Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 50. Walau Menjadi Kakak Iparku


__ADS_3

“Hey, bukankah kita sudah berakhir.” Gea melepas pelukannya dan membuat Brian melempar wajah datar padanya.


“Sebenarnya, aku tidak terlalu cemburu pada Didi, Ervan, dan Bimo. Aku hanya takut jika nanti mereka mempengaruhimu untuk meninggalkanku. Aku melihat kau sangat mudah di pengaruhi.Tapi setelah aku mendengarkan penjelasan darimu tadi, aku bisa lebih tenang sekarang. Namun sekarang, aku sangat cemburu


pada poster korea yang kau tempel di dinding kamarmu itu.”  Bisik Brian  menatap wajah Gea dengan lebih dekat.


“Aaaa-aah.”  Gea tidak bisa berkata apa-apa.


 “Khayalanmu itu, membuat dada ini sesak.” Bisik Brian membuat Gea menahan nafasnya.


“Dia bukan khayalanku.” Bisik Gea dengan pelan dan tak mampu menatap mata Brian.


“Lalu siapa?” Bisik Brian lagi.


“Suamiku.” Jawab Gea membuat Brian melempar tawa kesalnya kearah belakang.


“Aku juga pernah melihatmu menari gila di kamarmu. Jangan bilang kau menari di depan poster itu.” Spontan Gea menggangguk.


“Waaah, luar biasa. Aku penasaran dengan perasaan poster tersebut.”Gea kembali mengingat bagaimana ia menari di depan poster.


“Tentu saja luar biasa, itu adalah hari-hari kami.”Gea tersenyum malu.


“Ada apa dengan senyumanmu itu?”


“Waaah, aku baru sadar jika aku mengencani pria penguntit di jendela kamarku.”


“Hahahahahahaah, mari kita buat perjanjian.”  Brin duduk di kursi Gea.


“Perjanjian apa?”


“Aku mengizinkanmu untuk hidup bersama dengan postermu itu. Tapi, apapun yang kau lakukan pada postermu itu, kau juga harus melakukannya padaku.”


“Apa kau sudah gila?” Tanya Gea dengan wajah syok.


“Hohoho, dari pertanyaan dan reaksimu, aku sudah tau apa yang telah kau lakukan pada poster tersebut.”


“Glek.”Gea menelan pahit ludahnya.


“Bersikap adil-lah jika ingin berpoliandri.”


“Tentu saja, apa kau sudah siap?” Bisik Gea dengan suara genit, membuat Brian meliriknya heran.


“Siap untuk apa?” Tanya Brian balik. Gea langsung mengangkat sedikit roknya, lalu duduk dipangkuan Brian dengan posisi saling berhadapan. Gea sedikit menyesuaikan posisinya. Gea melirik bibir Brian, ia menyentuh pelan


wajah Brian yang tampak sangat tampan dan langsung ********** dengan sangat dalam. Brian sedikit terkejut, tapi pasrah menerima aksi pacarnya yang cantik itu. setelah beberapa menit, Gea kembali membuka matanya.


“Bukankah sekarang aku sudah adil.” Bisik Gea dengan wajah genit.


“Cih, jadi ini yang kau lakukan pada poster itu, lihat saja besok aku akan membakarnya.” Bisik Brian dengan tersenyum kesal.


“Kenapa? Apa kau juga harus membuka bajuku?” Tanya Gea dengan blak-blakan membuat wajah Brian tampak merah. Brian kembali meraih leher Gea, dan mengkecup Gea dengan lebih dalam.


***


Gea sampai di depan komplek rumahnya. Mereka berdua memiliki perjanjian untuk merahasiakan hubungan mereka berdua dari siapapun. Akibatnya, mereka berdua harus berpisah di depan komplek. Gea melangkah dengan


tersenyum-senyum malu. Tiba-tiba Didi datang dan mengejutkankan.

__ADS_1


“Hallo Indonesiaa!!” Teriak Didi membuat Gea terkejut dan hampir jatuh.


“Hallo, hallo. Ini makan hallo!” Teriak Gea


“Plak!” Gea memukul kepala Didi dengan keras.


“Auuh, sakit tau! Hey, kau dari mana? Yaaak, kau terlihat sangat cantik.” Goda Didi dengan memukul manja bahu Gea.


“Biasanya aku juga cantik.” Goda Gea balik dengan memukul manja Didi, membuat Didi melemparnya dengan wajah serius.


“Memangnya kau darimana?” Tegas Didi curiga.


“Bukan urusanmu.” Ervan yang tiba-tiba muncul menjawab dengan dingin lalu menarik tangan Gea.


“Hey Ervan, aku ini sedang berbicara dengannya.” Teriak Didi dengan nada kesal.


“Jangan dengarkan dia, ayo pulang.” Ervan  mengajak Gea berjalan dengannya.


“Tidak adakah penghargaan pada diriku ini. Kenapa? Kenapa? Apa salahku haaa? Aiiish, tak ada yang mendengarkan. ” Guman Didi dengan melempar tasnya.


“Aku membutuhkan bantuanmu.” Ervan mengehentikan langkahnya.


“Bantuan untuk apa?” Tanya Gea dengan melirik aksi Didi.


“Untuk ini.” Jawab Ervan dengan mengeluarkan sebuah coklat dari dalam tasnya.


“Lagi?” Tanya Gea dengan mengambil coklat tersebut.


“Aku sudah muak. Aku benar-benar ingin tau siapa orangnya.” Jawab Ervan dengan wajah sangat kesal.


“Apa penggemar rahasiamu itu kembali memberikanmu coklat? Waaah, bagi doong.” Didi merampas coklat tersebut dari tangan Gea.


