Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 11. Terima Kasih


__ADS_3

Mereka sampai di lapangan Pancasila. Mereka mulai membeli pernak pernik konser. Tak lupa jambang palsu, dan rambut panjang palsu. Dengan hati-hati Bimo memasangkan jambang tersebut pada Didi dan Ervan.


“Gila, Ini konser Rock terheboh pada abad ini. Ghuaaarrrrrkkkk.” Teriak Didi sembari berlari menuju depan panggung dan mulai menggoyang-goyangkan kepalanya.


Sementara Gea berusaha menikmati konser tersebut, walau sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Ervan menyadari itu, dan menghampiri Gea.


“Hidup cuma sekali. Apa hidupmu hanya untuk memikirkan para timun?” Tanya Ervan dengan wajah kesal.


“Entahlah, tapi kau belum menjawab pertanyaanku tadi.” Jawab Gea sembari mengikat rambut panjangnya.


“Aku memutar sedikit persendian kakinya, dan mememarkan bibir kiri lalu mata kanannya, serta mengores sedikit hidung dan keningnya. Hmmm, tak lupa sedikit tarikan pada urat lehernya.” Ervan menceritakannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sejenak Gea tercengang dengan cerita pendek Ervan yang sangat mengesankan.


“Kenapa? Apa kau ingin menjenguknya? Dia sekarang berada di Rumah Sakit Putera Bunda.” Sahut Didi dengan kepala yang sedikit oyong karena terlalu memutar kepalanya. Gea hanya terdiam, lalu melangkah menuju parkiran jus di sudut lapangan. Ia duduk dan mulai memesan sup buah. Ervan, Bimo, dan Didi mengikutinya dari belakang.


“Aku merasa jika kau sangat bodoh.”  Ervan duduk di hadaapn Gea.


“Nikmati saja konsernya.” Sahut Gea dengan tersenyum manis.


“Pisau itu sudah menancap di jantungmu. Dan kau masih bisa tersenyum.”  Didi menyindir Gea dan ikut  memesan sup buah.


“Aku baik-baik saja. Aku duduk di sini, karena tidak sanggup menghirup bau ketek dan bau acem di tengah lapangan sana.” Bisik Gea dengan wajah dramatis.


“Benarkah?” Tanya Ervan, Didi, dan Bimo secara bersamaan.


“Apa sudah lega?” Sambung Ervan pada Gea.


“Hmmm.” Angguk bahagia Gea sembari mengunyah sup buahnya.


“Haah, sebenarnya aku merasa sangat lelah untuk datang ke sini. Jika bisa memilih, aku ingin pulang dan tidur. Tapi, melihatmu yang murung, aku cemas dengan dirimu. Kau tau, masalah siang tadi bisa saja mempengaruhi otak bodohmu.” Ervan melirik Gea dengan sepenuh hati, sembari tersenyum manis. Gea terdiam sejenak dan kembali tersenyum.


“Aku tidak akan berterima kasih. Ini ponselmu.” Sahut Gea dengan senyum mengesalkan. Walau dalam hatinya ia sangat berterima kasih pada Bimo, Ervan, dan Didi.


“Kami juga tidak peduli dengan ucapan terima kasihmu.”  Ervan mengambil ponselnya, lalu melangkah pergi.


“Kau mau kemana?” sorak Gea. Gea melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 8 malam.


“Plak.” Gea menepuk kepala Didi.


“Woi santai!” Teriak Didi pada Gea.


“Kami duluan ya.” Gea melempar uang 20 ribu


pada pedagang jus dan berlari mengejar Ervan.


“Kebiasaan!” Omel Didi yang kembali menikmati sup buahnya. Ketika ia hendak menyendok suapan terakhir, ia melihat ketiga temannya sudah duduk di dalam bus. Mereka duduk dengan ekspresi sedih dalam perpisahan. Bahkan Bimo sampai menyeka matanya, seolah-olah ia menyeka air matanya..


“Woii, tunggu woii!! Pakk, tunggu paak!!” Teriak Didi yang spontan berlari mengejar bus.


“Ayo Pak, lebih cepat Pak!” Teriak Bimo, Gea dan Ervan memberikan komando pada supir bus untuk menambah kecepatan.


“Ayo pak, ayo pak.” Teriak mereka bertiga. Namun, karena Didi seorang pelari tangguh di komplek, ia mampu mengejar dan berhasil naik ke dalam bus, lu langsung merebahkan tubuhnya di lantai bus.


“Bangsat kalian bertiga, tunggu saja pembalasanku. Haaah, haaah, haaaah.” Nafas sesak Didi karena berlari kencang. Semua penumpang bus menatap mereka berempat.


“Siapa dia?” Tanya Gea pada Ervan.

