Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 44. Bekas Luka Yang Sama


__ADS_3

Paginya seperti biasanya Gea berangkat ke sekolah. Setiba di halte, semua siswa yang satu komplek dengannya memakai baju olahraga dan berdiri di halte seberang.


“Kenapa mereka bisa kompakan? Apa mereka semua satu kelas? Mungkin mereka ingin berolahraga bersama.” Umpat Gea dalam hati. Tiba-tiba Bimo datang dan melirik Gea.


“Apa siswa sekolahmu tidak ikut ke Lapangan Pancasila?”


“Lapangan Pancasila, untuk apa?”


“Heeih, hari ini peringatan ulang tahun kota. Semua siswa di kota, akan berkumpul di lapangan pancasila dan itu wajib karena ada sertifikatnya. Apa kau tidak tau?”


“Tidak.” Jawab Gea dengan cuek, lalu melangkah pulang untuk berganti baju. “ Benar-benar si Lia, untung aku belum sampai disekolah. Kalau tidak, sungguh memalukan diri ini. ” Bisik Gea dalam hati. Gea bergegas masuk


ke dalam rumahnya dan mengganti bajunya.


‘Aduuh, aku lupa, baju seragam ini terlalu sempit untuk dada ini. Seragam baruku kotor pula, aduuh bisa-bisa, mata semua timun tertuju padaku. Aku harus bagaimana? Huuuuh.” Gea berkaca di sebuah mobil yang terparkir di


depan rumahnya.


“Pakai bajuku saja.” Gea menoleh ke belakang.


“Brian, kau sudah pulang.” Gea melihat aksi Brian yang membuka baju olahraganya dengan sangat seksi. “Astaga, baru kali ini aku melihat secara nyata tubuh kotak-kotak berminyak seksi di pagi hari.” Bisik Gea dalam hati dengan menelan ludahnya. Brian melempar baju tersebut ke wajah Gea.


“Aku tidak menyuruhmu untuk melihat tubuhku ini, dasar cabul! Cepat ganti bajumu. Dengan si kembar yang menonjol itu, kau bisa membuat satu lapangan ricuh.”


“Aaah, iya.”  Gea berjalan dengan baju yang masih tertempel di wajahnya.


“Huuft, kapan dia pulang? Tubuh kotak-kotak itu, wiiih.” Gea membuka bajunya dan mulai mengganti bajunya.


“Bau baju ini, seperti tidak asing di hidung ini.”Gea  mencium penuh aroma baju tersebut.


“Geaa, cepatlah!” Teriak Brian dari luar. Gea bergegas keluar.


“Kenapa kau pakai sweater? Nanti kau bisa kena hukum. Pakai saja bajuku.” Gea menyodorkan bajunya. Brian mengambil baju tersebut dan melemparnya ke tong sampah.


“Jika sudah tidak muat, seharusnya kau membeli baju yang baru.”  Brian melirik cuek pada Gea lalu melangkah menuju halte bus. “Aish sombong sekali, mentang-mentang baru pulang dari Amerika. Baru baju ini, belum lagi yang lain. Laian aku juga punya baju baru, tapi belum di cuci.” Bisik Gea dalam hati. Gea menyadari mata Brian yang asli.


“Heey, apa kau tidak menggunakan softlens? Kau bisa mati dikerumuni fansmu nantinya.”Gea menghentikan langkah Brian.


“Apa kau tidak menonton televisi?” Tanya Brian dengan lebih sombong. Gea menggeleng.


“Aku bukan lagi seorang artis. Aku hanya orang biasa. Tidak akan ada yang berani mendekatiku.”Gea melangkah cepat ke hadapan Brian.


“Hahahaha, apa kau bercanda? Itu sangat lucu, Ahahahaha.” Tawa garing Gea yang membuat jengkel.


“Aku tidak bercanda, dan tidak ada yang lucu. Aku sudah mencabut semua gelar artis itu dari tubuhku ini.” Jawab Brian dengan dingin


“Benarkah? Bagaimana semua itu bisa terjadi?” Tanya Gea dengan wajah antusias. Tiba-tiba Didi muncul, dan melihat Gea dan Brian sedang berdiri berhadapan dengan saling menatap satu sama lain.


“Hehehey, apa kau sudah mengganti pasanganmu? Ciee Gea, apa kau tertarik dengan Brian? Lalu aku bagaimana?” Tanya Didi pada Gea, membuat Brian meliriknya dengan mata kesal. Didi menangkap tatapan Brian, dan menatap lebih pada mata abu-abu Brian. Didi langsung terdiam dan hanya menatap lebih pada seluruh bagian tubuh Brian. Dengan kasarnya, Didi menarik sweater Brian ke atas.


