Euforia Cinta

Euforia Cinta
Episode 58. Kevin Maafkan Aku


__ADS_3

Sesampai di sekolah, Gea lansgung duduk di mejanya.


“Huaaaaa.” Keluhnya.


“Plak.” Dina yang sedang bejalan menuju mejanya, memukul kepala Gea dengan buku yang ada di tangannya.


“Bagaimana dengan pesta reunian komplek rumahmu? Apa menyenangkan?” Tanya Lia yang sibuk dengan rol poninya.


“Menyenangkan, tapi.” Jawab Gea.


“Tapi kenapa?” Tanya Lia.


“Aku di awasi Bang Gio karena berpacaran dengan Brian.” Jawab Gea membuat Lia dan Dina terdiam lalu tertawa dengan sangat keras.


“Khahahahahahaha.” Tawa mereka membuat kegaduhan di dalam kelas.


“Lalu sekarang bagaimana?” Tanya Lia.


“Bagaimana apanya?” Tanya Gea. Brian dan Dami masuk ke dalam kelas.


“Itu, Brian datang. Khikiikikhik.” Tawa geli Dina.


“Jadi kau tidak berkencan dengan siapapun? Mengesankan.” Sindir Brian dengan menendang pelan kursi Gea. Gea hanya melirik Brian dengan wajah datar.


“Lihat, dia bahkan tidak mengerti dengan  perjuangan batin ini. Lia, Dina, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin diawasi seperti ini. Apa sebaiknya aku putus saja dengan Brian?” Tanya Gea.


“Plak!” Lia memukul bahu Gea.


“Bertahanlah, kalian bisa selalu bersama dengan berdalih teman, dasar


bodoh.” Umpat Lia.


“Benar, aku akan selalu bersama dengan Brian, dengan dalih teman. Kamikan satu sekolah. Hehehehe.” Gea tertawa licik sembari melirik Brian yang menatapnya dengan tatapan kesal. Haris datang, dengan membawa seikat mawar.


“Apa itu untukku?” Tanya Gea spontan.


“Dulu iya, sekarang tidak.” Jawab Lia dengan merebut mawar tersebut.


“Jadi, seberapa bahagianya hubungan kalian?” Tanya Gea.


“Kami hanya berteman, tapi berkomitmen. Seperti biasa.” Jawab Haris lalu melangkah berjalan ke belakang.


“Benar, aku juga harus seperti itu.” Gea berdiri, tiba-tiba Gisel datang dengan wajah sembab, namun ia tutup dengan masker dan kaca mata hitam.


“Kau kenapa?” Tanya Gea.


“Aku mengutuk tetanggamu yang cabul itu!” Teriak Gisel membuat semua kelas terdiam.


“Hei, apa kau tidak bisa berbicara dengan pelan?” Tanya Lia.


“Kalian lihat ini. Tadi pagi, dia datang kerumahku dengan membawa sarang lebah. Lebah itu, menyengat wajahku. Apa dia sudah gila? Kenapa dia membawa sarang lebah itu ke rumahku? Apa segitu dendamnya dia padaku?” Tanya Gisel pada Gea.


“Oooh, mungkin dia mengambil madu Pak Tuah. Biasanya, kami menggunakan madu itu untuk masker. Mungkin, dia juga membawa sarang dan lebahnya ke hadapanmu.” Jawab Gea dengan tersenyum manis, lalu terdiam dan


mencerna ucapannya.


“Apa? Apa dia membawa sarang lebah ke rumahmu? Si Kevin bodoh, idiot tak punya otak. Lantas, sekarang dia ada dimana? ” Tanya Gea.


“Aku yakin Kevin telah di rasuki oleh ide busuk Didi, Ervan, dan Bimo. Melihat sembab wajah Gisel, pasti Kevin juga ikut tersengat.” Bisik Gea dalam hati.


“Entahlah, sepertinya dia juga tersengat. Tapi aku benar-benar membencinya.” Umpat Gisel.


