
Siang yang melelahkan di hari minggu. Gea duduk di depan televisi dengan sebungkus popcorn di tangannya. Gio datang dan mulai menyapa.
“Tumben.” Gea langsung melirik Gio yang baru pulang dari Singapura.
“Biasanya siang bolong seperti ini, kau pasti berkeliaran di luar rumah.”Gea menambah ketajaman lirikan matanya.
“Ada apa? Kau mulai tampak canggung untuk berbaur dengan temanmu. Apa kau sudah mengencani salah satu temanmu?” Tanya Gio membuat Gea sedikit terkejut.
“Hehehehey, aku tau itu. Siapa dia? Didi? Ervan? Bimo?” Gea hanya menggeleng dan kembali fokus pada iklan di telivisi.
“Siapa dia?” Bisik gila Gio di telinga Gea.
“Abang pikir siapa?” Bisik balik Gea. Ponsel Gea berbunyi, sebuah pesan dari Didi.
“Ini kacau, Kevin pulang. Mari berkumpul di kamar Bimo. Sekarang!”
“Astaga, kenapa dia tiba-tiba pulang? Bisa-bisa komplek akan kacau seperti waktu itu.”
“Siapa yang pulang?” Tanya Gio.
“Kevin. Sekarang, aku harus kerumah Bimo untuk memikirkan strategi keamanan komplek.” Jawab Gea sembari berdiri dan melangkah keluar rumah. Gea membuka pintu rumahnya.
“Kejutaaan!!!” Teriak seorang pemuda yang melempar helaian bunga mawar, ke wajah Gea.
“Kevin!” Teriak balik Gea dengan menutup wajahnya. Kevin memiliki rambut pirang. Tubuhnya yang tinggi, kira-kira 181 cm, dengan kemeja lengan pendek. Wajahnya tirus dengan mata sipit dan hidung mancung, membuat ia menjadi tampan setampan dewa.
“Cih.”Gea berdecih dan melemparnya dengan wajah datar.
“Kenapa? Seharusnya kau senang karena aku sudah pulang.” Kevin menunduk sedih.
“Apa kau pikir aku ini kuburan?” Tanya Gea dengan wajah geram.
“Apa kau tidak merindukanku? Ayoo, peluk akuu.” Kevin memeluk Gea dengan sangat erat.
“Hey Kevin, apa kau sudah gila?” Tanya Gea dengan melepas pelukan Kevin.
“Selalu saja.” Jawab Kevin dengan kembali menunduk sedih.
“Aku kesal padamu, kau pulang tanpa ada strategi. Bagaimana jika para fansmu datang ke sini dan mengobrak abrik komplek ini? kau taukan tragedi 2 tahun yang lalu, aku belum bisa bangkin dari tragedi itu. Komplek rumah kita seperti alun-alun kota, bahkan aku hampir terinjak oleh ramainya masa.”
“Heeih, jangan cemas. Skandal kemarin, membuat semua orang menjadi jijik padaku.” Senyum Kevin dengan mengambir sebuah kelopak bunga mawar yang menyangkut di rambut Gea.
“Apa maksudmu? Bukankah skandal itu sudah selesai. Aku juga sudah memburu para hatersmu. Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Baiklah, aku akan mencari mereka, lalu menemui mereka, dan membakar mereka semua.” Gea berbalik badan masuk ke dalam rumahnya.
“Hentikan itu, tak ada gunanya. Lagian juga, aku sedang fakum dari dunia fitnah itu.” Kevin menahan tangan Gea. Gea menoleh pada Kevin.
“Kenapa? Bukankah itu keinginanmu. Menjadi artis itu adalah mimpimu.’
“Iya, itu adalah mimpiku. Tapi sekarang, bagiku mimpi itu, tidak begitu penting lagi.”
“Kenapa? sepertinya, skandal kali ini benar-benar serius.” Gea berbalik dan tersenyum curiga pada Kevin.
“Karena dirimu, Gea. Aku takut, jika seseorang akan merebutmu dari diriku. Makanya, aku pulang.” Bisik Kevin membuat Gea terdiam.
