ish si Brian, aku sama sekali tidak selera dengannya. Dia dingin seperti es, bagaimana bisa kau bersama dengannya? Aku yakin, pasti hari-harimu sangat membosankan.” Sindir Gisel membayangkan perilaku Brian.
“Sekarang, kau ingin melakukannya, atau tidak.” Tawar Gea.
“Iya, yaya, baiklah bagaimana caranya?” Tanya Gisel.
“Kertas cinta.” Jawab Gea tersenyum licik membayangkan rencana kertas cinta yang ia siasatkan.
__ADS_1