Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 21. Tingkah Baru


__ADS_3

Gea masuk ke dalam rumahnya. Rasa menggelegar akan emosi begitu ia rasakan. Ia melihat Gina sibuk mengotak-atik pintu kamarnya dengan kunci lama.


“Oi.” Gina terkejut.


“Eh, kau sudah pulang. Aku hanya, aku hanya.”Gina mencari-cari alasan. Gea hanya melirik sinis pada Gina, lalu masuk ke dalam kamarnya.


“Benar-benar mengesalkan.” Gea melempar barang belanjaannya.


“Dia pikir dia itu siapa? Lihat saja, aku akan membalasnya.” Guman Gea dengan menghempaskan tubuh seksinya pada kasur empuknya.


Paginya, Gea bangun lalu bergegas mandi. Ada yang berbeda dengan pagi ini. Gea memberanikan diri untuk kembali duduk dimeja makan, untuk sarapan dengan Papa dan Mamanya. Ia mulai berusaha menghilangkan rasa canggungnya.


“Pa, Ma, aku berangkat dulu.” Gea menyandang tas ranselnya, berjalan menuju pintu.


“Hmmm, hati-hati.” Sahut Mamanya yang sibuk dengan tumisan sayurnya.


“Haaah, aku ingin hari ini semuanya kembali normal. Gadis murahan, cih.” Gea melirik ke rumah Brian, lalu melangkah santai menuju halte. Ia tidak menemukan satu siswapun di halte.


“Kemana semua orang?” Tanyanya dengan naik ke atas bus. Dan tumben sekali, bus tidak begitu ramai.


“Hahahaha.” Tawa garingnya sembari duduk dan melirik jam tangannya.


“7. 25 AM, Hahahahaha.” Tawanya lagi, membuat beberapa penumpang meliriknya.


“Senin.” Gea terdiam lama. Wajar saja tak ada siswa lain, sekarang hari senin dan karena upacara bendera, jam masuk lebih pagi. Gea kembali tertawa, hingga ia sampai di halte depan sekolahnya. Ia kembali melirik jam


tangannya, 7.45 AM. Gea terdiam sebentar, memikirkan jalan. Ia melesat melewati rumah warga, dan mulai memanjat tembok belakang sekolah. Keahlian yang sudah dilatihnya selama 2 tahun, tentunya pada hari senin. Ketika mendekati kelas, ia melempar tasnya pada tong sampah lalu memakai topi,  berjalan santai seolah-olah jika ia dari toilet, dan melesat ke dalam barisan.


“Wow, lagi?” Bisik Omar dengan wajah terpana membuat beberapa siswa melirik Gea.


“Mmmm.” Angguk Gea dengan cuek.


Seorang siswa pada barisan kelas 2 terlihat tersenyum malu-malu pada Gea, dan diikuti dengan kehebohan beberapa siswa lainnya.


“Lihat, ternyata dia kakak kelas yang cantik itu. Astaga, mengagumkan sekali.” Bisik salah satu siswa. Omar melirik siswa tersebut.


“Kau terkenal juga yaak.” Omar tersenyum kecut pada Gea yang tetap fokus dengan penutup upacara. Upacara selesai, semua siswa kembali ke kelasnya.


“Hoi Gea!” Teriak Lia menghentikan langkah Gea yang hendak berbalik mengambil tasnya yang ada di dalam tong sampah.


“Plak.”


“ Kau ini, apa tidak bisa bangun lebih awal?” Tanya Dina dengan menjitak kepala Gea.


“Aku bangun pagi, ini buktinya.”Jawab Gea dengan tersenyum manis.


“Dimana tong sampahnya? Ayo, kami temani.” Ajak Lia dengan merangkul Gea, yang sudah mengetahui aksi temannya. Ketika Gea hendak mengambil tasnya, siswa yang meliriknya tadi memberanikan diri mendekatinya.


“Mmmm, Kak. Ini, untukmu.” Siswa itu memberikan seikat mawar pada Gea. Sontak Gea sedikit tercengang.


“Hey apa-apaan ini? Pernyataan cinta?” Tanya Dina dengan lebih terkejut.