“Ehm, kau mau kemana? Ayo kerumahku, aku punya sesuatu untukmu.” Ajak Kevin dengan menarik tangan Gea.
“Aku mau kerumah Bimo. Kau, juga harus ikut.” Gea menahan tangan Kevin, lalu merangkul tangannya. Mereka berdua berjalan santai masuk ke dalam rumah Bimo, dan berbelok ke kamar Bimo.
“Dimana si kerbau itu?” Tanya Kevin dengan menggeser beberapa buku di lantai dengan kakinya.
“Dia mungkin menjemput Ervan.” Tidak lama kemudian, Ervan, Bimo, Didi, dan Brian datang.
“Heiii, raja skandal. Kau pulang pada saat yang tidak tepat.”Didi memeluk ramah Kevin.
“Aku kurang suka skandalmu yang waktu itu, itu terlalu kurang.” Bisik Bimo dengan tertawa geli.
“Iya, lebih baik kau membuka bajunya. Itukan, yang ingin kau katakan.” Bentak Gea pada Bimo yang tidak sadar jika Brian juga ada di sana.
“Khakhakhakhkhakhakhak. Kau, membuatku malu.”Tawa Ervan dengan memukul manja tangan Gea.
“Sebenarnya aku juga ingin skandalnya seperti itu, pasti dia langsung hancur. Khikhikhikhik.” Bisik Gea pada Ervan.
__ADS_1
“Apa kau ingat ekspresi wajah Kevin pada saat itu?” Bisik Didi yang tiba-tiba membuka pembicaraan kotor berusaha mengekspresikan wajah Kevin.
“Merah padam, aku penasaran bagaimana rasanya.” Bisik Bimo lagi, membuat mereka berempat membentuk lingkaran gunjing gejana.
“Kau siapa?” Tanya Kevin dengan menatap Brian.
“Lama tidak bertemu denganmu. Aku, Brian.” Jawab Brian dengan dingin.
“Brian?Ya, aku mengenalmu. Kau yang menyogok seluruh stasiun televisi untuk menyiarkan siaran pensiunmu itukan. Apa kau warga baru komplek ini? Sejak kapan?” Tanya Kevin dengan wajah curiga.
“Plak!” Didi memukul keras kepala Kevin.
“Jangan mentang-mentang baru pulang, kau melupakan sopan santunmu. Dia, bos kita. Dino yang tinggal di sebelah rumah Gea.” Didi menatap tajam pada Bimo.
“Heee? Ini tidak mungkin. Aku melihat peti mati itu masuk ke dalam tanah. Apa kau sedang bercanda? Ha ha ha.” Tawa Garing Kevin membuat semua mata menatapnya.
“Itu benar, dia Dino bos kita. Kematiannya yang waktu itu hanya sebuah kesalahpahaman.” Bimo menatap Kevin dengan wajah serius.
“Apa kau ingin tau ceritanya? duduklah, supaya aku ceritakan.”Didi kembali menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“Lalu, apa sekarang ingatanmu sudah kembali?” Tanya Kevin lagi.
“Yaa, sudah kembali seutuhnya.” Jawab Brian dengan tersenyum manis.
“Bagaimana dengan Gea?” Tanya Kevin lagi. Kevin menatap Gea dengan sorot mata serius. Suasana semakin mencekam ketika semuanya terdiam.
“Kenapa denganku? Aku baik-baik saja.” Jawab Gea dengan sedikit kesal.
“Dia sudah kembali. Apa kau tidak sedikitpun mengerti dengan ucapanku?” Tanya Kevin dengan wajah curiga.
“Kevin, kau baru pulang, dan kau sudah mencari jalan perperangan. Ini sangat menarik.” Jawab Ervan dengan wajah dingin.
“Aku hanya bertanya. Apa itu salah?” Tanya Kevin lagi dengan mata masih menatap Gea.
