Euforia Cinta

Euforia Cinta
Last


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan mereka lewati, hingga mereka sudah lulus dari SMA. Masa-masa bahagia  yang mereka nikmati secara bersama, dari bolos les hingga di usir dari kelas, namun mendapatkan hoki untuk pindah ke kelas gold. Naik bus tanpa tau jurusan bus. Bermalam di aula komplek dengan film lawas untuk produk situs film bajakan. Bermain petasan, menangisi cinta, bermusuhan karena perbedan pendapat, namun bersatu karena kejujuran hati. Menari di depan poster, hingga merasakan cinta masa semu. Tak akan ada kata yang bisa


mengungkapkan, jika perbedaan lambang dari seragam SMA, adalah wujud dari betapa eratnya sebuah pertemanan. Corat-coret kata motivasi tertulis di masing-masing baju seragam. Apa yang akan menghapus semua itu? Tidak ada yang tau. Tapi semua itu, akan segera terkunci dalam memori sebuah masa yang paling indah. Dan ketika semuanya sudah terkunci, maka pada saat itulah mereka berjalan menuju jalannya masing-masing. Kenangan masa SMA mereka jauh lebih mengesankan dari kenangan masa apapun yang pernah mereka lewati.


10 Tahun kemudian.


Wajah Gea tertempel di beberapa poster kesehatan di tepi jalan. Seorang dokter sosialita terkenal dengan patnernya Haris. Bimo berdiri di depan poster tersebut dan tersenyum bangga. Seorang petinju dunia telah kembali ke Indonesia. Ya, Bimo telah menjadi seorang petinju yang menjuarai beberapa olimpiade kejuaraan dunia. Bimo berjalan ke halte bus lalu naik ke atas bus yang berhenti di hadapannya. Bimo melihat Oliv, dengan rambut panjang  duduk di belakang sopir. Ia memakai kaca mata coklat dan melirik kesal pada Bimo.


“Kau pasti baru datang.”


“Maaf, tadi aku makan dulu.  Oliv, sepertinya sekarang Gea sangat terkenal.” Bimo duduk di sebelahnya.


“Aku jauh lebih terkenal.” Oliv membuka kaca matanya dan membuat gaduh seisi bus.


“Apa dia Oliv si model terkenal itu, dan apa dia Bimo si petinju dunia itu? Wah jadi mereka benar-benar berpacaran.” Bisik salah seorang pelajar.


“Kenapa mereka naik bus? Apa mereka sudah bangkrut?” Bisik penumpang lainnya.


“Lihat, skandal baru akan muncul besok pagi.” Senyum Oliv dengan nada bahagia.


“Benar, kau benar-benar lebih terkenal dari pada Gea.” Kagum Bimo.


**


Sementara itu, Gea sibuk melayani para tentara yang sedang melakukan medical check up. Semua tentara ricuh ketika bertemu langsung dengan Gea.


“Hei, buat barisannya, hormati ibu dokter ini.” Teriak Didi yang sudah menjadi tentara mengikuti jejak Bapak dan abangnya.


“Hallo Didi, bagaimana jika komandannya duluan.” Sapa Gea dengan tersenyum manis.


“A-a-aku? aku tidak ikut, aku hanya sebagai pengawas.” Gea melirik sebuah berkas dan membaca nama pasiennya.


“Didi Trismandar, apa orangnya ada di sini?” Sorak Gea.


“Kau ini benar-benar.” Umpat Didi dengan wajah geram pada Gea, lalu duduk di kursi pasien yang ada di hadapan Gea.


“Ada apa Pak? Duduklah, ini tidak akan sakit.”  Ketika Gea mengambil sampel darah Didi. Didi menangis sejadi-jadinya.


“Gitu saja cengeng. Bagaimana mau membela Negara.” Cemooh Gea dengan memukul bahu Didi. Tiba-tiba, Tasya dengan sanggul anggun berjalan mendekati Didi.


“Tekan lebih keraslah sayang, supaya darahnya berhenti.”


“Tasya, kau sudah menjadi pejabat tinggi, kau bisa menetapkan pilihanmu, lanjut atau berhenti dengan komandan cengeng ini.”


“Gea, kau jahat. Ayo sayang.” Tasya membawa Didi ke kursi yang ada di sudut ruangan.


“Huuuuuuu.” Sorak para prajurit Didi.


“Gea, sepertinya si anggota girl band cedera lagi. Dia memanggil-manggil namamu.” Bisik Haris.


“Dimana?” Tanya Gea dengan cemas.


“Di UGD, pergilah aku akan menggantikanmu di sini.” Gea berdiri, lalu Haris duduk menggantikan Gea. Lia datang dengan membawa rantang makan siang untuk Haris.