“Bukan, ini adalah wujud dari rasa kagumku pada kakak ini.” Jawabnya dengan tersenyum manis. Gea membaca papan nama yang tertera di dada kanan siswa itu.

__ADS_1


“Gazi Alfero, nama yang manis.” Gea menerima bunga tersebut. Wajahnya terlihat merah ketika Gea memujinya.


“Aaah, terima kasih. Kalau begitu aku pergi dulu.” Ia berlari kencang, melesat melewati lorong kelas.


“Pemuda pemalu, Khikhikhik.”Tawa geli Lia menepuk pelan bahu Gea dan meraih bunga tersebut.


“Ayo ke kelas.” Ajak Gea dengan menyandang tasnya.


“Untung tong sampah sekolah kita bersih.”Dina  menghapus sedikit debu di tas Gea.


Sesampai di kelas, Gea dengan seikat bunga ditangannya, melangkah menuju mejanya.


“Hey, aku duduk di sana.” Gea menunjuk Gisel yang duduk di mejanya.


“Oooh maaf, aku tidak tahu. Kalau begitu aku akan cari meja yang lain.” Gisel berdiri, hendak mencari kursi kosong


“Dia anak baru Gea, karena kursimu kosong pada hari sabtu, jadinya dia duduk di sana.”Lia menjelaskan.


“Oooh Baiklah, aku bisa duduk di belakang.” Gea tersenyum licik, melangkah ke belakang. Geng Omar sudah menantinya. Itu adalah hal yang selalu dinantinya, karena ia ingin tau seluk beluk geng Omar. Tapi Dina selalu


menghalanginya.


“Gea, kau bisa menyuruhnya pindah. Jangan duduk di belakang. Kau juga anak baru, walau kau seorang artis kau akan diperlakukan sama di kelas ini. kau mengerti.” Bentak Dina dengan kesal seraya melirik Gea dan memandang


sinis pada Gisel si anak baru. Gisel hanya terdiam mendengar perkataan Dina.


“Sudahlah, temanmu si Gea yang bermurah hati dan ingin pindah kebelakang. Kau ini.” Bisik Lia berusaha meredam kekesalan Dina. Gea tetap melangkah ke belakang.


“Bagaimana, apa aku sudah cocok duduk disini?” Tanya Gea denga tersenyum manis pada anggota geng Omar.


“Cocok cocok.” Sahut Fahri dengan memberikan dua jempolnya. Sementara Omar terlihat malu-malu karena Gea duduk di sebelahnya. Omar mulai menceritakan kisah-kisah konyol gengnya, hingga membuat Gea tertawa. Omar adalah salah satu teman smp Ervan. Makanya, Omar juga memperlakukan Gea sama seperti ia memperlakukan Ervan, walau kadang menindas karena bisnis Gea.


Brian masuk ke dalam kelas, dengan teman barunya. Omar memberikan kode pada Gea.


“Siapa mereka?” Tanya Gea dengan wajah heran.


“Brian dan Dami. Dami dan Gisel baru masuk hari sabtu kemarin.” Jawab Omar dengan melirik manja Gisel.


“Apa?” Tanya Gea dengan wajah tidak percaya. Beberapa siswa di dalam kelas heboh melihat penampilan baru Brian. Brian mengikuti saran Gea semalam. Dan juga, beberapa siswa dari kelas lain mulai memenuhi pintu kelas.


“Mereka bertiga adalah sudah berteman sejak kecil dan merupakan artis terkenal. Film yang mereka bintangi rata-rata masuk dalam kategori film teratas. Wujud nyata dari sebuah film.” Omar tersenyum bangga menjelaskan


semuanya. Sementara Gea hanya terdiam, karena ia tidak tau apapun tantang mereka bertiga. Brian melirik heran pada Gea yang duduk di sebelah Omar.


“Waah, aku benar-benar tidak menyangka. Baru satu hari aku tidak datang ke sekolah, perubahannya sudah sangat besar.” Gea melirik balik Brian.


“Eiiih, jangan berkata seperti itu. aku tidak berubah kok.” Sahut Omar wajah sok ganteng.


“Dan ternyata, kelas kita laku keras juga.” Gea berdiri dan membawa bunga tadi lalu meletakkannya pada loker yang berada di samping kursinya.