“Hey apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Gea Syok melihat aksi Didi. Didi gemetar ketika melihat bekas luka di bagian pinggang Brian.


“Dino.” Lirih Didi dengan pelan lalu membuka bajunya dan memperlihatkan bekas luka yang sama.


“Kenapa kalian masih di sini, ayo kita bisa terlambat.” Sorak Ervan yang tiba-tiba datang dari arah belakang Didi. Brian melirik Gea untuk melihat reaksi Gea atas ucapan Didi, sementara Gea hanya terdiam.


“Kenapa kau memperlihatkan bekas lukamu itu pada.” Ervan langsung terdiam ketika melihat mata Brian. Mereka berempat terdiam cukup lama.


“Kenapa bekas luka itu bisa sama dengan bekas luka kami?” Tanya Ervan dengan membuka bekas lukanya.

__ADS_1


“Waktu itu, aku beserta temanku melakukan hal luar biasa yang terbilang  jauh dari umur kami. Kami berlima ketahuan oleh Ayah salah satu temanku yang kebetulan seorang tentara, dan akhirnya kami pukul menggunakan rotan hingga luka, sebagai efek jera supaya tidak mengulanginya lagi, karena kami adalah anak laki-laki.. Dan bekas luka tersebut membekas, hingga kami berlima memiliki bekas luka yang sama.” Brian  tersenyum seraya melirik Didi dan Ervan.


“Apa kau sudah mengetahuinya?” Tanya Ervan dengan wajah kesal pada Gea.


“Apa bekas luka yang sama?” Tanya Gea berpura-pura tidak tau apa-apa. Brian tetap menatap Gea dengan sepenuh hati. Didi menyadari tatapan mata tersebut.


“Menjauh darinya.” Didi menarik tangan Gea untuk menjauh dari Brian.


“Siapa kau sebenarnya?” Tanya Ervan dengan dingin pada Brian.


“Dia milikku, jangan menyentuhnya!” Jawab Brian dengan menarik Gea kembali.


“Ahahahaha, ini sangat lucu. Aku sudah terlambat. Sebaiknya aku duluan. Daaah.”  Gea melepaskan tangan Brian dan tangan Didi dari tangannya.


“Kita berempat sudah berdiri di sini. Tak ada yang bisa pergi. Kemarilah Gea, akulah kaptennya.” Sorak Ervan dengan dingin membuat Gea melangkah pada Ervan.


“Apa kau Dino?” Tanya Didi dengan sangat antusias.


“Hmmm.” Angguk Brian dengan mata masih tertuju pada Gea.


“Lelucon hambar. Lalu, apa kau sedang berusaha mempermainkan kami?” Tanya Ervan dengan emosi.


“Maafkan aku, dalam kecelakaan itu aku berhasil selamat. Tapi, karena benturan hebat di kepalaku, aku lupa dengan masa laluku.” Brian menunduk sedih.


“Tapi sekarang, aku sudah ingat semuanya, maafkan aku. Pasukan berudu hero. Aku kembali.” Semangat Brian dengan tersenyum manis, membuat Gea tercengang, sementara Didi dan Ervan langsung tersenyum puas dan memeluk Brian.


“Aku sudah curiga dari awal. Ternyata itu benar kau, bosku!” Ervan  menepuk punggung Brian.


“Waah, ini mengagumkan. My Bos kembali. Ahahahha.” Tawa girang Didi.


“Ini sudah terlambat, ayo kita pergi.” Ervan merangkul Brian dan Didi lalu melangkah duluan.


“Gea, apa kau tidak menyapa Dinomu?” Tanya Didi dengan tersenyum licik.


“Aaah.” Jawab Gea dengan wajah menjengkelkan. Karena bus penuh,  hanya Gea yang duduk, sementara Didi, Ervan, dan Brian berdiri di hadapannya.


“Lalu, apa rencanamu kedepannya?” Tanya Ervan pada Brian memulai pembicaraan.


“Hidup seperti manusia normal, tak ada kamera, tidak peduli dengan ucapan orang lagi, dan yang paling terpenting bisa hidup dengan cinta yang sangat aku rindukan.”  Brian  menatap Gea.


“Cinta yang sangat kau rindukan. Apa itu Oliv?” Tanya Didi rancu.


“Menurutmu?” Tanya Brian dengan tersenyum.


“Kau harus tau tentang jati diri Oliv. Dia itu, haters yang sangat diincar oleh korbannya.” Jawab Didi dengan merangkul bahu Brian.


“Hey Gea, apa rencanamu kedepannya?” Tanya Ervan dengan menyenggol kaki Gea.


“Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?” Tanya Gea dengan wajah


heran.


“Apa kau tidak merasakan sesuatu setelah kau tau jika Brian adalah Dino?” Tanya Ervan lagi.