__ADS_1


“Entahlah, aku tidak kenal.” Jawab Ervan.


“Mungkin fans rock yang mabuk. Sudah, jangan acuhkan dia.” Timpal Bimo. Didi betambah kesal, lalu bangun dan berjalan kearah mereka bertiga. Seketika, bus berhenti di lampu merah. Didi terjatuh dan terhempas kuat.


“Didi!” Teriak Gea, Ervan, dan Bimo seraya membantu Didi berdiri.


“Aduh, kepalaku benar-benar pusing.” Didi kehilangan kesadaran.


“Didi!” Teriak Gea dengan keras.


Mereka turun di halte depan komplek rumah mereka.  Didi mulai sadar, dan berjalan terhuyun-huyun.


“Mangkanya, kalau sudah di beri kode, langsung peka.” Gea rangkul pinggang Didi seraya membantu Didi berjalan. Ervan melirik manja Oliv yang sedang berjalan dengan seorang pemuda.


“Hey, Oliv punya teman baru. Siapa dia?” Tanya Didi dengan tersenyum licik, dan langsung bersemangat. Didi menepis tangan Gea dan berjalan mendahuluinya.


“Ooh, dia anak tetangga baru.” Jawab Gea dengan cuek.


“Jadi dia artis yang diintai oleh Oliv.” Bisik Bimo pada  teman-temannya seperti memberi komando untuk berusaha berjalan lebih dekat kearah Oliv.


“Bimo gendut juga ikut-ikutan.” Umpat Gea.


“Aku kan tidak.” Ervan menoleh pada Gea. Gea dan Ervan berjalan bersama, sementara Bimo dan Oliv berlari kearah Oliv.


“Ciee, ciee punya teman baru ni yeee.


Khakhakhak.” Tawa geli Didi sembari menunjuk manja Oliv.


“Apaan sih. Sana pergi, ganggu aja.” Teriak


“Ciee menganggu.” Sahut Bimo dengan tampang


menjijikan.


“Hey, apa kalian berempat tidak punya pekerjaan lain selain mengurus urusan orang.” Bentak kasar Oliv pada mereka berempat. Gea dan Ervan sampai di tempat Oliv. Brian tampak menatap tajam pada Ervan, Ervan menangkap tatapannya.


“Brian, apa kau sudah sembuh?” Tanya Gea yang dari tadi memperhatikan Brian.


“Jadi namanya Brian, ciee ciee.” Cemooh Didi dan Bimo secara bersamaan.


“Sudahlah, ayo Brian kau bisa gila jika bergaul dengan mereka. Mereka berempat ini anak nakal, suka membuat onar.” Teriak Oliv sembari menarik tangan Brian. Sementara Brian tetap terdiam, dan menatap Gea. Ada sesuatu yang ia rasakan, ketika melihat Gea bersama dengan teman laki-lakinya.


“Ayo Brian, mereka nanti akan menganggumu.” Oliv menarik keras Brian.


“Tingkahmu mencurigakan. Jadi, apa dia artis yang kau tunggu-tunggu itu? Penyamaran yang manis.” Ervan dengan tersenyum manis, membuat Brian dan Oliv menatapnya tajam.


“Penyamaran? Khakhakhak. Ini asli bro.” Didi tanpa sungkan menarik bibir atas Brian dengan sangat lancang.


“Hentikan! Kalian berempat sudah keterlaluan.” Kencam Oliv dengan emosi, menarik Brian dengan keras dan berjalan duluan.


“Yaaaa, aku juga ikut disalahkan.” Gea tersenyum kecut.


“Khakkahakhak, kau seperti tidak tau segi-segi dari kesalahan. Jika satu diantara kita salah, maka kita semua akan menjadi salah.” Pukul manja Bimo pada lengan Gea.


“Tunggu, kau mengetahui namanya. Apa kau sudah berkenalan dengannya?” Tanya Ervan dengan wajah serius pada Gea.

__ADS_1


“Sangat amat mengenalnya.” Jawab Gea dengan menjelaskan pertemuan mereka.


“Puftkhakhakhakhak. Jadi dia satu sekolah dan juga sebangku denganmu.” Tawa Mereka bertiga berulang-ulang mendengar kisah Gea dan Brian.


“Baiklah, kalau seperti itu, aku masuk duluan.” Gea melangkah menuju rumahnya. Sementara Didi, Ervan dan Bimo masih tertawa terbahak-bahak. Apalagi dengan membayangkan wajah Brian yang amburadul duduk sebangku dengan Gea yang selalu rancu.


Gea memasuki kamarnya dan langsung menghadap pada pacar posternya.


