
Brian sibuk tersenyum-senyum sendiri sembari memandang foto gadis kecil yang berada di kakinya. Seseorang datang dan mengetuk pintu.
“Tok,tok, tok. Brian, apa kau sudah tidur?” Tanya ibunya.
“Belum Bu.” Jawabnya sembari membuka pintu kamarnya.
“Kau terlihat nyaman dengan kamar ini.” Bisik Ibunya dengan wajah licik menggoda.
“Mmmm.” Angguknya.
“Apa kau menemukan sesuatu yang bisa membantumu untuk berdiri kembali?” Tanya Ibunya lagi dengan wajah sendu menatap sekeliling isi kamar.
“Iya, tapi aku masih belum bisa mengingatnya.” Jawabnya sembari kembali duduk diatas kursi yang berada di depan meja belajarnya.
“ Kau pasti bisa mengingatnya. Oh iya, Ibu sudah mendaftarkanmu ke sekolah favorit di daerah ini. Kau pasti suka. Dan juga, untuk mengejar ketertingalan pelajaranmu, Ibu juga mendaftarkanmu les yang berada di depan komplek. Jadi, sepulang sekolah, kau bisa langsung pergi les.” Ibu Brian meletakkan beberapa berkas dan seragam sekolah baru di atas meja belajar Brian.
“Ya sudah, besok kau harus bangun pagi untuk pergi ke sekolah. Beristirahatlah.” Ibunya keluar dan menutup pintu. Brian mematung melihat seragam sekolah yang ada dihadapannya. Kembali rasa frustasi itu datang. Sebuah rasa, yang membuatnya ingin mati. Ia merasa ketakutan akan sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui. Untuk mengurangi rasa yang semakin menjadi-jadi, Brian mengambil beberapa bungkus rokok yang berada di dalam tasnya. Ia mulai menghisap satu demi satu batang rokok. Tak terasa, jam menunjukkan pukul 2 pagi. Sebuah sinar mulai menerangi kamar gadis yang berseberangan dengan kamarnya, tak lupa, beberapa kerikil, mulai berlantun girang di kaca kamarnya. Brian kembali mengintip keluar. Ia melihat dua orang anak laki-laki sedang menunggu di bawah pohon dengan senter di tangannya. Sementara gadis itu mulai memanjat jendelanya. Sinar senter mulai menerangi jalan gadis itu di tengah taman bunga yang bejajar rapi.
“Apa yang mereka lakukan pada tengah malam ini?” Tanya Brian sembari mematikan rokoknya. Ia kembali melihat, jika salah satu anak laki-laki itu menutup mulut gadis itu dan menyeretnya.
“Apa mungkin?” Bisik Brian dengan wajah tidak percaya. Dia berpikir jika gadis itu seorang wanita panggilan. Setelah kisaran 2 jam, gadis itu kembali dengan 3 orang pria. Ini membuat Brian berpikir jika gadis itu adalah gadis murahan. Ia berdecih lalu tidur.
“Kenapa aku seperti ini? aku baru melihatnya tadi, dan aku segitu ingin tahunya.” Brian memejamkan mata.
Paginya, Brian bangun, lalu langsung bersiap hendak pergi ke sekolahnya. Ketika ia hendak membuka pintu, ia melihat seorang gadis dengan seragam sekolah yang berbeda dengan seragamnya. Gadis itu seperti sedang
menunggunya di bawah pohon yang berada tepat di depan rumahnya dengan memegang sebuah kamera di tangannya. Gadis ini terlihat manis dengan rambut pendeknya. Brian tersenyum pada gadis itu. Namun, gadis itu memberi respon dengan wajah menjijikkan pada Brian, dan melangkah cepat menuju depan komplek. Brian tau
jika dengan penampilannya ini, semua orang akan memandang jijik padanya. Itulah yang diinginkannya.
Ia melangkah menuju mobil ibunya yang sudah terparkir di tepi jalan. Ia langsung naik, dan berangkat menuju sekolah barunya.
