Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 18. Gadis Gila


__ADS_3

Gea sampai di depan rumahnya. Rasa canggung kembali muncul ketika ia hendak membuka pintu rumahnya.


“Ini rumahku, aku harus santai. Ayoo Gea seperti biasa tanpa masalah. Cukup melewati ruang tamu, menyelip dan langsung belok ke kamar.” Gea membuka pintu. Ketika ia akan membuka sepatu, ia melihat Papa yang berada diruang tamu langsung masuk ke dalam kamar.


“Hmmm, setidaknya ini semua mulai membaik.”Gea tersenyum manis lalu melesat masuk ke dalam kamarnya.


“Haa, Oh iya barang berhargaku.” Gea membuka tasnya. Ia mulai mencari buku Jovi, dengan maksud ingin mengambil flashdisknya.


“Dimana flashdisknya? Biasanya terselip di dalam sampul. Aduuuh.” Gea yang cemas membolak balik bukunya


hingga membuka seluruh sampulnya. Ia kembali ingat jika Brian juga menyalin tugas ini.


“Apa mungkin, dia sengaja menyita flasdiskku?” Tanya Gea dengan kesal sembari melangkah menuju jendela kamarnya.


“Aku akan menjemputnya sendiri.” Gea memanjat jendela kamarnya. Tiba-tiba Gio datang dan membuka pintu kamar Gea, dengan membawa beberapa sweater.


“Ini baru jam setengah sepuluh, dan kau sudah memanjat jendela kamarmu.” Gea terkejut.


“Ahahaha, aku ada perlu sebentar.” Gea tetap melanjutkan aksinya.


“Apa kau tidak tau apa fungsi dari pintu?” Tanya Gio lagi membuat Gea kesal.


“Aku kurang tau.” Jawab Gea dengan menghentikan aksinya lalu melangkah menuju Gio.


“Kau terlihat kesal, ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Gio dengan heran, ketika melihat sebuah buku yang berserakan diatas kasur Gea.


“Aaah, tidak. Aku baik-baik saja.” Jawab Gea dengan berusaha tersenyum manis namun hatinya sangat cemas.


“Ini, kau bisa memakainya untuk menutupi dadamu itu.” Gio seperti menyindir dada Gea.


“Abang.” Tatap Gea dengan wajah datar.


“Apa?” Tanya Gio tanpa rasa bersalah.


“Abang juga ikut-ikutan menghina dada ini. Sekarang, aku merasa sangat kesal.”Jawab Gea dengan merenyut kesal. Gio meraih dompet yang ada di saku celananya.


“Ini, kartu kredit. Jangan harapkan uang dari Mama dan Papa lagi.”Gio memberikan 2 kartu kredit.


“Wow.” Sahut Gea dengan antusias.


“Besok Abang akan kembali ke Singapura. Jadi bagaimana, apa kau tetap akan bertahan disini?” Tanya Gio membuat Gea menatapnya.


“Januari.” Jawab Gea.


“Aaah, itu terlalu lama. Minggu depan akan aku jemput. Bersiap-siaplah dan mulailah berkemas, terutama suamimu itu.” Gio menunjuk poster korea yang tertempel di dinding kamar Gea.


“Abaang, Januari. Aku janji.”


“ Aku tidak bisa menjamin kenyamananmu dirumah ini. Kau tau itukan.”


“Aku baik-baik saja Bang, selama Mama masih berbicara padaku.”Gea tersenyum manis.


“Baiklah Januari. Dan juga, jangan lupa untuk mengunci kamarmu ini jika kau pergi. Aku juga sudah mengganti kuncinya. Ini.” Gea menatap Gio dengan tatapan heran.

__ADS_1


“Kenapa harus dikunci? Bukankah dirumah ini aman. Dan kenapa Abang mengganti kunci kamarku?” Tanya Gea penasaran.


“Jangan pernah berpikir rumah ini aman. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kartu kreditmu hilang, dan yang paling membuat heran, kartu itu tetap aktif sampai sekarang.”


“ Aaah benar. Kalau begitu blokir saja Bang, gitu saja kok repot.”  Gea  mengibas-ngibaskan kartu kredit barunya.


“Aku sudah memblokirnya, kita tinggal tunggu


reaksinya.”


“Reaksi siapa?” Tanya Gea lagi.


“Aaah sudahlah, lebih baik kau pejamkan matamu itu. Aku mau balik ke kamarku dulu. Jangan lupa, jendela itu kunci rapat.” Gio menutup pintu kamar Gea.


“Ternyata Bang Gio garing juga. Hehehe.”Cemooh Gea dengan tertawa garing. Pikirannya kembali pada flasdisk berharga miliknya.


“Apa harus aku jemput malam ini juga? Aaah tidak usah. Si Brian sepertinya sedang marah. Apalagi dengan reaksinya tadi, dia seperti cemburu dengan dada ini. Khakhakhakhak.” Tawa lepas Gea dengan sangat keras.


“ Oooh, sepertinya aku harus memberikan dia tips untuk membesarkan payudara. Khakhakhakhak. Tapi kasihan sekali si Oliv. Oliv, Oliv, kau tidak tau jika ternyata pacarmu itu penyuka  sesama jenisnya. Khakhakhak.”


“Oh iya kenapa aku harus cemas, mungkin Si Brian sedang menikmati isi flashdisk tersebut untuk inspirasinya sebagai seorang gadis kekar. Khakhakhakhak. Kalau seperti itu sebaiknyaa aku tidur dulu.” Gea menatap ke sekeliling kamarnya yang berantakan tingkat akut.


“Baiklah, satu jam ini untuk kalian.” Gea melangkah membersihkan kamarnya.