“Matamu menyiratkan rasa suka pada Kevin, kau pikir aku ini bodoh. Dengan kondisimu yang seperti ini, kau masih datang ke sekolah. Aku yakin kau ingin melihat Kevin.” Bisik Gea lagi dalam hati.

__ADS_1


“Tapi Gisel, Kevin itu sebenarnya sangat baik. Dia memiliki kepribadian yang hangat. Dia sangat mudah mempercayai orang lain. Termaksud tentang sarang lebah itu.” Gea memulai pujiannya.


“Apa maksudmu?” Tanya Gisel.


“Dia sangat ingin berbaikan denganmu. Dia selalu mencari tips dari semua sumber. Dia mulai berkonsultasi dengan teman-teman komplek kami, yang baginya bagai dewa inspirasi. Mungkin, yang dia lakukan itu adalah saran dari dewa inspirasinya tersebut.” Bisik pelan Gea.


“Aku tidak peduli, aku tidak akan pernah memaafkannya.” Teriak Gisel.


“Gea, sakiit.” Gea melirik Kevin yang muncul dengan wajah sembab.


“Keviiiiin!” Teriak Gea syok.


“Gisel, aku tidak terima dengan wajah Kevin yang sangat bonyok ini. Aku akan menuntutmu! Kau ini benar-benar, kau tidak akan pernah memaafkannya. Coba pikirkan sengatan yang ia terima ketika ia membawa sarang lebah itu ke rumahmu!” Teriak Gea.


“Lah, kenapa kau yang menuntutku? Seharusnya aku yang menuntut kalian. Lihat wajahku, aku harus menghubungi 3 dokter sekaligus. Bagaimana dengan citraku sebagai seorang artis? Kau harusnya berpikir Gea, kenapa juga dia datang membawa sarang lebah petakannya itu ke rumahku?” Tanya Gisel dengan


emosi. Gea yang emosi, melangkah keluar dari mejanya, dan ingin menjambak Gisel. Tapi Kevin, menghalangi Gea.


“Citramu sebagai seorang artis. Seberapa tau kau tentang citra seorang artis. Jika kau tau, akan citra seorang artis, seharusnya kau berkata jujur, dan tidak bertindak sebagai korban. Bukankah, kau juga ada di sana, seharusnya kau bisa menjelaskan kepada semua orang tentang skandalku yang menyangkut foto itu. Aku bahkan berusaha untuk meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah aku perbuat. Joo, managermu mengatakan jika kau juga terlibat dalam skandal tersebut, dan kau memilih diam untuk menaikkan karirmu yang semakin redup karena ditinggal Brian. Aku tidak salah Gisel, tapi aku menerima semua cacian itu. Untuk gelar artis, bagiku tidak masalah jika aku tidak memilikinya.” Kevin tersenyum hangat.


“Aaaaa, Keviiin.” Gea merangkul tangan Kevin.


“Apa maksudmu? Jadi kau menuduhku terlibat dalam skandalmu itu!” Teriak Gisel tak mau kalah. Kevin melepaskan tangan Gea, lalu melangkah ke hadapan Gisel.


“Aku bukan menuduhmu, tapi aku hanya ingin melihat reaksimu. Waah, saat itu, kau tampak sangat gagah dengan status korbanmu, tapi sekarang aku tampak sangat ketakutan. Tiga dokter sekaligus, khikhikhik, kenapa tidak 3


pengacara sekaligus?” Gisel mendorong Kevin.


“Ya, aku benar-benar akan menuntutmu. Mari bertarung di pengadilan.” Teriak Gisel yang sudah sangat emosi.


“ Aaah pengadilan. Apa kau yakin? Kau membuatku takut. Oh iya, aku hanya ingin memberi tahumu, jika aku punya buktinya. Ini, aku sudah merekam semuanya.” Kevin mengeluarkan ponselnya, dan memutar rekaman suara Gisel. Gisel berubah takut, tangannya tampak gemetar.