“Ini punyaku.” Tarik Gea.


“Kau bisa gendut jika makan coklat, kalorinya tinggi, untukku saja.” Tarik Didi. Ervan menatap datar pada kedua temannya asyik berebut coklat.


“Persetan dengan kalori.”


“Hoi kalian berdua!” Bentak Ervan membuat Gea dan Didi menoleh.


“Bagaimanapun malam ini juga, aku ingin tau orangnya! Dan itu adalah tugas kalian berdua!” Ervan menunjuk wajah Gea dan Didi dengan wajah geram.


 “Kenapa harus kami?” Tanya Gea dan Didi dengan serempak.


“Karena hanya kalian berdua yang ada disini. Aku tunggu sampai pagi.” Ervan  melangkah pergi.


“Seenaknya sekali dia. Memangnya kita akan mencari penggemar rahasianya itu dimana?” Tanya Didi dengan geram mengunyah coklat tersebut.


“Aku tidak melihat Bimo. Dimana dia?” Tanya Gea balik.


“Dia sedang berkunjung ke rumah sepupunya. Lalu, dimana kita akan melakukan eksekusinya?” Tanya Didi pada Gea.


“Eksekusinya? Aku bahkan tidak tau apa yang harus aku lakukan.”Teriak Gea pada  Didi, lalu melangkah pergi.


“Lagi-lagi aku yang salah.” Umpat Didi dengan mengunyah geram coklat tersebut.


**

__ADS_1


 Gea berjalan ke rumah Ervan dengan membawa sebuah laptop di tangannya.


“Kenapa lama sekali?” Tanya Didi yang sudah berdiri di depan pagar rumah Ervan. Gea hanya melirik ke belakangnya.


“Apa ada seseorang yang mengikutimu?” Tanya Didi lagi.


“Tidak, ayo masuk.” Gea  menarik tangan Didi. Mereka berdua masuk dengan santai ke dalam rumah Ervan, lalu melesat masuk ke dalam kamar Ervan.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” Tanya Ervan yang sedang asyik bermain gitar lalu menyambut Gea dan Didi dengan wajah kesal.


“Memberikan jawaban.” Jawab Didi dengan wajah lebih kesal.


“Aaah, apa kalian berdua sudah tau orangnya?” Tanya Ervan dengan meletakan gitarnya.


“Aku rasa, kau salah memberi tugas kepada kami.”  Gea  membuka laptopnya di atas meja belajar Ervan.


“Lakukan apapun, aku tidak peduli.” Ervan berdiri lalu menutup gorden kamarnya.


“Ahaaa, aku tau caranya.” Didi memakai jaketnya, lalu memeluk Ervan dari belakang.


“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Gea dengan wajah datar.


“Kau, jebret kami berdua dari samping.” Jawab Didi dengan tersenyum genit. Dengan sigap, Ervan menepis tangan Didi.


“Maksudmu, aaah lebih baik aku saja.” Gea menangkap maksud Didi, dan berjalan cepat kearah Ervan lalu memeluk Ervan dari belakang dengan cekatan Didi mulai menjebret aksi mereka berdua.


“Hentikan, apa yang ingin kalian berdua lakukan?” Tanya Ervan yang rancu.


“Upload.” Didi tersenyum geli, lalu mengirim foto tersebut pada laptop Gea.


“Aaah, aku terlihat sangat seksi.” Gea tidak mengacuhkan pertanyaan Ervan, tetap fokus dengan laptopnya.


“Woii!! Apa kalian berdua ingin membuat gossip baru?” Tanya Ervan lagi, dan masih Gea dan Didi sama sekali tak mengacuhkannya.


“Waah, yang like juga lumayan. Hei Ervan, ternyata kau lumayan terkenal juga. Tapi aku lebih terkenal, week.” Cemooh Didi yang fokus pada like foto di instagram Ervan.


“Aku tidak tau yang mana, banyak cewek yang selalu mengintai instagram si comel ini.” Gea terlihat kewalahan, namun mata Gea terhenti pada sebuah id.


“Ho ho ho. Aku rasa aku menemukannya.” Gea menekan tombol enter.


“Ini tidak mungkin.”Bisik Gea lalu menatap Didi yang duduk di sebelahnya. Gea menatap dengan pasti wajah Didi yang sangat tidak percaya.


“Siapa? Aku ingin tau siapa orangnya.” Ervan  mendorong kepala Gea dan Didi, lalu menatap layar laptop. Ervan ikut terdiam. Didi langsung berdiri, dan mulai meremas kerah baju Ervan.


“Heeei Didi idiot. Apa yang kau lakukan? Di sini, Ervan tidak salah. Kak Denilah yang menyukai Ervan.” Teriak Gea dengan mendorong Didi.


“Aku, tidak ingin jika dia menjadi abang iparku!” Teriak Didi dengan keras.


“Aku juga tidak ingin. Besok aku akan menyuruhnya untuk berhenti. Untuk hari ini, kalian boleh pulang.” Ervan tiba-tiba melunak dengan wajah tidak percaya, dan nada suara pelan.


“Ervan, dibanding kakakku, aku jauh lebih mendukungmu. Kau taukan, jika si Deni itu selalu melangkah sesuai dengan keinginannya. Apapun yang terjadi, atau apapun keputusanmu, aku akan tetap mendukungmu. Walau kau,


menjadi kakak iparku. Khikhikhikhik.” Tawa geli Didi dengan menyentuh bahu Ervan.


“Hentikan! Pulanglah!” Teriak Ervan membuat Gea dan Didi mundur 2 langkah.


“Apa tidak ada ucapan terima kasih untuk kami?” Tanya Gea lagi.

__ADS_1


__ADS_2