“Gea, kau mau kemana?” Tanya Lia.


“Aku mau menemui si anggota girl band. Kau sendiri, bukankah kau ada acara besar hari ini? atau, apa kau butuh seorang model seksi? Aku bisa mengisi posisi itu. Kau kan sudah menjadi desainer terkenal.” Jawab Gea.


“Aku sedang mendesain baju pria. Aku butuh kontak Ervan, aku ingin dia menjadi modelnya. Apa kau punya?” Tanya Lia.


“Tidak.” Jawab ketus Gea lalu melangkah menuju UGD. Gea melihat Dina yang baik-baik saja.


“Katanya kau cedera, dibagian mana?” Tanya Gea.

__ADS_1


“Di sini, di dalam hatiku.” Ucap Dina.


“Kenapa lagi?” Tanya Gea.


“Apa kau tidak melihat kabar? Jika Kang Daniel akan segera menikah. Aku benar-benar patah hati, Gea.” Jawab Dina.


“Jika kau patah hati, lalu si penyanyi terkenal itu mau kau apakan?” Tanya Lia yang tiba-tiba muncul.


“Dia sedang sibuk dengan tour konser dunianya. Dia bahkan tidak mengubris tatapan cintaku.Huaaa, Kang Daniel-oppa.” Tangis Dina.


“Dina! Dina!” Teriak Gisel dari depan UGD.


“Dia di sini.” Teriak balik Lia.


“Apa kau baik-baik saja? Aku dengar kau pingsan pada saat latihan.”


“Ya, dia pingsan karena mendengar kabar jika Kang Daniel akan menikah.” Jelas Gea.


“Heleeeeh, semuanya juga akan menikah. Kenapa itu yang kau risaukan, dasar bodoh.” Gisel memukul kepala Dina.


“Karirmu lancar, dompet pacarmu semakin tebal.” Sindir Gea pada Gisel.


“Apa bedanya dengan dirimu, Brian kan juga sudah menjadi pengusaha yang jauh lebih sukses dari Kevin.” Sindir balik Gisel.


“Tapi karirku tidak, aku masih tertempel di poster-poster tepi jalan.” Keluh Gea dengan wajah lesu.


“Bukankah populariasmu tinggi.” Lirik Lia.


“Iya, lebih tinggi Kak Gina.” Gea melirik sebuah poster besar di depan mereka.


“Uuuuh, seksinya.” Kagum Dina pada poster Gina. Santi datang dengan pakaian bidannya.


“Gea, kau di sini, Brian mencarimu, dia ada di depan.”  Santi mendekat kearah Gea.


“Ma-sama Ibu Dokter.” Senyum Santi. Gea berlari pelan kearah depan rumah sakit. Gea melihat Brian sudah menunggunya.


“Bukankah sudah aku katakan jika kita bertemu di rumah saja.” Gea berjalan ke hadapan Brian.


“Aku sudah tidak sabar untuk memberikan buku ini.”  Brian  memberikan Gea sebuah buku novel cinta yang ia


lempar ketika pulang sekolah dulu.


“Ba-bagaimana bisa buku ini bis ada pada dirimu?” tanya Gea.


“Kak Gina yang memberikannya. Dia bilang, hanya satu buku ini yang sangat kau suka, dan selalu kau baca.”


“Glek.” Gea menelan pahit ludahnya karena Gea tidak pernah menyukai buku ini.


“Ceritanya menarik, dan seperti dengan kisahmu.” Bisik Brian, sementara Gea membalik pelan buku novel tersebut.


“Oh iya Gea, tahun ini umurmu sudah berapa tahun?” Tanya Brian.


“27 tahun.” Jawab Gea dengan membalik sebuah halaman dari buku tersebut. Tiba-tiba Brian bertekuk lutut, dan mengeluarkan sebuah kotak persegi kecil berwarna hitam.


“Brian, apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Gea heran.


“Klak.” Brian membuka kotak tersebut, kotak tersebut berisi sebuah cincin berlian.


“Will you marry me?” Tanya Brian membuat Gea terpaku.


“Terima, terima, terima.” Sorak Dina, Dami, Lia, Haris, Santi, Ervan, Gisela, Kevin, Didi, Tasya, Bimo dan Oliv.


“Ya, aku mau.” Brian memasangkan cincin berlian tersebut di jari manis Gea. Lalu memeluk Gea dengan sangat erat. Tepuk tangan para sahabatnya membuat suasana semakin meriah. Gisel berlari ke sebuah mobil dan mengeluarkan seikat balon warna warni.

__ADS_1


“Ini, aku kembalikan balon warna-warnimu.”Gea menerimanya.