“Kau akan memulai semuanya disini.”Brian melangkah turun dari mobil ibunya.
“Semoga.” Sahutnya lalu melangkah menuju gerbang sekolah. Brian melintasi sekumpulan pemuda yang sedang berdiri di depan gerbang. Salah satu pemuda, menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Parfummu!” Bisik kencamnya pada Brian sembari menarik kerah baju Brian. Pemuda ini lebih pendek dari Brian, sehingga ia sedikit injit untuk meraih baju Brian.
“Maaf, kantor kepala sekolah ada dimana ya?” Tanya Brian dengan ramah.
“Kantor kepala sekolah?” Ia mulai memberi kode pada pemuda lain, dan membawa Brian menuju ke sebuah tempat.
“Di sini. kantor kepala sekolah.” Jawab pemuda itu sembari mendorong Brian dengan kuat pada sebuah tiang. Pemuda itu mulai melempar kaca mata Brian dan mulai melucuti pakaiannya. Ia tersenyum sinis. Apakah ini yang namanya penindasan? Pikirnya dalam hati. Biasanya dalam film ia menjadi bintang utama yang selalu menjadi penindas, dan di dunia nyata itu semua tidak berlaku. Brian mulai menikmati acara penyambutannya. Tanpa
perlawanan, ia mengikuti bagian demi bagian hingga seorang gadis datang dengan beraninya. Gadis itu, adalah tetangganya. Gadis itu mulai menawarkan dirinya dengan harga 200 ribu satu bulan dengan transfer Flasdisk. Itu membuatt Brian tidak habis pikir. Dalam sekejap penindasan bubar. Gadis itu mulai membantunya, namun rasa jijik Brian membuatnya tidak ingin terlibat lebih jauh dengan gadis itu.
“Aku tidak akan membalas semua ini.” Bisiknya dengan geram, lalu melangkah meninggalkannya dan menuju kantor kepala sekolah.
Setiba di kantor kepala sekolah, seorang guru menahannya.
“Brian El Dino?” Sapanya dengan perawakan yang sangat disiplin.”
“Hmmm.” Angguknya.
“Saya, Rosa. Biasa dipanggil Buk Ros. Kau akan bergabung dengan kelas 12 IPA 2, dan saya adalah wali kelasnya. Oh iy, mana Gea Semenip?” Tanya Ibu guru itu membuat Brian tidak mengerti.
“Oke, kau tidak perlu menemui kepala sekolah. Itu, Pak Jon akan menemanimu langsung ke kelas.”Bu Guru itu menyuruh Brian untuk mengikuti bapak itu. Brian melintasi lorong demi lorong kelas. Sampailah ia di kelas 12 IPA 3. Ia mulai memperhatikan seisi kelas. Lagi, matanya terhenti pada seorang gadis, yang rambutnya di belai manja oleh angin nakal. Dan lagi, gadis itu adalah tetangganya yang sangat menjijikan. “Gadis ini lagi. Apakah ini benar jalanku?” Bisiknya dalam hati sembari melangkah menuju kursi kosong yang berada di samping gadis itu.
“Gea, kali ini kau tidak akan jomblo.” Bisik goda salalah satu temannya. Namun, bisikan itu di dengar oleh Brian. “Ternyata namanya Gea.” Bisik Brian dalam hati. Brian mulai duduk dan merapikan dasinya. Sangat menjijikkan baginya untuk bisa duduk si sebelah wanita murahan ini.
“Aku sudah punya pacar.” Sahut Gea dengan keras supaya Brian mendengarnya dengan jelas.
“Khikhikhik.” Tawa Lia sembari mendorong bahu Gea dari belakang. Brian tidak peduli dan mulai membuka beberapa bukunya.
“Kau. Aku harap kau bisa menjaga ucapanmu. Dan mulai mempelajari sopan santun sebagai manusia.” Bisik Gea dengan geram pada Brian dengan tatapan mata ingin membunuh.