“Jimin Oppa, ayo tebak kali ini aku membawa apa? Cahcah, Kumis palsu.”  Gea menempelkan kumis palsu pada poster tersebut.


“Aaah, tatapan manjamu, membuatku bergairah.” Gea membuka bajunya.


“Sriiingbumbumpaaakkbum.” Suara drum dengan dasyat menggaung dari kamar Brian. Dengan emosi Gea langsung membuka jendelanya.


“Apa dia sudah gila? Giginya yang berlajur dua itu membuatnya menjadi rabies. Harus aku tangani, jika tidak dia bisa menganggu keromantisan kita ini oppa.” Gea  memanjat jendela kamarnya. Ketika ia hendak melangkah menuju jendela kamar Brian, ia melihat sosok putih bergantung di pohon depan rumahnya.


“Aaah, ku-ku-kuntilanak!!” Teriak Gea kembali dengan sigap kembali memanjat jendela kamarnya lalu mengunci rapat jendelanya. Padahal, sosok putih yang bergantung di pohon tersebut adalah layang milik Didi yang gagal dalam misi penerbangannya.


“Apa dia akan masuk ke sini? Sebaiknya aku tidur saja.” Gea bersembunyi di balik selimutnya.


Sementara Itu, Brian tetap melampiaskan emosinya pada drum. Rasa bercampur aduk ketika melihat Gea bersama ketiga pemuda itu. Peluh mulai membasahi tubuhnya.


“Perasaan apa ini?” Tanyanya lagi sembari memukul lebih keras, hingga stik drum tersebut patah. Sekejap, permainan selesai. Ponselnya berbunyi, ia meraihnya. Ia melihat pesan dari Oliv. “ Mimpi indah, Brianku.” Brian langsung merebahkan tubuhnya.


“Apa benar jika kau adalah Oliv?” Tanya Brian sembari meraih foto gadis kecil dari balik bantalnya. Brian kembali mengingat kejadian tadi siang.


Karena tingkah Gea yang sangat tercela, Brian langsung meminta izin untuk pulang. Ia menaiki bus, dan sampai di komplek rumahnya.


“Dia akan kencan buta, lalu hubungannya denganku apa? sadarlah.” Brian memukul pelan dadanya. Karena sangat stres, ia membuka seluruh topengnya di depan pintu rumahnya. Ketika ia hendak membuka pintu, Oliv keluar dari rumahnya. Oliv terlihat terkejut ketika melihatnya, dan Oliv membaca namanya yang tertera pada baju seragamnya.


“Brian El Dino.” Oliv menatapnya dengan wajah tidak percaya.


“A-a-pa ka-u Di-no?” Tanya Oliv dengan terbata-bata. Brian hanya terdiam. Mata abu-abunya sudah terpampang jelas di depan Oliv.


“Bukan, aku Brian.” Jawab Brian dengan wajah datar.


“Aku Oliv. Apa kau tidak mengenalku?” Tanya Oliv dengan antusias. Brian menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya terhenti pada gelang Oliv. Gelang yang sama dengan gelang yang berada di dalam peti di kamarnya. Tatapan Brian mulai memandang wajah Oliv.


“Apa mungkin?” Tanya Brian dengan wajah lebih antusias.


“Hmmm.” Angguk Oliv.


“Sepertinya, ada beberapa hal yang harus kau ceritakan padaku. Ayo, kita bisa berbicara di dalam rumahku.” Ajak Brian.


“Maaf jika aku tidak mengenalmu, aku mengalami kecelakaan 7 tahun yang lalu. Kisah masa kecil kita aku lupa.” Brian menyuguhkan sebuah minuman pada Oliv.


“Kau benar-benar lupa? Aku benci.” Oliv menatap Brian dengan wajah imut, itu membuat Brian yakin jika dia adalah gadis kecil di foto tersebut.


“Hahaha.” Tawa hambar Brian.


“Penyamaranmu, lumayan juga. Kau sudah sangat terkenal, aku tidak menyangka. Luar biasa.” Bisik Oliv membuat Brian kembali tertawa.


“Itu ide Ibuku. Oh iya, aku lupa menanyakan kabarmu. Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku.”  Brian menatap Oliv dengan sepenuh hati.


“Kau bisa melihatnya, aku baik-baik saja. Tapi kau, harus membayarnya.”  Brian menatap penuh pada senyuman Oliv. Namun tiba-tiba wajah Oliv berubah menjadi wajah Gea. Lamunan Brian buyar. Brian menarik selimutnya, dan kembali berguman.

__ADS_1


“Hatiku berkata, ini salah. Tapi, apa yang benar. Tidak, Oliv memang gadis itu. Aku akan membayarnya, sesuai permintaannya.”Brian  memejamkan matanya.


__ADS_2