
Diatas Bus, Lia menangis sejadi-jadinya. Karena begitu sedih, Lia tidak sadar jika Gea sudah sibuk merekam wajah sedihnya dan langsung memposting wajah menyedihkan tersebut di instagramnya. Melihat rekaman itu, Gea beberapa kali berusaha tertawa terbahak-bahak, dan ia tetap menahannya hingga hanya air mata yang berlinang sebagai wujud dari tawanya.
Gea dan Lia sampai di depan bandara. Dan secara kebetulan, Haris turun dari mobilnya.
“Hey, apa yang sedang kalian lakukan di sini?” Tanya Haris heran.
“Haris, tolong jaga kesehatanmu yaa. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Gea langsung memeluk Haris. Haris dengan bodohnya membalas pelukan Gea.
“Iya, itu pasti.” Jawab Haris. “Mampus kau Lia, kau akan mengingat kejadian ini pada seluruh hari-harimu. Khakhakhakhakhakhak.” Tawa Gea dalam hati. Haris melirik Lia yang menangis begitu dalam dan sampai tersedu-sedu.
“Haris, maafkan aku. Seharusnya aku mengatakan ini dari awal. Jika sebenarnya akulah yang mengirim paket-paket itu dan semua kata-kata itu. Tapi kenapa? Kenapa ketika aku ingin mengatakan semua ini kau malah pergi? Apakah Indonesia tidak menyenangkan? Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau sangat merindukan Indonesia.” Lia menangis tersedu-sedu.
“Ini saatnya aku pergi.” Umpat Gea dengan berlari kencang meninggalkan Haris dan Lia.
“Tunggu, apa maksudnya ini?” Tanya Haris yang melihat Gea sudah kabur duluan.
“Aku tidak ingin kau pergi. Aku mohon, jangan tinggalkan aku!!!” Teriak histeris Lia membuat Haris tercengang.
“A-a-aku tidak akan pergi.” Jawab Haris dengan terbata-bata.
“Kau bohong! Ini buktinya!! Kau akan meninggalkanku, dan pergi menetap di Singapura sana!! Aku bilang jangan pergi!!” Teriak histeris Lia.
“Lia tenanglah. Menetap di singapura, yaa itu nanti. Tapi sekarang, aku hanya mau ikut tes di salah satu universitas di sana, besok juga aku sudah pulang. Gea juga tau itu. Indonesia lebih menyenangkan, terlebih ada
dirimu yang selalu menungguku. Lia, aku tidak mungkin bisa meninggalkanmu.”Haris mengusap pelan air mata Lia dan menatap Lia dengan sepenuh hati, membuat Lia terdiam dan melirik Gea yang sudah menghilang.
“Jadi kau hanya pergi tes.” Bisik Lia dengan suara pelan dan menanggung malu yang teramat sangat. “Geaaa, lihat saja aku akan membunuhmu!!” Umpat geram Lia di dalam hatinya.
“Hahahaha, Aish kau membuatku malu. Kau benar-benar berani mengatakannya, sementara aku hanya diam dan hanya memandangmu dari jauh. Aku tidak akan meninggalkanmu, jangan menangis lagi. Sebenarnya, semua sikapku pada Gea hanya untuk membuatmu cemburu. Aku tidak menyangka kau bisa berteriak seperti itu pada pecundang ini.” Haris kembali menyeka air mata Lia.
“Apa maksudmu?” Tanya Lia lagi.
“Dari awal aku sudah tau jika itu dirimu. Maafkan aku.” Jawab Haris dengan menunduk malu.
“Aaah, memalukan sekali. Tunggu pembalasanku Gea.” Lia memukul kepalanya.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Haris membuat Lia kikuk.
“Yaa, aku baik-baik saja.”
“Ayo menangis lagi, teriakanmu kurang keras untuk menahanku.” Goda Haris pada Lia. Pipi Lia menjadi merah merona.
“Aku pulang dulu.” Lia berbalik badan.
“Mau aku antar.” Tawaran maut Haris.