“Sebenarnya, jika dulu kau tidak juga menyatakan cinta padaku. Maka kertas cinta dan balon ini adalah strategi pertamaku untuk mendapatkan cintamu. Sekarang, aku ingin mendengar jawabanmu. Apa kau mau menjadi


pendamping hidupku?” Tanya Gea dengan memberikan balon warna warni tersebut pada Brian. Brian tersipu malu, dan menerima balon tersebut. dan menerbangkannya ke atas langit biru.


“Ini, coklat milikmu, aku mengembalikannya. Terima kasih ya, karena coklat ini aku bisa menjadi diriku sendiri, dan tentunya mendapatkan si cantik ini.” Didi menunjuk Tasya sembari mengembalikan sebuah paket coklat pada


Gea.


“Sebenarnya, ini bukan milikku. Ini milik Santi, yang tertinggal ketika ia hampir ketahuan oleh Ervan. Aku kembalikan padamu Santi.”


“Tidak, sekarang ini menjadi milikmu. Ayo, berikan padanya.” Bisik Santi. Gea menatap Brian yang menatapnya.


“Brian, aku tau coklat ini manis, tapi aku juga tau nanti kehidupan kita tidak akan selamanya manis semanis coklat ini. apa kau sanggup?” Tanya Gea.


“Mmmm. Aku sanggup.” Jawab Brian dengan mengambil coklat tersebut dari tangan Gea.


“Ada lagi, sebenarnya, aku yang sudah menyusun rencana ini, dan kau tau Gea, wajah kesalmu ketika membalik-balik buku itu ada di sini. Rahasiamu ada di tanganku.”  Lia  menggoyang-goyangkan ponselnya, karena berhasil merekam ekspresi kesal Gea, sebagai pembalasan rekaman tangisnya sewaktu SMA dulu. Lia juga tau jika Gea tidak menyukai novel genre cinta.


“Heheheh, kau memang pintar Liaku.”Gea memukul bahu Lia.


“Dan lagi, Rencana malam tahun baru itu, aku kembalikan kepadamu.” Jelas Ervan membuat Gea rancu, sementara Didi mengeluarkan gitarnya. Semua teman-temannya bernyanyi untuknya. Terutama Bimo yang menghujani mereka berdua dengan bunga mawar.


“Andmesh-Nyaman.”


Lama sudahku menanti.


Banyak cinta datang dan pergi.


Tapi tak pernah aku senyaman ini.


Mungkin dirimulah cinta sejati


Tak akanku ragu lagi.


Kujaga sampai keujung nadi.


Takkan kusia-siakan lagi.


Buat hidupku menjadi berarti.


Reff.


Cintamu senyaman mentari pagi


Seperti pelangi


Selaluku nanti


Cintamu, tak akan pernah terganti


Selamanya dihati


Aku bahagia milikimu seutuhnya.


 Benar, malam itu adalah malam yang sudah direncanakan Gea untuk Brian. Namun, Gea mengalah demi Ervan dan Santi. Keinginannya adalah ketiga temannya itu bernyanyi untuk dirinya dan kekasih hatinya. Hari ini semua


keinginannya terbayarkan. Namun di bayar penuh dengan nyanyian semua teman-temannya. Hai engkau yang masih SMA, pegang eratlah tangan teman-temanmu, dan buatlah kisah pertemanan yang lebih indah dari mereka. Karena suatu saat nanti, akan ada pertanyaan, siapa temanmu yang paling lama ada bersamamu?


Ada sebuah kebahagiaan yang berarti. Yang berarti pasti memiliki makna. Makna itu, akan menjadi sebuah cerita. Cerita yang menggambarkan sebuah kisah. Kisah yang memaparkan rasa duka, rasa suka, rasa rindu, rasa gundah, rasa curiga, rasa ingin tau, rasa cemburu, dan rasa benci yang memekarkan rasa cinta.


Hei, bukankah kau seorang pujangga yang menginginkan cinta di dalam hidupmu, hingga dulu kau mau berkorban untuk mekarnya cintamu. Lantas kenapa kau berseru, akan mendungnya langit, dan derunya angin yang menggelapkan cintamu. Kau selalu menanti mentari, tapi kau mendambakan cahaya matahari. Sadarlah, kau sangat angkuh akan sebuah penantian. Kau tau, cinta tidak untuk kau nanti, melainkan untuk kau cari. Walau pilu sebuah sayatan sembilu, dan pedihnya hati akan sebuah cinta, kau akan segera tau, rasa itu akan terus mencari tau rasanya.

__ADS_1


Kau sudah mengerti, kau sudah tersenyum, namun kau mulai berpikir, dan kembali tersenyum. Inilah akhir dari Euforia Cinta. Semoga kau bisa menemukan cintamu, walau itu di dalam mimpi.


__ADS_2