“Biasa saja.” Jawab Gea dengan wajah menjengkelkan.


“Bohong, kau adalah gadis yang paling pandai berdrama. Kau pikir aku tidak ingat bagaimana kau sangat hancur ketika melihat Dinomu ini masuk ke dalam peti itu, dan kau bahkan hidup seperti tak bernyawa hingga berbulan-bulan lamanya.”  Didi dengan lancang membuka masa lalu Gea. Sementara Brian tersenyum dengan manis.


“Aku tidak tertarik membahas Dino. Lagian, aku juga sudah melupakannya, semua sudah terkubur bersama peti itu. Dan yang hidup sekarang adalah Brian, bukan Dinoku.”  Gea berjalan turun dari Bus dan melangkah menuju lapangan.

__ADS_1


“Heiih, dia begitu menjengkelkan. Dasar gadis keras kepala!” Umpat Didi dengan kesal.


“Kau sudah kembali, kami sangat bersyukur dengan itu semua. Dengan begitu, tugas kami sudah selesai bukan, bosku.” Bisik Ervan membuat Brian bingung.


“Tugas apa?” Tanya Brian


“Apa kau tidak ingat? Haaa, aku rasa kau kurang ingat dengan visi misi pasukan kita. Nanti malam, akan aku kembalikan seluruh ingatanmu. Sampai nanti.” Jawab Didi dengan berlari menyusul Gea.


“Gea! Tunggu aku!” Sorak Didi.


“Sekolah kita beda, jangan ikuti aku!” Sorak balik Gea.


Gea langsung masuk ke dalam barisan. Melihat Gea, Dina langsung melambaikan tangannya.


“Bagaimana? Apa kau sudah sampai di sekolah?” Tanya Lia dengan tersenyum licik.


“Tentu saja tidak, menurutmu, apa gunanya aku memiliki teman di komplek rumahku?” Tanya Gea lagi dengan wajah mengesalkan.


“Plak!” Dina memukul kepala Gea dan Lia.


“Sakit tau!” Teriak Gea dengan kesal.


“Kalian berdua ini kenapa? Mudah bergaul dan mudah berselisih.”  Dina dengan wajah geram.


“Siang ini, kita akan menerima royal dari Lia.” Bisik Gea dengan tersenyum genit.


“Haaa? Benarkah? Dengan siapa?” Bisik balik Dina.


“Dengan Haris” Bisik Gea dengan tersenyum manis.


“Ahahahahahhaa. Bagaimana itu bisa terjadi?” Tanya Dina yang tertawa cekikikan. Gea mulai menceritakan semuanya, termaksud rekaman kesedian Lia.


“Mari kita jadikan Instastory.” Ajak Dina pada Gea, sementara Lia hanya pasrah.


“Sekarang bagaimana perasaanmu Lia? Apa kau sudah bahagia?” Tanya Gea dengan tersenyum manis.


“Kau harus menceritakan semuanya padaku.” Bisik Lia dengan wajah geram.


Tiba-tiba Gisel datang dengan wajah kesal.


“Hey, kalian bertiga! Apa kalian tidak ingin tau bagaimana dengan kabarku?” Tanya Gisel dengan wajah sedih.


“Kenapa? Ada apa denganmu?” Tanya Lia.


“Saat ini, aku benar-benar sangat kesal!” Jawabnya sembari membuka maskernya.


“Hey, pakai lagi maskermu. Kau ingin satu lapangan ini ricuh karena dirimu.”  Dina kembali menaikkan masker


di wajah Gisel.


“Aku dengar kau ikut syuting layar lebar. Bagaimana? Kapan kami bisa menontonya?” Tanya Gea dengan memperbaiki poninya.


“Film itu tidak akan pernah tayang! Aku mengutuk pria sialan itu!!!” Teriak Gisel dengan keras, lebih keras dari suara panitia yang sedang mengatur barisan.


“Siapa pria itu? Brian? Dami?” Tanya Lia.


“Bukan mereka. Mulai kemarin, Brian sudah mengundurkan diri dari dunia keartisan. Dia sudah menjadi manusia biasa. Dan Dami, dia sibuk dengan albumnya.”  Jawab Gisel dengan menggaruk kepalanya.


“Benarkah? Waaah, berarti sekarang Brian sudah bebas. Hey, itu tidak mungkin mengingat ponsel ini bisa menjebret kapanpun dan dimanapun.” Lirik kesal Dina pada Gisel karena merasa di bodohi.

__ADS_1


“Dia sudah mengumumkannya di setiap chanel televisi. Jika ada yang berani menggusiknya, dia tidak akan segan-segan untuk memenjarakannya.” Jelas Gisel dengan mata melotot.


__ADS_2