“Tidak usah.” Lia melangkah dengan amarah ingin membunuh Gea. Haris dengan tersenyum malu melangkah menuju parkiran untuk mengambil mobilnya dan langsung menyusul Lia.
“Bukankah hari ini adalah hari pertama kita.”Haris turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobilnya untuk Lia.
“Tapi, bukankah kau harus pergi tes.”
__ADS_1
“Teriakanmu tadi, membuatku berubah pikiran. Naiklah!!” Haris mendorong Lia naik ke atas mobilnya. Haris melirik Gea yang bersembunyi di balik kursi tunggu dan mengacungkan jempolnya lalu menunduk hormat untuk ucapan terima kasih. Gea melempar dua jempolnya pada Haris, sebagai tanda jika misinya telah selesai.
Sebelumnya, Haris datang menghampiri Gea yang sedang asyik dengan Komputer warung internet sekolah.
“Kenapa? Lia tidak ada di sini, kau tidak usah sok romantis.” Lirik kesal Gea pada Haris.
“Hey, apa benar dia masih jomblo? Kenapa dia tidak kunjung peka? Aku sudah tidak sabar lagi.”
“Aku tau seluruh hidupnya. Setiap kau menggodaku, Lia selalu menatapmu.”
“Bagaimanapun juga kau harus membantuku, walau nyawamu sebagai tantangannya.” Bisik Haris dengan tatapan licik.
“Awas saja jika kau berani melukainya, ataupun menyakitinya.”
“Tenang saja, aku akan menjaganya seperti menjaga diriku sendiri.” Bangga Haris dengan tersenyum manis.
“Menjaga dirimu? Kau selalu ikut tawuran, apa kau akan membawanya untuk ikut tawuran?” Cemooh Gea.
“Tidak, aku sudah taubat. Kau tau, luka hati ini adalah wujud rasa cintaku padanya.”
“Apa?” Tanya Gea rancu.
“Sebenarnya, yang seharunya terkena hantaman itu adalah Lia, tapi aku dengan sigap menangkisnya dengan perutku.” Jawab Haris dengan bangga.
“Huuuft, aku juga sudah tau itu. Kau mengucapkannya berulang kali di telinga ini supaya aku mau membantumu. Tapi aku benar-benar bosan dengan gaya-gayaanmu itu.”
“Kalau kau bosan, kau harus lebih cekatan membantuku.” Haris ikut memainkan komputer yang ada di sebelah Gea.
“Ide apa?” Tanya Haris antusias.
**
Gea melangkah menuju tempat les. Ketika ia keluar dari rumahnya, dia langsung melihat gadis yang mirip Kim Tae Hee hendak bejalan ke depan komplek.
“Dia anak pejabat, namun fasilitasnya sepertinya sama denganku.” Gea melangkah di belakangnya. Gadis imut itu menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Gea.
“Apa aku boleh bicara denganmu sebentar saja?” Tanyanya dengan sangat imut. “Astaga, suaranya sangat lembut seperti lantunan musik klasik.”Bisik Gea dalam hati sembari mengangguk. Mereka melangkah menuju taman
di depan komplek.
“Aku benar-benar meminta maaf atas kejadian di bus tadi pagi. Aku benar-benar menyesal tidak memperhatikan langkah kakimu.” Gadis cantik ini menunduk hormat.
“Aaah tidak apa-apa, aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah berkata berlebihan padamu.” Gea tersenyum manis.
“Aaah syukurlah jika kau mau memaafkanku, kau mau pergi kemana?” Tanyanya dengan melihat pakaian Gea yang memakai pakaian santai.
“Oooh, aku mau pergi les.”
“Kau les dimana?” Tanyanya lagi pada Gea.
“Di Gedung depan komplek. kau sendiri?”
__ADS_1
“Sama, beberapa hari yang lalu Ibuku juga mendaftarkan diriku di sana. Kalau begitu, aku duluan yaa. Terima kasih.” Pamitnya dengan sopan lalu melangkah pergi.
