
“Tentu, dengan senang hati.” Sem mengeluarkan sebuah buku. Tiba-tiba seorang wanita datang dengan penuh emosi.
“Sem, Sem! Keluar Kau!”
“Siapa itu?” Bisik pelan Gea pada Sem. Sem langsung berjalan keluar.
“Mana uang sewamu. Katanya bulan ini. Ayo bayaar!! Kalau tidak, silahkan tinggalkan atap ini!” Teriak wanita itu. mendengar itu, Gea langsung keluar.
“Berapa?” Tanya Gea dengan lantang. Gea melihat wanita separuh baya, namun wajahnya terlihat sangat judes.
“6 juta, sewa 2 tahun yang lalu, ditambah tahun ini!” Ucap wanita tua itu. Gea langsung mengeluarkan uang tunai sebesar 6 juta. Uang jajan yang selalu ia kumpulkan Gea setiap harinya.
“Gitu dong, kan selesai. Jangan lupa bayar lampu.” Wanita paruh baya itu pergi. Gea melirik sinis Sem dan mulai berpikir licik.
“Kau bahkan tidak membayar uang sewamu selama 3 tahun.” Sindir Gea sembari berjalan masuk ke dalam rumah. Mereka berdua kembali duduk.
“Gajiku hanya 10 juta, dan semua itu untuk membayar utang pada lentenir. Setiap hari dikejar-kejar, sewa rumah bisa di undur, dengan menangis drama.”Sem tersenyum manis.
“Walau seperti itu, uang tadi akan aku masukkan kedalam buku utangku.” Sem menulis jumlah utangnya pada buku tersebut.
“Ini, aku akan melunasinya dengan cara mencicil sebesar 8 juta perbulanya.”
“700 juta dibagi 8 juta di bagi 12 bulan sama dengan 7 tahun 2 bulan. Apa mungkin aku akan menunggu piutangku selama itu?” Tanya Gea dengan wajah tidak percaya.
“Aku mohon, jika gajiku naik aku akan menambahnya.” Sem memohon dengan tersenyum manis.
“Baiklah, lalu dimana kamarku?” Tanya Gea membuat Sem menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“A-a-a-anu, apa mungkin karena kau yang membayar sewa atap ini, kau juga ingin tinggal disini. Hahahaha, itu sebuah lelucon hambar. Hahahaha.” Tawa garing Sem membuat Gea sedikit jengkel.
“Tidak, itu bukan sebuah lelucon. Mulai hari ini aku akan tinggal disini. Dimana kamarku?” Tanya Gea membuat Sem terdiam.
“Ehmm, apa ini taktik dari anak orang kaya sepertimu? Aku hanya memiliki satu kamar, kita bisa memakainya berdua.” Jawab pelan Sem dengan nada terpaksa.
“Lalu kamar yang ini?”
“Itu, kamar praktekku. Karena belum memilik izin praktek, aku menamainnya kamar gelap Sem.” Bisik Sem pada Gea.
“Benarkah? Siapa pasiennya?”
“Masyarakat komplek sinilah. Umumnya mereka pelangganku.”
‘”Apa? bagaimana mungkin mereka mau berobat pada dokter gadungan sepertimu?”
__ADS_1
“Izinnya akan keluar minggu depan. Jangan menghinaku dengan kata-kata kasar tersebut.”
“Hmmm, apa tidak ada yang melapor?”
“Tentu saja tidak, aku memberikan harga yang murah, kualitas dokter ahli. Kau, tidak akan mengerti.” Ungkap Sem dengan jengkel.
“Tunggu, jika kau tinggal disini, apa orang tuamu tidak akan mencarimu?” Tanya Sem dengan wajah penasaran.
“Tidak, mereka tidak akan mencariku. Mereka pasti bahagia, dan mungkin sangat bahagia. Kau tau, semalam mereka telah mengusirku.” Sem tampak terkejut.
“Haaah? Kenapa? Hey, yang namanya orang tua, hanya menggertak, dia tidak sungguh-sungguh.”Sem berusaha memberi nasehat.
“Tidak, mereka sungguh-sungguh. Aku akan memulai hidup baru di sini, dan akan melanjutkan sekolahku dengan tunjangan 8 juta perbulan darimu.” Gea tersenyum licik membayangkan jalan hidupnya yang menyenangkan.
“Hey, bagaimanapun juga, aku juga ingin tau alasannya. Ini kasus kabur dari rumah kan.”
“Mamaku menuduhku mencuri perhiasannya, dia menamparku lalu mengusirku.” Gea membuat Sem tertawa.
“Khkahkahkhakahakak, jangan-jangan kau memang mencurinya.” Sem tiba-tiba terdiam melihat wajah Gea yang sangat sedih.
“Aku benar-benar tidak mencurinya. Kotak-kotak perhiasan itu ada begitu saja di bawah tempat tidurku. Kau tau, sejak aku lahir hingga saat ini aku sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, terutama papaku.
Dia lebih menyayangi kakakku ketimbang aku. kakakku juga seperti itu, dia selalu menyiksaku, dia bahkan membuat posisiku di dalam rumah menjadi semakin buruk. Tak pernah ada kata yang indah keluar dari mulutnya.” Gea menunduk dengan linangan air mata.