Tidak lama kemudian, guru kesenian masuk.


“Hari ini kita akan membagi kelompok praktek seni yang akan di pentaskan. Pembagian yang adil dan sejahtera.” Sorak Bu guru sembari mengeluarkan sebuah toples kecil dari tasnya. Toples tersebut berisi gulungan-gulungan kertas kecil.

__ADS_1


“Satu orang dapat satu gulungan. Jadi, isi gulungan ini menentukan dimana kelompok kalian. Setelah itu, langsung latihan. Waktu tinggal 1 bulan lagi. Silahkan diambil.” Sorah tegas Bu Guru, semua maju kedepan. Gea membuka


gulungan tersebut dengan sangat hati-hati.


“Hahahahaha.” Tawa Gea menggema di tengah kericuhan masyarakat kelas.  Dami dan Brian melirik Gea, dan


tersenyum melihat aksi Gea. Gea melangkah kearah meja Dina dan Lia. Dina dan Lia memperlihatkan hasil gulungan mereka.


“Hahahahaha.” Tawa Gea kembali melihat kelompok Dina dan Lia. Ia juga memperlihatkan kelompoknya.


“Dance juga, Hahahahhaha.” Tawa mereka bertiga, karena sudah rahasia umum jika mereka bertiga sangat malas untuk ikut latihan dance.


“Aku juga,”Gisel ikut-ikutan, membuat Dina melirik kesal padanya.


“Siapa?” Tanya Dina dengan wajah serius.


“Aku.” Jawab Gisel dengan wajah ramah.


“Nanya.” Bisik Dina dengan wajah mengesalkan.


“Plak.” Gea memukul wajah Dina dengan buku.


“Kau tidak boleh seperti itu, bagaimanapun juga dia satu kelompok dengan kita.”


“Plak.” Lia memukul kepala Gea dengan buku, ini membuat Gisel semakin canggung.


“Jadi kau berbuat baik padanya hanya karena dia sekelompok dengan kita? Siapa yang mengajarkan kalian berbuat begitu menjijikkan?” Tanya Lia dengan wajah kesal.


“Kau.” Jawab Dina dan Gea secara serempak. Membuat Dami yang duduk di belakang mereka tersenyum-senyum geli.


“Aku?” Tanya Lia dengan heran.


“Hmmm, semua itu adalah sikapmu dulu. Apa kau lupa?” Tanya Dina balik dengan wajah kesal.


“Mungkin dulu itu, aku kesurupan.” Jawab Lia kesal.


“Cih, dia melupakan masa kelamnya.” Bisik Gea pada Dina


“Gisel, maafkan teman-temanku ini yaak.” Mohon Lia dengan sangat lemah lembut.


“Kau bersikap sangat manis pada orang yang baru kau kenal. Apa kau seperti itu karena dia seorang artis?” Tanya Gea dengan wajah polos pada Lia.


“Hey, apa yang kau pikirkan? Dia memang artis, tapi itu diluar sana. Di kelas ini dia sama dengan kita. Tunggu, ini bukan dirimu. Sejak kapan kau mulai betingkah menilai seseorang dari penampilannya?” Tanya Lia dengan wajah heran. Membuat Brian yang fokus pada catatannya, mulai mendengarkan ucapan Gea.


“Semalam ada seseorang yang mengajarkanku tentang tingkah menjijikkan tersebut.” Jawab Gea dengn nada kesal, membuat Brian terhenyak dan menjatuhkan penanya.


“Sebaiknya kau pindah saja dari komplek rumahmu itu. Komplek yang tidak sehat.” Dina memberikan sebuah cermin pada Gea.


“Singapura sepertinya menyenangkan.” Sahut seorang siswa sembari menepuk pelan bahu Gea, membuat Gea menoleh padanya.


“Haris.” Gea tampak sangat terkejut.


“Aku pulang.” Haris memberikan Gea seikat bunga mawar merah segar. Membuat Brian melirik Gea. Semua mata tertuju pada Haris, kecuali Brian yang melirik kesal pada ekspresi menggemaskan Gea pada Haris.

__ADS_1


__ADS_2