“Jika aku mau membongkarnya, aku pasti sudah membongkar ini sejak aku pulang dari Amerika, lalu  aku kembali besinar. Tapi tidak, aku menyimpannya dan memilih semua hinaan itu. Gisel, aku bukan seorang pengecut yang mau menerima semua ini.” Kevin memperlihatkan file rekaman itu, dan langsung menghapusnya. Gisel menjadi terhenyak, melihat pembalasan Kevin yang membuatnya merasa sangat rendah.


itu. Aku ingat, teman-teman bodohku, yang tidak peduli hari, tidak peduli jam, dan tidak peduli dengan alam sekitar untuk melakukan kegiatan yang mereka inginkan. Rasa sepi, haram untuk mereka. Detik itu, aku sangat merindukan mereka. Aku ingin kembali bersama mereka yang tulus dan menerimaku apa adanya, tanpa ada citra artis terkenal. Tapi untuk kembali bersama mereka, aku membutuhkan cara. Ya, diamku akan skandal licikmu itu, adalah cara yang tepat. Terima kasih Gisel, kau membuat hidupku jauh lebih berarti.” Kevin tersenyum bahagia, sementara Gisel hanya menunduk malu. Melihat reaksi Gisel, Kevin melangkah lebih dekat ke hadapan Gisel.


“Akui saja Gisel, duniamu sangat sepi, berbeda dengan duniaku yang sekarang. Kau memang bersinar di sana layaknya sebuah matahari, tapi kau hanya sendirian. Sementara aku tidak bersinar, namun ada ribuan bintang yang


menerangi. Oh iya, alasanku membawa sarang lebah itu ke rumahmu adalah, karena aku ingin kau sadar jika itulah rasa sakit dari korban yang sebenarnya. ”Bisik Kevin pada Gisel, membuat Gisel mengangkat kepalanya. Gisel menatap mata Kevin dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia tidak sanggup melawan semua ucapan Kevin.


“Jangan menangis Gisel, aku tidak bermaksud untuk menjatuhkanmu apalagi untuk menyakitimu. Hanya ini, cara yang bisa aku lakukan, untuk mengingatkanmu bahwa  jalan yang kau tempuh itu salah.” Kevin memgang kedua bahu Gisel, lalu menghapus air mata Gisel yang membasahi pipi sembabnya.


“Kevin, Maafkan aku. maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak bermaksud,” Tangis Gisel pecah, Kevin langsung memeluk Gisel.


“Bukankah sudah aku katakan, jangan menangis. Iya, aku sudah memaafkanmu.”


“Aaaaaaaa, aku jadi terharu. Hiks-hiks.” Rayu Gea, membuat Kevin melepaskan pelukannya.


 


“Terharu saja pada hubunganmu dan Brian. Itu lebih menyedihkan.” Bisik Dina membuat Gea meliriknya dengan tatapan kesal.


“Tapi Gisel, kami ada untukmu. Bukankah kita teman, kau tidak sedirian.” Colek Gea dengan tersenyum manis. Brian menatap Gea dengan terkagum-kagum.


“Dia pacarku.” Senyum Brian pada Dami.


“Benarkah, sepertinya aku harus menikungmu.” Senyum balik Dami.


“Coba saja.” Lirik tajam Brian pada Dami.


**


Sepulang sekolah, Gea dan Brian berjalan masuk ke dalam komplek.

__ADS_1


“Brian, menurutku apa yang kita lakukan ini tidaklah salah. Kenapa kita harus saling menghindar?” Tanya Gea.


“Abangmu, itulah alasannya.” Jawab Brian.


“Aku sudah biasa berjalan dengan pemuda di komplek ini, Apa aneh jika aku berjalan berdua denganmu?” Tanya Gea, membuat Brian mengentikan langkahnya.


“Benar juga, kita bisa selalu bersama, tapi dengan topeng pertemanan.”


“Iya, berarti mulai besok, jangan pernah menunggu Oliv lagi, kau mengerti.” Tegas Gea.


“Tapi, aku tidak akan tahan jika berjalan denganmu tanpa menggenggam tanganmu ini.” Rengek Brian dengan mengkecup tangan Gea.