“Apa maksud ucapanmu itu adalah hubunganku dengan Gea? Lantas, menurutmu?” Tanya Brian membuat Gea sedikit terkejut. Kevin melangkah ke hadapan Brian.
“Sendari dulu, aku sudah memandang Gea sebagai seorang gadis, maka dari itu jika kau kembali untuk mengambilnya dari diriku, maka aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.” Bisik Kevin membuat Gea terkejut. Ervan dan Didi langsung menarik Gea kearahnya. Gea mundur dan berdiri di belakang Ervan dan Didi.
“Aku sudah tau ini akan terjadi.” Bisik Ervan.
“Apa dia sudah gila?”Bisik Gea pada Ervan.
“Aku rasa, ini adalah wujud akibat dia memendam semuanya. Jadinya, dia akan melampiaskannya pada kita.” Bisik balik Ervan.
“Plak!” Bimo memukul kepala Kevin.
“Apa kau tidak sadar dengan ucapanmu itu? Bagaimana mungkin Gea dengan Brian berpacaran. Jika mereka bersama, pasti Gea tidak akan ada di sini. Tenanglah, aiish kau ini.” Kencam Bimo.
“Bisa saja, mereka berdua diam-diam berpacaran.” Teriak Kevin dengan menunjuk wajah Gea dan Brian.
“Tidak, dia berpacaran denganku.” Ervan tersenyum, lalu mundur dan menggenggam tangan Gea.
“Aaaaah, kalian benar-benar mengesalkan!” Teriak Kevin lalu keluar dari kamar.
“Hey, kau mau kemana?” Tanya Didi heran.
“Aku haus, aku mau minum.” Jawabnya membuat mereka semua tertawa.
“Hahhahahahaha.”
“Gea, sekarang aku memperingatkanmu. Kau harus berhati-hati dengan Kevin. Dia adalah laki-laki nekad yang berani melakukan apa saja. Kau tau itukan.” Ervan melepas genggamannya.
“Kevin sudah pulang, maka kau juga harus membatasi jadwal terbangmu. Kau, mengerti! Apa kau mau di jadikan pelampiasaan hidupnya, seperti waktu itu? Jika aku tau, itu terulang kembali, aku akan membunuhmu dengan tanganku ini. Aku tidak tahan melihatmu menangis karena pecundang. Kau, tau itukan!”Ancam Didi dengan wajah geram Gea.
“Aaaah, tidak akan. Aku ini Gea Semenip, tidak akan kena dua kali!” Bentak Gea.
“Bagus, kalau kau mengerti.” Didi memberikan jempolnya pada Gea.
“Bagaimanapun juga, sebelum kita tau maksud kepulangannya ini. Kita harus tetap waspada. Terutama kau, Gea. Jika kau mau keluar rumah, kau harus memberikan kabar pada kami. Diantara kami, akan menemanimu. Aku melihat ada gerak gerik yang mencurigakan padanya.” Bimo melirik Kevin yang masih sibuk mengotak-atik dapurnya. Sementara Brian hanya tersenyum mendengar ucapan ketiga temannya.
**
__ADS_1
Matahari mulai tenggelam. Gea sibuk dengan tugas akhir yang sudah menumpuk di meja belajarnya. Gea menghentikan laju penanya.
“Driiit.”
“Seperti suara mobil berhenti. Mobil siapa itu?” Gea berdiri lalu mengintip dari jendela kamarnya. Gea melihat Brian sedang sibuk berbicara dengan seorang gadis.
“Brian, kau belum tau amukan gadis cantik ini.”Gea langsung keluar rumah.
“Gisel, bukankah dia sudah tau jika aku dan Brian sudah berpacaran. Kenapa dia malah datang ke rumah Brian di malam yang berbintang ini? Aku tau, dia pasti mempunyai maksud terselubung. Aku harus menghalanginya.” Gea berjalan cepat kearah Gisel.
“Gea, kebetulan kau keluar. Aku baru saja hendak ke rumahmu.” Gisel tersenyum dengan wajah semanis mungkin.
“Ada apa? Kenapa kau kesini di malam hari yang sangat dingin ini?” Tanya Gea.