“Aku tau bukan itu maksudmu.” Sorak Gea membuat gadis itu kembali menoleh pada Gea.
“Aaah itu, tidak masalah.” Dia seperti menangkap isi pikiran Gea.
“Apa kau tidak ingin berkenalan denganku?” Tanya Gea dengan percaya diri.
“A-a-apa kau mau berkenalan denganku?” Gea melangkah cepat ke hadapannya.
“Tentu saja, kau sudah masuk ke dalam komplek ini, berarti kau adalah temanku. Perkenalkan namaku Gea Semenip. Kau sudah tau rumahku kan. Satu rumah dari rumahmu.” Sapa Gea dengan ramah sembari merangkul gadis tersebut.
“Namaku Natasya Harumi. Biasa Dipanggil Tasya.” Sahutnya dengan suara pelan.
“Ekspresimu itu, seperti ketakutan. Apa ada yang membuatmu takut?” Tanya Gea dengan wajah heran melepas rangkulannya.
“Apa kau ingin berteman denganku karena aku adalah anak seorang pejabat?”
“Hee apa? Aissh jadi ternyata kau berteman sesuai dengan kelasmu. Jika kau ingin pamer bawhawa ayahmu seorang pejabat, aku juga akan pamer jika Papaku seorang Jaksa.”
“Bu-bukan itu maksudku.” Tasya tempak lebih ketakutan.
“Lalu apa?” Tanya Gea dengan wajah kesal.
“Ketulusan, itulah maksudku.” Jawabnya dengan sedikit lama.
“Ooooh, aku mengerti maksudmu. Jangan bilang kau memiliki teman-teman yang mementingkan kelas kehidupan. Aku tidak seperti itu, aku juga memiliki teman dari orang biasa. Kau harus tau, jika aku ini adalah anak orang
biasa yang memiliki uang jajan sebesar 20 ribu rupiah perharinya.” Gea dengan menghitung uang di sakunya yang hanya tinggal 5 ribu.
“Jika nanti jadi pergi, sepertinya aku harus menebeng pada Ervan.” Gea kembali memasukkan uang 5 ribunya ke dalam kantong roknya.
“Apa kau mau berteman denganku?” Tanyanya lagi.
“Tentu saja, aku akan jadi temanmu. Aku punya ini.” Gea mengeluarkan sebuah permen lolypop dari sakunya.
“Makan ini, dan kau akan sadar dari kesurupanmu yang panjang ini. Sampai jumpa lagi, Tasya.” Gea memberikan permen lolypop itu pada Tasya. Gea melangkah pelan meninggalkan Tasya.
“Aaah tunggu, apa kau pacarnya Didi?” Tanya Tasya dengan sedikit malu. Gea menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Tasya.
“Mmmm, menurutmu?”
“Sepertinya, kau sangat beruntung karena bisa mendapatkannya. Dia laki-laki yang baik dan ramah. Dia sudah beberapa kali membantuku di sekolah. Waktu itu, aku kira itu benar-benar dari hatinya. Tapi ternyata tidak, karena
dia hanya bermain-main denganku. Aku memperhatikan gaya cengkrama kalian ketika di atas bus, dia terlihat sangat menyukaimu.” Gea terhenyak, hingga diam dengan seribu kata.
“Memang tidak mungkin untuknya, apalagi mengajaku untuk menikah. Gea, Didi itu anak yang baik dan sangat poluler di sekolah. Kau tau, semua orang tunduk padanya termaksud geng Hani yang selalu membullyku. Dia adalah penyelamatku, penyelamat hidupku dari pertemanan yang memandang materi.” Tasya seperti curhat panjang pada Gea. Tasya berjalan ke hadapan Gea.
“Aku sangat senang bisa berteman denganmu. Baru kali ini aku sejujur ini pada temanku. Kau, adalah teman pertamaku.” Tasya memberikan Gea sebuah gelang pasangan. Gea tetap tercengang mendengar ucapan Tasya mengenai perasaannya pada Didi.
“Astaga, apa lagi ini?” Tanya Gea dalam hati.
__ADS_1