“Hey, jangan menangis. Jika kau ingin tinggal disini, tinggallah. Aku tidak percaya jika orang tua juga berlaku seperti itu pada anaknya. Oh iya, kakakmu itu, memangnya umurnya sudah berapa tahun?”
“Dia seumuran denganku. apa dia tidak memiliki otak? Tenang, jika aku bertemu dengannya, aku akan membalasnya.” Sem langsung memeluk Gea.
“Bagaimana kau melakukannya?” Tanya Gea dengan melepas canggung pelukan Sem.
“Cukup anggap aku kakakmu, aku pasti akan melindungimu.” Jawab Sem dengan tersenyum manis.
“Kakak Sem.” Melihat senyuman Sem, membuat Gea langsung memeluknya. Sem sedikit terkejut dengan aksi Gea. Dia merasa, baru kali ini ada yang memeluknya begitu erat, dengan penuh rasa kasih sayang. Rasa yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. “ apa ini rasanya memiliki seorang adik?” Tanyanya dalam hati. Perlahan Gea melepaskan pelukannya, dan tersenyum.
“Oh iya, lalu dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu?” Tanya Sem dengan wajah curiga pada Gea. Gea mengeluarkan ponselnya, dan menunjukkan bisnis onlinenya.
“Aku mengumpulkan itu semua selama 3 tahun. uang jajan, aku mendapatkannya dari bisnis ini. Sementara uang jajan dari mama yang sudah aku kumpulkan, sudah aku bayarkan pada sewa atap ini.”
“Hey, kau tidak hanya cantik tapi juga pintar.” Ungkap Sem dengan wajah kagum.
“Kak Sem, aku lapar.” Sem melirik dapurnya yang berantakan.
“Aku tidak ingat kapan terkhir kalinya aku membersihkan rumah ini. Kulkas juga, aku rasa isinya juga sudah basi.” Sem berdiri dan melangkah keluar.
__ADS_1
“Kak Sem mau kemana?”
“Mini Market depan.”
“Aku ikut.” Gea mematikan ponselnya, lalu mengikuti Sem.
Setiba di Mini Market, Sem mulai memilih barang-barang yang ingin ia beli. Ketika sampai di kasir.
“Kalian terlihat sangat mirip. Apa dia adikmu?” tanya kasir tersebut.
“Bukan urusanmu.” Jawab ketus Sem.
“Ya, dia kakakku.” Sanggah Gea membuat Sem menatapnya.
“Ini, pakai kartuku saja,.” Gea memberikan kartu kreditnya, dengan tersenyum manis pada kasir tersebut. Sekilas Gea melihat gaya Sem persis gaya Gio, apalagi ketika Sem mengatakan kata: bukan urusanmu.
“Kau juga memiliki kartu kredit.” Sem melirik Gea dengan wajah tidak percaya. Mereka berdua melangkah keluar dari mini market.
“Ini pemberian abangku. Abangku yang judes, tak tau diri, sombong, dan keras kepala. Abangku itu, persis dengan dirimu.” Bisik Gea membuat Sem tampak rancu.
“ Jadi kau juga memiliki saudara laki-laki.”
“Iya, dia sekarang menetap di Singapura. Dan rencananya, januari ini aku akan ikut dengannya.”
“Hey kau baru bertemu denganku, dan sudah mengucapkan selamat tinggal.” Sem tampak kesal, Gea menghentikan langkahnya di depan sebuah cermin.
“Kak Sem, bukankah kita terlihat sangat mirip. Aku rasa ini takdir tuhan.” Gea menatap langit.
“Iya, aku juga pernah mendengar, jika di dunia ini kita memiliki 7 kembaran yang mirip dengan kita tanpa hubungan darah.” Sambung Sem sembari melangkah ke depan. Sem melirik ponselnya.
“Hari ini, aku dinas siang. Jadi, kau masak sendiri. Ini, jangan lupa makan yang banyak. Aku berangkat dulu.” Sem memberikan barang belanjaan ke tangan Gea.
“Apa kau akan berangkat kerja dengan penampilan seperti ini?” Tanya Gea dengan wajah tidak percaya.
“Aku akan menggantinya ketika aku sampai rumah sakit, pulanglah.” Sem melangkah pergi meninggalkan Gea.
“Baru kali ini aku mempercayai orang yang baru aku kenal seperti mempercayai diriku sendiri.” Ucap Gea sembari melangkah menuju atap.
Gea memperhatikan sisi demi sisi dapur Sem.
“Dia hanya bersih pada penampilannya saja, tidak pada dapurnya.” Gea membersihkan dapur Sem sebersih mungkin. Gea mulai memasak makanan, lalu makan sekenyang mungkin.
“Yeee, aku bebas.” Gea menyalakan telivisi. Ia mulai menikmati film.
__ADS_1
“Bukankah itu Brian, aku benar-benar buta dengan film-filmnya.” Gea tersenyum kecut, dan menonton film tersebut.
***