“Apa kau tidak ingin copyan tugas ini? Aku mengcopynya lebih. Satu hal, jangan pinjamkan Brian!” Bisiknya dengan nada kejam.
“Ooooh, jadi dia ke sini untuk menemuiku.” Senyum lega Gea.
“Siip.” Bisik Gea dengan menyembunyikan copyan itu di dalam bajunya.
“Woii Geaa!!” Gea dan Gisel menoleh ke belakang dan melihat.
“Kevin.” Sahut Gea dengan melambaikan tangannya. Sementara Gisel tampak syok, dan langsung bersembunyi kearah belakang pohon yang berada di sebelah mereka. Gea sedikit heran dengan aksi Gisel.
“Ada apa dengannya? Kenapa dia bersembunyi di sana? Apa dia takut dengan Kevin?” Umpat Gea dalam hati.
“Ini, aku membelikanmu ini. Makan yang banyak yaa.” Kevin memberikan sebuah bungkusan kue pada Gea.
“Aaah, terima kasih.”
“Tadi aku melihatmu dengan seorang gadis. Dimana dia?” Tanya Kevin dengan mengintip kaca mobil yang terparkir di hadapan mereka. Gea melirik Gisel yang berada di balik pohon. Gisel memberi kode tangan silang.
“Apa maksudnya itu? Apa Gisel sedang meminta pertolongan padaku?” Tanya Gea dalam hati. Kevin tampak memeriksa nomor plat mobil, dan mengkerutkan dahinya, seperti mengingat sesuatu yang penting.
“Seorang gadis? Dari tadi aku hanya sendiri.” Gea menatap Kevin dengan wajah polos tanpa dosa, membuat Kevin semakin rancu. Kevin mundur dua langkah, lalu mengusap lengannya.
“Yaak, kau berani membohongiku. Jelas-jelas tadi aku melihatmu sedang berbincang.” Teriak Kevin dengan melirik ke atas pohon.
“Kenapa aku harus membohongimu? Berbincang, aku mau ke rumah Brian untuk memberikan ini.” Gea mengeluarkan kertas copyan Gisel tadi dari dalam bajunya.
“Benarkah, aiih, sudahlah kalau begitu aku pulang dulu.” Kevin menyapu tengkuknya lalu berlari kencang menuju rumahnya. Gea kembali menyelipkan kertas itu di dalam bajunya.
“Tampang saja yang berani, tapi penakut.” Umpat Gea.
“Gea, apa yang sedang kau lakukan di sini?” Gea menoleh ke belakang. Brian datang dan melirik bungkusan kue yang di berikan Kevin tadi.
“Brian, aah, tidak ada.” Jawab Gea.
“Itu apa?” Tanya Brian lagi.
“Kue yang dibelikan Kevin.”
“Bawa ke sini, kau tidak boleh memakan pemberiannya. Bisa saja, ada sesuatu di dalamnya.”Kencam Brian dengan merebut bungkusan kue tersebut.
“Mana kuncinya?” Tanya Gisel yang keluar dari persembunyiannya.
“Ini.” jawab Brian dengan memberikan sebuah kunci mobil.
“Jadi kau ke sini untuk mengambil kunci mobil.” Gea tersenyum curiga pada Gisel.
“Memangnya kau pikir, aku mau apa?” Tanya Gisel kesal.
“Gisela, kau benar-benar mencurigakan.” Jawab Gea dengan memberikan kode mata kearah rumah Kevin.
“Kau lebih mencurigakan. Aku pulang dulu.” Gisel tergesa-gesa naik ke atas mobilnya.
“Aku sangat yakin, pasti ada sesuatu diantara mereka berdua.” Gea memperhatikan laju mobil Gisel.
“Tidak ada apapun yang terjadi antara kami berdua. Kau, jangan salah paham.” Mendengar itu, Gea langsung melirik Brian. Brian tampak sedang asyik menikmati kue pemberian Kevin.
“Kunyah saja kuenya.” Gea melangkah masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1