“Kau pikir, aku ini pengabul harapanmu? Cih.” Bisik balik Brian dengan wajah menjijikkan.
“Gigimu.” Bisik Gea dengan wajah tidak percaya melihat lapis gigi Brian. Gea mulai mundur dari tatapannya. Brian hanya tersenyum sinis. Ia tidak peduli dengan ucapan Gea. Sementara Gea meraih kaca yang berada di laci mejanya, dan mulai melihat berapa lajur giginya. Gea kembali melirik gigi Brian. Dan mulai berbisik ke belakang.
“Hei Lia, ada berapa lajur gigimu?”
__ADS_1
“Satulah. ******.” Jawab Lia dengan geram. Gea kembali menatap Brian.
“Bukankah pertumbuhan gigimu itu terlalu keterlaluan.” Bisik Gea lagi pada Brian dengan wajah yang sangat tidak percaya. Brian menoleh pada Gea yang dari tadi memperhatikan mulutnya. Tanpa canggung, Brian memperlihatkan semua giginya secara keseluruhan.
“Hoeek.” Gea langsung berlari keluar kelas karena tidak sanggup melihat gigi itu. Sementara teman-temannya tertawa terbahak-bahak.
“Hei, anak baru. Kau akan betah dengannya. Dia memang seperti itu. Akan muncul pertanyaan konyol. Dan sungguh tidak bisa dipercaya, ternyata kau pandai menjawabnya.” Dina tersenyum melihat Gea yang berlari keluar kelas.
Pelajaran Bahasa Indonesia dimulai. Hari ini pelajaran membuat surat dinas. Gea dengan apik menuliskan format surat tersebut pada catatannya.
“Ssst. Gea.” Bisik Dina sembari menggoyangkan kursi Gea.
“Apa?” Sahut Gea dengan memutar tubuhnya menghadap ke belakang.
“Ini.” Dina sembari memberikan secarik kertas ke tangan Gea. Gea kembali memutar tubuhnya menghadap ke depan dan membuka kertas tersebut. Brian ikut melirik isi kertas tersebut.
“Kencan? Apa kau sudah gila?” Tanya Gea pada Dina dengan melempar kertas itu ke belakang Dina. Melihat reaksi Gea yang seperti itu, membuat Brian menatap Gea.
“Kenapa?” Tanya Gea dengan dingin melirik tajam Brian.
“Dia memang masih junior. Sedang musimnya pacaran dengan brondong.” Bisik goda Lia di telinga Gea.
“Benarkah?” Tanya Gea sembari meraih ponselnya yang berada di dalam branya, lalu membuka google. Sudah peraturan sekolah untuk tidak boleh membawa ponsel ke sekolah, tapi Gea tetap membawanya dan menyelipkan ponsel tersebut di dalam branya. Brian kembali terheran melihat aksinya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Lia dengan geram dan menarik ponsel Gea dari yang tanggannya.
“Kembalikan, aku sedang melihat musimnya.” Jawab Gea hendak ingin menggambil ponselnya dari tangan Lia. Sementara Brian susah menahan tawanya. “Tidak disangka, dia juga menarik.” Bisik Brian dalam hatinya.
“Lihat Dina, ini adalah efek buruk dari kejonesannya selama ini.” Lia menggeleng prihatin.
“Benarkah, aku tidak merasa seperti itu.” Jawab Gea dan kembali merampas ponselnya dari tangan Lia.
“Jika tidak seperti itu, kami berdua menantangmu. Apa kau berani?” Tanya Dina dengan wajah berbinar-binar.
“Oke, tantangan apa? siapa takut.” Jawab Gea sembari merapikan poninya.
__ADS_1
“Siang ini, di Kafe Biru. Temui dia.” Bisik Dina dengan mata kerlap-kerlip seraya menatap Gea. Mendengar itu, jantung Brian terasa ingin berhenti dengan nafas yang sesak. “Ada apa ini? perasaan apa ini?” Tanyanya dalam hati.