**


Sementara itu Brian duduk di atas kasurnya dengan sebatang rokok ditangannya.


“Khakhakhakhak.” Tawanya lepas, sesuatu hal gila berputar-putar dalam benaknya.


“Khikhikhikhik. Aku mohon berhentilah. Khakhakhakhak. Tarian gilanya, Khakhakhak. Apa dia tidak memiliki rasa malu?” Tanya Brian sembari tertawa dengan sangat lepas.


“Haaah, sudah lama aku tidak tertawa selepas ini.” Brian mengusap otot pipinya yang menegang.


“Khakhakhak, dimana dia mempelajari tarian itu?” Tanyanya lagi dengan wajah yang sudah berwarna merah akibat tawa yang berlebihan. Kakinya menyentuh sesuatu.


“Hey, flashdisk siapa ini?” Tanyanya sembari membalik-balik flashdisk tersebut. Brian melangkah menuju komputernya. Ia langsung melihat apa isi dari flashdisk tersebut.


“Harta karun siapa ini?” Tanyanya melihat Hd yang berjumlah sangat banyak. Sebuah folder berisikan nama Gea.


“Geaa!” Teriaknya dengan wajah tercengang.


“Khakhakhakhak, gadis seperti apa dia sebenarnya?” Tanya Brian lagi dengan tawa yang kembali pecah.


“Aish, lihat saja besok aku akan membunuhnya!” Brian Nampak tersipu malu, lalu menghempaskan tubuh kekarnya pada kasur empuknya.


“Benar, bukankah Gea sudah melihat wajah asliku. Tapi dia sama sekali tidak membahas wajahku. Khakhakhakhak. Baru kali ini, aku bertemu dengan gadis konyol, yang sudah melihat wajah asliku berkali-kali tapi tidak tertarik denganku. Sebuah pelajaran, wajah tampan ini tidak membuat mutiara itu tertarik.” Brian memeluk gulingnya.


“Huuft, andai saja gadis kecil itu dirimu Gea, aku tidak akan melepaskanmu.” Brian tersenyum manis.


***


Paginya Gea di perintahkan oleh Mamanya untuk membersihkan rumput liar dihalaman rumahnya.

__ADS_1


“Padahal hari ini hari minggu, tetap saja.” Umpat Gea dengan membawa sebuah cangkul dan sapu lidi.


“Kalau hari ini hari minggu, memangnya kenapa?” Tanya Mamanya dengan wajah kesal.


“Aku juga ingin libur Mama.” Jawab Gea dengan lembut.


“Nanti siangkan bisa tidur, sudah kerjakan saja.” Mamanya masuk ke dalam rumah.


“Aku benci hidupku.” Umpat Gea sembari mencabut rumput liar dengan semangat 15 persen. Tiba-tiba Didi muncul dengan membawa beberapa bungkus makanan.


“Geeeaaaa.” Teriak Didi di depan pintu.


“Aku di sini.” Gea berdiri, membuat Didi menatap celana pendek Gea.


“Wiidiih, silau sekali warna celanamu itu. Silaunya mengalahkan kesilauan matahari.” Didi terlihat syok melihat celana pendek Gea yang warna kuning terang.


“Ini, celana Bang Gio.”Gea meraih satu bungkus makanan Didi.


“ Pantas saja, warna ngejreng. Oh iya, di rumah Ervan jam 9.” Gea ingat janji nonton mereka. Gea melirik jam tangannya. Jam menunjukkan jam 9.15 pagi.


“Benar, aku lihat situasi dulu.” Bisik Gea dengan melirik kedalam rumahnya.


“Amaan, ayook.” Ajak Gea kabur dari tugasnya dan melangkah menuju rumah Ervan dengan mengunyah makanannya.


Sesampai di rumah Ervan, Bimo sudah duluan mengotak atik televisi Ervan dengan mengganti chanel yang ia suka. Bimo yang sedang duduk santai, menoleh pada Didi dan Gea yang masuk tanpa permisi.


“Walaah, aku kira matahari turun ke daratan.”Bimo dengan kocak melihat celana Gea.


“Plak.” Gea memukul perut Bimo dengan tangannya.


“Mama sama Papamu kemana Van?” Tanya Gea sembari melirik ke seluruh penjuru rumah.


“Pergi ke Australia, wisuda Kak Evin.” Jawabnya dengan menjunguhkan beberapa makanan ringan.


“Bukannya Ibunya Didi juga yaak.” Bimo melirik Didi.


“Iyaa, kalau Ibuku mah kemarin ke komplek sebelah. Khikhikhik.” Tawa Didi mengatakan jika ibunya juga pergi wisuda kakaknya yang kuliah di komplek sebelah.


“Kakak tirimu kapan wisuda?” Tanya Bimo pada Gea.


“Au aah, ngak urus.” Jawab Gea.


“Baguus!!” Sahut serentak Ervan, Bimo, dan Didi.


“Ayoo putar mana kasetnya.” Bimo memutar sebuah film india.


“Kuch kuch hota hai?” Tanya Didi dengan wajah tak berdaya. Mereka berempat menonton film tersebut dengan sepenuh hati, hingga air mata mereka berjatuhan.


“Itulah alasan kenapa aku membenci film india.”Gea menutup matanya yang bengkak karena terlalu lama menangis.


“Huaaaaa, dia nikah.  Huaaaaaaa.” Tangis Didi.


“Aku pulang dulu.”.

__ADS_1


“Gea, endingnya belum.” Sorak Bimo. Gea melangkah pulang ke rumahnya. Tiba-tiba seorang pemuda menghentikan langkahnya.


__ADS_2