“Harus bisa.” Gea menarik tangannya, lalu berjalan duluan. Gea melihat Ervan dengan wajah yang sangat kesal.


“Hoi Ervan.” Sorak Gea. Ervan melihat kearahnya, dan berlari menghampirinya.


“Apa kau mau ikut melakukan penyelidikan pada malam ini?” Tanya Ervan. Gea menangkap pikiran Ervan mengenai penggemar rahasianya.


“Kenapa? Apa kau masih belum percaya jika Kak Deni pelakunya?” Tanya Gea. Brian datang menghampiri mereka.


“Iya, aku yakin jika pelakunya bukan Kak Deni. Tapi ada pelaku lain.” Jawab Ervan.


“Baiklah, aku akan membantumu. Jadi, rencananya apa?” Tanya Gea.


“Aku selalu mendapatkan coklat ini ketika tasku berada di loker gedung olahraga komplek.”


“Lalu, apa?” Tanya Gea.


“Kita akan memata-matai pelakuknya, malam ini juga.”


“Bukankah, nanti sore kita ada les.” Simak Brian.


“Kalau kelas biasa pulangnya jam 9. Kami kelas gold yang pastinya kami pulang jam 6.” Jelas Ervan.


“Wah, pantas saja kalian begitu bahagia. Sebaiknya aku juga pindah ke kelas gold.”Brian melangkah meninggalkan


Ervan dan Gea.


“Apa kau yakin, jika pelakunya bukan Kak Deni. Bukankah, waktu itu, kau juga sudah menangkap basah Kak Deni. Untuk apa lagi mencari taunya.”


“Kak Deni berdalih, dan tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Aku paling benci dengan seorang pengecut.” Kencam Ervan lalu melangkah meninggalkan Gea.


“Aku lebih benci kau, yang keras kepala. Tapi, jika Kak Deni bukan pelakunya, lalu siapa?” Tanya Gea.


**


Jam menunjukkan pukul 6 sore.  Gea, Ervan, dan Brian, melangkah ke gedung olahraga komplek. sementara


Didi, Bimo, dan Kevin berbelok ke warnet komplek untuk bertanding demi segelas teh es gratis.


“Aku baru tau jika komplek kita punya gedung olehraga semegah ini.” Kagum Brian.


“Gedung ini milik pribadi sebuah universitas di belakang sana, namun di kelola oleh pihak komplek. Kalau orang umum yang masuk ke sini di kenakan biaya perjamnya. Tetapi, kalau warga komplek gratis sampai teler.” Jelas Gea.


“Kalian bisa menunggu di sini. Aku akan masuk ke dalam untuk berolahraga.” Komando Ervan dengan gaya bos. Brian menahan Ervan.


“Hehey, tidak bisa gitu dong bosku, aku juga mau olahraga, mari bertanding. Gea, kau tunggu di sini dan awasi tas Ervan.” Gea menatap Brian dengan tatapan kesal.


“Ya sudah, ayo.” Ajak Ervan.


“Aaah, tidak asyik jika aku menungggunya di luar loker. Loker ini kan besar, bagaimana jika aku masuk ke dalamnya.” Gea  masuk ke dalam loker dan duduk lalu mengeluarkan ponselnya. 2 jam menunggu, Gea sudah kepanasan. Gea mendengar langkah pelan berjalan kearahnya. Ia mengintip dari lobang loker. Tampak seorang


wanita cantik sedang mengeluarkan sebuah coklat dari dalam tasnya. Dia bukan Kak Deni. Dia memiliki rambut pendek, hidung mungil bibir tipis, dengan mata yang cantik. Baju seragamnya sama dengan baju seragam milik Ervan. Gadis ini tampak memperhatikan ke sekelilingnya. Ia membuka pelan lemari loker. Tanpa memperhatikan isi loker, ia bergegas memasukkan coklat di tangannya ke dalam tas Ervan. Dan anehnya, ia tidak menoleh sedikitpun ke dalam loker, karena matanya yang tetap waspada. Gea memegang tangannya.

__ADS_1


__ADS_2